Follow Donk...!

12 Jan 2016

Narsis Anarkis

Teknologi itu menyederhanakan. Sekarang, cukup dengan klakson, anjuran untuk bertegur sapa dan saling ucap salam tuntas ditunaikan. Ingin punya rumah, mobil bahkan kunci surge seolah telah dalam genggaman bila mau luangkan waktu untuk beri like atau menulis ‘aamiin’ di kolom komentar, hahaha…!

Tapi ada gatal maka ada garuk. Dibalik asyiknya menggaruk selalu ada gatal yang menyebalkan. Dibalik kesederhanaan yang teknologi tawarkan juga ada aneka ancaman yang tak lagi sederhana. Media social misalnya, sebagai salah satu wakil dari perkembangan teknologi, selain membuat kita mengenal yang belum kita kenal ternyata sekaligus membuat kita melupakan mereka yang sudah kita kenal. Dengan sosmed kita bias berinteraksi dengan manusia di belahan bumi lainnya. Tapi tak jarang pula kita butuh gadget hanya untuk berkomunikasi dengan teman semeja. United and divided by socmed (:

Perkembangan jaman dan kemajuan teknologi yang begitu ramah ternyata begitu kejamnya pula. Dalam lingkup besar, tahun ini saja kita sudah mulai dihadapkan dengan persaingan di pasar MEA. Beratnya persaingan dikonfirmasi langsung oleh Jokowi, sang presiden pilihan kita.

“Jangan harap Negara akan beri jaminan perlindungan dan subsidi”, tegasnya seolah mengingatkan bahwa Negara juga sedang dihadapkan pada persoalan yang sama.

Walau begitu, kita mestinya layak untuk tetap optimis. Saat rakyat Amerika, Eropa yang begitu angkuh dengan kemajuan negaranya tapi makan masih menggunakan pisau dan garpu, dikampung saya yang begitu udiknya saja penduduk makan dengan sendok di tangan kanan dan handphone di tangan kiri. Negara mana yang rakyatnya mampu menyetir kendaraan dengan handphone? Cuma Indonesia.

Bisa bermobil sambil sms-an. Bisa fesbukan, twitteran dan BBM-an sembari tetap khusyu’ dengan piring makannya. Bahkan, bagi orang-orang tertentu, acara penting seperti sidang parlemen pun bisa diikutinya sambil tidur (: Kemampuan multitasking begini adalah modal tak ternilai yang harus disyukuri demi menghadapi alotnya persaingan global.

Indikasi lainnya juga dekat saja. Masih di seputaran sosmed. Menjamurnya poto-poto desain rumah, poto-poto makanan dan artikel aneka resepnya menjelaskan bahwa sebetulnya tak ada yang mesti kita kuatirkan. Indonesia sudah makmur. Rakyat sudah sejahtera.

Program kemandirian ekonomi dan industry kreatif berbasis teknologi yang digalakkan pemerintah juga menampilkan hasil yang menggembirakan. Jualan online, ojek online bahkan bajai onlen pun ada di Indonesia. Negara mana yang sudah melakukannya? Ada?...? Belum ada!.

Tapi tentunya tak sesederhana itu pula. Era global adalah sekaligus era individual. Setiap individu mesti berkompetisi dengan individu lainnya, demi diri sendiri. Dan ini mengancam ketersediaan ruang. Dunia maya makin luas, tapi dunia nyata makin sempit. Celakanya, dunia maya yang luasnya tanpa batas itulah pula biang keroknya. Begitu sempit dan sesaknya hingga tak mampu lagi menampung lautan manusia, jembatan gantung penyambung interaksi dan jalan arus ekonomi social budaya antar masyarakat desa itupun roboh tak berdaya di hadapan kepentingan kamera. Dunia nyata diambang kepunahan logika. Manusia sebagai bangsa homo sapiens terancam menjadi makhluk tuna nalar.

Teknologi terkini kamera ternyata tak Cuma ramah terhadap manusia, jerawat dan panunya belaka. Terhadap hewan, tanaman dan bahkan terhadap orang mati sekalipun kamera begitu hormatnya. Di hadapan kamera, Semak seperti eceng gondok jadi terlihat begitu genitnya, hingga begitu menggoda untuk berpose disampingnya. Massa kamera yang membludak itulah pula yang akhirnya merusak dan membunuhnya. Dan di hadapan kamera itu pula mayat hancur korban tabrakan pun terlihat begitu seksinya. Layak difoto dan berfoto bersamanya + penting sekali untuk membaginya (?).

Ohh God, tell me what the hell is goin’ on…!

Narsis tentu sah-sah saja. Setidaknya aktivitas pamer aksi itu penting demi menjaga kelestarian gairah hidup. Tapi yaa…ga gitu-gitu juga, keleeeez….!

Senarsis-narsisnya saya, ga pernah tuh like status, poto-poto dan kiriman sendiri, hahahak…!

*JLEEEB…!

29 Nov 2015

Sometime in Somewhere

Saat itu sekitar jam setengah satuan siang hari. Saya sedang duduk istirahat selepas makan siang. Kebetulan sendirian. Tiba-tiba saya mendengar suara seseorang memanggil. Cewek, muda lagi cantik, pakai rok mini dari seberang pintu pagar teralis besi sebuah perusahaan terlihat seperti memanggil. Sempat gak ngeh, sampai saya yakinkan sendiri.

“Saya?”

“Iya. Bang tolong pegangin donk!” katanya sambil menyodorkan tas yang dipegangnya kepada saya yang berdiri di luar pintu pagar yang dikunci itu.

Sempat bingung ini cewek mau ngapain. Setelah tasnya saya ambil, dengan cekatan si cewek memanjat dan dengan memegang tangan saya melompat, menyeberang pagar.

“Aku mau cabut. Ini pintu pake dikunci lagi. Sialan! Sabtu aja masih disuruh lembur!”, sungutnya.

“Ehh, makasih ya, Bang!’ lanjutnya lagi untuk kemudian hilang.

Setelah itu ya, selesai. Tap pernah lagi saya bertemu dengan cewek yang nothing to lose, fleksibel dan sudah pasti asyik dalam bergaul itu.

Sungguh sulit memang menemukan cewek serupa itu. Tapi beberapa hari yang lalu, cewek dengan type hampir serupa saya temui lagi.

”Mau ke pasar ya, Bang?”,tegurnya dengan senyum manis.

Ini sangat langka. Bayangkan, ada seorang cewek cantik baru turun dari mobilnya menegur lelaki kasar dengan monster face macam saya? Silahkan bilang WOW…!

Dan sudah pasti,saya grogi. Mudah ditebak memang laku laki-laki seperti saya dihadapan wanita yang punya pesona, haha…!

Jalan kaki, kami menuju pasar. Tak jauh memang dari tempatnya memarkir mobil tadi. Tapi lumayan juga buat saya blaem blaem, hahaha…! Asyik juga, seperti cewek yang pertama tadi. Kemampuannya memancing obrolan membuat saya mampu menghilangkan rasa canggung. Naluri saya sebagai ‘lelaki tukang ota’ pulih seketika. Sampai akhirnya di penghujung jalan,sebelum berpisah dia menyodorkan sesuatu.

“Ini Bang, kalau butuh duit, dana segar atau ingin kredit kendaraan dan barang elektronik, hubungi saya aja! Siapa tahu, teman abang nanti juga ada yang butuh uang kan?”, katanya.


Sales rupanya, wkwkwk….! 

25 Nov 2015

Eek Yang Lupa Disiram

Hari itu tak seperti biasanya. Teman ini lupa siapkan receh dua puluh ribu yang tiap Sabtu sore rutin diberikannya pada si ibu ‘penunggu mesjid’ itu. Recehan terkecil di kantongnya lembaran lima puluh ribu.

“Terlalu besar!” pikirnya.

Tapi Allah SWT selalu punya cara untuk mengingatkan hambaNYA. Ibu itu adalah kebaikan rutinnya. Ibu itu jalan baik yang selalu dilimpahkan Allah buatnya. Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kebiasaan baik hambaNYA takkan dibiarkannya hilang begitu saja.

“Dek…! Adek…!” Ibu itu berteriak memanggilnya.

Gleeek…! Teman ini sedikit kaget juga.

“Jangan-jangan ibu ini sengaja beri kode bahwa aku lupa memberinya!” gumam si teman.
“Barangnya ketinggalan, nih!”, kata si ibu sembari menyodorkan kantong plastic berisi ‘jajanan’ si teman yang tepat berharga 20ribu perak.

Astagfirullahaladziim…!

Betapa sebetulnya jarak kebaikan dan keburukan itu tipis saja. Betapa sering kita dengar ada model internasional yang rela menelanjangi pribadinya di kalender demi membantu korban bencana alam, misalnya. Atau selebritis yang membuka pakaiannya demi kampanye saying binatang. Malah tak perlu jauh-jauh. Kita bisa membiarkan begitu saja sampah koran-koran bekas alas sholat usai sholat Ied? 

Pahala dan dosa bisa datang pada saat yang sama. Pahala teman ini karena niat baiknya untuk berikan si Ibu sedeqah tentu tak bakal dianulir Allah, bahkan bila dia gagal menunaikannya sekalipun. Tapi dosa akibat buruk sangka terhadap si Ibu juga telah terlanjur didapatnya. Pahala niatnya bersedekah tetap didapat, tapi dosa berburuk sangka terhadap Allah karena bakal hilang 50ribu tentu tak mungkin diremehkan begitu saja. Lima puluh ribu itu memang besar baginya. Tapi tak ada apa-apanya bagi Allah SWT, kan?

Beberapa saat lagi waktu Dzuhur. Entah apa sebabnya ibu dan dua orang anak kecilnya (satu lagi masih dalam gendongannya) ini malah memilih mendatangi saya, walau sebetulnya banyak yang lain di sekitar saya.

“Dek, boleh pinjam kamar mandinya ya! Ini anak saya ‘eek!”, katanya.

Saya orang baik. Ibu ini memilih mendatangi saya pasti atas petunjuk Allah. Allah yang menggerakkan hatinya untuk mendatanginya saya. Allah memilih saya untuk orang ini. Siapa yang tak merasa terhormat, jadi manusia pilihanNYA?

Maka dengan rupa seramah mungkin dan senyum lebay, tentu saja saya persilahkan ibu itu untuk menggunakan kamar mandi saya.

Akhirnya saatnya sholat Dzuhur. Saya pun segera menuju ke kamar mandi, mau ambil wudhu’.

“Sialan….! Kamp***t…! Kok ga disiram, sih?”, saya ngomel-ngomel sendirian.

Ingatan saya kembali pada si teman dengan kisahnya. Enak betul dia! Diingatkan Allah untuk selalu jadi orang baik dan percaya terhadap limpahan rejekiNYA. Saya? Ini adalah teguran Allah bahwa selama ini saya gagal untuk tulus dalam berbuat baik, hingga perlu diingatkanNYA dengan eek yang lupa disiram.

“Ampuni hambaMu ini yaa, Allah…! Aamiin…!

20 Nov 2015

Master Mentalist (Edisi Pembaharuan) Hahaha....!

Permisi, minta maaf, lihat baik-baik...!

Kali ini saya ingin mengajak teman-teman semua bermain bersama saya. Saya bisa membaca pikiran dan pilihan teman-teman semua. Untuk memulai permainannya, coba kamu fikirkan dan letakkan jari telunjukmu pada salah satu logo jejaring sosial yang paling kamu gandrungi saat ini.

Sudah?

Sekarang gerakkan jari telunjukmu tadi ke atas atau ke bawah dan berhenti pada salah satu filem box office hollywood yang ada di situ. PAHAAAAM...?

Oke, paham ya? :) Sekarang dari filem barat tersebut, gerakkan lagi jari telunjukmu ke kanan atau ke kiri dan berhenti pada salah satu film Indonesia terkenal yang ada di situ.

Oke, sudah ya?

Sekarang giliran buku. Gerakkan lagi jari telunjukmu tadi ke atas atau ke bawah dan berhenti pada serial novel terjemahan (barat) anak-anak bacaanmu waktu kecil dulu, hihihi.... :)

Sudah...?

Sekarang terakhir. Pindahkan jari telunjukmu ke kiri atau ke kanan dan berhenti lah pada buku terbaik karya anak bangsa, wkwkwkw.... :p

*Saya Raul, terimakasih!

10 Nov 2015

Pahlawan Olahraga

Tadi saya sempat update status bahwa Pahlawan Olahraga saya adalah pebulutangkis Hermawan Susanto. Waktu itu saya baru pertama kali buka twitter sekilas dan terbacalah tweet Detikcom yang sedang ajak tweeple berbagi ‪#‎PahlawanOlahraganya‬

Kemudian saya baca Koran Sindo, ada ulasan Menpora Imam Nachrowi tentang Pahlawan Olahraga juga, dan dia memilih Susi Susanti, juga pebulutangkis sebagai pahlawannya. Waktu itu saya juga masih belum ngeh bahwa ada yang aneh, sebab saya juga belum ‘full buka twitter’.

Nah, tengah malam ini karena saya tak bisa tidur saya pun scrolling down TL twitter sampai jauh. Dan betapa kagetnya saya ketika hampir semua media mainstream ajak pembaca berpartisipasi memilih Pahlawan Olahraga favoritnya. Aneh…? Tentu saja! Setidaknya saya menangkap keganjilan itu. Ini pasti punya maksud tertentu. Yaa…! Saya 100% SANGAT YAKIN.

Ini penggiringan opini. Kemana arahnya? 

Tanpa mengurangi rasa hormat dan bangga saya terhadap seluruh legenda bulutangkis kita, mulai dari era Rudy Hartono, Christian Hadinata dan kawan-kawan, generasi Susi Susanty, Alan Budikusuma, Hermawan Susanto, Haryanto Arbi, Ardy Wiranata sampai kepada rombongan Taufik Hidayat semuanya adalah pahlawan bulutangkis Indonesia yang sudah harumkan nama Indonesia ke seluruh dunia. Wajib kita hormati. Tapi yang aneh adalah, kenapa mereka kembali nge-hits tahun ini…?

Kenapa seluruh media mainstream muat berita bertemakan Pahlawan Olahraga? Padahal sudah jelas dunia olahraga kita sungguh jauh dari prestasi sejak lama, kecuali bulutangkis.

Yaa, bulutangkislah jawabannya. Kesitulah memang pikiran kita digiring. Tujuannya apa? Tentu saja agar kita selalu menghormati para pahlawan bulutangkis kita. Cermati deh, siapa saja mereka! Kenali baik-baik!

Ingatan saya pun kembali pada upacara perayaan kemerdekaan 17 Agustus kemaren. Nama Maria Felicia Gunawan, sang pembawa bendera pusaka jadi pembicaraan di mana-mana. Seluruh media mainstream mengulas tentang sosoknya. Social media pun diramaikan tentang profilnya. Saat itu juga saya sudah merasakan keanehan, persis seperti kecurigaan saya saat ini tentang pahlawan olahraga.

Tiap tahun ada hari Pahlawan, kenapa tahun ini sorotannya seperti focus pada Pahlawan Olahraga. Tiap tahun ada upacara 17 Agustusan, kenapa si pembawa bendera pusaka tahun ini seperti begitu spesialnya…? Seluruh media mainstream mengulas profilnya. Kenapa…?

Media sudah terlalu lebay. Segala yang berlebihan itu tidak baik. Apalagi jika sejatinya memang sudah tidak baik. Semakin banyak oplasnya, semakin terang terlihat plastiknya. Makin tebal make-upnya, makin terlihat rupa aslinya. Makin tinggi monyet memanjat, makin terang bokongnya terlihat.

Sejak awal kepemimpinan Jokowi, sudah terlihat keberpihakannya pada Cina. Mulai dari Solo, ternyata mobil Esemka yang digadang-gadangnya adalah mesin buatan Cina. Lanjut ke DKI, TransJakarta ternyata juga barang rekon dari Cina. Isu pembelian 1500 kapal dari Cina. Kunjungan pertama usai dilantik adalah ke Cina. 10 juta lapangan kerja yang dijanjikan saat kampanye ternyata juga buat buruh migrant asal Cina. Seluruh proyek infrastruktur era Jokowi diserahkan ke Cina, sapu bersih. Silahkan saja browsing. Termasuk proyek Kereta Cepat yang sampai buat Jepang marah karena tak dilibatkan.

Makin banyak kebijakan yang pro Cina akan makin terlihat Cina-nya. Maka jangan salahkan jika saya juga mencurigai bahwa Proyek Pahlawan Olahraga dan Pembawa Bendera Pusaka itu demi makin mengibarkan dan mengabarkan bahwa Cina memang punya kredibilitas untuk dipercaya, sebab Susi Susanti cs dan Maria Felicia Gunawan si pembawa bendera pusaka itu adalah juga Cina, hiiiiiks….!

Bakalan kena pasal ‪#‎HateSpeech‬ nih, hahaha....!

9 Nov 2015

Konspirasi Lorenzo Juara

Seperti yang dijanjikan dan sudah ditagih pula oleh saudari Fitrihayati berikut saya posting hasil bincang-bincang asyik saya dengan Juara Terpilih: Jorge Lorenzo, siang tadi. Banyak hal, mulai dari isu konspirasi sampai isu terkini pertumbuhan ekonomi, haha…!

Kurang lebih seperti di bawah ini…

Raul :Selamat ya, bro! Gimana perasaan anda rebut gelar juara dunia dengan cara begini?

Lorenzo :Cara begini? Maksudnya?

Raul :Alaaaah, jangan pura-pura ga tau lah, Mas! Rossi kan bilang ada konspirasi agar anda yang jadi juaranya?

Lorenzo :Kamu percaya…? Ckckckck…! 

Raul :Jadi isu tersebut tidak benar…?

Lorenzo :Begini! Isu konspirasi itu ada salah dan ada juga benarnya.

Raul :Maksudnya…?

Lorenzo :Konspirasi itu memang ada. Tapi bukan soal nasionalisme Spanish dan Italiano seperti yang digembor-gemborkan Rossi. Dan kami sukses menjalankannya dengan sangat rapi. Saya juara, Rossi runner-up dan Yamaha juara konstruktor, haha...!

Raul :Kami…? Maksudnya anda dan …?

Lorenzo :Yaa…! Saya dan Rossi. Dan tentu saja tim kami, Yamaha, hahaha…! Pedrosa cerdik hingga mampu tampil konsisten, tapi Marquez sungguh bodoh. Terpancing, wkwkwk…! 

Raul :Maksudnya anda dan Rossi sengaja melakukannya…?

Lorenzo :Sengaja atau tidak itu relatif. Saat Rossi tuduh Marquez bantu saya di seri Australia itu sebetulnya karena emosi sesaat Rossi yang sedang kesal. Ketika Pedrosa belakangan menanjak, itu sangat membantu saya untuk mengejar poin Rossi yang sebelumnya sudah unggul jauh. Nah, sekalian saja isu itu dibesar-besarkan media. Mereka (Marquez dan Pedrosa) dianggap beneran bantu saya karena kami sama-sama berasal dari Spanyol. Padahal sangat jelas itu tak benar.

Raul :Tak benarnya dari mana?

Lorenzo :Sangat jelas kok! Pertama: saya dan Rossi satu tim. Sementara Marquez dan Pedrosa juga satu tim. Kan aneh? Masa tim lawan malah bantu tim lawan? 

Raul :Karena yang punya peluang juara kan tinggal anda dan Rossi?

Lorenzo :Apa mereka tak ingin juara konstruktor (pabrikan)?

Raul :Gengsinya kurang menarik mungkin?

Lorenzo :Hey dengar! Tim selalu lebih penting ketimbang anggotanya, kan? Perusahaan selalu lebih besar ketimbang karyawannya, kan? Ohya, kau suka sepakbola kan? Tim favoritmu apa? Tau Arsenal? Henry, Fabregas dan Van Persie itu adalah bintang utama mereka. Semuanya bahkan kapten pula. Tapi karena ingin pindah ya, Arsenal lepas mereka, kan? Honda jelas lebih besar ketimbang Marquez dan Pedrosa. Pun begitu saya dan Rossi jelas kalah penting ketimbang Yamaha. Jika mereka sudah tak suka, walau berstatus juara dunia dan legenda, mereka bisa saja depak kami.

Raul :Jadi soal Spanish dan Italiano itu cuma kerjaan media doank?

Lorenzo :Masih kurang jelas? Yang membayar gaji kami adalah Honda dan Yamaha, bukan Spanyol dan Italia.

Raul :Tapi kan gengsi negara ikut dipertaruhkan?

Lorenzo :Apa yang mesti Spanyol atau Italia banggakan? Kami kalah telak sama Jepang di bidang motor, hahaha…! 

Raul :Berarti nasionalisme atau profesinalisme?

Lorenzo :Budaya kita memang beda. Barat dan Timur sangat jauh bedanya. Kalian di Indonesia begitu agung-agungkan nasionalisme. Kalian bisa begitu jijiknya dengan prilaku para pemimpin kalian, tapi jika Indonesia diledek Malaysia misalnya, Pasukan Berani Mati muncul di mana-mana, tanpa diminta. Sementara kami di Barat, profesionalisme lah yang paling utama. Ingat kita hidup untuk makan, kan? Hahaha…! Negara kalian kaya sumber alamnya. Acara kontes-kontesan marak. Siapa saja bisa eksis masuk tipi jika mau ikut acara kontes-kontesan tersebut. Semua mudah di dapat. Sementara, tanpa sikap profesionalisme, sulit buat kami untuk tetap survive. 

Raul :Profesionalisme di atas nasionalisme?

Lorenzo :Tidak begitu! Yang pasti adalah Presiden FIFA jauh lebih punya kuasa ketimbang Presiden suatu negara sekaliber Amerika sekalipun. Dan sebagai olahragawan, kami mengerti pentingnya memisahkan antara nasionalisme dan profesionalisme. Lagi pakai jersey klub atau seragam timnas? Pantas saja prestasi olahraga kalian berantakan. Bahkan menteri olahraga saja tak mengerti apa itu olahraga, haha…!

Raul :Maksudnya?

Lorenzo :Sudah jelas olahraga itu tak boleh diotak-atik bahkan oleh Presiden sekalipun. Ehh, dengan PeDenya bekukan PSSI, haha…!

Raul :Kalau yang itu ga usah dibahas lagi, Mas! Udah cukup. Ga usah dipanas-panasin lagi. Mending kita ngomongin yang asyik-asyik aja, gimana?

Lorenzo :Salam ya, sama si Jambul Khatulistiwa, hahaha…!

Raul :Ouuwh, masih ingat sama orang itu? Suka nonton Halo Selebriti juga ya, Mas?

Lorenzo :Yaa, donk! Hahaha…! Udah syantiek, ramah pula.

Raul :Ramah, baik hati dan suka menolong itu khas Indonesia banget, Mas!
Lorenzo :100%. Bahkan saking baiknya itulah maka Menteri Keuangan kalian ingin pinjam duit rakyat untuk bantu ekonomi nasional, hahaha…! Udah berapa terkumpul ‪#‎CoinForJokowi‬?

Raul :Ehh, yang itu tahu juga?

Lorenzo :Ya iyalah! Kan saya followernya, si Presiden Hestek @ypaonganan, hahaha…!

Raul : (Hening)

*Tamat

28 Okt 2015

Napoleon Jomblo (Lagi)

Hai pemuda Indonesia,
Bangkitlah kau semua!
Negeri kita sudah merdeka,
Genderang perang sudah berbunyi.
Dengarkan panggilan ibu pertiwi

Puisi ciptaan Bang Mayor Pohan inilah dulu yang sanggup membakar semangat para pemuda maju menghalau lagi penjajah yang kembali masuk ke Indonesia pasca kemerdekaan. Bahkan seorang pencopet seperti Naga Bonar, yang sekolah bambu pun tak tamat, pun bergetar dan tergerak hatinya untuk bangkit dan memimpin rakyat menghalau penjajah. Semangat yang ironisnya sangat tak terlihat pada jiwa para pemuda dan mahasiswa dan kaum terpelajar di era Halo Selebriti ini.

Pemuda dan mahasiswa yang sebetulnya adalah penyambung lidah rakyat, corong suara masyarakat. Mahasiswa dulunya adalah pahlawan kemerdekaan media, sekarang malah berbalik diperalat media. Sayangnya kini mereka lebih suka berdesakan antri untuk terpilih menjadi serigala yang ganteng, ketimbang berpanasan di depan gedung parlemen sampaikan aspirasi rakyat. Lebih suka menjadi tim hore-hore di acara lawakan mesum. Lebih suka bertepuk tangan di panggung hiburan saling hina. Di sosial media lantang berorasi, tapi jadi pecundang demi bisa tampil di tipi. Garang bersuara di dunia maya. Mengkerut di dunia nyata, dihadapan hidangan makanan di istana negara.

Tak ada lagi KAMMI dan KAPPI yang dulu paling terdepan dengan Trituranya. Hampir tak terdengar mahasiswa berteriak ASAP…? Kenapa…?

Waktu merubah orientasi pendidikan kita. Dulu, kami sering dipaksa guru agar datang ke rumahnya demi makin memperdalam pengajarannya. Sekarang, nyaris semua tenaga pendidik berlomba-lomba buka bimbel, kursus, les private dan sebagainya, demi lanjutkan dan bertahan hidup.

Jaman dulu, orangtua berikan rotan pada guru untuk memukul bila kami malas belajar. Orangtua kalian malah lapor polisi hanya bila kalian dicubit guru sebab malas belajar. Generasi Petruk seperti saya dulu mengerti betul pedihnya peluru mainan dari pistol-pistolan. Generasi Halo Selebriti? Tinggal pencet tombol restart, new game, ehh…hidup lagi, hahaha…!
Sementara itu, jiwa kolonialisme tetap eksis mengusik bangsa kita. Sebagai negara besar dan kaya, sudah begitu mayoritas muslim pula, Indonesia adalah target utama imperialisme asing dan Yahudi. Indonesia adalah ancaman besar, karena itu mereka mesti dikungkung dan dibelenggu dengan kebodohan. Imperialiesme masih menjajah mental bangsa kita.

Pelajaran kebangsaan seperti PSPB dan PMP/PPKn yang begitu penting demi nasionalisme sukses mereka hapus. Sejarah inspiratif bangsa mereka belokkan, manipulasi. Kita tak pernah tahu seperti apa kronologis Perang Bubat yang menghitamkan sejarah tokoh nasional Gajah Mada. 

Kita bahkan tak tahu bahwa ada anak muda yang saking ditakutinya mereka juluki Napoleon Jawa. Saking hebatnya, strategi perangnya sampai mereka pelajari bahas dan tulis dalam sebuah buku. Selain Sultan Hasanuddin yang mereka juluki Ayam Jantan Dari Timur, siapa lagi pejuang kemerdekaan yang pernah diberi gelar oleh penjajah karena begitu ditakutinya? Tak ada? Cuma sang Napoleon Jawa. Buku Perang Gerilya karya Jendral Nasution memang menginspirasi pasukan Vietkong dalam perang hadapi Amerika. Tapi strategi perang siapa yang sampai begitu detil dipelajari bangsa penjajah sampai-sampai dibuatkan buku? Cuma strategi perangnya sang Napoleon Jawa.

Napoleon Jawa itu tak pernah diangkat jadi pahlawan Nasional, sebab entah kerjaan siapa yang mengaburkan sejarahnya. Dialah Sentot Prawiradirja Alibasya, salah seorang panglima perang Diponegoro. Aneh tidak, kenapa orang Belanda bernama E.S. De Klerek malah membahas strategi perang Sentot Alibasya, bukannya strategi Pangeran Diponegoro dalam bukunya “De Java-Oorlog Van 1825-1830” itu…? Aneh tidak, kenapa yang dijuluki Napoleon Jawa itu Sentot Alibasya, bukannya Pangeran Diponegoro…?

Menjadi makin aneh, sebab di Indonesia sendiri dia tak pernah diangkat jadi Pahlawan Nasional. Dalam buku Rekreasi Hati saya pernah duga penyebab utamanya. (belakangan saya juga sudah temukan dugaan baru penyebabnya, Insya Allah di Rekreasi Hati berikutnya, hehehe….!). Dia meninggal dalam keadaan masih jomblo. Tak ada keturunan yang bisa, setidaknya sebagai referensi untuk menelusuri sejarah panjang perjuangannya, mulai dari Perang Diponegoro(1825-1830), Perang Paderi tahap 2 (1830-1837) hingga bolak-balik dari pengasingan sampai meninggal di Bengkulu, 17 April 1855 pada Usia 48 tahun.

Sungguh sosok yang sangat inspiratif. Usia belum 17 tahun sudah jadi panglima perang dengan anak buah mencapai 1000 orang, dalam Perang Diponegoro. Di Perang Paderi, perannyanya juga tak kalah penting. Dialah tokoh kunci babak belurnya Belanda 11 Januari 1833. Dialah juga tokoh penting yang memberangus sentimen anti Jawa di Minangkabau saat itu, hampir se-abad jelang dicetuskannya Sumpah Pemuda. 

*Selamat Hari Sumpah Pemuda….!

25 Okt 2015

Bid'ah Itu Kafir...?



Rasulullah pernah mengabarkan bahwa nanti di akhir zaman umat Islam akan terbelah pecah menjadi 73 golongan. Seluruhnya masuk neraka, kecuali satu golongan, yaitu: 

“Yang mengikutiku dan para sahabatku (HR Tarmidzi)

Belakangan Indonesia sedang heboh dengan Syiah, JIL, JIN dan sebagainya. Tapi walau secara sadar kita berani klaim bahwa kita bukanlah satu diantara mereka, beranikah kita menganggap masih sebagai pengikut Rasulullah dan para sahabatnya itu…?

Sangat banyak praktek amal ibadah kita yang sudah melenceng jauh dari ajaran Rasulullah. Penghormatan berlebihan terhadap leluhur, fanatisme terhadap budaya dan tradisi bahkan mengancam umat Islam terperosok dalam prilaku dosa tak berampun: syirik. Lainnya: prilaku bidah yang juga mengancam identitas ke-Islaman kita. 

Islam adalah agama yang logis. Seluruh persoalan bisa dijawab dengan penjelasan logis. Itulah kenapa dalam berbagai forum debat keagamaan Islam selalu menang (saya belum pernah tahu Islam pernah kalah debat agama). Perintah ‘afala ta’qilun’ atau afala tatafakkarun adalah termasuk yang paling banyak disebut dalam Al-Qur’an. Perintah untuk berfikir dan menggunakan akal. 

Dengan berfikir dan menggunakan akal lah kita akan mampu terhindar dari soal-soal berupa bidah. Sebab selaku amalan tersebut masih bisa diperdebatkan, sudah pasti itulah bidah. Doa bersama dan kadang malah gunakan microphone setelah sholat berjamaah itu jelas sangat menganggu kekhusyukan ma’mum yang datang terlambat. 

Dimana penjelasan logisnya buang sial dengan cara buang-buang makanan masuk laut? 

Seluruh amalan terhenti kecuali sedekah jariah, doa anak yang saleh, ilmu yang bermanfaat. Jadi apa pentingnya tahlilan mendoakan arwah si Anu…?

Yasinan saling balap adu cepat bacaan antara imam dan jemaahnya? Masihkan bacaan yassin dengan cara balap begitu sesuai dengan dengan kaidah baca Al-Qur’an? Tajwid, makhraj hurufnya masih benar…? 

"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu." (QS. Al-Maidah:3)

Abu Bakar ra saja menangis kala mendengar ayat ini turun. 

“Islam sempurna berarti tugas Muhammad SAW di dunia selesai sudah”, begitu pikirnya.

Artinya adalah, bahwa dengan telah sempurnanya Islam, maka tak perlu disempurnakan lagi dengan hal-hal bidah. Berlaku bid’ah berarti mengingkari surat Al-Maidah ayat 3 tersebut. Dan sebutan terhadap orang yang mengingkari ayat-ayat Allah dalam Al-Qur’an adalah kafir. Apakah kita sudah aman dari berlaku bid’ah….? Jika tidak, berarti kita adalah termasuk kafir, bukan…?

Astaghfirullahaladziim….!

23 Okt 2015

Liga Italia vs Tarkam Indonesia



2 hari yang lalu saya bertemu dengan legenda bola Italia dan klub AS Roma, Fransesco Totti. Tentu saja kesempatan langka tersebut terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja. 

Siraul Nan Ebat  :Selamat ya, Signor! Atas gol ke-300nya! Maaf telat, hehehe…!

Fransesco Totti :Makasih ya! Never mind, hehe…!

Siraul Nan Ebat  :Anda hebat, usia 39 tahun masih aja ngeksis di Seri-A. Padahal teman-teman seangkatan anda seperti Pirlo sudah keluar dari Italia. Del Piero, Nesta, Ambrosini malah sudah pensiun. Belum terpikir untuk seperti mereka?

Fransesco Totti :Pensiun seperti mereka belum terpikir oleh saya. Tapi ikuti Pirlo bisa jadi, hehe…!

Siraul Nan Ebat  :Berarti ada kemungkinan untuk coba berkarir di luar Italia juga, donk!

Fransesco Totti :Siapa tahu? Wkwkwkw…!

Siraul Nan Ebat  :Kalau begitu main di Indonesia aja, Signor….!

Fransesco Totti :Di Indonesia? Bukankah negara kalian sedang disanksi FIFA? Berarti tak ada kompetisi, kan? Kalaupun ada berarti cuma turnamen antar kampong. Apa menariknya?

Siraul Nan Ebat  :Jangan pandang remeh Indonesia donk, Signor! Asal anda tahu, turnamen Tarkam kami jauh lebih hebat ketimbang Seri-A…?

Fransesco Totti :HAAAAH….? Tarkam Indonesia lebih hebat ketimbang Seri-A? wkwkwkw….! Hei, asal lu tau ya! Cuma La Liga Spanyol yang sanggup kalahkan Seri-A soal banyak-banyakan gelar juara Liga Champins. Itupun Cuma karena Barca dan Madrid doank. Lu kalau mau becanda kira-kira donk! Tarkam lebih hebat ketimbang Seri-A? wkwkwkw….!

Siraul Nan Ebat  :Tarkam kami seperti Piala Kemerdekaan atau Piala Presiden disiarkan live oleh Indosiar dan SCTV. Seri-A…? Jangankan live, siaran tundanya aja ga ada tipi yang minat, hahaha…!

Fransesco Totti : (hening)

Tiba-tiba secara kebetulan lewat pula seorang legenda Italia lainnya: Alesandro Del Piero yang juga legenda klub Juventus. Belakangan mereka beritahu bahwa mereka memang sedang barengan ke Indonesia. Katanya pingin nonton langsung konser tunggal Andhika Kangen Band, hahaha….!

Del Piero              :Jangan mau main di Indonesia, kawan! Selama saya main di Australia saya banyak dengar kasus di sepakbola Indonesia. Minggu lalu saya juga baru kembali dari Australia dan mau tahu? Hadiah juara Piala Kemerdekaan itu ngutang dulu, wkwkwkw….! Sampai sekarang saya dengar PSMS yang juaranya juga masih belum dapat tuh, hadiahnya, hahaha…!

Fransesco Totti :Haaah…? Hadiahnya utang dulu? Wkwkwkw…!

Del Piero              :Ga usah heran donk, ahh! Biasa aja keleeeeez…! Persib yang juara Piala Presiden aja malah dapat pialanya dari kayu, wkwkwkw….!

Fransesco Totti pengsan, Siraul Nan Ebat hening maksimal.

*Tamat J

18 Okt 2015

Setahun Jokowi - JK (sedikit review)



Besok, tepat setahun sudah Indonesia dipimpin oleh orang yang digadang-gadang majalah sekaliber Time sebagai New Hope, Jokowi. Benarkah Jokowi adalah Sang New Hope…?

Nyaris tak ada lagi alasan untuk mempertahankan Jokowi sebagai Presiden. Banyak syarat untuk memberhentikannya sudah terpenuhi. 

Jokowi sebagai kepala pemerintahan sudah melakukan pelanggaran HAM atas bencana kabut asap yang belakangan sudah menghajar nyaris seluruh Indonesia. Sumatera, Kalimantan dan belakangan bahkan Sulawesi dan papua juga sudah mengalaminya. Lihat UU No 39 tahun 1999 pasal 9 ayat 3
 
“Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat”

Sudahkah kita mendapatkan hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat…? 

Tidak itu saja, dengan bencana kabut asap ini juga secara telak mengeaskan bahwa Jokowi sudah melanggar hukum tertinggi di Indonesia, UUD1945. Lihat pasal 27 ayat 2 UUD 1945:
 
“Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”

Penghidupan yang layak. Sudahkah kita rakyat mendapatkan penghidupan yang layak? Layakkah hidup dalam kabut asap…?

Tentu ada usaha untuk mengatasinya. Tapi apakah sudah maksimal? Sungguh sangat diragukan. Betapa kasihannya nasib prajurit TNI yang bertarung nyawa demi padamkan kabut asap, tapi lihat bagaimana kelakuan para pemimpin korup kita? HUT TNI terakhir justru dirayakan di lokasi pabrik pembakar hutan terbesar di Indonesia. TNI, walau dengan pangkat Jendral sekaligus tetaplah saja prajurit yang selalu mesti taat dan patuh terhadap atasan. Panglima tertinggi mereka yaa, Presiden. Bila atasan memutuskan bahwa perayaannya mesti di situ, yaa berarti tak boleh disana. Begitu, kan? Ini sangat menyakiti rakyat.

Blusukan masuk asap? Ini adalah kelakuan PALING BODOH dan KONYOL Presiden Pilihan Kita itu. Poto tanpa maskernya dalam hutan asap ini seolah sangat menghina kami, korban asap. Potonya itu seolah bilang,

“Asap ini bagus untuk kesehatan”

“Asap ini bikin awet muda. Penambah ion tubuh, hahaha….!”

“Asap ini ga bahaya, kok! Buktinya saya aja ga pakai masker!”

Tolong tim penasehat Presiden di-check, apakah Presiden kita itu tahu peta Indonesia?Apa Jokowi tahu, Batam saja yang ratusan kilometer dari titik hotspots sudah demikian pengapnya.
Padahal itu baru soal asap. Belum lagi soal penegakan keadilan hukum itu sendiri. Presiden GIDI, yang jelas-jelas telah berlaku makar, melanggar UUD1945 pasal 29 ayat 2 tentang kebebasan beribadah bukannya diusir dari Indonesia, apalagi sampai dihukum mati, malah ditraktirnya makan di istana Negara. Sebaliknya, umat Islam berjenggot yang baru pulang dari pengajian malah di-dor tanpa merasa perlu untuk diinterogasi terlebih dahulu. Penguasa yang melakukan pembiaran terhadap pelanggaran telak UUD1945 adalah juga berarti melakukan pelanggaran itu sendiri.

Sungguh hebat rakyat Indonesia ini. Mereka begitu mencintai Indonesia. Setiap bulan Agustus rakyat beli bendera, sementara pejabatnya menjual negara. Pajabat makan suap, rakyat megap-megap makan asap. Entah sudah berapa bulan ini rakyat mensubsidi BBM untuk Negara? Ingat, sekarang kita beli premium di atas harga minyak dunia, lho! Artinya apa? Sekarang justru rakyatlah yang mensubsidi negara, ckckckc….!

Apa yang dilakukan pemerintah dalam membenahi morati-maritnya kehidupan rakayat belakangan ini? Sibuk? Yaa, sibuk ngeles sana-sini, bahkan menghasut rakyat.

Final Piala Kemerdekaan dibuat seolah final Piala Dunia. Rakyat sebetulnya tenang-tenang saja, tapi mereka anggap sedang begitu kacaunya. Entah darimana isu pertandingan final turnamen TARKAM itu bias bakal rusuh. Saya bahkan berani jamin, bahwa isu yang katanya beredar via broadcast BBM itu 100% hoax. Siapa yang katanya ditangkap itu? Emang ada wajahnya yang ditrampilkan di tipi. NOL….! It’s a BIG BULLSHIT….!

Jika sesuatu diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya. Sudah 14 abad yang lalu Islam mengingatkan kita. Tapi dengan sok tahunya Menegpora bekukan PSSI. Lihat nasib Persipura yang saat kampanye saja Jokowi berani ‘sumpah’ potong leher bahwa Persipura bakal juara. Ehh, begitu sudah sampai 8 besar malah dapat sanksi, hahaha….! 

“Saya jamin Persib dan Persipura bakal tetap bisa ikut AFC Cup”, sumbar si sok tahu.

Saya sungguh kepikiran. Ini orang beneran sok tahu kali yaa? Padahal sudah jelas dan tegas aturannya, pemerintah sama sekali tak boleh intervensi urusan federasi sepakbola masing-masing negara. Tuh lihat Kuwait! Sudah ikut kualifikasi Piala Dunia dengan total 3 kali menang, sekali draw dan sekali kalah tanpa kasihan sama sekali tetap disanksi FIFA karena intervensi pemerintahnya.

Kasihan anak-anak Papua. Boaz, Bonai, Wanggai, Mandowen dan lain-lain yang punya tambang emas terbesar dunia di kampungnya sekarang malah sibuk berebut satu medali emas turnamen kelas kampung, hahahak….!

Dan sampai sekarang tak ada tanda-tanda akan turunnya Imam Nachrowi. Sepakbola terus dibisnis dan politikkan. Gila, sudah berbulan-bulan kita diberi sanksi FIFA, tak ada tanda-tanda PSSI baru akan dibentuk? Lalu apa tugas Tim Transisi?

Bukankah tugasnya untuk membentuk kepengurusan PSSI baru? Sudah berapa bulan mereka bekerja? Apa hasilnya? Anggaran yang saking besarnya buat operasional mereka sempat diprotes public. Tapi PSMS yang juara Piala Kemerdekaan yang juga turnamen antar kampung sampai sekarang juga belum terima hadiahnya. Tadi Persib Bandung juga sudah juara. Hadiahnya? Kapan-kapan lagi? Hahaha….!