Follow Donk...!

20 Agt 2014

UN Versi Saya



SALAH BESAR jika pemerintah merasa bangga dan senang dengan banyak pihak swasta yang peduli pendidikan anak dengan mendirikan banyak tempat-tempat Bimbel. Pemerintah mestinya prihatin dan tersinggung karena itu mengabarkan bahwa pemerintah gagal dalam memberdayakan sekolah. Para pemilik bimbel itu layak diragukan ketulusannya, sebab mereka justru memanfaatkan rendahnya tingkat kesejahteraan para guru. Rendahnya tingkat kesejahteraan guru berakibat nyata pada kontribusi mereka yang tidak optimal dalam mengajar. Dan lembaga-lembaga Bimbel jeli melihatnya sebagai peluang.

Ohya, kenapa saya sering posting soal dunia pendidikan. Ini tak ada hubungannya sama sekali dengan Dian, hahaha….! Saya suka belajar dan peduli dengan dunia pendidikan. Saya tak bangga berteman dengan kebodohan. Jadi jika ada yang berniat hapuskan UN, saya orang pertama yang akan menghadangnya.

Betapa cemennya generasi Halo Selebriti ini. Diwajibkan mendapat nilai 5 saja sudah mengancam akan mendemo dan membakar sekolah. Saya dulu jika ada saja yang nilainya di bawah 8 berarti bencana. Tak mungkin lagi membaca lanjutan Wiro Sableng. Komik Petruk juga tak mungkin lagi diupdate. Malah yang ada dan gagal saya sembunyikan terancam akan dibakar jika sampai ketahuan sama orangtua saya.

UN itu misinya bagus, meski formatnya tidak tepat. UN versi saya adalah semua mata pelajaran, termasuk yang sekunder seperti Olahraga, Kesenian dan Keterampilan diujikan dan siswa diwajibkan mencapai nilai 9, tapi di satu mata pelajaran saja. Outputnya akan menghasilkan siswa-siswa yang berprestasi di bidangnya masing-masing. Lebih focus. Bakat dan kemampuan merekapun lebih mudah diarahkan.

Format selama ini malah meneror siswa. Tak heran, meski sejatinya termasuk anak pintar, ketika UN justru menjadi anti klimak, sebab gagal lepas dari belitan terror UN. Format versi saya malah sebaliknya. Siswa pasti akan terangsang dan terpacu untuk menjadi yang terbaik di mata pelajaran favoritnya. Mustahil jika seorang siswa tak punya satu saja mata pelajaran favorit, sebadung apapun dia.

Sebadung dan senakal apapun seorang siswa dia pasti punya satu mata pelajaran favorit. Minimalnya dia pasti memiliki suatu keunggulan di satu mata pelajaran tertentu. Dengan format UN versi saya ini semua bakat-bakat dari tiap siswa akan terlihat. Guru dan orangtua tinggal mengarahkannya saja agar bakat itu terus terasah dan berkembang.
Bakat yang sudah terendus sejak SD itu mesti terus dikembangkan di tingkat berikutnya. Sekolah setingkat SMP dirombak menjadi sekolah khusus, misalnya sekolah khusus Olahraga, sekolah seni, sekolah IPA atau IPS dan sebagainya. MTs, sekolah khusus agama adalah contoh sukses sekolah seperti ini.

Sulitkah mewujudkannya? Saya yakin tidak. Batam sebagai satu Kabupaten/Kota memiliki puluhan sekolah negeri setingkat SMP. Bisa jadi lebih dari 100 jika sekolah swasta ikut dihitung. Tinggal dirombak saja. SMP sekian menjadi sekolah Olahraga. Yang itu menjadi sekolah Seni Budaya sedang yang di sana jadi sekolah agama, misalnya. Apa sulitnya…?
Tingkat SMA pematangan. Semua dirombak menjadi sekolah kejuruan. Apa bedanya dengan SMP kalau begitu? Tentu saja ada. Jika MAN sukses sebagai sekolah lanjutan MTs, mestinya yang lain juga bisa, donk! Misalnya lulusan sekolah Olahraga yang nilai domino-nya 9 saat UN melanjutkan di SMK ambil jurusan main gaple. Anak sekolah Kesenian dan Keterampilan yang nilai memasaknya di UN mencapai nilai 9, lanjut di SMK jurusan masak-memasak.

Begitu tamat SMK mereka sudah matang. Umur juga sudah masuk di usia yang mestinya produktif, 19 tahun. Di Indonesia kita sudah mesti punya KTP di usia 17 tahun atau sudah menikah. Jika program pendidikan kita masih begini melulu, di usia 19 tahun saja mereka masih bingung, apa sebenarnya potensi mereka. Bagaimana bisa produktif, jika seseorang justru tak mengerti kelebihannya sendiri.

Tamat di usia 19 tahun, Indonesia sudah punya bibit-bibit unggul di seluruh bidang. Piala AFF tinggal ambil wakil dari SMK jurusan Sepakbola. SEA Games, Asian Games dan Olimpiade kita tak bakal kekurangan atlet. Festifal film atau music, pameran budaya dan olimpiade seni dan sains dan sebagainya, kita takkan pernah kekurangan talenta.

Mereka Guru, Bukan Pembantu



Tahun ajaran baru di Indonesia nyaris tak pernah sepi dari konflik. Mulai dari akal-akalan pihak sekolah yang menarik iuran ini itu sampai kepada orangtua yang ngotot anaknya diterima di SD, walau belum cukup umur. Ini mengusik minat saya untuk membahasnya dari sudut pandang saya saja.

Secara kemampuan anak-anak yang lahir di era Crayon Sinchan ini memang tumbuh sangat cepat. Pesatnya kemajuan teknologi informasi ikut berperan membantu perkembangan kemampuan anak. Banyak mainan anak diciptakan khusus untuk membantu cara belajar anak di usia Balita. Boneka saja sekarang banyak yang sudah pintar berhitung dan bercakap Inggris. Sungguh saya merasa begitu inferior di hadapan boneka mainan keponakan saya itu.
Itulah salah satu sebab kenapa banyak orangtua yang ngotot agar anaknya diterima di SD, meski umurnya masih jauh dari cukup. Padahal itu sungguh keliru. Secara mental, mereka justru jauh tertinggal di banding kita-kita yang lahir di jaman komik Petruk dulu. Mereka dididik oleh tivi-tivi berbayar, sedang tontonan anak jadul hanyalah satu stasiun tivi milik pemerintah, TVRI. Tuntunan mereka adalah Halo Selebriti, sedang kita dulu dibesarkan dengan MDA, dan didikan Subuh. Mereka tumbuh dengan belaian kasih sayang semu bermotif uang oleh baby sitter , sedang kita dengan pukulan rotan dan sapu lidi rasa kasih sayang dari orangtua.

Jika anak-anak sekarang mainannya game perang di gadget atau perangkat komputer, jaman kita dulu malah perangnya betulan dengan peluru yang juga betulan, meski terbuat dari biji-bijian. Anak-anak sekarang jika terkena tembakan dan mati, tinggal klik new game. Jaman kami dulu, jika terkena tembakan walau tidak mati, tapi tak jarang bikin heboh kampung karena jerit tangisan. Tapi kesakitan itulah yang membuat mental kita jadi tangguh. Tangis reda, ulang lagi main perang-perangannya, hahaha…!

Alasan karena sang anak sudah mampu berhitung dan berbahasa Inggris itu salah kaprah. Apalagi jika maksudnya agar si anak tetap terpantau karena orangtuanya sibuk dalam karir. Kasihan guru-guru SD (seperti Dian juga, hiiik…hiiiks….*nangis, masih galau)mesti mendidik, mengajar dan mengasuh anak sekaligus. Meski  Inggrisnya lancar, tapi saat ngompol tangisnya lah yang keluar. Meski pintar berhitung, godaan remeh dari teman saja akan buat mereka meraung. Sekolah mestinya tempat anak-anak belajar, bukan tempat penitipan anak. Dian itu guru, bukan pembantu, hah…!
*Tuh kan, Dian lagi…. *nangis lagi.

16 Agt 2014

Mati Balap Liar


Dialog imajinatif saya dan seorang yang mati saat ‘balap liar’.

Almarhum           :Hoi Raul, gimana kabar kau?

Siraul Nan Ebat  :Alhamdulillah baik, Bang! Abang gimana?

Almarhum           :Aku lagi kangen sama kalian. Yang lain gimana sekarang?

Siraul Nan Ebat  :Mereka semua dah buka bengkel sendiri, Bang!

Almarhum           :Syukurlah, kalau begitu. Tak sia-sia mereka dulu belajar sama aku.

Siraul Nan Ebat  :Sayangnya abang tak sempat menikmati itu, kan? Kenapa sih Bang, Abang mesti mati?

Almarhum           :Semua orang akan mati, Raul! Dan aku senang, karena kematianku bermanfaat bagi orang lain.

Siraul Nan Ebat  :Maksudnya, Bang!

Almarhum           :Motor Anu yang hancur kubawa waktu itu laku berapa?

Siraul Nan Ebat  :Ga tau, Bang! Tapi pernah ditawar orang sampai 25juta, tapi tak dilepasnya.

Almarhum           :Nah, itu yang kumaksud! Walau aku mati, tapi motor itu akhirnya bernilai tinggi, kan? Padahal motornya sudah hancur berantakan. Tapi mesinnya doank, dihargai 25 juta sama orang lain. Coba kau tanya yang lain, berapa orang-orang menghargai mesin-mesin motor yang kurakit? Semuanya berharga tinggi, kan?

Siraul Nan Ebat  :Tapi tetap saja abang mati.

Almarhum           :Aku mati karena memperjuangkan hidup, Raul! Hidupku, keluargaku dan juga hidup semua anak buahku dan keluarga mereka, kan?

Siraul Nan Ebat  :Aku tak ngerti, Bang!

Almarhum           :Kau lihat, kan? Setiap kali motor kita jadi jagoan, juara, bengkel pasti ramai, kan? Kalau bengkel ramai otomatis aku bisa menghidupi keluargaku, anakbuah-anakbuahku dan keluarga mereka, iya kan? Itu jauh lebih keren dan mulia Raul, ketimbang hidup para pejabat korup yang memakai uang rakyat demi keluarga dan simpanannya belaka.

Siraul Nan Ebat  :Tapi banyak juga pejabat korup yang suka nyumbang, Bang!

Almarhum           :Tuhan itu Maha Baik, Raul! Hanya menerima yang baik-baik! Apa artinya menyumbang dari duit hasil ngemplang? Ga berkah. Nyumbang buat bikin jalan. Itulah nanti jalan yang jauh dari berkah. Jadi sumber stress, macet dan rawan kecelakaan.

Siraul Nan Ebat  :Dan jadi ajang balap liar juga, hahaha…!

Almarhum           :Kau nyindir aku ya, hehehe…!

Siraul Nan Ebat  :Tapi benar, kan?

Almarhum           :Kan sudah kubilang tadi, aku mati dalam tugas. Mati saat berjuang.

Siraul Nan Ebat  :Sayangnya orang yang mati karena balap liar seperti abang ini banyak dikutuk dan dibenci orang ya, Bang? Bahkan polisi itu diam aja saat abang lagi tergeletak meregang nyawa waktu itu.

Almarhum           :Itu lumrah saja, Raul! Hidup itu isinya cinta dan benci. Abang ga pernah mau repot-repot pusing mikirin orang yang benci. Buang-buang waktu. Tak ada gunanya. Dan kata siapa abang dibenci banyak orang. Kau tau sendiri, kan? Jalanan sepanjang Bengkong rumah abang sampai di kuburan Sei. Panas macet total. Ramai bangat kan, yang ngantarin abang ke kuburan? Tidak saja kau dan teman-teman sekalian, bahkan para musuh, saingan bengkel dan motor kita dari seluruh pelosok Batam ikut ngikuti upacara penguburan sampai selesai.

Siraul Nan Ebat  :Iyyaa…! Tapi kenapa mesti begitu, Bang? Apa tak jalan lain untuk mencari nafkah?

Almarhum           :Di negeri kita tak ada lagi tempat untuk ide-ide baik. Itulah kenapa banyak akhirnya niat baik yang mesti dilalui lewat cara yang buruk. Prilaku korup pejabat pemerintah membuat orang-orang berpotensi seperti kita tak lagi punya ruang untuk berkarya. Kau sendiri sekarang hidup masih amburadul, kan? Begitu jugalah nasibku. Mesti mati demi memperjuangkan hidup.

Siraul Nan Ebat  :Berarti sekarang abang lagi di surga, donk!

Almarhum           :Sayangnya enggak, Raul!

Siraul Nan Ebat  :Loh kok bisa? Kan abang mati syahid? Mati dalam bertugas? Langsung masuk surga, kan?

Almarhum           :Kau keliru, Raul! Aku mati konyol, bukan mati syahid.

Siraul Nan Ebat  :Lah, matinya kan dalam tugas? Berjuang demi keluarga dan orang lain juga malahan?

Almarhum           :Tapi sebelum ‘main’ itu aku sudah minum Raul! Aku minum, meski tak mabuk. Tapi tetap saja segala amalku dalam 40 hari tak diterima.

Siraul Nan Ebat  :Kalau gitu salah abang sendiri, kenapa minum?

Almarhum           :Kan kau yang belikan, Rauuuuul…..!

Siraul Nan Ebat  : …………

*Astagfirullahaladziim….!

12 Agt 2014

Gatal Itu Takdirnya Garuk Bag. 3

Lanjutan post yang ketinggalan dulu...

Pertama, mumpung masih sepi tamu, photo-photo lagi. Menunggu giliran, saya duduk di kursi tamu paling depan. Selesai photo-photo saya kembali dan ternyata di belakang saya duduk tadi ternyata teman sekerjaan dulu, wkwkw J Dia/mereka (mereka sudah suami istri, belum lama ini) adalah tamu, teman sekerjaan dulu yang pertama datang. Padahal mungkin masih sekitaran jam 2 siang? Lupa, tak ingat J
 

Sorenya giliran saya yang pegang kamera jadi photographer keluarga, sebab dari EO-nya sendiri juga sudah ada. Dan, orang pertama yang saya photo adalah (mantan) menejer, yang dulu memecat saya. Satu-satunya musuh saya selama bekerja di sana. Betapapun nyata kontribusi saya, tetap saja saya dibencinya. Sebaliknya, betapapun baik hatinya saya, benci dan dendam saya juga tak pernah terkikis, apalagi habis terhadapnya. Bedanya, saya mampu kontrol diri, meski juga butuh harga diri. Begitu sadar bahwa saya akan memotretnya, saya sempat terdiam. Tapi segera pula saya ambil keputusan. Saya tak ingin rusak kegembiraan adik, adik ipar dan seluruh makhluk yang hadir dalam pesta itu dengan berlaku tolol, bersikap konyol. Saya siapkan kamera, pasang tampang cuek seperti biasa dan semua berlaku normal bagi saya.
 

Beda saya, lain dia. Lihat saja betapa aneh pose-posenya yang saya dapat. Di saat yang lain fix bahkan termasuk anak-anak, dia salah tingkah sendiri, kan? Hahaha... Doakan saja Rekreasi Hati sukses dan dia termasuk salah seorang yang pertama akan saya beri dan gratis. Dan siapa saja nanti yang akan menyaksikannya, tolong di foto, bila perlu direkam reaksinya. Dokumentasi itu akan jadi salah satu barang paling berharga kalian buat saya, hahaha...
 









Ehh, kenapa tuh, Boss? Hahaha...!




Liatnya ke saya, donk! Hahaha...!





Kasian amat sih! Saya juga potographer ini...!

Dendam saya kepadanya memang luar biasa. Tapi Insya Allah efek dendam itu juga baik bagi saya. Doa orang teraniaya memang mustajab. Tuhan sendiri yang menggaransinya. Tapi saking dendamnya, saya justru tak ingin mendoakan yang buruk untuknya. Karena saya orang baik? Bukan, sebab untuk mendoakan yang baik-baik untuknya pun saya tak rela. Saya ingin lampiaskan sendiri dendam itu langsung kepadanya. Bukan dengan mencelakakannya. Saya ingin saya sendiri yang membuka hatinya. Saya ingin sendiri langsung yang membuatnya merasa menyesal, telah keliru. Saya tak ingin oranglain yang melakukannya. Kenapa? Yaa, karena begitu dendamnya saya terhadapnya L
 

Selesai photo-photo, manejer yang satunya lagi (yg pakai kacamata) meski kaget dan bingung, tapi menyalami saya. Salam pergaulan. Ini juga pertama kali saya merasakan langsung efek salaman gaya baru itu. Gaya salam tradisional biasa sering saya lakukan. Tapi salam pergaulan begitu, bersalaman yang ditutup dengan gaya saling mengepalkan tangan begitu sungguh jarang, kecuali terhadap teman-teman saja. Dan manejer yang berkacamata itu menyalami saya dengan salaman gaya baru itu. Dia bukan manejer saya. Dia manejer departemen lain. Dan meski sebagai manejer, dia tak menganggap saya sebagai bawahan. Gaya salaman itu yang menceritakannya kepada saya. Gaya salaman terhadap sesama teman.
 

Bagaimana dengan (mantan) manejer saya itu? J Jangankan salam pergaulan, salaman biasa saja tak mungkin. Sungguh, melihat gayanya saat saya photo-photo itu sungguh menghibur saya. Kasihan, dan bikin geli, wkwkwk J Tapi maaf ya, saya sendiri ogah menyalaminya. Bukan karena dendam lantas saya tak mau menyalaminya. Saya justru bertekad, bahwa dia sendiri nanti yang akan datang dan menyalami saya. Kapan? Hanya akan terjadi bila saya lebih sukses ‘hidup’ ketimbang dirinya. Itupun, bila saya juga sukses untuk membuatnya menyesal. Dan saat itu, gaya salamannya akan lebih mengharukan. Bisa-bisa salamannya  sambil mencium tangan saya, hahaha…. Ehhh, aamiin…!

9 Agt 2014

Dian Akan Kembali, aamiin...!

Kami pertama 'saling kenal' karena sebuah mesjid. Pertemuan terakhir di sebuah rumah pada Hari Kemenangan Idul Fitri beberapa hari yang lalu. Keduanya berada di kampung yang sama: Rawa Sari. Sebuah tempat dan waktu yang penuh berkah, kan? Jadi, nikmat apalagi yang mesti kami ingkari? Relationship kami penuh dengan nuansa cinta dan religius. Sempurna, kan? Rawa Sari adalah kampung kami. Yaa, kami berdua: Saya dan Dian (:

Datang dengan cinta mestinya pergi juga dengan cinta. Pergi membawa cinta tak harus sambil tinggalkan kebencian. Begitulah mestinya sebuah perjalanan. Kami berdua bukan orang yang bodoh. Dian itu guru, lho!Kami berdua sangat mengerti. Takkan ada kebencian karena kami selalu saling beri dukungan. Begitu kan, Dian?

Saya selalu di sampingnya. Dian pun akan selalu mendukung saya dan Rekreasi Hati.












Apa Dian mampu mengecewakan penggemar yang menyanjungnya tinggi begini?





Betapa penasarannya dia ingin mengenal Dian













Kalap, gegara ingin mengenal Dian


Emak-emak pun pengen tau, siapa itu Dian, wkwkw...! Bisa gawat ini kalo doi liat ini post



Dia cuma ingin RH segera terbit











Di tingkat berapa posisi Rekreasi Hati? Kalah kerenkah sama Bukunya si Alith Shitlicious?
















TERHARU, saat ada yang nulis khusus soal RH











Alhamdulillah, RH bisa bermanfaat

























Terima kasih yaa, Broow,...!














RH Secret Admirer? Siapakah orang ini? Saya sama sekali tak kenal...?








Dikomen Putri Indonesia? Artis Terkenal? Mba Ayu, sesekali di Lensa Olahraganya promosiin RH gimana? hehehe...!








Mereka yang terhibur






























































Segini dulu deh. Terlalu banyak. Entar di-uapdate lagi, Insya Allah :)







8 Agt 2014

Tak Perlu Mengajari Monyet Menggaruk



Meminta saya melupakan Dian sama saja dengan menganjurkan saya membunuh Rekreasi Hati dengan tangan saya sendiri. Saya sendiri sangsi jika kalian semua mampu menerimanya, hahaha…! Ide membunuh RH, apalagi dengan tangan saya sendiri pastilah datang bukan dari kalian kan? Teman-teman semua Para Penggaruk yang sejati, kan? Ide itu ngawur dan tak masuk akal. Jangankan saya dan kalian, Dian pun saya yakin takkan tega melihatnya, hahaha…!
Tuh kan, Dian lagi! Apa kubilang? Itu ide yang gagal rasional. *Kembali galau ):

Tapi kamu juga mesti terima kenyataan, Rauuuuul…..!

Tentu saja. Tapi, usaha dulu baru nrimo. Berjuang dulu, setelah itu baru legowo. Belum pernah dengar rumus begituan? Kenapa berhenti saat perjuangan belum selesai? Kenapa berhenti padahal perjalanan belum sampai? Kenapa berhenti menggaruk di saat masih merasa gatal? Pernah dengar kisah nyata seorang atlet marathon asal Tanzania bernama John Stephen Akhwari? Saat berlaga di Olimpiade tahun 1968 di Mexico saat jarak masih tersisa sekitar 5000 mil lagi dia cedera. Semua berpikir pertandingan sudah selesai. Hari sudah malam dan pertandingan memang sudah selesai. Tapi bagi si atlet ternyata belum. Tiba-tiba terdengar pengumuman dari bahwa masih ada pelari yang akan menuju garis finish. Serentak, stadion kembali bergemuruh. Semua penonton yang kebetulan belum pulang bersorak dan berdiri memberi standing aplaus saat dari jauh terlihat ada seorang pelari yang berlari dengan berjinjit-jinjit (begitu kan, Bahasa Indonesianya?) sambil meringis menahan sakit yang luar biasa menuju garis finish..Saat ditanya wartawan kenapa dia ngotot menyelesaikan perlombaan dan mengabaikan ancaman dokter bahwa dia akan lumpuh total atas kenekatannya itu dia menjawab,

“Negara mengirim saya jauh-jauh ke sini bukan untuk hanya untuk mengikuti pertandingan, tapi juga untuk menyelesaikannya”.

Suatu jawaban yang heroic banget, kan? Dia akhirnya memang divonis lumpuh total (tapi kalo ga salah l, masih ada keajaiban setelah vonis itu. Menurut suatu kisah yang kalo lagi-lagi tidak salah dia juga berhasil menaklukkan vonis lumpuh tersebut), tapi dia juga jadi pahlawan kebanggaan Negara atas aksi patriotisnya itu.

Itulah juga impian saya. Saya juga mengidamkan hal serupa. Saya ingin Dian bangga atas kegigihan saya untuk memperjuangkannya. Jika si atlet lumpuh itu mampu jadi kebanggaan bangsa, kenapa untuk sekadar jadi kebanggaan Dian saja saya tak kuasa? Padahal saya bukan orang yang lumpuh, hehehe…!

Bagaimana jika ternyata hasilnya bad ending?

Film paling laris sepanjang sejarah seperti Titanic saja kisahnya berakhir tidak dengan happy ending, kok! Justru kisah pahit itu yang membuat emosi penonton membuncah, kan? Yang membuat banyak stasiun tipi memutarnya berulang kali?

Novel apa yang paling laris di dunia? Saya memang tak banyak membaca novel terjemahan. Tapi satu-satunya Novel terjemahan yang ada di Goodreads list saya adalah The First Lady-nya Irving Wallace. Istri Palsu Sang Presiden, versi Indonesianya. Suatu kisah yang keren dengan ending yang sungguh tak jelas. Saya sendiri yakin, sampai sekarang penulisnya sendiri juga bingung, apakah yang mati itu Istri palsu atau yang asli. Endingnya sengaja dibuat menggantung agar tercipta ruang untuk dibuatkan sequelnya? Bisa jadi maksudnya begitu, sebab ada begitu banyak celah untuk itu. Apa yang akan terjadi jika ternyata istri palsu masih hidup? Atau sebaliknya, bagaimana jika ternyata yang mati itu istri yang asli? Tapi bagaimana pula jika ternyata yang masih hidup adalah istri yang asli? Versi kebalikannya juga ada, bagaimana kalau yang mati itu istri yang palsu. Sungguh banyak kemungkinan versi sequelnya. Tapi bertahun-tahun sampai sekarang tak satupun yang pernah saya dengar diterbitkan. Sungguh ending yang tak sedap. Tak jelas, tapi keren abis.

Novel dan sinetron Indonesia juga begitu? Apa serial fiksi paling terkenal di Indonesia? Lupus? Wiro Sableng? Dalam berbagai kisahnya Lupus nyaris tak pernah berakhir happy, tapi sungguh menghibur. Wiro Sableng bahkan mesti mati, tapi akhirnya jadi legenda, kan?

Banyak sinetron jadi garing karena memaksa berakhir dengan happy ending. Apa sinetron paling terkenal di Indonesia? Ayoo, semua pemirsa Halo Selebriti mestinya pakar soal-soal yang begini? Cinta Fitri? Bagaimana endingnya? Tak jelas, kan? Sinetron Para Pencari Tuhan juga bisa kita jadikan rujukan. Jilid 1 berakhir dengan ditinggalnya Bang Jack oleh tiga murid mantan napinya itu.Terus Jilid...

Stop...! Interopsi! Tapi kan, happy ending bagi Ayya dan Azzam?

Nah, itu yang saya maksud. Gembira dan kecewa, bad dan best ending itu cuma soal persepsi. Itulah pentingnya menggaruk yang tidak gatal. Dengan cara pandang yang lain lah kita akan temukan hikmah untuk bersyukur. Nikmati, maka kaupun akan bersyukur.

Tapi jika ternyata akhirnya Dian.... (ga kuat nulisnya)

Masih belum ngerti juga? Saya dan Dian apalagi, pasti akan bahagia. Bisa jadi saat itulah kehidupan kami berbelok-belok begini akan normal kembali. Itulah waktunya memaku posisi kami di hati masing-masing. Takkan bergeser-geser lagi. Saat itulah saya akan hijrah. Move On, kata anak-anak generasi Halo Selebriti. Nabi Muhammad juga diperintahkan hijrah karena tak bisa lagi berjuang di Mekah saat 2 pembela utama dakwahnya Abu Thalib dan Khadijah meninggal, kan? Bukankah beliau yang mesti kita teladani? Jadi, tentu saja keliru bila saat ini ada yang coba saya minta lupakan Dian. Belum saatnya. Apa anehnya sih? Udah deh, tak perlu mengajari monyet menggaruk. Saya paham caranya kok. Hahaha..! 

Lagipula, itu takkan terjadi, hehehe....!

Aamiin...!