Follow Donk...!

15 Jul 2017

Romantika

Saat SD saya menyukai pelajaran IPS, tapi sekolah mengirim saya sebagai wakil di kompetisi bidang studi Matematika. Dan sekarang saya jadi penulis.

Di tingkat lanjutan saya ingin masuk SMA, tapi orangtua kirim saya sekolah di STM. Dan sekarang saya masih meraba-raba capai eksistensi hidup.

Saya lamar jurusan mesin karena ikut-ikutan teman. Tapi ditempatkan di jurusan Elektronik karena nilai saya saat mendaftar tinggi. Dan sekarang bila TV atau kipas angin rusak saya akan mencari teman saya Mugi.

Lamar kerja di PT Labtech maunya di bagian printing. Dengar-dengar banyak lemburnya. Tapi HRD menempatkan saya di bagian Elektronik, sesuai ijazah saya. Hasilnya saya cuma jadi kacung, padahal umur paling duluan, wkwkwk...!

Bual dan gombal sana-sini akhirnya bisa mutasi. Saya jadi kesayangan supervisor, tapi akhirnya dipecat manejer.

Suka sama Dian, tapi Dian sukanya sama orang lain. Akhirnya saya pilih Rani aja, teman si orang lain tersebut, wkwkwkwk...!

13 Jul 2017

Bahasa Dan Media

Dunia pendidikan kita begitu menganakemaskan anak-anak IPA, tapi berapa orang akhirnya diantara mereka yang jadi ilmuwan? Faktanya, industri pertambangan kita sebagian besar justru dikuasai pihak asing. Indonesia akhirnya dikuasai anak-anak IPS yang dulunya dianaktirikan. Mereka yang dulunya dipandang sebelah mata akhirnya berubah jadi pejabat korup dan pengusaha hitam perusak negara.

Kondisi yang diperburuk dengan anak-anak bahasa yang dulunya seolah-olah di sekolah diperlakukan seperti anak haram. Jurusan bahasa adalah kasta terendah dalam dunia pendidikan yang suka atau tidak mesti kita akui berlaku diskriminatif. Anak-anak yang diabaikan itu akhirnya jadi rakyat yang gagap informasi sebab gagal mengenal bahasa. Itulah induknya kebodohan.

Meremehkan pelajaran berbahasa adalah salah satu kecerobohan fatal dunia pendidikan kita. Untuk menguasai dunia, kuasai media. Pelaku media adalah anak-anak bahasa. Negara yang dikuasai pelaku media, penjahat dan pejabat korup, dan diisi oleh rakyat yang gagap informasi, tunggu sajalah saat-saat kehancurannya.

Akhirnya saya berkesempatan jadi seorang narasumber di sebuah forum imajinatif yang membahas tentang fenomena penulis muda AFI. Dalam undangan disebutkan saya dianggap punya kapasitas yang layak sebagai sesama penulis muda (qiqiqiqi...!) dan kebetulan sekali juga sudah cukup lama sebagai pengikut akun Facebooknya. Saya diberi kesempatan yang cukup besar berbicara panjang lebar tentang AFI, yang terkini diketahui melakukan plagiat video 'caruk-caruk', seorang gadis muda yang bunuh diri karena bully. Salah satu yang saya ingat statemen saya bahwa 'pemerintah mesti selamatkan AFI'.

Forum ini ternyata cukup menarik minat para pemilik media untuk meliputnya. Beberapa media partisan pemerintah memberi judul 'Siraul Nan Ebat Tuding Pemerintah  Korbankan AFI'. Selanjutnya dalam narasi berita juga disebutkan bahwa Siraul Nan Ebat itu pernah dipecat sebagai Ketua Kelas karena ketahuan merekayasa buku absen kelas.

Sebaliknya, media-media anti mainstream yang kontra pemerintah juga tak ketinggalan untuk memberitakannya dengan judul 'Pengamat Anggap Pemerintah Bertanggung Jawab Soal AFI'. Dalam narasi beritanya juga dijelaskan bahwa pengamat bernama Siraul Nan Ebat itu adalah penulis berbakat yang dulu selalu juara kelas yang saleh dan rajin menabung, hahaha...!

Sepintas tak ada yang salah dari pemberitaan keduanya. Mereka meliput acara yang sama dengan narasumber yang sama pula. Satu hal yang pasti, keduanya sama-sama beropini dan menggiring opini yang tak boleh dilakukan oleh media massa. Media massa itu memberi informasi, bukan beropini. Alangkah seramnya bila media massa dikuasai satu pihak dengan kepentingan hitam, sedang pangsanya gagal mengerti misi informasi yang diterimanya.

Board a plane to Katmandhu.
Talk to indians in Peru.
Find out how the fire went
How about Novel Baswedan?
are Munir and Hermansyah cases conspiration or an accident?
Was 9/11 and Kampung Melayu a big design?
Are BLBI, Century Gate and Sumber Waras grand corruption?

Trace a modern voodoo Chile
May be Jimy still alive
Is Firza Husein and Habieb Rizieq WA chat a fix?
Fake or real fact?
Restospective, big intrique
The early 80's, the human league.

Take the goverment to court
is the mayor really bought?
Who went to The Raul show?
Why Arsene Wenger is felling bad?
How to get Guns N Roses Classic Formation Concert tiket?

Or Lee Harvey will never die
CIA or the FBI
Feed sir Santa's nose tissue
Centerfold or terrorism issues.

She wants political operations,
She wants porno queen sensations,
She wants Iwan Bopeng descriptions,
and some celebrity addictions.

She wants acces to ANC,
She wants lunch with Jokowi
She wants boss tell her where she can interview Raul and Rani, hahaha...!

Per Gessle feat Raul ~ Reporter

11 Jul 2017

Reuni

Bagi peserta, reuni mestinya adalah suatu yang menggembirakan. Dan sebagai seorang peserta sebuah acara reunian sekolah setelah 20 tahun berpisah, tentu saja saya ikut bergembira walau ada satu hal yang sangat saya khawatirkan. Dan itu selalu saja kejadian. Saya sering gagal mengenali teman, walau dulu pernah punya sejarah bersama.

Dalam sebuah acara reunian pasca lebaran kemaren misalnya, saya pikir saya cuma mampu mengenali 'utuh' tak lebih dari 10 orang saja. Utuh dalam maksud bahwa saya kenal nama dan ingat rupanya. Padahal ini reuni terbatas pada 2 angkatan belaka. Ini telah saya prediksi sebelumnya. Itulah kenapa berbagai siasat coba saya buat demi menghindari acaranya, walau akhirnya saya gagal dan 'terpaksa' menghadirinya. Demi Allah, itu karena saya takut gagal mengenal teman-teman lama saya. Saya takut dianggap sombong dan sejenisnya, walau ternyata sikap saya menunjukkan bahwa saya memang terkesan sombong.

Saya memang ikut berkumpul dan bergabung dalam rumpian mereka. Tapi saya lebih banyak mendengar ketimbang bicara. Selain itu saya juga pilih duduk di samping. Ini jelas bukan Raul yang 'sebenarnya'. Raul itu orang yang di perusahaan tempatnya bekerja (dulu, sekarang sudah dipecat) itu punya satu 'singgasana' saat jam istirahat yang tak seorangpun berani mendudukinya. Raul, yang selalu jadi pusat perhatian untuk didengarkan segala joke, ceramah dan aneka sabdanya. Raul, yang ketiadaannya membuat sepi dan hambar suasana, wkwkwkwk...!

Saudara-saudari, teman-teman reunian yang saya cintai! Kalian mungkin paham bahwa ketimbang dalam pergaulan dulunya pun saya lebih banyak bicara dengan 'prestasi belajar' di sekolah. Tapi percayakah kalian bahwa di sekolah lanjutan, saya adalah siswa paling vokal dan cenderung radikal (?). Saya adalah ketua geng yang paling sering bikin ribut di sekolah saya nan jauh di rantau itu. Tak terhitung lagi entah berapa kali ibu guru ini dan itu menangis karena gagal menangani kebutuhan emosional saya. Hari terakhir di sekolah tersebut (saat pembagian ijazah) sayalah tukang buat onar yang membuat guru olahraga kami tak berani datang ke sekolah (konon) selama 6 bulan berikutnya. Saya adalah tersangka utama provokator yang karena gagal ditemuinya, teman saya jadi korban pelampiasan amarah dan dendamnya. Dan konon, menurut beberapa adik kelas, tugas guru olahraga tersebut akhirnya diemban guru agama kami. 6 bulan guru olahraga tersebut tak berani nongol di sekolah karena takut aksi balas dendam, dan itu terjadi gegara saya. Siraul Nan Ebat itu aktornya keramaian, hahaha...!

Tapi bersama kalian saya lebih banyak diam dan meminggirkan diri. Mengertilah, saya sangat tak mau buat kecewa teman-teman yang selalu menyanjung dan meninggikan saya. 20 tahun berpisah setelah kenal 'cuma selama 3 tahun', itu sangat mengikis memori otak dan kenangan silam saya.

Maka saat reunian tersebut saya banyak diam itulah saya ingin mengenal dan mengingat lagi sosok kalian yang dulu. Saya pilih duduk di pinggir agar bisa menyimak dan ingat, ooo... ternyata si ini namanya ini dan yang dulu itu suka begitu begini. Si itu itu dulu orangnya begitu dan suka begitu. Jadi ini sama sekali bukan karena saya bermaksud sombong dan sejenisnya. Atau juga bukan karena taku ditanyai kapan nikah, anak berapa dan sebagainya. Buat saya aneka pertanyaan tersebut cuma soal ecek-ecek. Semuanya terserah Rani, maunya kapan dan berapa, wkwkwkwk...!

27 Jun 2017

Skak Mat 2

Nyo :Selamat Idul Fitri! Mari kembali ke Islam kaffah! Islam yang rahmatan lil alamin! Islam toleran. Deradikalisasi Idul Fitri.

Den :Spin teruuus...! Emang yang radikal siapa? Yang bakar mesjid saat Idul Fitri siapa? Yang menyerang jemaah sholat Ied siapa? Punya mata, tapi bikin malu Si Buta Dari Goa Hantu. Punya telinga tapi bikin malu Kakek Segala Tahu. Jangan-jangan aku buang lagu-lagu Iwan Fals, Slank, Anggun, Nidji dan musisi pendukung Ahok lainnya dari list musik player nanti juga bakal dituding anti toleransi. Tapi tetap tak mau punya lagu Kangen Band yang anti Ahok itu radikal, begitu? wkwkwk...!

Nyo :Demo berkali-kali agar seseorang dipenjara itu radikal.

Den :Umat Islam cuma menuntut keadilan.

Nyo :Tapi tak adil buat Ahok.

Den :Tak adilnya dimana?

Nyo :Ahok divonis 2 tahun, padahal jaksa cuma menuntut setahun.

Den :Ancaman hukumannya 5 tahun, tuntutan jaksa cuma setahun dan divonis hakim 2 tahun. Saya rasa itu sudah adil bagi semua pihak. Maka mestinya semua telah beres dan tenang.

Nyo :Hukum telah mati.

Den :Yaa, karena kalian tak taat hukum. Siapa yang demo, anarkis menuntut bebas seorang terpidana? Umat Islam sih taat hukum ya! Ahok sudah divonis. Bila ingin hukum tetap tegak yaa, taati putusan hukum, donk :)

Nyo :Kalau umat Islam taat hukum, kenapa Habib Rizieq malah kabur begitu ditersangkakan? wkwkwwk...!

Den :Logika hukum polisi jungkir balik. Suer, saya menulis cerita dialog mesum dengan istri Kapolri di laptop pribadi. Berani ga lu share di Facebook, Twiter, Blog atau dimana saja di internet? Kan yang akan ditangkap istri Kapolri? Hahahaa...!

Nyo :Polisi sudah bilang, masih sedang mengusahakan memburu pelaku pengunggah screenshoot WA tersebut. Sabar, donk!

Den :Tempatnya kan udah jelas? Amerika, negara bagian Pejaten, hahaha...! Susah amat nangkapnya? Karena terlalu jauh, ya? Suruh Amien Rais aja yang nangkap, jangan polisi! Habieb Rizieq yang buronan aja bisa diajaknya selfie-selfie, hahaha...!

Nyo :Ahok dipenjara karena video yang diupload Buni Yani. Videonya tak asli. Sudah dipotong. (seperti biasa, omongan Bani Ahok ini memang selalu mutar-mutar kesana kemari).

Den :Kau nonton film cuma bagian ehem ehemnya aja apa itu berarti filmnya tak asli? Seluruh film yang kau tonton, baik yang di bioskop atau yang di tipi-tipi itu tak asli? Sudah dipotong-potong LSF, kan? Punya akal, tapi dungu kok bikin malu manusia? Hahaha...!

Nyo : (hening).

*tamat

10 Jun 2017

SKAK MAT

Nyo :Kata ‘kafir’ itu bukan ditujukan buat non muslim.

Den :Surat Al-Kafirun ditujukan buat siapa emangnya?

Nyo :Lihat asbabun nuzulnya. Surat itu ditujukan buat suku Quraiys.

Den :Berarti surat tersebut tak berlaku di Indonesia, donk? Kan suku Quraiys adanya Cuma di Arab?

Nyo :Yaa, tak begitu juga! Maksudnya, ditujukan bagi yang serupa dengan itu (suku Quraiys).

Den :Yang menyembah apa yang tidak aku sembah dan tidak menyembah apa yang aku sembah? Begitu? Berarti bener donk, ditujukan buat non muslim?

Nyo :Kata ‘kafir’ itu mengancam kebhinnekaan kita. Mestinya tak boleh dipakai di Negara majemuk seperti Indonesia. RASIS…!

Den :Itu bahasa kitab suci. Sama seperti ‘domba-domba yang tersesat’, bahasa kitab suci Injil. Rasis juga,donk? Berarti Injil juga ga boleh dipakai di Indonesia?

Nyo :Itulah kenapa agama dan politik mesti dipisah.

Den :Dipisah maksudnya? Yang berpolitik tak boleh beragama, begitu? Berarti bener lagi donk, penguasa sekarang PKI? Orang-orang yang tak beragama?

Nyo :Membawa-bawa agama dalam politik itu tak adil bagi non muslim macam Ahok. Dia minoritas. Memilih pemimpin berdasar agama itu melanggar konstitusi.

Den :Melanggar konstitusi? Yang sesuai dengan UU itu gimana? Pilih pemimpin berdasar jumlah kancing baju atau berapa banyak mobil lewat, begitu?

Nyo :Yaa tak begitu juga, dobk! Ada-ada saja kau ini. Memilih pemimpin itu kan mesti ada alasannya juga donk! Jangan asal pilih! Ada landasan dan pedomannya.

Den :Pedoman hidup yaa, agama!

Nyo :Bedakan ya, hidup beragama dan hidup bernegara! Pedoman hidup bernegara kita itu Pancasila.

Den :Sila pertama itu Ketuhanan Yang Maha Esa. Itu soal agama. Maka pedoman hidup bernegara pun mesti berpedoman pada agama, PAHAAAM…!

Nyo : (Mulai panas) Melawan Ahok pakai ayat-ayat itu pengecut!

Den : (Tetap cool) Lawan setan aja boleh pakai ayat kok, kenapa untuk mengalahkan Ahok tidak boleh?

Nyo : (Makin panas) Ehh, maksud kau Ahok itu sama dengan setan?

Den :Bukan sama. Ahok itulah biang setannya. Setan dibelenggu selama Ramadhan. Ahok dipenjaranya? 2 Tahun. Salam 2 Tahun, wkwkwkwk….!

*Kemudian hening.

13 Mei 2017

Ditawari Jadi Dukun

Saya punya kenalan seorang dukun amatir. Amatir, sebab dia menjalaninya sekedar dan sewajarnya saja. Tidak menjadikannya profesi hidup. Dan beberapa waktu lalu dia mengajak saya ikutan jadi dukun. What…?

Jadi dukun? D-U-K-U-N? Beneran nih?

Tawaran ini awalnya sangat membingungkan saya. Seperti yang dia juga tau betapa saya sangat anti yang namanya dunia supranatural. Saya tak percaya hantu. Seumur hidup saya belum pernah mendengar ada orang mati dibunuh hantu dengan segala jenis dan typenya. Apalagi cuma dukun. Sangat tak wajar dipercaya. Ringkasnya, saya 100% tak percaya dengan segala hal dunia mistis. Titik.

Tapi teman ini meyakinkan saya. Sifat jahil dan usil yang saya miliki plus ‘daya kreasi yang sedikit liar’ menurutnya adalah modal untuk menjadi seorang dukun. Dia bercerita banyak pengalamnnya sebagai dukun. Dan dari cerita-ceritanya tersebut saya pun akhirnya optimis bahwa saya juga bisa jadi dukun, hahaha…!

Misalnya suatu kali dia kedatangan pasien, seorang pedagang yang tengah dipusingkan oleh hutang-hutangnya. Setelah mendengar dengan seksama keluhan si pasien, teman dukun saya inipun mulai beraksi. Kronologis kisahnya ini benar, tapi detailnya sudah saya modifikasi, sebab sudah lupa cerita persisnya.

Si pedagang dimintanya untuk mencari sebuah lukah (semacam perangkap ikan). Letakkan tepat di bawah laci kasir. Ritualnya, setiap yang berbelanja adalah seorang wanita yang diduga hamil, uang pembayarannya, nominal berapapun mesti dimasukkan ke dalam lukah dan tak boleh disentuh lagi oleh siapapaun. Artinya, jika butuh kembalian, gunakan uang yang di kasir. Dan tepat setelah purnama ke-3 sejak ritual dijalankan, si pedagang diminta datang lagi dengan membawa lukah tersebut untuk dibuka oleh teman saya yang dukun ini tentunya.

Dan karena teman saya ini memang seorang dukun yang sakti mandraguna, uang yang terkumpul dalam lukah selama 3 purnama tersebut mampu membereskan si pedagang dari persoalan hutang-hutangnya. Malah masih tersisa lebih dari cukup yang bisa digunakan untuk sekedar menambah modal dagangannya.

Rahasianya? Intinya, si pedagang cuma dipaksa menyisihkan sebagian penghasilannya, dipaksa menabung agar bisa melunasi segala hutangnya. Soal lukah, wanita yang diduga hamil, 3 purnama dan sebagainya tersebut semata untuk menampakkan kesan mistisnya, hahaha…!

18 Apr 2017

Pesawat dan Bid'ah



Nyo        : Jadi, naik kapal atau pesawat?

Den        : Kapal, donk!

Nyo        : Pesawat lebih murah

Den        : Naik kapal lebih asyik. Banyak yang bisa dilihat

Nyo        : Naik pesawat juga bisa. Pramugarinya cantik-cantik. Suka tersenyum pula saat bagi-bagi makanan misalnya?

Den        : Perawat di rumah sakit juga cantik-cantik (kata orang). Dan tak cuma suka tersenyum dan bagi-bagi makanan. Nyuapin kita makan aja mereka mau. 

Nyo        : Tapi cantikan pramugari, donk! Tinggi langsing kayak model.

Den        : Cantik, tapi begitu kita duduk aja mereka sudah langsung bikin horror. Sudahlah nyuruh badan kita diikat, omongannya pun tak enak didengar. Bahwa bila ada begini begitu, segeralah begini begitu dan semacamnya. Pokoknya bikin ngeri deh!

Nyo        : Jadi sebetulnya karena kau takut naik pesawat?

Den        : Yaaa enggak lah! Bila memang sudah saatnya mati, yaa mati aja! Ga perlu nunggu mati naik pesawat donk!

Nyo        : Itulah! Generasi kita sudah terlalu jauh dari agama.

Den        : Maksudnya?

Nyo        : Kau lihat orangtua-orangtua kita dulu. Mereka tak perlu jauh-jauh naik pesawat. Bila rindu cucu misalnya, para buya atau ulama-ulama dulu tinggal baca ayat ini ayat itu beres. Dalam sekejap mereka sudah tahu kabar atau cucunya sedang ngapain. Kau bila serius mau ketapel Ahok baiknya berguru dulu sama buya-buya atau orang-orang hebat seperti itu.

Den        : Loh, buat apaan? Belajar (ngaji) sama siapa aja bisa. Al-Quran itu petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. Tak ada keraguan di dalamnya (Al-Baqarah ayat2). Jadi siapa saja yang bertaqwa dan mau mengaji pasti akan diberi ilmu, sebab ilmu itu adalah petunjuk.

Nyo        : Ya, tapi cuma sebatas itu aja kan?

Den        : Maksudnya?

Nyo        : Yaa, kita takkan bisa sampai ke level ma’rifat, hakikat dsj seperti buya-buya itu, kan? Tak mempan peluru, kebal bacok dan sebagainya. Penting tuh, bila kau serius mau mengketapel Ahok, hahaha…!

Den        : Umar bin Khattab dan Usman bin Affan adalah 2 diantara 10 orang yang sudah dijamin masuk surga oleh Allah SWT. Dan mereka matinya dibunuh. Ga kebal bacok tuh! Apa buya-buya atau kyai-kyai kebal bacok begitu lebih mulia ketimbang mereka berdua?

Nyo        : Yang jelas buya-buya atau kyai-kyai itu pasti sudah sampai di level ma’rifat, hakikat atau apalah itu namanya. Ga kayak ustadz-ustadz atau ulama-ulama sekarang yang yasinan atau rati’ (zikir geleng-geleng) diharam-haramkan. Dikit-dikit haram. Dikit-dikit bid’ah.

Den        : Yaa kalau bid’ah kan emang dilarang. Mengada-adakan yang tak pernah dilakukan Nabi.

Nyo        : Nabi tak pernah naik pesawat. Jadi yang naik pesawat itu pelaku bid’ah?

Den        : Nabi tak pernah minum Jas Jus atau Kuku Bima Susu. Nabi tak pernah makan Oreo atau BengBeng, baik makannya langsung atau nunggu dingin dulu. Nabi juga tak pernah makan mie rebus yang air panasnya dioplos sama teh celup sedikit seperti yang kubikin tadi. Apa aku termasuk pelaku bid’ah? Makanya (belajar) ngaji tu pada ulama, bukan pada dukun, hahaha…!

Nyo        : ??? (hening)

*Tamat

13 Apr 2017

Maafkan saya, Tuan Patriot!

Dan lusa kemaren kita kembali dikejutkan dengan video kampanye provokatif Ahok. Dan emosi saya pun kembali membuncah. Ini sudah keterlaluan. 

2 tahun lalu saya sudah menulis tentang Maria Felicia Gunawan, pahlawan2 bulutangkis Indonesia dan tentu saja termasuk soal Rio Haryanto. Silakan baca ulang tulisan saya mulai 17 Agustus 2015 sampai Desember tahun yang sama. Saya curiga viralnya mereka pasti punya maksud tertentu. Dan sekarang terbukti kecurigaan saya. Lihatlah video kampanye tersebut! Video tersebut sangat jahat dan sarat fitnah nan menghasut. Mereka (Ahok dan timnya) adalah orang-orang yang berbahaya bagi kedamaian di Indonesia. Sangat mengancam eksistensi Bhinneka Tunggal Ika yang justru sangat mereka agung-agungkan. 

Karena Ahok, saya sampai ‘tega’ berprangka terhadap saudara seiman saya yang hafidz: Rio Haryanto, hanya karena dia dari etnis Cina. Maafkan saya, akhi…!

Karena Ahok, prestasi Maria Felicia Gunawan, siswa yang didaulat sebagai pembawa bendera pusaka merah putih bagi saya tak ada nilainya. Itu bukan prestasi, walau bahkan terpilih sebagai pengibar bendera  upacara Senin pagi di sekolah saja saya tak pernah. Maaf yaa, Dik Maria! Dekali lagi maaf, ini karena mata sipitmu.

Karena Ahok, saya sekarang benci terhadap Rudy Hartono dan kawan-kawan dengan the seven magnificient-nya. Saya benci dengan para pendekar Cipayung, Alan Budikusuma, Susi Susanti dan kawan-kawan. Kenapa di akhir milenia dulu tak kita setujui saja wacana IOC agar bulutangkis tak dipertandingkan di Olimpiade. Banyak jenis olahraga dan permainan lainnya yang potensial kita kuasai. Kita mestinya perjuangkan saja domino, koa, ceki, qiu-qiu agar ikut dipertandingkan di Olimpiade. Kita punya sangat banyak talenta di cabor tersebut. Mulai dari kelompok umur U-17 sampai kelompok umur U-71 kita punya. Medali emas praktis 90% milik kita.Maka kita tak butuh lagi, Alan Budikusuma atau Susi Susanti. Kita beda. Kita pribumi Indonesia, mereka dari keturunan Cina. Maaf…!

Maafkan saya! Demi mereka, beberapa tulisan visioner saya terpaksa tak saya muat di buku, beberapa bahkan terpaksa saya hapus mengingat tak banyak pembaca yang bisa ‘membaca’ maksudnya. Tulisan-tulisan yang sebetulnya untuk mengingatkan betapa berbahayanya rejim ini, bukan saja bagi kami kaum muslim pribumi, tapi juga bagi kalian yang non muslim dan dari etnis Cina. Lihatlah video tersebut. Jika kami muslim pribumi ini mau, habis kalian semua. Silahkan baca dan kaji sejarah Islam versi mana saja! Islam tak pernah kalah nyali, jika perang memang mesti terjadi.

Saya tak pernah benci non muslim. Saya bahkan sangat menyanjung betapa heroiknya Wolter Robert Monginsidi. Potonya yang mati gagah memeluk Injil dihadapan regu tembak Belanda jelas lebih layak dipajang di kamar ketimbang poster Kurt Cobain, vocalist Nirvana yang mati putus asa itu.Tapi…!

Yaa, tapi…!

Sekarang saya benci kenapa dulu begitu menyanjungnya. Saya mulai mencurigai sejarahnya. Benarkah dia memang mati bersama kitab suci Injilnya? Lebih jauhnya lagi, benarkah di Indonesia ini memang ada pahlawan perjuangan bernama Wolter Robert Monginsidi? Fakta sejarah? Maaf, sekarang saya mulai ragu. Maafkan saya, Tuan Patriot! Ini semua gara-gara video kampanye tersebut. Video kampanye Ahok-Djarot.

Curhat Aja

Sejak munculnya kasus penistaan agama oleh Ahok ini saya sangat aktif posting status di Facebook. Sebaliknya malah sangat mandul update di blog. Soal Facebook dulu pernah saya ungkap alasannya. Tapi soal blog baru kali inilah saya ‘temukan’ penyebabnya. Awalnya saya menduga ini efek euforia terbitnya buku ke-2. Dugaan berikutnya, saya masih dalam proses adaptasi mendapatkan fix chemistry dengan Rani, wkwkwk…! Dugaan mutakhir, suasana hati yang begitu emosional tidak saja oleh babak belurnya klub favorit saya Arsenal dan pemain idola Thomas Rosicky yang dihabisi karirnya oleh cedera yang tak kunjung sembuh, tapi lebih tegasnya disebabkan oleh yaaa, dinistanya agama saya oleh Ahok. Suasana hati yang emosional tak baik untuk tulisan-tulisan saya. Dugaan terakhir ini akhirnya saya simpulkan ‘benar’ setelah saya berulangkali selalu gagal menulis dialog2 imajiner khas Rekreasi Hati, bahkan walau telah direquest beberapa kali oleh fans, hahaha…!

Kegagalan tersebut buat saya sedih. Saya sudah coba berulangkali dan berakhir sebagai draft belaka. Walau buramnya memang masih ada, tapi takkan mungkin lagi saya post sebagai akan melanggar ciri utamanya yang ‘automark’ dan anti bajak, hahaha…! Postingan yang selalu up to date takkan mungkin bisa diklaim pihak lain. Silahkan baca karya2 serupa saya sebelumnya! Siapa yang bisa bajak dan klaim sebagai miliknya, hehehe…?!

Saya baca ulang, dan analisa demi untuk temukan penyebabnya. Dan akhirnya setelah saya komparasi dengan postingan2 status di Facebook sangat kentara bedanya. Fix, saya ternyata begitu emosional. Dalam karya2 dialog imajiner saya sebelumnya terlihat emosi saya sangat terkontrol. Deliverynya yang keren, beat to beatnya mengalir lancar dan ditutup dengan dead punch yang sempurna, hahaha…! Sangat kontras dengan status2 Facebook saya yang langsung to the point. Satu kalimat, tapi mematikan, hahaha…!

Demi masa depan blog saya mesti belajar lagi belajar mengontrol emosi. Itulah kenapa beberapa hari belakangan ini ‘saya terkesan off di Facebook. Saya coba sedikit rileks dan berhasil buat satu karya dialog imajiner terbaru, meski belum PeDe untuk menyebarnya di Facebook, hahaha…! Tak mudah memang untuk mencoba enjoy, sebab yaaa nasib Arsenal yang tak kunjung membaik dan sudah pasti Rani, si bidadari yang tak kunjung bisa saya curi selendangnya, hahaha…!