Follow Donk...!

27 Apr 2016

Dijajah Obat-obatan

Penguasa dunia sesungguhnya adalah kelompok farmasi. Tak peduli betapapun tinggi derajat social dan karir seseorang, di hadapan kaum farmasi dia akan takluk tanpa syarat. Bila dokter telah menyuruhnya menelan sesuatu, presiden, raja paling kejam atau penguasa paling ditakuti sekalipun takkan berani membantahnya, walau tanpa pernah tahu apa sebetulnya yang mesti mereka telan itu. Dunia farmasi yang serba tertutup telah menjajah manusia karena begitu pentingnya kesehatan.

Kita hanya bisa pasrah menerima resep yang berupa tulisan acak-acakan sang dokter yang tak pernah mampu kita terjemahkan. Entah siapa yang mengajari dokter ini menulis. Ajaibnya, tulisan yang serupa cacing demo itu entah bagaimana caranya sangat dimengerti oleh para apoteker. Chemistry yang begitu apik, relasionship dokter-apoteker ini seperti telah punya cara berkomunikasi via telepati saja. Kita sebagai pasien sama sekali tak berdaya sama sekali untuk memahaminya.

Sangat banyak mitos keliru dalam dunia kesehatan yang tak kuasa kita tentang karena begitu hormatnya kita terhadap kesehatan. Padahal dengan sedikit berpikir logis kita akan menemukan kontradiksinya. Saya misalnya minum air putih sambil berbaring saja akan segera keselek. Bagaimana mungkin terhadap anak-anak disodorkan susu botolan (yang jelas-jelas lebih kental ketimbang air putih) untuk diminumnya menuju tidur. Apa manfaatnya? Besok-besoknya dia akan menderita pilek iyyya, hehehe…!

Sebetulnya tubuh kita sudah punya sistim imun sendiri. Anak-anak yang saat kecilnya sering mandi hujan misalnya lama-kelamaan akan tahan terhadap bahayanya hujan-hujanan. Seorang Mike Tyson misalnya takkan merasakan apa-apa jika ditinju, sebab dia sendiri petinju dan sudah sering sekali ditinju, hahaha…! Sistim imun di tubuhnya bekerja, sebab dia sudah biasa ditinju.

Itu sangat bertentangan dengan dunia obat-obatan yang mengandung zat adiktif. Para pecandu narkoba itu misalnya pada saat masih pemula dengan seperempat butir pil exctasy saja barangkali dia sudah mabuk. Besok-besoknya 2 dan 3 butir dia akan mungkin dia masih anteng-anteng saja. Itu berlaku bagi semua (?) jenis obat-obatan karena zat adiktif yang dikandungnya. Dosis akan terus meningkat bila terus dikonsumsi. Dan kekurangan dosis takkan menyembuhkan penyakit. Malah di satu sisi akan menyebabkannya jadi sakit. Itulah dia yang dinamakan sakaw, kecanduan. Mike Tyson yang sudah biasa ditinju itu, jika terus-terusan ditinju juga akan merasakan sakitnya ditinju sebab dosisnya sudah berlebihan 

Itulah kenapa saya sangat ogah bila disuruh minum obat. Sudah belasan tahun rasanya saya tak minum sebutir obat pun selain Bodrex. Masuk rumah sakit? Pernah dulu waktu SD (Dah ga ingat lagi sakit apa) dan sekali dulu sekitar 10 tahunan yang lalu berobat ke Puskesmas. Itupun juga karena kelalaian sendiri, kecelakaan kerja. Mata saya kemasukan serbuk besi saat bekerja karena tak menggunakan safety glass saat motong besi menggunakan gerinda. HRD perusahaan tempat saya bekerja (dulu) saja heran kenapa saya tak pernah mengambil Kartu Berobat dari Jamsostek, hahaha…! Jadi laki-laki masa’penyakitan? Wkwkwkwk…!

Lalu apakah saya tak pernah sakit? Tentu saja pernah, yakni waktu pala berbie pusying, hahaha…!

Saya punya logika sendiri soal sakit. Sakit disebabkan oleh bakteri/kuman. Dan saya juga tahu cara membunuh kuman. Maka bila saya panas dalam misalnya, saya takkan melakukan Goyang Biji. Saya akan minum air panas. Bakteri akan mati bila kepanasan, kan? Hahaha…! Pun begitu bila saya terkena kutu air, panu atau bermacam penyakit kulit lain misalnya. Cukup saya siram dengan air panas, hahaha….! Dan Insya Allah sampai sekarang saya tetap sehat senantiasa, Alhamdulillah…!

Selamat Pagi…!

16 Apr 2016

Nama Internet

Dulu saya pernah menulis tentang nama saya. Jadi sekarang tentang nama adik-adik saya saja ya…!

Nama-nama adik saya sungguh sangat simple. Semuanya cukup dengan satu kata saja. Sudah begitu terdengar sangat biasa saja pula. Susi, Dasril, Rahmat, Rahmanita dan Ramadhani. Jika dilihat lebih teliti lagi makin terlihat betapa sangat tidak kreatifnya nama-nama mereka. Makin ke bawah makin tampak bahwa orangtua saya mulai bingung untuk memberi mereka nama. Dan bahkan jika dikarunia anak lagi, saya rasa nama adik-adik saya berikutnya itu mungkin Ramadhan, Ramadhona atau Rahmadini saja, wkwkwkw…

Saya sendiri tak mengerti bagaimana rasanya punya nama pendek begitu, hahaha…! Soal rasa nyaman mereka menggunakan namanya juga bisa dipertanyakan. Rata-rata mereka malah memberi nama belakang di akun sosmed mereka masing-masing. Entah karena ingin ikutan keren seperti seniornya ini atau entahlah. Tanya langsung ke orangnya sajalah, ya…! Hahaha…!

Tapi itulah dia nama yang diberikan dengan penuh kasih sayang tulus oleh orangtua polos seperti orangtua saya. Adik-adik saya diberi nama oleh orangtua mereka sendiri, bukan oleh internet. Nama-nama yang sangat jauh untuk dibilang keren jika dibandingkan dengan nama-nama si Anu bin Internet atau si Anunah binti Google itu adalah nama yang penuh doa dari orangtua. Nama-nama yang menyertai dan mendampingi seluruh perjalanan hidup mereka. Hidup yang disertai doa orangtua adalah hidup yang Insya Allah selalu diberkahi dan diridhoiNYA, aamiin…!

Nama adalah doa. Dan nama pemberian orangtua berarti doa dari orangtua. Betapa beruntungnya anak-anak yang seluruh hidupnya diiringi oleh doa orangtuanya.
Maka hal berbeda juga bisa kita bayangkan betapa nanti anak-anak yang seluruh hidupnya didampingi oleh internet karena nama yang didampingi oleh internet. Tak ada yang salah dengan internet sepanjang iya benar lagi baik. Persoalannya hanyalah bahwa tak seluruhnya dalam internet itu baik. Apalagi sudah benar mesti baik pula.

Sudah banyak kita tahu buruknya internet. Dan walau tak ada jaminan akan buruk, tapi juga tak ada jaminan bakal baik jika seluruh hidup kita hanya didampingi oleh internet. Betapa banyak tragedi anak terjadi karena internet. Dan ini terjadi bukan cuma karena sang anak sibuk dengan internetnya sendiri, tapi juga karena kesibukan orangtuanya dengan internetnya sendiri pula. Maka saking sibuknya, untuk memberikan nama bagi anak sendiripun dipercayakan kepada internet, hahaha…!

*Ngaco pagi-pagi

It's 8 O'clock Somewhere

“Penulis itu emang pemalu ya?”, Tanya seorang pembeli buku Rekreasi Hati waktu saya berkunjung ke rumahnya beberapa hari lalu.

Bila dia bertanya begitu pada teman-teman saya dijamin dia bakal menerima ‘cimeeh-an’. Bagaimana mungkin seorang yang dijuluki seorang ‘Raja-nya Penggalauan’ sekaligus sebagai seorang ‘Raja Gombal’ bisa dianggapnya seorang pemalu? Hahaha…!

Tapi ada benarnya juga sih. Saat itu saya memang lebih banyak diam ketimbang bicaranya. Kalaupun bicara itu juga seperlunya saja. Dan itu bukan tanpa sebab.

Pertama, saya sedang berhadapan dengan seorang wanita yang walau sudah veteran (lebih tua dari saya sekitar 3 sampai 3 tahun), tapi masih tersisa jejak-jejak kecantikannya tahun-tahun silam, hahaha…! Tapi itu bukanlah penyebab utamanya. Sebab pertama datang justru dari dirinya sendiri. Sebelum menemuinya saya mesti berhadapan dulu dengan bapaknya. Saya cukup beruntung karena ternyata saya dan sang bapak sudah terlebih dulu saling kenal. Tapi tampang horor mantan ‘preman’ dengan rambut gondrongnya itu tak ayal tetap saja menggentarkan hati saya, hahaha…! Bayangkan saja, baru duduk saja saya sudah ditawarinya rokok, hahaha…!

Walau saya perokok juga, tapi saya cukup mengerti etikanya. Saya tak suka merokok di depan orang yang tidak merokok (terutama cewek). Untuk itulah saya sengaja tidak membawa rokok saat itu. Saya butuh pencitraan donk? Kan lagi ngapel? Hahaha…!

Dan kamu tahu, itu sungguh mengintimidasi. Pada saat seorang menawarimu sesuatu sesungguhnya dia sedang menempatkan dirinya pada tempat yang lebih tinggi sekaligus mendudukkanmu pada tempat yang lebih rendah. Pada kedudukan begitu yang layak berbicara adalah orang yang berada pada posisi lebih tinggi. Yang di atas butuh bicara, sedang yang di bawah mesti mendengar. Begitu kan, aturannya?

Selanjutnya, karena ternyata kami sekampung, maka banyaklah pula cerita tentang orang-orang di kampung. Celakanya, saya sangat tak akrab dengan kampung saya sendiri. Merantau sejak usia 16 tahun membuat saya ‘buta’ dan lupa dengan orang-orang di kampong sendiri. Jangankan dengan generasi berbeda, dengan teman seangkatan saja saya lebih banyak yang lupa ketimbang ingatnya. Dan ini tak pandang jender. Wanita, apalagi pria. Cantik, apalagi yang jelek, hahaha…!

Walau tak lepas dari sebab bahwa saya dulunya adalah mantan idola cilik, hahaha...! Tapi ini sungguh menyiksa saya sebetulnya. Saya tersiksa karena dikenali tanpa bisa balik mengenali. Demi Allah, sangat banyak yang mengaku teman seangkatan, tapi tak satupun diantara mereka yang saya kenal dengan utuh. Ada yang saya ingat namanya, tapi lupa rupanya. Begitupun sebaliknya. Padahal kita sendiri paham bahwa waktu merubah wajah. Yang lebih parah lagi, facebook juga merubah namanya dan bahkan banyak malah yang me-mark-up umurnya sendiri. Terang saja saya kesulitan mengenali mereka.

Yang mana sih yang teman saya sebetulnya? Hiiiiks....!

Ngaku seangkatan...? Kayaknya ga mungkin deh..?

Padahal itu adalah dengan teman sekolah sendiri. Bayangkan pula dengan teman seangkatan, tapi beda sekolah. Apalagi dengan yang beda generasi sampai belasan tahun. Dan itulah yang bahan percakapan kami. Terang saja saya lebih banyak diamnya.













Di Facebook biasanya saya akan melihat komentar dari saudara trerlebih dahulu untuk mulai bertegur sapa dengan seseorang. Jadi misalnya jika ada seorang teman yang update status dan seorang saudara yang saya kenal ikut berkomentar barulah saya juga berani ikut berkomentar pula. Karena saya bingung cara tepat untuk memanggilnya. Saya pernah alami sendiri pengalaman saat chatting yang buat saya sangat malu hati. Dengan penuh percaya diri saya menegur seorang teman di ruang chatting. Namanya yang abu-abu membuat saya salah panggil.

Saya    : Assalamualaikum!
A kaba, Da?

Teman : Uda? Aku ini cewek tau?!

Saya    : Upps, sori yow, Ni! Abis namanya kayak nama cowok sih?

Teman : Uni? Aku ini Etek (Bibi) mu, tau! Tanya sana, sama Bapakmu! Dasar, ponakan cilako?

Dan kuota internet sayapun habis, hahahaha….!

Ohya, ga butuh translate-nya, kan…?

Belajar dari pengalaman tersebut, maka saya mulai berhati-hati. Maka suatu kali saya bertanya pada seorang teman, sebab bingung mengenali seorang teman yang ternyata sangat mengenal saya. Celakanya kebingungan saya ini malah jadi inspirasi kegembiraan bagi si teman yang saya mintai tolong tersebut. Dengan penuh semangat dia update status sambil memention yang bersangkutan

“HAHAHAHAA….! Siraul Nan Ebat tak mengenal tetangganya sendiri. HAHAHAH…!”, dengan penuh semangat dia update status sambil memention yang bersangkutan.

Dan kegembiraan mereka dimulai. Saya-pun habis dibully, hahaha…!

Kesulitan dengan topic bahasan itulah yang membuat saya kerap diam dan lebih banyak mendengar. Jadi bukan karena saya pemalu. Saya pernah kok beberapa kali ngapelin cewek. Buat yang di Batam tanya Dian aja deh, hahaha…! Dan Insya Allah walau terkadang juga didampingi bapak atau ibunya saya tak sampai merasa jadi orang kalah, kok! Saya cukup fasih mempraktekkan jargon sepupu saya:

“Walau kalau pitih, saindaknyo manang ongiah (gaya)” ~ Uda Be’e 

*Ohya, abaikan aja judulnya, hahaha....!

6 Apr 2016

Tak Semua Gatal Butuh Digaruk 2



Begitu banyak persoalan serius yang butuh dibereskan kenapa merepotkan diri dengan soal yang sangat remeh?

Beberapa orang teman mengomentari postingan status Facebook saya tentang Zaskia Gotik kemaren. Karena postingannya sarat dengan pesan (as always as usually, wakekekek…!) maka beragam pula bunyi komentar mereka. Mulai dari cuma ber-haha…haha… sampai kepada komentar serius yang mengajak diskusi. Karena itulah pula komen mereka saya balas satu demi satu tergantung konteks pesan yang ditangkap dan ditanggapinya. Seorang teman membahas tentang perlu tidaknya mempersoalkan Zaskia Gotik. Diskusi berjalan lancar sampai…

Seorang teman lain ikutan membalas komentar, berniat nimbrung dalam diskusi kami dengan membawa sudut pandang yang lain. Sangat menarik dan berpotensi menciptakan diskusi yang asyik. Karena tanggapan baru ini juga berkualitas tentu butuh tanggapan yang juga berkualitas. Maka sayapun butuh sedikit waktu untuk berpikir dan menyusun tanggapan saya. Sayang, teman yang komentarnya dibalas itu malah menghapus komennya hingga semua diskusi kami lenyap tanpa bekas. Tapi sebelumnya dia sempat kirim pesan di inbox saya.

“Dah datang pula orang sok tau hukum di komentarku. Maaf yaa, Raul! Komentar ku hapus saja. Malas aja liat orang nimbrung di komentarku. Harusnya kan dia bisa komen di kolom baru”, kurang lebih begitulah terjemahannya dari bahasa kampung kami, hahaha…!

Sosmed mestinya hanyalah tempat berbagi manfaat dan kegembiraan. Bila buat galau, bijaknya tutup akun saja. Teman ini sebetulnya termasuk seorang ‘selebriti facebook’. Apa saja postingannya selalu dibanjiri like dan komentar. Abaikan saja fakta bahwa dia seorang wanita yang cantik, walau sudah sudah veteran, hahaha…! (Dia lebih tua dari saya) Mestinya, dia gembiralah karenanya. Jujur, saya sendiri iri terhadap popularitasnya itu. Tak munafik, saya juga sangat gembira jika postingan saya di-like dan dikomentari oleh banyak orang. Apalagi bila para pemberi atensi itu cewek, cantik dan layak taksir pula, hahaha…!

Tapi betapa rumitnya hidup teman ini. Hanya karena komentarnya dibalas orang lain (dan bukan saya sendiri) hatinya bergolak. Padahal yang membalas cuma ingin nimbrung dalam diskusi kami berdua. Jika tak ingin diikut campuri, mestinya untuk menanggapi postingan saya itu di tempat yang lebih private saja, seperti kotak pesan misalnya. Mau saling debat dan perang emoticon pun bisa dan tak bakal ada yang ikutan usil, hehe…!

Lihat kan, betapa seriusnya teman ini. Saking seriusnya dia sampai tak enak hati menghapus komentarnya sendiri tanpa minta ijin dulu terhadap saya sebagai TS-nya. Tak semua gatal butuh digaruk. Masalah akan bertambah, gatal makin menjalar. Sebab ada yang luput dari kalkulasinya. Orang yang dia bilang sok tau hukum itu adalah bako, sepupu saya sendiri, hahahaha…!

5 Apr 2016

Anomali Zaskia Gotik

Terlalu mahal sebetulnya ongkos yang mesti dibayar Zaskia Gotik atas penghinaannya terhadap lambang negara Burung Garuda. 

Pertama, Zaskia Gotik dianggap menghina karena binatang seperti Burung Garuda dikatainya Bebek Nungging. Terlepas dari perannya sebagai lambang negara, Burung Garuda tetaplah cuma seekor binatang. Apalagi sebagai binatang, eksistensinya pun layak dipertanyakan pula. Rasanya seumur hidup saya belum pernah melihat burung garuda tersebut, hehehe…! 

Berikutnya, bagaimanapun dia melakukannya dalam konteks bercanda. Terhadap suatu candaan mestinya reaksi normal kita adalah tertawa, atau setidaknya tersenyum sebab terhibur. Lagipula, kalaupun dianggap menghina, rasanya menghina binatang dengan menyebut binatang tak sekejam menghina manusia dengan menyebutnya sebagai binatang deh. Gajah Bunting, Kutu Kupret, Walang Sangit, dsb. Banyak lho, yang begitu…!

Berikutnya lagi, dilihat dari jenjang pendidikannya Zaskia Gotik sendiri terhitung golongan awam. Untuk seorang yang buta aturan, mestinya sanksi tak mendesak diberikan. Bijaknya, cukup diberi tahu apa yang perlu dia ketahui. Lagipula bukankah yang bersangkutan sudah tulus dan dengan besar hati meminta maaf?

Negara kita sudah banyak dijejali berbagai persoalan. Mestinya kita tak perlulah pula menanggapi suatu candaan menjadi persoalan serius berskala nasional. Betapa anomalinya, kita begitu membela binatang yang dihina, padahal ada begitu banyak manusia hidup yang mati terbunuh karena dhalimnya ego, politik dan kekuasaan. Betapa anomalinya, sebab jika terhadap lambang negara yang ‘cuma sebentuk lukisan’ binatang yang tak ada pula, satu negara bisa heboh, kenapa terhadap candaan yang menghina manusia lainnya kita malah merestui dan bahkan memberi aplaus dan tepuk tangan. 

* Tapi lain kali hati-hati yaa, Neng! Bikin heboh aja lu, hahaha…!

27 Mar 2016

Dari Bintang-nya Radja Sampai Friends-nya Joe Satriani



Di jaman Mario Teguh begini mestinya lirik Indonesia sudah jauh lebih berkualitas sarat dengan pesan moral postif. Di jaman internet begini kualitas lirik music Indonesia mestinya jauh lebih baik, setidaknya ketimbang lirik-lirik lagu jadul dan japur yang bahkan walau sederhana tapi tetap indah dinikmati sebab kita mampu merasakan pesan-pesan yang disampaikannya. Satu saja, kita simak lirik salah satu band yang sempat digandrungi masyarakat beberapa waktu lalu, Radja yang berjudul Bintang.

Cobalah kau lihat di langit biru, rangkaian bintang-bintang.
Cobalah kau pilih diantara itu, tunjukkan padaku 

Bagaimanapun caranya saya takkan mungkin menyukai lagu ini. Untuk menyukai sebuah lagu saya mesti mampu merasa berada dalam situasi yang digambarkan olehnya. Yang saya tahu langit itu terlihat biru di siang hari. Dan saya sulit membayangkan diri saya sedang melihat bintang di siang hari, wkwkwkwk....!

Ini lirik lagu sebuah band lho…! Tau kan, band itu apa? Kumpulan musisi yang bermain music dengan menggunakan alat music masing-masing, hahaha…!

Aneh sekali, bagaimana mungkin tak seorangpun diantara mereka yang meresa ganjil dengan liriknya. Sudah pasti mereka memainkan lagu ini dengan soul yang hampa. Penjiwaan yang kosong. Lebih konyolnya lagi kenapa orang-orang seperti producer misalnya juga sampai kebobolan dengan lirik yang abnormal begini, hahaha...! Sangat bertolak belakang misalnya dengan lirik November Rain-nya Guns N Roses, misalnya, hahaha…! Ngebandingin Radja dengan Guns N Roses? Wkwkwkw…!

Tak satupun diantara personel Guns N Roses yang saya kenal. Tak mengerti pula saya bagaimana perasaan Axel saat menciptakan lagu ini. Tak ada pula tafsir yang tegas tentang makna sesungguhnya lagu ini. But, walau ini lagu ciptaan Axel sang vocalist, saya mengerti betul suasana hati Slash saat memainkan riff-riff melody-nya. Saya sendiri menafsirkan lagu ini tentang seorang Slash yang merelakan pacarnya (atau wanita yang dicintainya diam-diam…?) dinikahi temannya Axel. Dengan besar hati, Slash pula yang mendampingi sahabatnya itu di saat pernikahannya. Dan setelah menyelesaikan ‘tugas’nya mendampingi sahabatnya itu, Slash yang tak sanggup menyaksikan prosesi selanjut keluar menyendiri dan memainkan melodi gitar yang sungguh menyayat hati. Tapi ahhh, memang keterlaluan sih membandingkan Guns N Roses dengan Band Radja, hahaha…!

Okelah, dengan teman saya saja dulu! Teman saya punya band bernama Glass dan punya banyak lagu ciptaan sendiri. Walau bukan terhitung lagu paling favorit, tapi saya menyukai lagu yang berjudul Terang. Dan saya mengerti betul kenapa yang menyanyikan lagu ini adalah Inel sang gitaris, bukan Jarno’, vocalist utamanya. Sebagai pencipta lagu, Inel memang paling mengerti bagaimana soul-nya lagu ini. Khusus di lagu ini saya merasakan betul bagaimana marahnya seorang Inel saat menciptakan dan mengisi trak di rekamannya.

Saya sungguh menghormati teman yang satu ini. Musisi penuh bakat dengan idealisme yang kuat. Memang begitulah mestinya seniman. Lirik yang sembarangan itu mengkhianati music sebagai seni. Sebab seni itu sendiri indah, bahkan walau tanpa lirik sekalipun. Lagi-lagi solo Sad-nya si Inel mampu membuat saya merasa pilu, walau musiknya itu sama sekali tanpa lirik. Keren abis, saying file yang saya punya hilang, hiiiks… L

Salah satu lagu pop Inggris yang saya suka adalah karya Ribas yang berjudul She Grey. Silahkan cek di Google! Sama sekali tak saya temukan liriknya. Entah apa yang disebutnya di lagu itu, tapi saya tau bagaimana rasanya bertemu lagi dengan mantan pacar yang sekarang sudah begitu berbeda hanya karena ‘ditinggal sebentar’, hahaha…!

Sebagai penutup saya ingin menterjemahkan sebuah solo keren dari Joe Satriani. Tanpa vocal juga, tapi berkat pesan music yang disampaikannya punya karakter yang begitu kuat saya bahkan sangat ingin sekaligus tak ingin untuk lancing membuatkan liriknya. Sangat ingin, sebab musiknya sangat keren. Tapi juga sangat tak ingin karena saya tak ingin mencederai kekerenan lagu ini. So, saya deskripsikan saja tafsir yang saya rasakan saat mendengarnya. 

Friends…

00:00 – 00:28 Intro

00:29 – 00:37 Kemanapun kau pergi, aku selalu ada menemani. Kemanapun kau…
(menguraikan suatu kisah persahabatan. Sepertinya Joe sedang galau dan mengenang kisah persahabatannya).

00:38 – 00:50 Aku merindukanmu sobat. Aku sangat merindukanmu. Sungguh…! (Saya merasa Joe sedang kehilangan dan merindukan sahabatnya).

00:51 – 00:55. Bahwa apa saja yang mereka hadapi terasa ringan karena persahabatan.

00:56 – 01:00 Bahwa apa saja akan mereka tertawakan.

01:01 – 01:06 Bahwa apa saja akan buat mereka ceria bersama.

01:07 – 01:11 Termasuk hal-hal gila seperti saat kita … (dikejar-kejar bencong itu? hihihi…!)

01:12 – 01:18 Memang pernah kita berkelahi dan ribut hebat.

00:19 – 00:23 Bahkan pernah sekali… (sulit sekali melukiskan bagian akhir yang di sini) Intinya mereka pernah dalam suatu pertikaian yang hebat.

01:24 - 01:29 Tapi ikatan persahabatan yang tulus membuat mereka kembali berbaikan

01:30 – 01:35 Dan semuanya kembali indah

01:36 – 02:01 Dan sambil bergembira mereka saling bercerita tentang marah mereka saat itu

02:02 – 02:07 Bahwa dia tak ingin lagi kehilangan sahabatnya itu…

02:08 – 02:13 Apapun yang terjadi dia akan memertahankan hubungan mereka.

02:14 – 02:24 Walau harus begini begitu, hahaha…! Walau harus gadai celana demi nebus KTP yang tergadai di tukang jual bensin eceran, hahaha…! (Maaf Joe….!)

02:25 – 02:30 Pokoknya sekuat tenaga akan dipertahankannya persahabatan mereka.

02:31 – Balik lagi ke bait awal…

*Selamat Pagi…!