Follow Donk...!

21 Okt 2014

Gagal Launching Part 3 (Tamat)



Dan, sampai sekarang saya tak pernah tahu alasan sesungguhnya kenapa Dian sengaja mempermainkan saya begitu rupa. Padahal cuma dia satu-satunya orang yang tahu bahwa hanya dia dan RH lah semangat saya yang tersisa. Tak satupun ada yang tau betapa rumitnya hidup saya belakangan ini. 

Dian sangat tahu kelemahan saya dan dia menyerangnya tepat di titik itu. Saya sungguh kepingin tahu apa, dan siapa yang menyebabkannya begitu? Apa dan siapa yang menyuruhnya membunuh Rekreasi Hati? Dan sms-nya terakhir mengatakan kalau dia sudah tak mau mengenal saya lagi, hikkhiiks….! *nangis. 

Tapi apakah Rekreasi Hati, saya dan Dian benar-benar akan berakhir tragis begitu? BIG NO. Malahan sebaliknya. Sejarah kita terlalu indah dan unik untuk kami abaikan begitu saja. Saya bahkan sudah persiapkan kisahnya sebagai RH jilid 2 dengan konsep yang beda tapi bermuatan sama. Membaca RH pertama teman-teman mungkin seperti sedang membaca sebuah buku bigrafi yang beberapa halamannya sobek dan rusak secara acak. RH jilid 2 adalah RH Story dengan konsep parodi biografi kami. Kami, bukan tentang saya belaka seperti yang mungkin teman-teman sudah baca di RH pertama. Butuh Dian memang. Dian akan dan tentu saja mesti terlibat aktif di dalamnya. Dian akan jadi penyeimbang kisahnya agar RH tidak melulu berkisah tentang narsis saya. Bagian saya dan RH sudah selesai saya garap. Pembukaan dan banyak versi endingnya juga sudah jadi. Setidaknya sudah saya bereskan 3 ending cerita yang bisa Dian pilih sendiri. Semua berakhir happy, apapun yang akan terjadi. Dan dalam bayangan saya, salah satu dari ketiganya akan jadi akhir nyata kisah kami.  Insya Allah, saya nanti akan posting juga beberapa bagian yang sudah jadi. Secara acak pasti, hahaha…!  

                Kenapa saya begitu yakin tentang masa depan kami dan RH? Saya belajar dari sejarah. Sejarah adalah mata pelajaran favorit saya dulu saat sekolah. Guru sejarah saya saat SMP dulu malah mengaku telah memberi saya nilai 10 saat pembagian raport. Cuma karena masih bergabung dengan geografi dan ekonomi sebagai kesatuan IPS makanya nilai rata-rata ‘Cuma’ jadi 9, hahaha….!

                Dari sejarahlah saya belajar bereaksi terhadap persoalan hidup. Gambaran masa silam memberikan saya bayangan di masa depan. Semua fakta membuktikannya. Dulu Dian pernah merasa begitu bersalah terhadap saya. Efeknya luar biasa sampai kami berdua tak mampu mengontrolnya. Padahal jika ditelisik lagi, saat itu kesalahannya 0%. Dian cuma merasa bersalah tanpa benar-benar salah. Bayangkan saja apa yang akan terjadi nanti, ketika perasaan begitu kembali mendatanginya. Dian salah dan 100% menyadarinya. Dian melakukannya secara terencana, terstruktur, sistemik dan massive. Saat ini saja hidupnya sudah begitu kacau setiap berhadapan dengan saya. Membaca inbox, sms, mengangkat telpon, bahkan saat melihat saya saja dia sudah begitu ketakutan. 

                Semua orang adalah pemimpin, setidaknya bagi dirinya sendiri. Apalagi saya adalah laki-laki pula. Agar bisa jadi pemimpin yang baik, yang mampu beradaptasi dan mengelola pergaulannya, saya percaya setiap orang mesti mengenal orang lain yang ada di lingkungannya. Itu suatu keniscayaan. Perceraian terjadi karena kegagalan kedua belah pihak mengenali pasangannya masing-masing. Pemerintahan yang gagal  dan korup adalah karena pemimpin tak mampu mengenali, memilih dan menempatkan orang yang salah sebagai pejabat bawahan yang dipimpinnya, dan itu terjadi karena rakyat sendiri juga gagal, keliru dalam memilih pemimpinnya. 

Saya sangat mengenal Dian. Saya juga menyadari Dian bukan sosok yang sempurna. Itulah maka saya ada, demi untuk menjadikannya sebagai pribadi yang lebih baik. Saya bersyukur, Dian mampu pura-pura bahagia saat bersama teman-teman dan orang dekatnya. Pura-pura bahagia itu menguatkan dan juga bagus untuk kesehatan, hahaha…! Tapi saya khawatir dengan jiwa labilnya. Keliru reaksi akan menjadikannya mimpi buruk. Baiknya, itulah pula peluang untuknya kembali. Saat sedang kesepian, seperti menjelang tidur misalnya. Saat sendiri seseorang akan jadi dirinya yang sebenarnya. Saat itulah Dian akan kembali jadi Dian saya, seutuhnya. Dian, ibu kandung RH yang takkan tega menyakiti buah cintanya sendiri. Memang saya yang melahirkannya, tapi Dian lah yang membesarkan dan mengangkat RH setinggi-tingginya. Jadi pasti mustahil Dian akan membanting, mencampakkan dan menginjak-injaknya.

                Hidupnya, saya dan juga RH sudah tak normal. Padahal RH sendiri sudah menjelaskan bahwa hidup itu sederhana. Jika lapar makan, ngantuk tidur dan gatal garuk. Jika keseimbangan sudah tak bisa dikendalikan manusia, alam sendiri yang akan menguraikannya. Dian akan kembali, bergabung dan menjadikan Rekreasi Hati sebagai sebuah karya masterpiece dan legenda di masa depan, aamiin…!

*Bagi teman-teman pengikut RH, silakan kontak saya untuk mendapatkan buku Rekreasi Hati. Gratis (:

Gagal Launching Part 2



Jadi bisa dibayangkan betapa stressnya saya. Ditambah lagi sikap si Nona PHP itu, hahaha…! Entah dengan alasan apa dia membatalkan launchingnya. Baiknya, dia mungkin jadi kasihan juga dengan tawaran mengiba saya. 

“OK, besok sore (Minggu)  aja ya, Bang! Kita launching berdua aja!”

                Semangat saya bangkit lagi. Meski batal jadi meriah, tapi tak apalah. Yang penting ada bahan untuk launchingnnya. Minimal poto2 narsis. Jam 2-an siang saya sms. Syukur, dibalas.

                “Maaf yaa, Bang! Dian sore ini tak bisa. Lagi nyusun proposal. Besok seminar”

           Kecewa lagi. Padahal tadi malamnya bilang besok. Baiklah, saya marah namun pasrah. Rekreasi Hati mungkin memang belum takdirnya jadi buku. Dian memang seperti sengaja hendak mengusir saya dari hidupnya, entah dengan alasan apa. Dian tak pernah mau cerita. Tapi sebelum itu, saya mesti berikan satu kado perpisahan untuknya. Apalagi kalau bukan buku Rekreasi Hati. Saya berikan esok paginya, Senin, sebelum dia berangkat sekolah. Persis seperti yang sudah saya post di postingan sebelumnya.

                Walau begitu Dian pasti bangga dengan Rekreasi Hati. Antusias pembaca saat dia memamerkan buku itu memaksanya untuk kembali berbaikan dengan saya. 

                “Banyak yang pesan. Teman2 kuliah, guru dan bahkan murid-murid Dian juga”, katanya.

                Situasi jadi adem lagi. Dian mengaku sudah diburon para peminat RH. Celakanya, saya juga tak punya duit untuk mengcopy-nya, hihihik. Penulis Keren Tapi Kere, hahaha….!

                Singkat cerita, karena banyak diminati, lagi-lagi Dian menjanjikan akan membuat acara launchingnya. Tanggal 16 Oktober. Ehh… ralat, bukan hari libur. Tanggal 18 aja, Sabtu sore. 

                “Tenang aja, Dian udah siapin, kok!” katanya meyakinkan saya.

                Saya jadi tinggi lagi. Tapi karena terlalu tinggi saya jadi lupa untuk awas diri. Saya tak pedulikan lagi hidup saya. Kasur saya (dan juga sebuah Al-Qur’an) sudah 2 Minggu disita Ibu Kost, karena saya belum bayar kost. Kerjaan lain saya abaikan, karena modal yang sangat pas-pasan cuma cukup untuk kepentingan RH. Semua saya kerahkan untuk persiapan launching. Spanduk saya cetak. Copian saya perbanyak. Acara hiburan sebagai surprise juga saya sudah persiapkan dan latihan. Desain kalender sudah saya buat. Tinggal pemotretan modelnya, dan itu tentang Dian.

                Saya chat lagi, tak dibalas. Jangankan dibalas, dilihat saja enggak. Saya sms lagi tak dibalas. Saya telpon lagi, juga tak diangkat. Ada apa dengan Dian? Puncaknya, setelah hari H lewat, saya sms lagi. Saya ingin ketemu. Saya ingin berikan spanduk yang sudah terlanjur dicetak. 

                Dibalas, tapi 

“hari Selasa saja yaa, Bang!”, katanya.

“Kenapa mesti Selasa lagi. Dian masih ingin mempermainkan abang?” saya balas lagi. Saya benar-benar sulit percaya Dian saat ini. Dian yang sekarang palsu.P-A-L-S-U. Dan Dian tak membalasnya.

Pagi Seninnya, saya tetap nunggu di tempat biasa. Dan, memang sesuai perkiraan, walau tak saya harapkan. Meski saya sangat yakin dia tahu saya sedang menunggunya, dia pura-pura tak melihat. Dia malah ngebut seperti sedang diburu hantu. Entah apa yang membuatnya begitu. Padahal jika dia mau berhenti dan menemui saya, dijamin hantu itu juga akan kabur, hahaha…! Saya jadi sungguh kasihan terhadapnya. Saya sempat ingin mengejarnya. Tapi melihatnya melaju ketakutan begitu, saya jadi tak berani. Saya takut Dian kenapa-kenapa ):

Saya tumpahkan kekecewaan saya via ruang chat dan sms. Panjang-sepanjang-sepanjangnya lagi. Dan sms dibalas. Dian bersedia, ketemuan esok pagi di tempat biasa, seperti biasa.

Saat itu saya benar-benar sudah ragu untuk memberikan spanduknya. Saya sadar itu bisa jadi akan percuma. Saya cuma ingin ketemu, bicara dan memintanya sediakan waktu untuk membicarakan persoalan kami dan Rekreasi Hati. Apa boleh buat, Dian saya benar-benar sudah pikun, aneh, dan palsu 100%. Tak pernah nyambung saat diajak ngomong. Selalu mengelak, dengan berbagai alasan yang membuatnya terpojok sendiri saat saya buktikan kebohongannya. Dian sama sekali tak pernah minta maaf bahwa dia telah sengaja memperdaya dan menganiaya saya dan RH. Dian benar-benar kacau. Saya sungguh ingin membantunya, dan dia sangat tak ingin saya bantu. Walau begitu Dian tetap bersedia menerima spanduknya.

Mudah-mudahan Dian bersedia posting poto2 narsis di sampingnya sambil berpose memegang RH. Dan entah bagaimana kabar spanduk itu sekarang. Mudah-mudahan tidak digunting, dikoyak-koyak. Saya harap, setidaknya sekarang spanduk itu terpasang sebagai poster di kamarnya, bukan tergeletak mengharukan di tong sampah, hikkshiiiks….! ):

*Kepanjangan lagi, hehehe…!

Gagal Launching Part 1



Maafkan saya, teman-teman! Saya sudah lakukan semua yang sanggup saya lakukan. S-E-M-U-A. Tinggal doa saya dan teman-teman semua, agar semua baik-baik saja. Sampai sekarang dan nanti saya tetap ingin Dian yang jadi bintang di acara launching Rekreasi Hati. Saya ingin Dian yang menggunting pita, memotong kue. Saya ingin Dian yang jadi model kalender promosi di acara launchingnya. Tapi semua gagal. Rekreasi Hati mungkin takkan pernah dilaunching. Tapi RH tetap akan saya jual. Tak ada Dian, temannya pun jadi, hahaha….! Bantu promosinya, yaa….!
                Seperti yang pernah saya singgung di post sebelumnya, Dian sebenarnya sudah menyanggupi dan berjanji untuk melakukannya. Rencana pertama, tanggal 16 September. Saya pilih tanggal itu sesuai dengan doa Dian tepat 3 bulan sebelumnya. Saya ingin doanya terkabul. Itulah kenapa saya pilih tanggal 16 September. Gagal, sebab ternyata itu bukan tanggal yang baik, sebab bukan merupakan hari libur. Kami sepakat mundurkan (ini maju atau mundur? Hahaha…!) jadi tanggal 20, hari Sabtu.
                Jumat malamnya saya hubungi Dian untuk memastikan kesiapannya. Saya butuh tahu berapa orang yang diundang agar saya juga bisa persiapkan berapa banyak buku yang mesti dipersiapkan. Chat tak dibalas. Sms juga tak dibalas. Telpon tak diangkat. Otomatis, batal.
                Saya tak putus asa. Malam minggunya, saya tumpahkan kekecewaan saya lewat chat. Panjang-sepanjang-panjangnya. Saya ceritakan seluruh pengorbanan saya. Bahwa satu-satunya semangat saya di Batam tinggallah Dian dan Rekreasi Hati. Sejak kembali dari mudik pertengahan Juni silam entah kenapa nasib saya begitu buruk. Maaf, akhirnya saya putuskan untuk ceritakan betapa saya benar-benar sudah frustasi. Saya gagal terhadap teori saya sendiri bahwa gembira itu mudah segampang menggaruk dan hidup ini indah seasyik menggaruk.
                Sejak Juni sampai sekarang sudah puluhan kali motor saya kuliah di bengkel. Sudah tak mampu saya hitung sudah berapa kali mogok di jalan dan terpaksa didorong sampai ke rumah. Rasanya tak kurang dari 50X. Yaa, mungkin sekitar itu. Dan itu sungguh membangkrutkan. HP kesayangan saya sampai 3X terpaksa jadi agunan karena tak punya duit untuk menebus nya. Sampai akhirnya itu HP mati sendiri, sebab berendam dalam segelas the entah sejak berapa lama. Yang saya ingat, saat hendak menyemprot nyamuk, itu HP saya letakkan di atas gelas agar tehnya tidak terkontaminasi bahayanya obat nyamuk semprot sialan itu. Nyamuk memang bisa diatasi, tapi HP saya jadi tumbalnya. Itulah kenapa saya sudah tak mampu lagi eksis di dunia maya, sebab modem juga sudah duluan ketinggalan di kampung saat mudik dulu. Jadi bukan karena ada masalah dengan Dian seperti yang dituduhkan seorang teman. Juga bukan karena saya sudah dihakimi massa karena jambret seperti yang dituduhkan si Bebel, hahaha…!
                Kelakuan motor dan nasib si HP benar-benar buat saya frustasi. Punya duit sikit, habis gegara motor. Akhirnya saya putuskan pindah dari ruko tempat saya buka usaha, sebab tak mampu lagi bayar listrik dan airnya. Seminggu sebelum itu saya juga sudah mengeluhkan nasib saya pada teman satu tempat tinggal, si Rahmat, yang mengerti betul masalah saya, kecuali tentang Dian. Saya ingin pulang kampung lagi, pas lebaran haji yang tak berapa lama lagi (saat itu). Minta maaf dan restu Ibu dan Bapak saya. Mungkin ada ‘sesuatu’ yang tertinggal di sana saat saya mudik dulu. Apa daya, juga gagal. Saya tak punya ongkos, hahaha…!
                Akhirnya saya kost sendiri. Nasib berubah? Entahlah. Yang pasti kejadian konyol juga tak berhenti saya alami. Saat ngangkat air galon pakai motor misalnya, galonnya jatuh. Menggelinding di jalan yang kebetulan menurun pula. Beruntung saat itu sedang tak ada pengguna kendaraan di jalan itu. Tapi galonnya jadi pecah. Tak bisa digunakan lagi. Ganti baru? Sampai saat ini saya tak mampu membelinya L
*Kepanjangan, entar disambung lagi…

13 Okt 2014

Bencipun Mesti Tulus



Alhamdulillah. Saya resmi jadi penulis, hahaha...!


Lama sekali rasanya absen dari dunia maya, termasuk di Rekreasi Hati tercinta ini. Saking lamanya berbagai isu muncul, termasuk yang berkaitan dengan hubungan saya dan Dian. Benar, hubungan kami masih buruk, tapi soal absen dari dunia maya sama sekali tak ada hubungannya dengan itu. Ada banyak hal yang buat saya tak bisa eksis, menulis dan narsis lagi. Karena terlalu banyaknya masalah, saya justru takut untuk membeberkannya. Efeknya bisa memburuk, sebab membawa aura negatif. Tentang itu, cukup bertanya sajalah pada Dian. Cuma dia yang tau persis bagaimana kondisi saya saat ini, hahaha...!


Sebagai pembukaan, saya ingin cerita dulu soal buku Rekreasi Hati. Yaa, alhamdulillah, Rekreasi Hati sudah terbit, hahaha...! Dan hasilnya sungguh di luar bayangan saya. Saya sangat terharu, BANGGA.


Aneka masalah yang saya hadapi dan buruknya hubungannya saya dengan Dian membuat RH nyaris batal beredar. Bahkan pagi harinya, sebelum goes to scholl and campus RH sudah saya pasrahkan, cukup sekedar kado perpisahan saya dan Dian. Jam 7-an kurang pagi itu kadonya saya berikan. Saya sudah pasrah, sebab Dian menerimanya dengan mimik wajah yang kacau. Ucapan terima kasihnya saya dengar seperti kata-kata selamat tinggal. Senyum yang dipaksa dan mata yang berkaca-kaca walau dengan sekuat daya ditahannya tak bisa menipu saya. RH sedang meregang nyawa. Kami berdua sudah beranggapan tak mungkin lagi menyelamatkannya. Tapi Tuhan berkehendak lain, dan kami tentu mesti mensyukurinya. RH tak jadi mati dan malah lahir secara ajaib, walau prematur.


Buku hasil potocopy, potong pakai cutter, lem pakai lem povinal yang harga seribuan itu dan jilid sendiri dan begitu dipamerkan Dian hari itu juga malah dipesan oleh tak kurang dari seratusan orang. Diminati oleh anak kuliahan, dosen dan bahkan anak-anak SD (?). GILA...! Buku begituan diminati lintas generasi? Keren abis! Pemesannya juga tak satupun yang saya kenal. Tentu saja saya jatuh bangga, hahaha...! Jadi apa yang menyebabkan RH batal mati? Jawabnya: Ketulusan dan selalu berpikir positif.


Ketulusan pasti membuahkan hasil. Sebelum ‘mengenal’ saya, Dian sama sekali tak tahu bahwa bahwa dia adalah inspirasi saya. Sejak tulisan gombal sakti yang satu itulah dia baru ‘mengenal’ saya. Meski ditertawai saat saya minta doanya agar tulisan saya jadi buku, saya tetap menulis. Semangat saya tak pernah luntur bahkan saat dia diculik pacarnya, hahaha...! Karena tulus itu berhadiah, dari Tuhan langsung. Seorang teman malah terang2an bertanya, bisa dapat ide darimana sampai bisa-bisanya nulis begituan. Tulisan tentang mesjid, Dian dan kampungnya. Itu ide hadiah, buah ketulusan saya menulis, dari Tuhan, kan?


Ketulusan saya dalam menulis dan mencintai Dian akhirnya melahirkan RH. Ketulusan saya bereaksi terhadap masalah membuat RH jadi buku. Dan ketulusan Dian dalam pribadinya yang otentik membuat RH disambut positif banyak kalangan. Walau kami dalam masalah besar, tapi Dian pasti memamerkan RH dengan tulus dan full kebanggaaan kepada banyak kenalannya.


RH jadi buku, dan dibeli orang. RH yang sejatinya hanyalah gombalan dan narsis galau saya buat Dian ternyata direspon positif oleh banyak orang. Sungguh menggelikan sekaligus mengharukan melihat kondisi fisiknya yang kacau. Dari RH saya melihat Indonesia ternyata bangsa yang adil. Mereka tahu bahwa isi lebih penting ketimbang cover. Saya bahkan yakin, walau sampulnya saya potocopy pakai kertas karton, RH tetap akan dibeli orang, hahaha...! Tapi tenang teman-teman. Itu semua salah Dian yang akan segera kami perbaiki. Pokoknya RH nanti akan jadi buku yang layak mejeng di Gramedia, seperti yang juga sudah di-idam-idamkan Dian, hahaha...! Yaa, salah Dian donk! Buku bagus begitu kok di pamerin? Hahaha...!


Betapa ampuhnya sikap dan berpikir positir juga sudah dicontohkan dengan telak oleh RH. Saya bisa dan malah bangga saat dicampakkan Dian dan selalu yakin kalau dia akan kembali. Beberapa kali saya sudah membuktikannya. Terakhir itu yaa, dibuktikan dengan lahirnya buah cinta kami: Buku Rekreasi Hati, hahaha...!


Cinta? Tentu saja. Meski Dian coba2 kabur, tapi itu dilakukannya justru karena dia juga mencintai saya. Dia takut akan mengecewakan dan menyakiti saya. Itulah kenapa saya ‘dimintanya’ pergi. Padahal itu sungguh keliru. Pertama: Sudah jelas saya takkan pernah pergi, karena saya mencintainya. Kedua, dia keliru sebab jika ingin, mestinya dialah yang harus pergi. Caranya? Dia harus membenci saya. Bisakah? Di sinilah permasalahannya. Dian hanya akan mampu pergi jika mampu membenci saya dengan tulus. Tulus, jangan sampai jadi pikiran. Bahkan perampok paling ganas pun akan gagal jika tak tulus dalam menjalankan aksinya. Banyak film yg saya tonton dan buku yang saya baca menggambarkan bahwa menjadi penjahat pun mesti tulus. Tanpa ragu korban dibunuhnya, kecuali seorang anak kecil, putra si korban yang malah dipelihara dan dirawatnya, untuk kemudian balik membalas dendam atas kematian orangtua kandungnya. Nah mampukah Dian membenci saya dengan tulus. MUSTAHIL.


“Jika memang tidak selalu ada faktor penolak, jika memang harus, selalu ada faktor pendorong”, begitu kurang lebih kata Prie GS.


Saya selalu bicara cinta, mustahil Dian akan jatuh benci. Jadi ketimbang saling menyakiti, bukankah lebih asyik saling mencintai, hahaha...!


Dian adalah fans RH. Bisa jadi malah sudah hapal banyak tulisan-tulisan RH. Sayangnya dia gagal mempraktekkannya. Bukan karena dia tak memahaminya. Dia pasti mengerti. Remeh saja sebenarnya. Dia cuma sedang dijajah pikiran buruknya sendiri. Dia keliru reaksi terhadap pikirannya sendiri. Bayangan buruk tentang saya telah menguasai pikirannya. Padahal RH sangat banyak bercerita tentang bagaimana bereaksi terhadap pikiran. Lihat dengan cara dan sudut pandang yang lain. Garuk yang tidak gatal.


Semua terjadi karena kami keliru reaksi. Saya keliru terhadap responnya dan Dian keliru karena dibawa situasi yang labil. Tapi yang paling keliru adalah keliru reaksi terhadap apa-apa yg sudah terjadi. Dian ingin lari, padahal semua sudah terjadi. Mestinya, dia bahagia saja, sebab ada orang yang walau betapapun anehnya, tapi nyata tulus menyayanginya. Tulus, karena walau di banyak saat saya punya kesempatan untuk mendapatkannya, saya tak pernah mengutarakan ingin jadi pacarnya. Bukan karena takut ditolak. Kami PASTI sudah jalan bareng, pacaran dan sudah bubaran juga jika saat itu saya melakukannya. Saya jahat jika manfaatkan jiwa labilnya, dan saya juga tak ingin Dian jadi penjahat karena beberapa saat kemudian mendepak saya.


Aura negatif yang dibawa pikiran buruknya membuat segalanya menghitam. Selain hampir membunuh RH, Jiwanya sendiri tertekan, yang sayangnya malah tak mampu lepas dari jeratannya. Dian yang dulu begitu semangat dan gemuk, (hahaha...!) dan tertawa lepas bersama saya berubah jadi Dian yang menderita dan pikun dan tak bisa fokus kala berhadapan dengan saya. Dian menderita karena imajinasi buruk yang diciptakannya sendiri.

Pikiran positif saya sampai sekarang juga membuat saya yakin bahwa ke depannya kami juga akan baik-baik saja. Ekstremnya: Jika saat ini saya memintanya agar bersedia jadi pacar saya (atau malah melamarnya) dia takkan menolak saya. Dan itulah justru yang saya takutkan. Dian pasti akan sakit jika mesti menampik kehendak saya. Itulah kenapa sampai sekarang saya belum dan tak ingin melakukannya. Saya tak ingin dia menderita justru karena harus menolak saya. Saya tulus hanya ingin jadi yang bermanfaat untuknya. Tak perlu jadi pacarnya, lebih baik jadi suaminya saja, langsung, hahaha...!


Dian mestinya juga mampu bersikap positif. Kami punya sejarah yang hebat. RH akan jadi legenda, dongeng bagi anak cucu kami kelak, hahaha...! Berfikir positif. Saya tahu persis bagaimana masa depan kami nanti. Bisa jadi memang kami tak berjodoh, tapi yang pasti kami bahagia dengan hidup masing-masing. Saya bahagia mampu berikan yang terbaik baginya. Pasangan saya akan bangga mampu merebut hati saya dari Dian. Dian bahagia karena ada orang yang telah begitu gempita mencintainya. Dan suaminya nanti juga akan bangga mampu merebut Dian dari saya. Begitu kan, cara berpikir agar kita melulu gembira dan bahagia? Tapi mudah-mudahan kami memang berjodoh, hahaha...! aamiin....!


*Kepanjangan, ntar disambung lagi, deh....!
*Buat si Bebel yang telah menuduh saya sebagai pelaku jambret (karena lama menghilang), tanya ke Dian aja. Dia tahu keadaan saya belakangan ini. Saya sehat selalu, masih hidup dan sedang galau, hahaha...!