Follow Donk...!

22 Apr 2014

Presentasi Kemarahan bag.2



Sambungan post kemaren…

Itu adalah buku tersayang saya. Saking sayangnya saya akan ‘melibatkan’ Allah, sholat istiqarah, minta petunjuk bahkan jika Dian yang ingin meminjamnya. Padahal itu Cuma minjam, bukan minta. Dan yang pinjam pun Dian pula. Saya punya 100-an koleksi buku. Sudah banyak yang hilang karena dipinjam teman dan gagal memulangkannya. Tapi jika harus memilih, saya akan pertahankan buku yang satu itu, biarpun yang lain semuanya hilang.

Saya orang baik. Maaf, terpaksa diceritakan. Tinggal bersama 2 orang teman. Yang satu adalah teman yang memang saya ajak tinggal bersama, sedang yang satu lainnya menyusul belakangan. Kasur cuma 2, dan semuanya untuk mereka. Saya sendiri tidur di triplek, hahaha… (:

Nah, teman yang dating belakangan inilah yang alpa, hingga ‘merusak’ buku saya. Buku yang begitu rupa saya jaga hingga bahkan jika seorang Dian pun ingin pinjam saya tak rela. Ehh…jadi tak karuan rupanya gegara kelalaiannya.

Saya meradang. Saya marah. Dan meski dia sudah minta maaf, hati saya sudah keburu hancur. Remuk redam setiap melihat buku itu. Berhari-hari dia saya diamkan. Sebab setiap melihatnya, buku itulah pula yang terbayang melulu. Suatu hari dia pamit, entah mau ke mana. Pamit yang normal saja, seperti biasanya.

“Bang, aku keluar ya sebentar!”, begitu kira-kira redaksinya.

“Pergilah, kau!”, kasar memang jawaban saya sejak kejadian itu.

“Abang keberatan kalau aku tinggal di sini?”, katanya lagi.

“Kalau aku keberatan, , buat apa aku kasih kau kasur, sedang aku sendiri tidur di triplek?”, jawabku masih dalam suasana marah, meski tragedi buku itu sudah seminggu lebih berlalu.

Hening sejenak. Suasana sungguh terasa kaku. Demi mencairkan ketegangan diambilnya sapu dan mulai menyapu. Formalitas saja, sebab memang lantai ‘sedang’ tak begitu kotor.

“Jadi abang ingin pakai kasur?”, tanyanya tiba-tiba…

Tuh, kan….????

21 Apr 2014

Presentasi Kemarahan bag.1



Saya ini anak Pisces, HAAAAH…?!!?!?!?! Konon kabarnya, pintar (: Asmara: berjodoh dengan Gemini yang profesinya guru. Namanya Dian, wkwkwk…!

Oke, cukup ngawurnya. Belakangan ini saya sedang punya masalah dengan namanya marah. Bukan marah yang mudah dikendalikan, sebab marah yang ini cukup menantang dan menyebalkan. Saya lebih suka jenis marah yang praktis-praktis saja, misalnya tonjok langsung tanpa ba bi atau bu. Tapi karena saya orangnya lemah lembut (cieeeh…cieeehhh…), saya lebih suka marah dengan gaya yang lain. Tentu saja tetap praktis. Misalnya, memaki dengan kata yang kasar. Ringkas saja. Cukup maki dengan kata-kata jorok yang tak perlu lah pula saya tuliskan, bukan? Tapi karena saya orangnya juga sopan, maka saya pun memaki dengan kreatif, tanpa kata-kata jorok. Misalnya saat saya memaki manejer saya yang gila itu.

“Tak jentel, Kau”, saya memaki sambil menunjuk-nunjuk ke arah jidatnya.

Praktis, tapi tetap sopan, kan? Praktis, karena cuma itulah makian yang saya semburkan. Sopan, karena meski nadanya kasar tapi tak ada kata-kata jorok yang saya keluarkan. Terhadap manejer yang telah melecehkan saya itu saya bias memperjuangkan hargadiri tanpa perlu kehilangan control diri.

Saya memang lebih kuasa bersabar terhadap kejahatan ketimbang bersabar terhadap kebodohan. Karena bahkan untuk marah terhadap yang bodoh kita juga mesti sabar. Inilah jenis marah yang paling menantang dan sungguh sulit saya taklukkan. Marah terhadap yang bodoh itu butuh kemampuan ekstra. Sambil marah kita juga butuh sabar. Sabar dalam mempresentasikan kemarahan kita. Tak bisa praktis seperti biasanya. Marahnya mesti lengkap. Kemarahan itu harus disertai dengan penjelasan yang detil. Dalam situasi marah, kita juga butuh kesabaran dalam menjelaskan kemarahan kita. Dan belakangan ini sudah beberapa kali saya alami. Terakhir saya juga pernah posting cerita kemarahan saya terhadap seorang teman yang (maaf) bodoh. Masalah buku, sudah pernah baca kan? Itu adalah kemarahan yang gagal saya taklukkan karena kebodohannya. Bicara bodoh yang mestinya tak penting. Sudah bodoh bicara tak penting pula. Sudah tak penting, ngotot pula.

Saya harap itu adalah marah saya yang terakhir. Tapi lacur, berulang lagi. Jika kemaren soal buku, yang sekarang juga soal buku lagi, hahaha…! Jika kemaren teman sekerja, sekarang terhadap teman serumah. Sudah begitu, sama-sama bodoh pula. Sekali lagi Maaf, bagi yang kurang berkenan atas pilihan kata saya. MAAF YAA, Pembaca…!

Saya sudah capek. Saya sudah buang waktu dan energi demi kemarahan saya. Saya langgar kebiasaan gaya marah saya yang praktis itu. Sambil marah saya jelaskan kemarahan saya dengan sabar. Begimana tuh, caranya? Wkwkwkwk….! Cobalah pembaca bayangkan bagaimana sakitnya marah terhadap orang yang tak paham substansi kemarahan kita. Itulah yang saya alami dengan teman serumah saya itu.

Urut-urutannya begini…

Dia baca, ketiduran dan hujan. Jendela yang lupa ditutup membuat air hujan merembes masuk. Permukaan lantai yang mengkondisikan air tergenang membuat buku kesayangan saya terendam, covernya copot dan bagian halaman isi keriting karena basah. Kisahnya lanjut di post berikutnya saja, yaaaa…..!

26 Mar 2014

Ribas Magical Art Part 3

-->
Sambungannya lagi nih…

Tapi yang paling buat saya angkat topi dari lagu-lagu Ribas adalah quote dan kutipan keren dalam lirik lagunya. Tak mungkin saya tulis satu –persatu. Googling aja deh, misalnya lagu Seseorang Yang Lain, Telephone (ft Nindy), Terbang Sendiri, Menagih Janji, atau Bandara dan banyak lagi lainnya, termasuk kutipan-kutipan berkualiatas yang terdapat di album indienya. Atau bagaimana ode yang ditulisnya bagi Erros (SO&), Dhani (Dewa) dan Pongky (Jikustik) di ‘Bukan Lewat Lagu’. Lagu favorit yang sudah ratusan atau malah ribuan kali saya dengar, sejak tahun 2006. Tak ada yang membuat bosan.

“Jangan pernah ucap kata berpisah, saat cinta kita tak lagi terasa indahnya. Berlatihlah untuk tabah, maka engkau kan rela berkorban” ~ Aulia

“Meski cinta tak mengenal beda, namun usia dibataskan dunia ~ Tabu

“Masihkah ada cinta di dada? Jangan kau tanyakan sebab masih di sini. Besarnya cinta tak terhapus oleh murka. Maafkan, maafkan semua salah” ~ Sampai Tua

Masih membekas bulir mata di pipi. Tidurlah tuk redakan amarah. Kasarkah kata yang terucap tak sengaja? Maafkan. Maafkan semua salah” ~ Sampai Tua

“Aku di sini temanimu sampai tua. Jangan ragukan itu meski terkadang kau merasa tersia. Mampukah engkau mencintai diriku selamanya, seperti aku mencintai dirimu. Yolong temani aku sampai tua” ~ Sampai Tua.

Gila, lirik keren begini saja tak lolos seleksi buat album resminya, ckckckc…*takjub

“Bertahanlah demi masa lalu cinta, demi mimpi indah kita tentang akhir yang bahagia. Tersanjunglah, aku memilihmu cinta! Jalanku hanya padamu. Cinta harus memiliki” ~ Cinta Harus Memiliki.

“Kala kutemukan bagian yang hilang. Patahan rusuk itu melengkapkan aku. Kala kukumpulkan serpihan hatiku, membentuknya menyatu menguatkan aku ~ Dia Yang Tak Bisa Kusebut Namanya

“Pernahkah kau membayangkan lelaki pun bisa menatap dengan patah hati. Begitupun diriku, tak henti meratap pergimu dulu. Namun kini kutetapkan cintamu bagian dari masa lalu ~ Melibas Pagi

“Malam datang menggantikan, sinarmu yang menyilaukan. Malam datang menenangkan, mengusir rasa lelahku” ~ Melibas Pagi.

“Coba lihat yang kau lakukan. Bekasmu tak tampak lagi. Waktu mendewasakanku. Menggiring kekasih baru yang datang membantu. Malam dating menggantikan tempat yang dulu kau singgahi. Merangkul seluruh ruang di hati, tenangkan aku dalam pelukannya ~ Melibas Pagi

“Temukan aku dalam gelapku langitku, biarkan aku bagai kenangan yang pudar. Maafkan aku dalam gelap langkahku, mungkin terlalu angkuh untuk memintamu agar tinggal di sini” ~ Lelaki Yang Menangis

“Hati kuserahkan untuk kau patahkan. Hidup kuberikan untuk kau hancurkan. Maaf, aku tak bisa berhenti mencintaimu seperti yang kau impikan. Akupun ingin kau terganti, namun putaran waktu menguatkan cintaku padamu” ~ Tak Bisa Berhenti

“Terdiam aku tak tau mengapa kau berobah. Naluri lelaki ku pun tak lagi menyanjungmu. Pergilah dengannya, mencari langit yang lebih biru”, What the lyric is…?

*Udahan dulu yak! Ga bakal selesai nulisnya. Keren semua. Padahal itu belum termasuk lirik2 yang dinyanyikan penyanyi lainnya. Lagu Dewiq, termahal 60 juta. Ribas? 2 lagunya oleh Syahrini dihargai 2 Miliar! Keren ga, tuh…?

Ribas Magical Art Part 2

-->
Ribas cuma punya 2 album + juga 2 album indie/mini. Tapi lihat donk, kualitasnya! Lagu ‘Menunggu Ternyata Menyakitkan’ dibuat versi barunya oleh Pinkan Mambo. Lagu 1000X Maaf malah dibuatkan vidklip-nya saat dipakai di album Aris Indonesian Idol. Juga ada lagu ‘Seseorang Yang Lain’ yang dipakai oleh Gede Bagus, mantan kontestan X Factor Indonesia. Ada musisi lain yang begitu? Sudah berapa album yang dihasilkan Peterpan, Ungu, dan lainnya? Berapa banyak lagu mereka yang sudah dibuatkan fresh version-nya? Ada? Jangan ngomong Wali atau ST 12 deh! Apalagi kangen Band, wkwkwk…!

Lirik yang berkelas, sangat sadar EYD dan nyambung. Ada lagu ‘Juminten’ yang menceritakan tentang seorang cewek yang sedang di Amerika, entah kenapa ada pula di bagian liriknya “…Indonesia Raya…”, hahaha…! Di mana nyambungnya?

Juga ada lirik yang bikin pusing.

“…
Cobalah kau lihat di langit biru
Rangkaian bintang-bintang
Cobalah kau pilih di antara itu
Tunjukkan padaku
…”

By: Radja

Bagaimana mungkin saya bisa menghayati ini lagu. Langit itu terlihat biru di siang hari. Dan setahu saya bintang tak pernah terlihat di siang hari. Untuk menghayati sebuah lagu, saya mesti berada dalam situasi seperti yang dilukiskan oleh lagu tersebut. Tapi jujur saja, saya bingung membayangkan  ada bintang yang terlihat di langit biru, di siang hari…?
Sungguh beda dengan karya-karyanya Ribas. Bahkan saya yakin, lagu Simphoni Hati tak dimasukkan ke dalam album resmi adalah karena liriknya yang sungguh terlalu kuat. Ini adalah salah satu lagunya yang betul-betul saya suka, tapi bahaya. Saya yakin, Ribas sangat tahu itu. Tanpa mental yang kuat pendengarnya, ini lagu bisa merusak jiwa. Galaunya lirik Butiran Debu, Lelaki Yang Menangis atau Kekasih Buat kekasihku belum ada apa-apanya ketimbang lagu yang satu ini.

Mentari pagi datang kembali sakitkan kulitku
Aku akan tetap seperti biasa, duka yang tak kunjung hilang.
Berkaca diri tetap temukan wajah yang seperti kemaren

Tak ada yang berubah, lelah berharap
Kusadar diri aku tetap hina
Dian (rusak, wkwkwk) yang kuharapkan tak kunjung datang.
Ingatkan bahwa aku tetap hina

Coba perbaiki hati,
mungkin bisa membuat ini ke arah yang sempurna,
seperti yang selalu kudamba

Berkaca diri tetap temukan wajah yang seperti kemaren
Saat engkau jauh dan aku terjatuh
Tetap terluka seperti dahulu
Tak ada yang berubah, lelah berharap
Kusadar diri aku tetap hina
Dian (rusak, wkwkwk) yang kuharapkan tak kunjung datang.
Ingatkan bahwa aku tetap hina

Galau sangat kan, liriknya. Terlalu bahaya, tanpa ada sisi optimisnya. Apalagi penjiwaan yang sungguh menghasut saat menyanyikannya lagunya. Inilah yang saya yakini kenapa lagu keren begini tak diberi porsi di album resminya.

“Ingatkah engkau padaku, yang dulu menatap pergimu dengan penuh duka. Ingatkah engkau padaku, yang pernah mencoba menahanmu dengan air mata. Ingatkah engkau pada bahu lemah ini, tempatmu bersandar dan bercerita tentang cinta” ~ Aku Rindu Padamu. 
-->

Galau tak dengar liriknya…? Cuma lagu Minang yang bisa ngimbangi lirik lagunya, hahaha…!

Sambung nanti lagi, yaa…! Tenang aja, kalau soal Ribas (dan Dian) ga bakal ada habisnya, hahaha…!

Ribas Magical Art Part 1


Setidaknya sudah 2X Dian menghina idola saya, Ribas. Saya tak terima donk! Tapi walau begitu saya tetap suka kok, sama Dian, wkwkw…! Nah tulisan ini akhirnya terpaksa juga saya post, agar Dian juga tau siapa orang yang jadi saingannya itu (: Setidaknya bermanfaat sebagai pencerahan bahwa musik Indonesia itu idealnya adalah seperti apa yang telah dihasilkan Ribas, hehehe…!

Ribas bukanlah sebuah grup Band. Kalaupun misalnya suatu saat dia bikin grup, saya orang pertama yang akan protes. Sebab Band dan solo itu sungguh beda. Band butuh penyatuan konsep dan visi masing-masing personel untuk kemudian membentuk satu konsep baru. Tak banyak band yang besar, dan legend sekalipun yang mampu mempertahankan cita-cita awal pembentukan bandnya. Sebab, pasti tak mudah karena masing-masing personel tetap punya idealisme sendiri-sendiri. Band sekelas Bon Jovi pun terakhir sudah ditinggal gitaris yang telah mendampinginya hampir sekitar 30 tahun. Di Indonesia, Slank generasi pertama adalah musisi-musisi besar yang akhirnya malah berkarir sendiri-sendiri.

Ribas, adalah asset musit terbaik di Indonesia. Kenapa tidak terkenal, sebab dia banyak menghabiskan waktunya di luar negeri, kuliah. Sekarang dia sudah jadi Doctor, Phd…WOW… (: Jurusan: filsafat. Bayangkan saja kualitas lirik dari seorang doctor filsafat! Gila…Keren beud, hehehe…!

Masalahnya, lirik yang tak biasa itu justru tak ramah dalam industri musik kita yang orientasinya melulu soal uang. Saya sendiri sungguh kecewa kenapa lagu ‘Sebelah Hati’ dan ‘Kekasih Buat Kekasihku’ yang dipilih untuk dijadikan single andalan di album 1 dan 2-nya. Bukan karena lagu atau liriknya tak bagus. Khususnya lagu ‘Kekasih Buat Kekasihku’, lagu apa yang bisa menandingi kualitas kegalauan liriknya? Saya belum melihat tandingannya kecuali ‘Butiran Debu’ dan ‘Lelaki Yang Menangis’, atau malah ‘Simphoni Hati’ yang semuanya juga adalah lagu ciptaanya sendiri.

Ditunjang lagi oleh kesempurnaan ‘soul’ musik dan vokalnya, ini lagu sungguh menghanyutkan perasaan.  Hanya saja ‘terlalu biasa’ bagi seorang doctor filsafat seperti Ribas. Saya yakin pasti jika punya kuasa, Ribas akan memilih ‘Seseorang Yang Lain’ atau ‘Tak Bisa Berhenti’ untuk dijadikan single andalan. Atau jika bisa negosiasikan ‘Aku Rindu Padamu’ dengan produsernya, jika ingin tetap ada unsur komersialnya.

Untuk album pertama, lagu ‘Bandara’ bolehlah. Tapi jika saya yang berkuasa, lagu pilihan saya adalah ‘Lelaki Yang Menangis’, sebagai single pertama. Karena Cuma 2 lagu yang dibuatkan vidklip, ‘Menunggu Ternyata Menyakitkan’ lebih bisa menarik perhatian, tanpa mesti kehilangan idealisme liriknya. ‘Sebelah Hati’ terlalu biasa, Ribs…! (mudah2an aja dia nyasar ke blog ini, hehehe…!)

Ribas adalah lirikus terbaik di Indonesia. Maestronya lagi galau, hahaha…! Sejak berhenti nyanyi (konon karena produser menganggapnya tak bisa nyanyi, ngiik), dia beralih jadi produser sendiri. Lihat saja betapa hebohnya ‘Butiran Debu’. Walau Cuma beredar 2 bulan sebab bermasalah dengan penyanyinya, satu albumnya keseluruhan terbilang sangat sukses. Butiran Debu adalah lagu Indonesia yang terbanyak di cover version, versi Youtube. Butiran Debu adalah lagu terbanyak yang pernah dijadikan sebagai soundtrack FTV dan sinetron di Indonesia. Terakhir info dari Ribasnya langsung, sekitar 16 judul.

Sayang, rilis Maret, awal Juni semua albumnya ditarik lagi dari pasaran dan radio-radio, termasuk menghapus semua file yang ada di 4shared, hihihi…! Saya sendiri sebagai penikmat gratisan sempat mengamankan 6 dari keseluruhan 10 lagu di album Rumor tersebut. Ribas tenggelam? Tidak. Rata-rata lagu album Rumor tersebut langsung dipakai oleh banyak penyanyi lainnya. ‘Butiran Debu’ dipakai Terry. Studi banding dipakai Derbi Romero. Wow dipakai XOIX. Lagu-lagu lainnya juga sedang dalam proses rekam oleh penyanyi lain.
 Kepanjangan, ahh…! Sambung nanti lagi yaa… (:


25 Mar 2014

Dian is My Miss PKL Part 2


Sambungan post sebelumnya, nih...

Bisa dibilang gagal. Kehadiran mereka berdua malah makin mengingatkan saya tentang Dian, sebab mereka berasal dari sekolah yang sama, walau beda tingkat. Mereka memang meladeni bualan saya. Tapi itu pasti karena mereka berdua, sedang saya sendiri. Lagipula, seperti layaknya Dian, komunikasi kami paling saat pulang, istirahat atau pagi-pagi sebelum bel masuk berbunyi. Saya bekerja di lantai 2, sedang mereka di lantai 3. Tapi yang pasti mereka jelas bukan tipe yang bisa saya harapkan. Agama kita saja beda, kok (:

Selesai mereka berdua, datang lagi 2 orang. Kali ini jauh, dari Padang. Pasti cantik, donk! Padang, wkwkwk…! Masalahnya, cantik itu belum tentu menarik. Emosi yang ditimbulkan keduanya juga beda. Terhadap yang cantik, biasanya kita tertarik karena nafsu belaka. Tapi terhadap yang menarik,  kita biasanya tertarik karena memang ada rasa suka. Nah, di situlah lebihnya Dian saya, wkwkwk…!

Btw hasilnya bagaimana? Saya gagal total. Jangankan untuk menggombal, yang seorang malah langsung kabur, berteriak histeris jika melihat saya. Seorang teman yang mengaku pernah dijadikan tempat curhat pernah menceritakan betapa saya begitu horror dihadapannya. Jleeb, walakaka ee ee (:

Terhadap mereka, khususnya yang satu itu saya sungguh merasa bersalah. Sempat saya cari Facebooknya dan ketemu. 3x saya kirim permintaan maaf karena telah menjadi terror buatnya, belum (tidak) direspon sampai sekarang. Hiiks…!

Berikutnya, 2 orang lagi datang. Kali ini dari Batam saja. Cantik? Enggak juga. Yang satu hitam tapi manis. Yang satunya lagi putih tapi seram, hahaha…! Kali ini hasilnya cukup memuaskan. Meski cuma seorang yang bersedia meladeni ocehan saya, itu lumayan bisa mengisi kekosongan hari-hari semenjak ditinggal Dian. Saya malah sukses memberinya si Hitam tapi manis sebuah nama panggilan kesayangan: Kukum, wkwkwk…! Kata si Putih tapi seram, “nama itu sukses sebagai bahan ledekan di sekolah”, katanya. Cukup sukses dan interaktif, sebab kami memang bekerja di departemen yang sama, yang memungkinkan kami bisa bercengkrama kapan saja. Tapi, tetap saja, Dian masih Miss PKL saya, hahaha…!

Nah, yang terakhir yang paling ajaib. Seorang saja, tapi juga bekerja di departemen yang sama. Namanya Tika. Seperti biasa saya juga punya nama kesayangan buatnya: Yayang Tika, hahaha…! Yang jadi masalah adalah saat suatu kali dia pernah bertanya,

“Bapak kan, (Busyet…saya dipanggil Bapak) yang dulu tinggal di SMK itu, kan?”, katanya.

“Lho, kok tau?”

“Saya Tika, Pak! Anaknya Pak Hamdani. Yang dulu masih kecil-kecil itu!”, jelasnya.

Masya Allah! Ilfeel saya. Memang waktu itu umurnya baru sekitar 4 atau 5 tahun. Ternyata dia adalah anak guru saya, wuuuuuuaaaaa…. ):

*Tamat

Dian is My Miss PKL Part 1


Berhubung sedari awal bulan sudah terlalu banyak cerita serius (terlalu serius malah), sekarang saya ceritakan hal-hal yang tak jelas saja, ya? Kisahnya masih tetap tentang Dian. Memang tak bias saya jauh-jauh dari Dian, ya? Hahaha…! Tapi kali ini tentang ‘Dian’ yang lain. Tapi tenang saja, ini inspirasinya masih Dian yang Rawa Sari itu kok, cuma dengan tokoh yang berbeda. Apa sih maksudnya?

Dian lah sebab pertama kenapa saya sampai dijuluki ‘Spesialis Anak PKL’ di sana, hahaha…! Sungguh saya amat kecewa saat tiba-tiba tahu bahwa Dian sudah habis masa PKL-nya di sana. Kenapa kecewa? Sebab saya tidak tahu, hahaha…! Jujur saja, andai saja satu hari sebelumnya saya sudah tahu, saya ingin memberinya sesuatu. Yah, setidaknya sebagai ujud rasa terimakasih saya terhadapnya karena telah menjaga semangat saya dalam bekerja. Sudah tahu, kan betapa bencinya manejer terhadap saya?

Satu-satunya alasan saya mampu bertahan yaa, karena Dian. Dian memang tak berbuat apa-apa. Tapi segalanya tentang Dian adalah semangat saya. Membayangkan bakal bertemu dengannya saja sudah menggairahkan saya, kok (:

Jadi, tentu saja saya syok begitu sadar takkan pernah lagi bertemu dengannya. Memikirkan itu sungguh merontokkan gairah saya. Facebooknya saya tak punya. Diminta nomor HP, dia beri senyuman. Saya pun langsung takluk, hahaha…! Bisa saja saya minta lewat orang lain, tapi begitu bukan gaya saya. Saya mesti usahakan sendiri, minta langsung ke orangnya. Tapi begitulah hasilnya.

Gagal mendapatkan nomornya, saya incar nama Facebook-nya. Sungguh satu perjuangan sulit yang layak diacungi jempol (meski lebay). Search: Dhyan. Tanpa ada hasil. Ketik: Dian, ribuan pula hasilnya. Rawa Sari? Juga tak ada, hahaha…! Dugaan saya, saat itu dia belum punya Facebook…?

Tapi mustahil saya menyerah. Saya tak percaya dia tak punya Facebook. “Anak IT kok tak punya Facebook”, pikir saya? *Emang kapan sih, Dian bikin Facebooknya? Karena itulah saya cari terus. Modal saya bukan tak ada. Saya tau di mana dia sekolah. Nah yang paling mungkin amat menolong adalah bahwa Kepala Sekolahnya adalah mantan guru saya juga dulu, dan kami berteman di Facebook. Itu pasti sungguh menolong. Benar saja, akhirnya setelah berbulan kemudian muncullah penampakan… Ada satu nama yang mencurigakan saya, sekaligus membuat saya sungguh geli mengingatnya, hahaha…! Tenang saja, Dian! Ga bakal dikasih tau, kok (: Tapi keren kan, perjuangan saya menemukan ‘cahaya’ saya yang hilang itu?

Oke, kita tinggalkan sebentar Dian yang itu. Kita balik ke ‘Dian-Dian’ lainnya seperti yang telah saya beritakan di awal.

Ditinggal Dian buat saya galau. Solusinya apa? Saya mesti cari Dian baru, yang bisa bantu semangat saya oke lagi. Kebetulan sekali, begitu Dian ditarik pulang ke sekolah, dikirim lah pula 2 orang penggantinya. Dian mestinya kenal dengan 2 orang juniornya ini…?

Dalam masa-masa galau itu saya mesti berusaha move on. Tapi karena saya beraninya Cuma sama anak kecil, wkwkwk…! 2 orang itulah incaran saya selanjutnya.

*Hasilnya bagaimana? Di post berikutnya saja, yaa…(:

24 Mar 2014

MH370 Pasti Tenggelam...?


Malam tadi secara resmi pemerintah Malaysia melalu Perdana Mentri Najib Razak telah mengumumkan bahwa pesawat Malaysia Airline MH-370 dinyatakan tenggelam dan tanpa ada satupun penumpang yang selamat. Turut berdukacita bagi semua keluarga penumpang. Semoga diberi kekuatan dan keihklasan.

Tapi masalahnya, saya sama sekali belum meyakini bahwa pesawat MH-370 itu benar-benar pasti tenggelam. Sampai saat ini di posting, saya sama sekali tak menemukan link berita yang bisa memastikan bahwa pesawat tersebut benar-benar tenggelam. Belum ada satupun kapal atau pesawat dari Tim SAR gabungan yang memastikan bahwa puing-puing yang ditemukan di Samudera Hindia itu  benar-benar bagian dari pesawat dimaksud. Bahkan pejabat Malaysia sendiripun tak sedikit yang meragukannya. Dalam pengumuna resmi itu, PM Najib Razak ‘hanya’ mengatakan bahwa ‘posisi terakhir’ pesawat ada di Samudera Hindia. Lokasinya terpencil, jauh dari titik landasan yang memungkinkan pesawat itu mendarat.

Apa maksudnya dengan ‘posisi terakhir’? Apakah itu berarti posisi saat terakhir pesawat terdeteksi? Ini jelas cuma permainan kata. Malaysia tak berani memastikan posisi jatuhnya pesawat, karena memang belum ditemukan. Bahkan kalimat ‘lokasi terpencil, jauh dari titik landasan yang memungkinkan pesawat itu mendarat’ makin membuat saya yakin bahwa Malaysia seolah hendak mengatakan pesawat itu terdeteksi terakhir kalinya saat ‘masih terbang’, bukan saat pesawat itu jatuh. Kata ‘lokasi terpencil’ sama sekali tidak meyakinkan di mana sebenarnya posisi jatuhnya pesawat.

“Harap dicatat bahwa pengiriman alat ini (peralatan untuk mencari kotak hitam) ke Samudera Hindia bukan indikasi kami mengkonfirmasi puing-puing yang ditemukan”, kata Juru Bicara Armada Ketujuh AS

Nah, lho…?

Mestinya Malaysia memberikan penjelasan yang komplit, bukan yang justru membuat bingung begitu. Ingat lho, keluarga penumpang banyak yang mengatakan bahwa beberapa handphone penumpang ternyata sampai beberapa hari masih aktif. Saya bukan ahli IT dan informasi. Tapi jadi ikut penasaran, sampai berapa lama sebenarnya sinyal handphone masih bisa terdeteksi meski sudah tenggelam beberapa hari?

Kenapa pesawat dinyatakan jatuh di area sekitar Perth, Australia? Padahal mestinya tujuan pesawat itu Beijing. Dugaan keterlibatan pilot jika seandainya pesawat memang dibajak pun ternyata tak terbukti, meski pejabat penyidik Malaysia telah menyita simulator yang dimiliki sang pilot di rumahnya.

Intinya, sampai sekarang saya masih percaya diri dengan analisa-analisa seperti yang pernah saya tulis di post-post sebelumnya. Bahwa setidaknya satu orang, warga Iran yang menggunakan passport curian warga Austria itu sampai sekarang masih hidup dan tinggal di Frankfurt, Jerman bersama ibunya. Dialah pelaku teror di pesawat tersebut, meski entah dengan motif apa.

Keyakinan saya tentang pesawat yang berbalik arah juga masih belum bisa dibantah. Analisa ini makin meyakinkan saya sebab ada seorang blogger yang ternyata menemukan sesuatu di Google Maps yang bisa jadi benar. Cobalah mapping dengan mengetikkan kordinat 5.164164, 102.649887. Zoom, sampai terlihat jelas semaksimal mungkin. Itu bangkai pesawat? Itu berada di hutan Malaysia tepatnya di Tasik Kenyir, 21700 Kuala Berang, Terengganu, Malaysia ‎ 6.5 km BD.
Nah, jika temuan teman ini benar, berarti keyakinan saya bahwa pesawat berbalik ke Malaysia juga benar, donk…?

*Just 4 Fun lagi, nih… (:

Rekreasi Otak Lagi, nih...!

-->
Sebelumnya mungkin saya merasa perlu minta maaf terhadap Dian. Saya sempat gagal menghadiahinya posting sebulan penuh dulu. Cuma sanggup 24 dari 30 yang saya janjikan. Sebenarnya jadinya 25, sebab post pertama ternyata dihitung masuk bulan sebelumnya. Terlalu cepat saya post karena terlalu semangat, hehehe…!

Proyek saya bulan ini ternyata enteng saja. Baru tanggal 25 saja ternyata saya sudah bisa posting sampai 27 post. Untuk itulah, saya merasa perlu minta maaf. Dian tak usah kecewa, sebab sekarang saya memang punya banyak waktu bebas. Kapan saja bisa posting. Dulu itu sangat beda, sebab saat itu kerjaan sedang banyak2nya. Biasanya saya pulang jam 9 malam. Padahal saya biasanya nulis instant saja. Apa yang teringat langsung tulis, dan paling sejam kemudian langsung post. Saya tak pernah punya draft tulisan. Kalaupun ada, biasanya sepotong-sepotong yang langsung saya share di Facebook atau twitter.

Bicara soal kualitas hasil tulisan pun, mestinya Dian masih bisa bangga. Bulan ini post yang benar-benar layak untuk diterbitkan dan masuk dalam daftar isi Rekreasi Hati (versi saya) cuma 2 postingan saja. Sedang tulisan yang untuk Dian ada 4 yang sungguh amat memuaskan saya. Malah diantara keseluruhan post di blog ini, satu diantara 4 itu adalah yang terbaik. Tulisan yang paling membuat saya bangga karena telah menulisnya. Dan itu special saya tulis buat Dian.

Saking kerennya, ciahhhh….itulah satu-satunya tulisan saya yang sempat di-share kembali oleh seorang teman Facebook. Dan bukan cuma seorang lho, hehehe…! 2 orang, wkwkwkw…*bangga.

Dan yang paling kerennya adalah, seorang diantaranya adalah juga penulis idola yang materi tulisannya sangat saya hormati. Saya masih ingat persis saat menjanjikan sama Dian bahwa akan menghadiahinya tulisan terkeren, paling kontroversi dan pertama kalinya di Indonesia, wkwkwk….! Mudah2an Dian masih ingat tulisan yang mana, coba…? Pasti udah lupa, tuh… (:

Nah sebagai permintaan maaf, saya juga akan persembahkan tulisan ini buat Dian. Seperti yang sudah-sudah saya janjikan beberapa kali, saya akan buktikan bahwa saya adalah jodohnya sesungguhnya, wkwkwk…! *Mudah2an saja Dian ga syok baca ini ya, hahaha…!

Lewat permainan Rekreasi Otak, jadilah saksi bahwa Dian adalah memang jodoh saya, hahaha…!

Perhatikan operasi matematika berikut. Itu akan membuktikan bahwa saya memang suka sama Dian (:

  8732
  6347+
15079

Jika setiap angka 8 diganti jadi R. 7 jadi A. 3 jadi U. 2 jadi L. 6 jadi S. 4 jadi K. 1 jadi D. 5 jadi H. 0 jadi Y dan 9 jadi N. Maka akan didapat lah persamaan berikut

   RAUL
   SUKA+
DHYAN

Wuhahahaha….!

Dan untuk membuktikan bahwa saya dan Dian memang berjodoh, mari kita urai juga operasi matematika di bawah ini.

41762
  8639+
50401

Sekarang ganti setiap angka 4 jadi D. 1 jadi H. 7 jadi Y. 6 jadi A. 2 jadi N. 8 jadi R. 3 jadi U. 9 jadi L. 5 jadi J dan 0 jadi O. Maka akan didapatlah persamaan berikut.

DHYAN
   RAUL+
 JODOH

Wkwkwkw…. Selamat Pagi! Just 4 Fun, aja sih! Ga usah diambil hati… (:
*Kabur, ahhh…==รจ>>

23 Mar 2014

Ganti Nama


Sebelumnya saya mau nanya nih, sama teman2 semua. Kira-kira saya mesti ganti nama akun ga’, baik yang di Facebook, Twitter, Blog atau juga di banyak forum sosmed lainnya? Terutama akun Facebook?

Beberapa waktu belakangan ini sempat juga terpikir untuk menggunakan nama KTP, khususnya di Facebook. Bukan karena takut dibilang sok ebat. Juga bukan karena saya sudah merasa terlalu tua untuk masih berlaku alay, wkwkwkwk… (: Saya masih cukup PeDe menggunakan nama Siraul Nan Ebat. Insya Allah sejak awal berkarir di Facebook, 22 Oktober 2008 sampai saat ini belum pernah ada yang menggugat nama tersebut. Sebaliknya malah, ada juga teman yang mendoakan saya untuk selalu bisa menjaga martabat ‘Nan Ebat’ tersebut.

“…semoga tambah ebat, yaa! Aamiin…!”, begitu beberapa orang teman medoakan saya di beberapa kesempatan, seperti saat ulang tahun kelahiran saya misalnya.

Ada beberapa alasan yang membuat saya berpikir untuk menggunakan nama asli di Facebook, khususnya. Pertama, teman-teman lama ternyata kesulitan mengenali saya, walau sudah berteman cukup lama di Facebook. Ternyata banyak juga yang baru ngeh, kalau ternyata saya adalah teman sekolahnya, dulu, (: Apalagi PP yang saya pakai sekarang juga photo orang lain. Tapi itu juga karena tuntutan karakter. Saya sendiri malah tak suka sama photo tersebut. Dian yang diharapkan sebagai modelnya juga gagal melulu saat pemotretan. Gagalnya pun karena alasan tak bermutu (kasih tau ga ya...?). Saya sendiri tak berminat jadi modelnya, kecuali berdua sama Dian, sih, hahaha...! Karena itulah, teman-teman saya yang lain pasti sulit menemukan saya, meski setelah bertanya sama Eyang Google sekalipun (:

Berikutnya, karena saya mantan idola cilik (dulu), ternyata ada juga orang satu yang namanya persis mirip dengan saya. Waktu saya intip ada 9 orang teman yang sama. Masih muda (kalo ga salah sekitar 19 tahun). Dugaan sementara, orangtuanya adalah fans saya, hahaha…! Saya gengsi donk, minta pertemanan, wkwkwk...! Kan saya idola orangtuanya, hahahaha....! Tapi yang saya khawatirkan, teman2 lama bisa saja mengira kalau itu adalah saya, kan? Ironisnya lagi, kenapa dia malah lebih sukses menggunakan nama tersebut ketimbang saya?

Selanjutnya lagi, kekerenan (ai mak jang!) saya ternyata berdampak serius. Ketenaran saya sampai ke Eropa sana. Padahal, Rekreasi Hati belum terbit lho, hahaha...! Ada juga  satu dua orang teman yang berasal dari Eropa sana. Rata-rata sih, cewek, hahaha...! Kebanyakan mereka adalah anak2 baru di dunia Facebook. 
Kira-kira kalau saya ingin berkomunikasi dengan orang ini manggilnya gimana, ya...?

Facebook gimana sih? Oke...oke...saya akui saya memang terkenal. Tapi yaa jangan gitu juga, donk! Masa Facebook tak mengenali IP adress komputer saya, misalnya? Jangan sok tahu deh! Saya ini dari Indonesia, bukan dari India!
Awalnya itu buat saya senang sekali. Saking gembiranya saya pernah berlaku ceroboh. Saking bangganya saat di-add oleh seorang kakek dari Inggris, saya posting screenshot photo proposal permintaan pertemanannya itu di Facebook. Celakanya, tanpa saya sadari, nama yang bersangkutan ikut pula ditandai. Salah satu kelebihan Facebook (dan sosmed lainnya) yang mampu mendeteksi pemilik wajah yang ada di foto itu membuat saya celaka. Ter-mensyen, secara otomatis (lebih tepatnya, karena saya kurang awas saja). Akibatnya, seorang cucunya yang tinggal di Siprus (Negara dekat Yunani, sana) marah via inbox. Minta saya menghapus foto sang kakek. Karena saya orang baik, permintaannya tersebut tentu saja saya turuti. Padahal sebelumnya postingan poto tersebut sudah banyak dikomentari teman-teman saya, hahahak…!

Berikut transkip pertengkaran kami... (:
Pelajaran juga buat semua Facebuker nih. Kalau memang butuh ribut, mending di ruang chatting saja, kan...? (:

Terakhir dan ini yang buat saya berpikir keras. Ada beberapa permintaan pertemanan dari India atau sekitarnya seperti Pakistan. Dan saya khawatirkan akan bertambah lagi. Kalau satu dua orang sih tak masalah, apalagi kalau yang meminta itu cewek, hahaha…! Tapi makin hari ada saja permintaan baru yang bagaimanapun tetap saya komfirmasi. Ada malah seorang, yang seringkali mengundang saya dan memasukkan saya sebagai anggota di Grup Apalah itu. Membaca nama grupnya saja saya tak bisa, wkwkwk…! 

 Nih, saya tampilkan juga beberapa permintaan pertemanan yang karena sungguh penasaran akhirnya saya abadikan (:
 Waah, ternyata masih ada satu lagi nih, teman...!

Saya jadi curiga, apa sih arti nama Siraul Nan Ebat itu dalam bahasa India? Jujur saja, ketimbang yang dari India, saya malah lebih suka dianggap sebagai orang Spanyol, hahaha…!

*Btw, gimana nih, ganti atau enggak…? Kasih masukan, donk... (:

22 Mar 2014

Salah Nge-Date Part 3


Sambungannya lagi, nih...!

Katanya dia sudah coba cari gantinya. Sudah cari dimana-mana katanya sudah tak ada yang jual. “Saya akan usahakan lagi”, katanya sambil coba menawarkan buku pengganti yang dibawanya, sebagai jaminan.

Oke, niat baiknya untuk mengganti saya maklumi. Tapi karena buku yang ditawarkan sebagai jaminan sama sekali jauh dari minat saya, yaa saya tolak saja. Takkan saya baca percuma, kan? Daripada tak terawat dan dibiarkan begitu saja lebih baik bawa pulang saja. Oke, masih dalam suasana damai. Masih sama-sama akrab menikmati gorengan. Sesekali menceritakan betapa garingnya suasana kerja tanpa saya, hahahak… (:

Masalah muncul ketika dia mau pamit pulang!

“Tapi gimana Bang, kalau aku mati sebelum bisa menggantinya?”

Blunder. Apa pentingnya sih, pertanyaan begitu?

“Yaa, penting donk, Bang. Soalnya kan aku punya hutang sama Abang?”

“Yaa, hutang mesti dibayar. Syuhada mati syahid pun bisa di-veto hak surganya sampai dia melunasi hutangnya”

“Iyyaa, aku tau. Tapi bagaimana kalau aku mati sebelum sempat membayarnya?”

“Yaa, itu urusanmu!”

“Abang ikhlas ga?”

Sungguh, bersabar terhadap kezaliman rasanya lebih enteng ketimbang berhadapan dengan manusia cerewet. Tanpa control, rasanya sudah meledak ini kemarahan di ubun-ubun. Sudahlah gagal kencan, malam mingguan sama Dian, wkwkwk….*baru deh saya ingat sama Dian (: dengan lugunya dia buat saya makin pusing.

“Pulang kau, cepaaaat…! Tak usah kau ganti!”

“Tapi itu kan hutang aku, Bang…!”

#$^%@&@(@?@!Rp(*&#^^...

“Sini duit kau, biar aku beli sendiri gantinya!”, sudah tak sanggup lagi saya tahan amarah.

Dia berikan uang Rp100.000,-. Saat kubeli buku itu harganya Rp75.000,-.

“Kembaliannya sudah, buat abang saja”, katanya.

“Oke. Ikhlas, kan? Ayoo, salaman!”

Horeee, salaman (:

“Oke, aku ikhlas, Bang! Aku pulang yaa…! Cukup taulah aku, abang orangnya gimana?”

Blunder lagi ni anak.

“Hoy, sini kau! P8888x!”, Demi Allah, rasanya sudah lama sekali saya tidak pernah mengucap begitu. “astagfirullahaladziim….!”

“Ambil lagi uang kau!”

“Ga, ahh…! Buat abang aja!”

“AMBIL….! ATAU KUKOYAK…? Tak perlu kau ganti! Sudah jelas tadi kita salaman. Sudah baik-baikan. Cukup sampai di sini, kan? Kenapa kau ngomel2 lagi, HAAAAAAH…?”

“Ga, Bang! Aku ikhlas. Buat abang aja uangnya!”

“AMBIL….! P8888x…! Pulang kau, CEPAAAAAAAT….!”

Tutup pintu, sholat Isya…!

MARAH BESAR adalah cara buruk paling cepat untuk menyelesaikan masalah.

“Astagfirullahaladziim….!”

Salah Nge-Date Part 2


Sambungan yang sebelumnya, nih…

Saya sendiri tak jelas koleksinya. Macam-macam, yang penting unik. Jarang dimiliki orang lain. Saking uniknya saya malah punya buku yang membahas ekonomi, dan bahkan buku resep memasak saja saya punya, hahaha…! Buku yang tak saya suka cuma buku humor. Alasannya remeh. Kalau belum bisa melawak cerdas (seperti saya, hahahak), takkan saya pernah beli buku humor. Saya memang bukan pelawak, meski bisa melawak, tapi hobi juga melawak. Lucu bagi saya itu mesti selalu terbaru. Semua (buku) lawakan terasa garing, sebab saya sudah terlalu banyak tahu soal lawakan.

Lapar sekali rasanya jika sudah berada di Gramedia. Mulai dari buku computer, saya punya koleksi sekitar 50-an. Berguna? Lho wong PC saya saja rasanya yang paling kolot se-Indonesia. Apa masih ada yang sampai sekarang masih pakai Pentium III, hahaha…? Kalau yang ini sebenarnya saya tak beli bukunya. CD software dan tutorialnya yang biasanya sebagai pendamping buku itu lebih menghasut.

Buku2 Sains saya malah punya banyak, meski saya sendiri bukan orang sains, hahaha…! Ini lebih saya beli karena unik, plus sangat banyak ilmu pengetahuan di dalamnya. Tapi yang paling saya suka adalah buku untuk rekreasi otak seperti Matematika dan Logika. Soal dan teka-teki menantang yang dihadirkan  buku-buku seperti itu malah sempat menghasut saya untuk menciptakan buku tandingan, meski nyaris mustahil saya wujudkan. Otak saya tak mampu menciptakan sendiri utuh satu buku. Blog ini sendiri awalnya saya buat malah untuk mengabadikan kreasi-kreasi saya tentang Matematika, ilmu sulap mentalist ciptaan (lebih tepatnya, mungkin modifikasi) sendiri. Tapi karena materinya sedikit, maka terpaksa dihapus saja, hahaha…. Rekreasi Otak ganti jadi Rekreasi Hati. Tapi beberapa sudah sempat saya post lagi, kan? Insya Allah, nanti saya tambahkan lagi, deh…  (:

Lainnya koleksi saya yaa buku-buku seperti blog ini. Berbagai artikel pendek di koran atau majalah yang dikumpulkan jadi sebuah buku. Seperti buku2nya Prie GS yang saya punya (awalnya) sampai 9, yang 3 sudah hilang dipinjam hiiiks, dan tak didapat lagi gantinya. Padahal saya sempat perintahkan adik saya yang kuliah di Jogja untuk mencari gantinya di toko2 buku loakan. Gagal, tanpa hasil.

Nah bisa donk, kalian imajinasikan bagaimana patah hatinya saya saat terima laporan itu.

”Bang, saya mau ngembalikan buku. Tapi yang satunya hilang”.

Bersambung lagi, yaa… (:

Salah Nge-Date Part 1

-->
Malam Mingguan tadi sebenarnya berpotensi sangat indah. Saya ngedate sama Dian. Sori typo! Maksudnya saya nge-chat bareng Dian, hahaha…! Itulah, kalau D sama C letaknya berdekatan, jadi typo, kan? Wkwkwk…!

Yaah, walaupun cuma chatting, saya gembira kok. Setidaknya itu menunjukkan bahwa Dian tidak sedang bersama cowok lain, wkwkwk…! Abang gitu orangnya, Dek. Asal Adek tidak sama yg lain, Abang sih, yes! Ga tau sih, kalau Adek…! Tapi kencan online saya jadi kacau, begitu diapelin seorang tamu. Eks, teman semasa masih bekerja di sana tuh? Apa tuh, namanya perusahaan dekat rumah Dian? Lupa saya… (: Saya ingatnya cuma Rumah Dian doank, sih!

Sebagai tuan rumah yang baik, dia saya sambut dan layani dengan baik pula. Menit-menit awal semua keadaan sangat oke. Apalagi dia juga datang dengan membawa gorengan, wkwkwk…! Gorengan itu sungguh menghasut, sampai-sampai saya lupa membalas inbox terakhir dari Dian (: Tapi seperti yang biasa saya katakan, hati-hati dengan kegembiraanmu. Ada bahaya yang mengancam dibalik kegembiraan yang serupa itu. Gorengan itu ternyata bermaksud untuk melunakkan hati saya.

”Bang, aku mau ngembalikan buku. Tapi yang satu hilang”, kata gorengannya

“HAAAAAHHHHHH….!”

Apa daya, gorengan sudah tertelan. Tentu saja saya syok. Kalau bicara soal buku ini bukan soal harga, tapi nilai. Harga bisa dirupiahkan, tapi nilai belum tentu. Saking tak ternilainya harga sebuah buku, seorang Gus Dur saja pernah berkata,

“Hanya orang bodoh saja yang bersedia meminjamkan bukunya. Tapi lebih bodoh lagi orang yang mengembalikannya”, kurang lebih begitulah katanya.

Bagi seorang kolektor buku seperti saya, sensasinya memiliki buku itu sungguh terasa beda. Sungguh banyak yang belum saya baca, tapi memilikinya saja saya sudah merasa seperti seorang yang kaya raya. Tapi karena saya tidak beneran kaya dan cuma sedang merasa saja, tentu lain reaksi saya jika ada yang berminat meminjamnya. Biasanya jika pun saya pinjamkan, itu lebih karena saya ingin pamer, bahwa saya punya buku yang bagus.

Pernah saya beli buku yang sama sampai 3X lho. Suatu kali saya pernah pulang kampung. Satu hari sebelumnya, saya mampir dan beli 3 buah buku, waktu itu Lotus di Penuin Nagoya masih ada. Sampai di kampung adik saya minta, terpaksa saya relakan, lebih tepatnya saya pasrahkan. Sampai di Batam, beli lagi 2 sebab yang satunya sudah habis, laku terjual semua tanpa sisa. Saya masih bisa ikhlaskan, sebab adik di kampung sudah saya wanti-wanti agar buku tersebut dirawat dengan baik. Yang 2, eee dipinjam lagi sama teman. Dan belum dikembalikan sampai sekarang. Satu lagi masih bisa saya beli online, meski lebih mahal. Sedang yang satunya lagi sudah out of stock. Sungguh, itu mematahkan hati saya.

Saya punya 2 orang teman lagi yang sama-sama kolektor buku. Malah kami pernah bercita-cita untuk membuat perpustakaan bersama. Kebetulan sekali, aneka buku koleksi kami beda-beda pula. Teman yang satu suka novel, apa saja, terutama novel terjemahan. Kalau mau buku-buku seperti Trio Detektif atau Lima Sekawan, atau yang lokal seperti Lupus dan Olga cobalah merayunya, meski saya yakin tak bakalan tembus, hahaha…! Yang satunya lagi tergila-gila dengan buku motivasi dan pengembangan diri, maklum sales, hehehe…!

Kepanjangan nih, nanti sambung lagi yaa… (:







Ulang Tahun Di Dunia Maya (:


Pertama-tama saya ingin bertanya sama teman-teman sekalian? Jadi serius nih, ga ada kado ulang tahunnya? Wkwkwk… (:

Yah begitulah dunia maya. Banyaknya ucapan selamat yang saya terima sama banyaknya dengan jumlah kado yang gagal saya dapat, hahaha…! Tapi bagaimanapun saya senang kok, walau sampai sekarang masih berharap mendapatkannya, dari Dian terutama, wkwkwk…!

Banyak juga lho yang gagal menikmati asyiknya eksis di Facebook, Twitter dan semacamnya. Termasuk soal ucapan ulang tahun itu misalnya. Seminggu menjelang hari ulang tahunnya, teman ini menyembunyikan semua info tanggal kelahirannya di semua jejaring social dan situs online yang diikuti. Dia dapat ide, ingin mengetahui seberapa besar teman-teman dunia mayanya mengenalinya. Atau lebih tepatnya, ingat akan tanggal hari ulang tahunnya.

Tapi kebijakan konyolnya tersebut terbukti keliru. Sampai menjelang sore, tak ada seorang teman pun yang mengiriminya ucapan selamat Ulang Tahun. Dia coba bersabar sampai hampir mendekati tengah malam. Tak tahan, kira-kira 2 jam lagi berganti hari akhirnya dia tumpahkan kekesalannya via status Facebook.

“Tak ada yang sayang sama aku”, tulisnya.

Ambigu. Maksudnya mungkin untuk mengingatkan bahwa hari ini dia berulang tahun, dan ingin dikirimi ucapan selamat. Tapi karena gengsi, begitulah yang ditulisnya. Lumayan, ada juga yang menanggapi. Sekedar menghibur, tapi tetap saja tak ada yang memberinya ucapan selamat ulang tahun, hahaha…!

Sejatinya, dia ingin gembira saat hari istimewanya tersebut. Tapi kekonyolannya sendiri yang membatalkan kegembiraannya. Ingin mengetes teman-teman? Teman-teman dari mana? Kan cuma teman di dunia maya toh? Lagipula apa keistimewaanmu, sampai punya hak sedemikian rupa, menguji orang lain.

Banyak kelirunya. Jika maksudnya untuk menguji, dia mesti paham bahwa tak semua orang bisa lulus dalam ujian. Kedua, dia tak sportif. Mestinya orang yang akan diuji mesti diberitahu bahwa dia akan diuji, kan? Lagi, materi ujiannya juga mesti diberitahukan kepada peserta ujian. Selanjutnya, orang yang diuji mesti juga layak uji. Maksudnya, ujilah hanya orang yang memang layak untuk diuji. Teman dekat, sahabat atau pacar misalnya.

Point yang terakhir itulah kesalahan fatalnya. Boleh saja menyalahkan pacar, sahabat atau keluarganya sendiri. Tapi yaa jangan disamaratakan, donk! Pacar beda dengan teman kan? Apalagi dengan teman Facebook doank pula, wkwkwk…!

Facebook dan jejaring social lainnya itu ibarat gatal dan garuk. Bisa menyebalkan seperti gatal, tapi juga bisa bikin asyik seperti menggaruk, hahaha…kumat. Gunakanlah sosmed itu untuk bergembira. Jika tidak, sebaiknya tutup saja.

Saya gembira meski cuma dapat ucapan selamat meski lewat dunia maya saja. Yang penting kan kegembiraannya nyata, begitu kan?

Banyak juga ucapan selamat itu yang mengharukan saya. Ternyata meski kenal di Facebook saja, mereka mengenali saya dengan sangat baik. Berikut beberapa diantaranya, wkwkwk… (:

 











Berdasar kalender dari pemerintah sekarang sudah tanggal 22 Maret. Tapi jika teman-teman meyakini sekarang masih tanggal 20 Maret dan ingin mengucapkan selamat ulang tahun buat saya, yaa silakan saja. Bagi yang ingin memberi kado juga ga apa-apa. Belum terlambat. Saya selalu terbuka untuk itu. Ini negara demokrasi, kwkwk…!