Follow Donk...!

16 Sep 2017

Kita Dan Kepedulian

Walau cuma di Twitter, tapi saya cukup mengenal mereka. Tak semua sama pilihan politiknya, dan berbeda pula klub bola jagoannya. Sering twitwar soal politik, dan saling bully masalah bola.

Soal sikap dan pilihan politik ada yang anti Jokowi, ada pula yang pro. Di Pilkada DKI lalu sama saja. Ada kubu AHY, ada pendukung Anis dan ada pula yang pro Ahok. Begitu juga soal beda klub bola jagoan. Ada fans Arsenal dan fans klub lain yang sudah pasti sebagai haters Arsenal, hahaha...!

Mereka adalah senior dan guru-guru politik saya. Saya banyak belajar dari mereka. Dari mereka pula saya belajar bahwa kedewasaan dalam hidup berpolitik itu penting. Walau faktanya selalu berdebat, nyatanya pertemanan mereka di dunia nyata tak terusik hanya karena sikap politik dan klub bola jagoan yang tak sama.

Seorang di antara mereka lusa kemaren tersandung perkara narkoba, dan mereka kompak menjenguk dan membesuknya. Mereka dengan cerdas meminggirkan soal politik dan bola. Ini adalah soal pertemanan. Ada seorang teman yang sedang terlibat masalah narkoba dan butuh semangat dan dukungan. Saya salut dan terharu terhadap rasa peduli teman yang mereka unjukkan. Tapi saya khawatir, apakah kepedulian kita terhadap sesama cuma soal narkoba? Saya cemas, karena saya sendiri sering berada di situasi yang sama.

Ini era dimana simpati dan empati sering gagal menampilkan diri. Persoalan kemanusiaan seperti yang dialami etnis Rohingya saja banyak sekali yang ternyata bukannya bersimpati, tapi nyinyir dan mempolitisasinya. Ngeriii...!

Saya sering bertengkar dengan teman hanya gegara saat akan merokok, korek api tak ketemu. Tapi sering memberi peringatan waspada, bila saat ada situasi bahaya saat mereka sedang menggunakan narkoba, hiiiiks....!

15 Sep 2017

Begitu Dekat, Begitu Nyata 2

Begitu dekat, begitu nyata. Jauh sekolah di rantau, ternyata gurunya tetangga sebelah rumah di kampung.

Begitu dekat, begitu nyata. Teman SD dan Mts saya saat di kampung, nikahnya dengan teman STM saya di rantau.

Begitu dekat, begitu nyata. Punya adik angkat di rantau, ternyata sepupunya teman sekelas saya di kampung.

Begitu dekat, begitu nyata. Saudara angkat, teman STM saya di rantau ternyata teman SD dari teman sekelas MTs saya di kampung.

Begitu dekat, begitu nyata. Sibuk di acara nikahan sepupu, ternyata nikahnya dengan teman kerja saya sendiri, hahaha...!

Teman sesama penulis indie. Saya adalah penulis paling indie se-dunia. Dia mengklaim sebagai penulis indie terproduktif se-Indonesia. Dan sekarang diciduk tersandung masalah narkoba, duhhh...!

Begitu dekat, begitu nyata.

Begitu Dekat, Begitu Nyata

Upacara Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2017. Di sebelah Presiden dan Wakil Presiden. Di samping Ketua MPR/DPR. Beberapa hari berikutnya Irman Gusman kena Operasi Tangkap Tangan KPK, ngeriiii...!

Kecuali untuk posting di blog, memang telah lumayan lama saya jarang 'online' di Twitter atau pun Facebook . Bukan tak pernah, tapi biasanya setelah update status atau cuitan di Twitter saya langsung off dan mengabaikan saja notifikasi yang masuk. Jarang sekali saya scrolling timeline sehingga agak kurang update terhadap perkembangan terkini. Untuk tahu informasi terkini saya cuma menyimpan halaman sebuah akun secara offline, dan tinggal melakukan refresh online begitu mau baca informasi. Belakangan saya sedang asyik-asyiknya membaca novel-novel detektif koleksi lama. Ini saya rasakan sangat membantu melatih kemampuan deduksi saya, haha...!

Dan betapa kagetnya saya begitu tahu berita Indra J Piliang diciduk perkara narkoba. Innalillah...!

Begitu dekat, begitu nyata dan mungkin sebentar lagi kita. Terkenang lagi saya cuitan Fahri Hamzah dua bulan yang lalu tersebut. Saya dan IJP tak saling kenal, tapi kami cukup intens berkomunikasi di Twitter. Terakhir, bulan lalu dia mencoba membantu saya menghubungi Pak JK terkait buku-buku biografi Pak JK koleksi saya. Pak JK salah seorang tokoh favorit saya. Saya punya banyak koleksi buku-buku biografinya. Sayangnya, Twiter saya justru diblokirnya. Dan IJP memfasilitasi saya untuk menghubunginya.

IJP salah satu semangat saya dalam berkarya. Sebagai sesama penulis, kami punya idealisme yang sama. Karya kami terlalu berharga untuk dilepas ke penerbit begitu saja. Dia mengklaim sebagai penulis indie paling produktif se-Indonesia, dan saya percaya. Tapi beliau angkat topi saat saya mengklaim sebagai penulis paling indie se-dunia, hahaha...! Ehh, Rekreasi Hati itu saya tulis,susun, edit, desain, cetak, jilid, terbitkan, bahkan jual dan beli sendiri lho, hahaha...!

"TOP indie", katanya saat itu.

Sejak itulah beliau follow twitter saya. Saya memang tak punya buku-bukunya, tapi dia beli Rekreasi Hati saya walau katanya belum sempat dibaca, haha...! Dan sejak itu kami sering interaksi via mensyen, terutama bila Chelsea sedang kalah. Dia mungkin tak tahu kalau saya fans berat Arsenal, hahaha...!

Dan sekarang dia tersandung masalah narkoba. Saya tersinggung saat dia mengakui bahwa sabu dia konsumsi demi observasi dan sebagai doping. Konon edisi pertama dari trilogi tentang pengguna narkoba banyak dikritik karena kurang greget, sehingga dia putuskan untuk mendalami observasinya, sebagai pemakai sebenarnya.

Dia keliru. Sebagai fans sepakbola yang hobi membaca dan menulis dia tentunya pernah mendengar quote terkenal dari pelatih legendaris Ariggo Sacchi,

"Tak perlu jadi sepatu untuk menjadi penjual sepatu".

Sebagai pembeli Rekreasi Hati dia mestinya telah baca bahwa tak perlu jadi penggaruk walau tinggal di kandang monyet. Dia mestinya tahu Rekreasi Hati itu sangat inspiratif. 7 dari cuma 11 followernya adalah blogger pemula yang membuat akun setelah membaca Rekreasi Hati, hahaha...! Jatuh bangga donk, saiiia, wkwkwkwk...!

Tapi yaa begitulah, dia mungkin benar. Rekreasi Hati sudah dibelinya, tapi belum dibacanya, hiiiks...!

IJP hanyalah sedikit dari teman Twitter saya yang berurusan dengan pihak kepolisian. Teman dalam pengertian kami saling follow dan memfollow. Ada Ongen, Fahira Idris, Dwi Estiningsih atau Yulianis. Saya belum paham betul persoalan yang membelit IJP. Tapi dia satu-satunya yang berurusan karena persoalan narkoba. Dan dialah kerabat selebtwit terdekat saya.

"Begitu Dekat, Begitu Nyata Sebentar Lagi Kita" ~ Fahri Hamzah.

14 Sep 2017

Nasehat Sang Pemulung

Ada yang tak bisa kita elak, karena memang harus terjadi. Ada pula yang tak kan pernah terjadi, sebab selalu ada yang menolaknya. Sikap kita terhadapnya sangat menentukan mutu emosional kita.

Saya tahu pasti kontrak kerja saya takkan pernah lagi diperpanjang. Selesai penandatanganan kontrak terakhir, manejer sialan tersebut telah memastikannya.

"Bagaimanapun kinerjamu 6 bulan ke depan, ini adalah kontrak terakhirmu. Saya heran, kenapa supervisor selalu merekomendasikanmu. Tapi kupastikan, ini adalah yang terakhir", katanya saat aku itu.

Saat itu sebetulnya saya masih optimis. Setahun sebelumnya saya telah bersiap berhenti karena telah menyadari gejala betapa menyebalkannya perlakuan manejer sialan tersebut terhadap saya. Tapi supervisor telah menggaransi akan memertahankan saya selama dia masih ada di sana, dan saya mempercayainya. Dia benar, selalu dan mampu menjaga komitmennya. Saya memang selalu diperjuangkan. Sayangnya, dia sendiri tak mampu bertahan lebih lama. Sebelum saya benar-benar berakhir, dia resign duluan.

Saya mengerti situasi yang dihadapinya. Ini artinya saya lah yang harus memperjuangkan nasib sendiri. Membayangkan meninggalkan teman-teman dan segenap kenangan, serta entah kapan lagi saya bisa bertemu Rani itu sungguh mengerikan, hahaha...!

"Hati den kanai ka ba a juo".

Benar, setiap hari saya goda dan dia menanggapinya. Tapi yang saya butuh kan alamat dan nomor handphonenya? Atau setidaknya akun Facebooknya pun jadilah, hahaha...! Apa daya saya tak punya nyali untuk memintanya. Kami akan berpisah. Saya mungkin takkan pernah melihatnya lagi. Saya berhenti bekerja, sementara Rani terlihat makin cantik saja. Menganggur pasti bukan cara yang cerdas untuk mendapatkannya.

Dan begitu benar-benar berhenti dan gagal mendapatkan kontaknya, itulah puncak derita saya. Sampai akhirnya saya menyadari betapa hidup telah saya habiskan dengan penuh derita. Celakanya, derita itu hanyalah gegara seorang Rani. Sialan betul...!

Ini tak boleh terjadi lagi. Saya menderita membayangkan akan berpisah dengannya. Benar-benar menderita kala benar-benar kejadian pisahnya. Dan apakah masih akan menderita lagi karena menyesalinya?

"Menurutku kau itu jenis orang yang matinya 3x. Maksudku, kau sudah menderita sebelum itu benar-benar terjadi. Benar-benar menderita kala benar-benar terjadi. Dan masih menderita menyesali kejadiannya. Kalau aku, aku akan terima saja bagaimana adanya. Aku nikmati saja keadaannya".

Itu adalah kata-kata seorang pemulung dalam novel Trio Detektif, Misteri Setan Menandak.

Itu sungguh menampar saya. Dia itu pemulung yang tak punya tempat tinggal. Dan saya? Tukang tambal ban di Batam jauh lebih banyak ketimbang jumlah karyawan PT Labtech. Ini adalah bukti bahwa lebih pasti berharap rejeki dari Tuhan, ketimbang berharap gaji dari perusahaan.

Saya tak mau mati lagi. Saya kumpulkan dendam dan cinta, sakit hati dan rindu. Dan dalam 6 bulan berikutnya, 9 September 2014, Rekreasi Hati saya rilis.

*Happy 3rd for my lovely book. Sorry for being late, hahaha...!

Skak Mat 3

Den :Hey, kalian tak bisa bahasa Indonesia, ya? Tak ngerti aku apa yang kalian bicarakan. Kalian hidup di Indonesia, jadi pakailah bahasa Indonesia.

Nyo :Santai ajalah, Bro! Ga usah nyolot begitu. Orang-orang itu ngomong Padang berdua biasa aja, kan?

Den :Bahasa daerah itu unsur dari bahasa Indonesia, paham kau? Nah, itu lagi! Coba kau suruh binimu pulang dulu. Suruh dia pakai pakaiannya, kalau benar-benar tak mau kutelanjangi di sini. Ke pasar pakai kolor ama beha doank, Setan!

Nyo :Yaa, kami biasanya...!

Den :Kau hidup di Indonesia, ikuti aturan di Indonesia! PT Semen Padang aja tak maksa karyawannya fasih Bahaso Minang. Nah kaum kalian nyari karyawan konter handphone aja mesti yang bisa Bahasa Mandarin? Kau hidup di negeri hyang mayoritas muslim, sementara bini kau ke pasar pakai kolor sama beha doank? Tau diri bisa, kan?

Nyo :Indonesia bukan milik suatu agama saja, Bro! Ini negara Pancasila.

Den :Orang macam kalian bicara Pancasila? Cuiiiih...!

Nyo :Loh, kan memang begitu, bro! Ini negara beradab, toleransi. Bhinneka Tunggal Ika, bukan negara kelompok radikal.

Den :Kau tuding Islam radikal? Anti Pancasila, begitu? Coba kau sebut dulu sila pertama Pancasila!

Nyo :Ketuhanan Yang Maha Esa.

Den :Kau tuding Islam anti Pancasila. Kalau bukan umat Islam yang buat, apa kau pikir bunyi sila pertamanya begitu? Emang yang Tuhannya cuma satu siapa? Agama apa?

Nyo :Yang bikin Indonesia merdeka bukan cuma orang Islam, bro!

Den :Emang bener! Tapi coba kau sebut satu saja tokoh pahlawan Cina, aku sebut duapuluh pejuang muslim, bisa?

*hening...

11 Sep 2017

"Dikit-dikit Promo, Dikit-dikit Promo"

Pernah baca status teman yang jualan online, pertanyaan dari seorang teman yang dipostingnya sebagai status facebook dan dilengkapi dengan jawaban dirinya yang ditanya. Bunyinya kira-kira begini:

"Kamu kok dikit-dikit promo, dikit promo"

Trus disambung dengan jawaban yang kesannya keren abis,

"Karena buat gue Facebook mesti bawa manfaat. Ketimbang situ, alay melulu".

Atau jawaban-jawaban sejenis lainnya yang menurut saya lebih terkesan membela diri, cenderung arogan, jumawa bahwa baginya Facebook bisa memberi manfaat dan sebagainya. Padahal maksud sebetulnya dari si teman menurut saya adalah mengingatkan, bukan bertanya.

Pertanyaan si teman sebetulnya adalah pertanyaan saya juga. Sebetulnya saya ingin sekali memblok teman yang melulu posting jualan di Facebook. Tapi tidak saya lakukan untuk alasan yang tak perlu lah pula saya utarakan. Tapi fakta bahwa saya ingin melakukan blok dan bahwa ada pertanyaan dari temannya itu adalah bukti bahwa ada yang salah dengan mereka, yang suka posting promo jualannya.

Saya tak persoalkan promo-promonya tersebut, karena memang begitulah mestinya jualan. Saya juga tak persoalkan jawaban arogan tersebut, karena nyatanya saya juga sering begitu. Yang jadi persoalan buat saya adalah promo melulunya tersebut. Terus terang saya sendiri sama sekali tak merasakan manfaat dari promo-promonya tersebut. Mengganggu sekali malah. Dulu saat fesbukan pakai henpon butut, promo-promonya tersebut sangat terasa menggerus kuota internet saya. Baiknya, saya memang telah bersikap sejak awal takkan pernah melakukan blok 'terhadap siapapun' di Facebook. Prinsip tersebut sangat saya jaga sampai saat ini.

Buruknya, belum tentu semua orang bersikap seperti saya. Ini mestinya diwaspadai oleh teman-teman pelaku usaha jualan online. Cukup dengan mengklik ulang tombol 'mengikuti', seluruh postinganmu takkan pernah muncul lagi di beranda teman. Rugi sekali, sebab hanya dengan satu 'tombol like' saja postinganmu bahkan bisa dilihat oleh yang bukan teman, kalau postinganmu di-set publik tentunya.

Jualan online meski murah tapi akibatnya bisa saja fatal. Untuk mengujinya cobalah sesekali buat semacam simulasi,  update postingan lain yang bermutu dan perhatikan saja jumlah teman yang memberi atensi, baik yang like ataupun yang memberi komentar. Apakah orangnya yang itu-itu saja? Apa jumlahnya sebanding dengan jumlah teman yang ada di list.  Kalau tidak, jangan-jangan sudah banyak yang mengklik ulang tombol 'mengikuti'nya, hahaha...!

8 Sep 2017

Hidup Tanpa TV

Saya malas punya tipi, atau lebih tegasnya malas nonton tipi. Detilnya lagi, saya malas nonton acara dan program hiburan di tipi, baik yang jenisnya beneran hiburan, ataupun yang sekedar mengatasnamakan hiburan. Alasan saya sebetulnya sedikit melankolis. Saya cemburu, kenapa mereka dianggap lucu dan menghibur, padahal menurut tak ada lucu dan menghiburnya sama sekali.

Tapi sebetulnya ada alasan berikut yang membuat saya ogah nonton tipi. Banyak artis dan para penampil tersebut yang saya duga sebagai agen dari suatu dan sekelompok kepentingan. Mereka 'yang cerdik' perannya adalah agen beneran. Mereka agen bayaran. Sedang mereka yang dungu, minim kemampuan dan tak ada pula nilai artistik dan estetiknya, tak lebih dari seorang yang diperankan sebagai agen. Mereka hanya diberi panggung dan dibayar, tanpa mereka ketahui sama sekali apa sebetulnya yang mereka tampilkan.

Itulah kenapa dalam list following Twitter saya sama sekali 'tak ada' akun pribadi artis, apalagi dari jenis yang dianggap pelawak. Artis memang ada, tapi yang saya yakini bersih dari suatu kepentingan. Dan sama sekali tak ada nama pelawak. Mereka tak cuma harus bersih dari kepentingan suatu kelompok, tapi juga mesti lucu berdasar standar yang saya terapkan.

Dalam mencipta karya-karya lucu saya memang mematok standar yang sangat tinggi. Terlalu tinggi mungkin. Saya paling anti terhadap lelucon mesum, menghina fisik seseorang, apalagi humor-humor dengan materi agama yang tanpa ilmu sehingga rawan menjadi penistaan agama. Standar ketinggian tersebut malah membuat saya sulit bergembira, padahal sejatinya karya humor bertujuan untuk menghibur.

Tapi baiknya, selain menantang saya untuk menciptakan karya yang lebih baik, saya juga jadi terbiasa hidup tanpa tipi. Bagi saya ini sangat biasa. Sampai usia 16 tahun saya masih berada di jaman kegelapan, tanpa listrik. Saya sudah biasa dan tak biasa nonton tipi. Maka bila sekarang saya jadi malas nonton tipi itu juga bukan suatu yang luarbiasa. Saya cuma butuh tipi untuk nonton bola dan Halo Selebriti belaka, hahaha...!

7 Sep 2017

Bukan Hari Patah Hati

Bahwa Raisa itu cantik bisa jadi benar, tapi bisa jadi juga tidak. Cantik itu relatif, dan bagi saya Raisa cuma menarik sebagai seorang wanita yang kebetulan berprofesi sebagai seorang penyanyi. Tanpa mengurangi rasa hormat terhadapnya, saya lebih suka mendengar suara Tantri Kotak, Astrid, Audy dan bahkan Nindy. Dan sekali lagi maaf, saya sama sekali tak tahu sejudulpun lagu-lagu Raisa, hahaha...!

Maka bagi saya pribadi terkait hari pernikahannya yang didaulat sebagai hari Patah Hati Nasional menjadi tak relevan, sebab saya tak punya perasaan apa-apa terhadapnya. Bagi saya cuma satu. RANI harga mati, hahaha...!

Dulu saya memang berniat mencari pacar seorang artis. Target saya waktu itu banyak sekali. Sayangnya Raisa tidak termasuk seorang diantaranya. Dia bukan tipe saya. Target utama saya adalah Chua, pembetot bass grup band Kotak. Kalaupun misalnya gagal, setidaknya Donita pun jadilah. Tapi begitu ditinggal kawin oleh keduanya, tanpa pernah sekalipun nge-date dengannya orientasi saya terhadap wanita idaman sedikit bergeser. Walau masih berharap bisa jadian dengan Ayu Pratiwi, mendapatkan seorang Rani saja sekarang buat saya sudah lebih dari cukup, hahaha...!

Itulah kenapa saya tak begitu larut dalam euphoria patah hati begitu Raisa menikah. Saya juga tak merasa tak terlalu butuh menghadiri resepsinya, walau itu tak terlepas dari kenyataan bahwa saya memang tak bisa hadir, karena di tempat saya waktu itu hujan lebat, hahaha...!

*Dah ahh,...!

5 Sep 2017

Toko Buku

Sudah hampir setahun saya tak unjuk diri ke toko buku. Padahal sebelumnya tiap bulan saya selalu anggarkan sekitar 150 sampai 200an ribu untuk dihabiskan di toko buku. Sabtu lalu saya bermaksud belanja buku lagi di Kharisma Nagoya. Ehh, taunya itu itu toko buku tutup. Awalnya saya duga mereka tutup karena masih dalam suasana Idul Adha hati ke-2. Tapi setelah mengintip-intip dan mengamati kondisi di dalamnya saya curiga, jangan-jangan mereka bangkrut. Dan saya sungguh kuatir, jangan-jangan mereka bangkrut karena saya sudah tak pernah lagi wisata buku di sana, hahaha...!

Saya lebih suka belanja buku di gerai Kharisma sebab di situ biasanya banyak buku-buku yang gagal laku sesuai target. Biasanya buku di Gramedia lebih cepat habis, dan jika kita cari di Kharisma biasanya masih ada. Entah kenapa, tapi saya sering menemukan buku-buku buruan di Gramedia ketemunya malah di Kharisma.

Kharisma memang tak sepopuler Gramedia. Tapi Gramedia sendiri juga ada yang tutup di Batam. Dan saya juga punya pengalaman yang tak enak di Gramedia tersebut, dulu di DC Mall Jodoh, Batam. Suatu kali saya membaca novel bagus di sana. Sebab kekurangan waktu saya susun skenario keren. Saya akan baca lanjutannya minggu depan sambil menentukan keputusan untuk membelinya atau tidak. Kalau layak koleksi, saya akan beli bukunya minggu depannya lagi. Itupun jika gajian lancar sesuai waktunya, hahaha...!

Tapi apa daya, skenario yang telah begitu rapi saya susun malah berantakan. Gramedia tersebut keburu bangkrut. Saya marah betul. Baca novel gagal klimaks, bukunya ga nemu pula di tempat yang lain. Ebook pun sampai sekarang ga nemu, hahaha...!

Dulu saya sering juga beli buku via toko buku online. Tapi itu dulu, saat lemburan sedang jaya-jayanya. Belanja buku online kalau cuma sedikit, rugi. Mahal ongkos kirimnya. Tapi melihat betapa banyaknya toko buku yang tutup saya jadi khawatir juga. Jangan-jangan nantinya saya kembali mesti belanja buku online, padahal sekarang saya sudah tak pernah lagi dapat lemburan. Kan saya sudah dipecat, hahaha...!

4 Sep 2017

Bahasa Klaim

Kita...!

Kitaaa...!

Kitaaaaaa....!

Klarifikasi:
Penggunaan kata 'Kita' pada orasi yang menggetarkan oratornya tersebut tidaklah sepengetahuan dan ijin saya. Kita tersebut tak termasuk saya.

Media menyebut Nusron Wahid sebagai Kyai Muda NU, padahal menurut saya beliau cuma seorang yang gagal mengkombinasikan pendapat kelirunya dengan melotot. Menurut saya, orang yang salah baiknya tak usah melotot. Itu bisa memancing kerusuhan.

Menurut saya Aqil Siraj atau Quraish Sihab itu sesat lagi menyesatkan. Tapi kaum liberal lebih suka menganggapnya sebagai Ulama Besar. Sayangnya, media lebih suka pendapat mereka ketimbang anggapan saya.

Jika saya mengkritik pemerintah, media memberi judul 'Siraul Nan Ebat Tuding Pemerintah bla bla bla', disertai narasi bahwa saya ini dulu pernah dipecat sebagai Ketua Kelas karena ketahuan merekayasa buku absen. Tapi jika saya mengapresiasi, judulnya di media 'Pengamat Puji Kebijakan Pemerintah'. Ditambahkan pula bahwa saya ini penulis berbakat yang dulu selalu jadi juara kelas, hahaha...!

Inilah jaman dimana seorang atau kelompok bisa dianggap mewakili orang atau kelompok yang lain. Saya jelas bukan rakyat korban Jonru, seperti yang dilaporkan pelapornya tersebut, sebab saya sama sekali tak merasa ditipu atau dirugikan oleh Jonru.

Saya juga seorang netizen, tapi ogah disamakan dengan netizen yang nyinyir pada aksi simpati dan dukungan terhadap etnis Rohingya. Ehh salah, mereka bukan netizen. Mereka itu binatang. Otak tiada, hati tak punya.

Konsultan bahasa yang menentukan meroket dan melorotnya elektabilitas politisi,  yang membuat nilai tukar dan bursa saham naik turun. Maka terbukti keliru, bila dulu di sekolah anak-anak bahasa diremehkan. Atau jangan-jangan karena kurang 'perhatian' lah maka anak-anak bahasa itu sekarang menjadi pekerja media yang mengabdi pada ego dan kepentingannya sendiri? Media adalah penguasa dunia. Duh, betapa mengerikannya jika dunia ini dikuasai oleh orang-orang yang miskin moral, hiiii...!

2 Sep 2017

Harap Maklum

Ada pemeluk agama yang pingsan mendengar penista agamanya divonis penjara. Saya berbaik sangka saja. Mungkin dia memang tak kebagian nasi bungkusnya. Saya maklum.

Ada yang begitu mati-matian bela penista agamanya. Begitu mati beneran maunya disholati ulama. Saya maklum, mereka beragama. Mungkin imannya saja yang kurang.

Ada begitu banyak yang percaya dengan kasus-kasus aneh tuna logika dan perkara-perkara hasil rekayasa. Dungunya memang buat malu manusia. Tapi maklumi saja! Bisa jadi benar kata Rocky Gerung. Bahwa ada manusia yang IQ-nya 200, tapi digabung sekolam.

Ada orang yang memperkarakan utang orangtuanya . Ada menteri kordinator yang mengurusi bidang kesejahteraan menganjurkan rakyatnya jangan makan, sebab beras mahal. Ada kaum minoritas,  yang dengan PeDenya menghina kaum mayoritas. Kaum pendatang menghina pribumi. Ada konter henpon nyari karyawan yang bisa berbahasa Cina, padahal PT Semen Padang saja tak pernah minta calon pegawainya menguasai bahaso Awak. Ini jelas tak punya otak.

Tapi ada yang nyinyiri hastag, dukungan dan aksi simpati terhadap pembantaian yang dialami etnis Rohingnya? Ada dan banyak sekali. Ini jenis yang sudahlah tak berotak, hati tak punya pula. Kalau di friendlist Facebook saya ada, maaf, blok!  Sepanjang karir di Facebook saya tak pernah blokir atau remove pertemanan. Tapi maaf, saya tak mau di friendlist saya ada binatang. Harap maklum...!

1 Sep 2017

Menua Tanpa Berkarat

Riset terbaru saya, ternyata seorang penulis itu sering menulis, hahaha...!

Pernah terbayang bila JK Rowling buntu ide saat menulis Harry Potter? Oke, terus terang saya bukan pembaca buku ataupun penonton filmnya. Saya akan beri contoh lain. Bagaimana nasib Wiro Sableng begitu ditinggal Bastian Tito? Saya tahu ada yang coba melanjutkan kisahnya dan kemudian mematikan Wiro Sableng di buku ke-5 karena merasa terlalu hormat terhadap Bastian Tito, sang penulis. Dia butuh lima buku lanjutan untuk menyelesaikan komplitnya konflik sejarah Wiro Sableng. Tapi karena saya juga belum membacanya, saya juva tak punya kompetensi untuk menilainya, hahaha...!

Tapi saya tetap merasakan ada kepingan yang hilang, begitu Lima Sekawan ditinggal Enid Blyton dan dilanjutkan walau dengan gemilang oleh Claude Voiller. Cinta Fitri awal (session 1-3) karya Hilman Lupus jelas sekali terasa bedanya ketika dilanjutkan oleh penerusnya yang entah siapa, hahaha...! 

Duh, kok kamparasinya sama Cinta Fitri yaa? Hiiiks...? Tapi karena saya juga tak utuh menontonnya, (bukan pencitraan) kita bicarakan inti pokoknya sajalah.

Pernah terpikir apa yang terjadi ketika seorang Jupiter Jones kehilangan kemampuan deduksinya? Trio Detektif yang legendaris tersebut akan tua dengan cela. 

Saya sungguh takjub pada para profesional yang pekerjaannya sangat tergantung pada datangnya ide. Pelukis, penulis musik, film atau buku dan banyak lagi yang lainnya. Pelukis yang mampu membuat lukisan-lukisan bernilai tinggi. Penulis film-film box office, para pencipta lagu-lagu evergreen dan tentu saja penulis-penulis buku legendaris.

Saya punya teman yang begitu jago menulis lagu. Laiknya saya, dia juga belum terkenal, hahaha..! Kami hanya dikenal di lingkungan kami semata. Ini menyangkut idealisme semata. Jadi abaikan saja. Intinya, di mata kerabat dan teman dekat termasuk saya, dia itu jenius. Penulis lagu yang sangat berbakat.

Seperti saya juga yang diwanti-wanti agar segera 'mengamankan' karya saya, dia pun begitu pula. Persamaannya lagi, kami sama-sama ogah memproteksi karya kami, walau dengan alasan yang berbeda. Tapi intinya kami sama-sama tak mengkhawatirkan soal-soal seperti pembajakan.

"Bodo amat. Dicuri orang, bikin yang lain lagi", katanya enteng.

Sialan ini anak! Baginya sepertinya mudah saja menulis lagu. Begitu Rekreasi Hati pertama saya terbitkan, saya sendiri bingung apa bisa buat jilid kedua dan berikut-berikutnya dengan kualitas yang setara. Apa yang akan saya tulis lagi? Sepertinya semua ide telah tercurah di buku pertama. Itu adalah buku kumpulan pemikiran saya sejak 33 tahun yang lalu? Butuh berapa lama saya  kumpulkan ide-ide untuk buku-buku berikutnya?

Tapi nyatanya buku kedua saya jadi dan keren juga, hahaha...! Ternyata jawabnya saya temukan di novel Trio Detektif yang baru saja saya baca. Sayang, judulnya sudah lupa pula, hahaha...!

"Kita harus aktif terus, bila tak ingin berkarat" ~ Jupiter Jones.

Maka karena saya menulis, saya harus terus menulis, setidaknya saya menua tanpa berkarat, hahaha...!

29 Agt 2017

Profesor Kuota Internet

"Naikkan IQ, maka hoax akan turun" ~ Rocky Gerung.

Bertebarannya berita-berita hoax bisa jadi memang karena rendahnya kualitas manusia Indonesia. Maaf, tapi memang mesti kita akui dengan berlapang dada. Menyakitkan, sebab UUD1945 sendiri mengamanatkan negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Negara dalam hal ini pemerintah bukannya tak berupaya menunaikannya. 20% belanja negara tiap tahun digunakan untuk sektor pendidikan. Itu nilai yang sangat besar. Terlalu besar malah jika kita komparasikan dengan mutu manusia Indoneaia yang dihasilkannya.

Melihat betapa banyaknya bangunan sekolah yang buruk, fasilitas yang minim dan kehidupan guru yang jauh dari sejahtera sama sekali tak menggambarkan kecocokan dengan ongkos tahunan yang dianggarkan. Pemerintah tak usah bangga dengan banyaknya misal pihak yang terkesan peduli pendidikan dengan banyaknya berdiri usaha-usaha seperti Bimbel, Les Private atau lembaga-lembaga pelatihan swasta lainnya. Itu mestinya dirasa sebagai tamparan keras bahwa pemerintah telah gagal dengan telak dalam bidang pendidikan. Pengusaha-pengusaha Bimbel dan sejenisnya itu hanyalah orang yang memanfaatkan kegagalan tersebut dengan membayar guru-guru yang juga gagal disejahterakan pemerintah. 

Pemerintah selalu kaku dengan kurikulum, padahal ilmu pengetahuan selalu berkembang.Cara yang begitu-begitu selalu juga akan menghasilkan yang serupa itu-itu melulu. Bukannya beradaptasi dengan teknologi, malah banyak sibuk dengan istilah. SMA, ganti SMU, balik lagi SMA. PMP, PPKn, Pendidikan Pancasila dan sebagainya. Nama pengurusnya pun begitu pula. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, sekarang menjadi Kementrian Pendidikan Riset dan Teknologi Tinggi. Untuk hal-hal yang begini saja berapa banyak ongkos yang mesti dibayarkan? Semua butuh biaya yang tak murah. Jangan sampai anggaran pendidikan banyak disedot hanya demi  sosialisasi perubahan istilah.
Teknologi makin berkembang dan dunia semakin sibuk. Kita semua jadi pihak yang sibuk. Guru mesti disejahterakan agar punya waktu untuk tidak hanya mengajar tapi juga mendidik. 

Ongkos pendidikan seperti belanja buku sebetulnya bisa dialihkan menjadi kuota internet belaka. Jauh lebih irit. Saya pernah baca satu artikel (sayang sudah lupa lagi, hahaha...), dengan ongkos 2 juta rupiah saja untuk berkeliaran di internet, bisa menghasilkan seorang berpengetahuan setara lulusan S2. Betapa banyak yang bisa dihemat? Saya bahkan sangat optimis bahwa kita bisa mencetak para profesor dan ilmuwan hanya dengan bermodal kuota internet, hahaha...!

*Ngigau...

28 Agt 2017

Pintarlah, Termasuk di Dunia Maya!

Apapun info di profil Facebook, aneka kiriman, postingan status dan sharing artikel saya selalu di-set buat publik. Terkesan sembrono? Sebetulnya tidak juga. Saya cuma tak melihat ada bahaya orang sampai tahu nomor telpon, email, tanggal lahir dan lain sebagainya itu. Sedang aneka postingan memang saya harapkan dibaca dan dilihat oleh sebanyak mungkin pengguna Facebook. Bahwa akun lama saya disuspend, itu sama sekali tak ada hubungannya dengan data-data yang saya set publik tersebut. Siapa saja bisa melaporkan siapa saja kepada Facebook. Dan itulah yang terjadi dengan akun lama saya. 

Bila teman-teman punya akun lama yang sudah tak bisa log in entah karena dihack atau sekedar lupa password, sebaiknya akun tersebut 'dibunuh' saja. Bila perlu minta bantuan teman-teman untuk sama-sama melaporkannya ke Facebook agar akun tersebut dibanned saja hingga tak bisa diakses sama sekali. Bukan sekedar digunakan sebagai akun untuk menipu, tapi juga digunakan sebagai alat untuk mengkriminalisasi. Itulah pula yang dialami sekarang oleh orang seperti Mustafa Nahra, Zara Zettira dan yang senasib dengan mereka. Akun lama mereka digunakan untuk memfitnah dan mengkriminalisasi seseorang tanpa mereka sanggup berbuat apa-apa.

Di Twitter saya bebas mengikuti akun mana saja. Makin beragam akun yang saya ikuti, makin beragam pula wawasan dan pengetahuan saya. Tapi berbeda dengan Facebook. 

"Siraul Nan Ebat menyukai ini", katanya.

Walau yang saya sukai sebetulnya cuma postingannya, tapi Facebook mengkampanyekan, setidaknya mengesankan bahwa saya menyukai akun atau halamannya. Pun begitu dengan grup Facebook. Bayangkan misalnya, akun sok alim seperti saya tiba-tiba dikampanyekan sebagai anggota perkumpulan sebuah grup mesum. Ini serius dan silahkan malu, banyak kok teman-teman yang terlihat saleh, termasuk teman berjilbab yang saya pergoki tergabung atau menyukai sebuah perkumpulan mesum, hiiii...!

Dulu benar saya tak pernah selektif dalam menyukai atau bergabung di sebuah grup atau komunitas tertentu. Makin banyak forum diskusi yang saya ikuti pasti bagus untuk menambah wawasan dan pengetahuan saya. Maka saya tak pernah pilih-pilih. Tapi itu dulu, bukan beberapa waktu yang lalu.

Saya mulai menyadari bahwa tiba-tiba saja sebuah grup berganti nama menjadi suatu komunitas dengan kepentingan politis. Bagaimana bila grup tersebut terakhir berganti nama misalnya Grup Pecinta Lolly? Hadduh...!

"Si Anu Mengganti Nama Grup Menjadi Grup Pecinta Lolly".

Modus begitu juga yang dipakai pengusaha jual beli fitnah online bernama Saracen. Bahkan semalam saya baca twit berseri akun si Boneka Kayu di Twitter, hasil riset sementara yang dipublishnya, aplikasi MCA (Moeslim Cyber Army) di Playstore sangat mencurigakan. MCA adalah jebakan. 

Jebakan. Inilah yang berbahaya. Saya selalu berhati-hati soal ini. Perhatikan, saya sama sekali tak pernah menggunakan hastag dalam setiap postingan. Apalagi hastag berbau politis. Sebab jangankan Google, Facebook saja bisa menampilkan pencarian hastag. Saat heboh Gerakan 7ut44n 5t4tu5 beberapa waktu lalu saya telah sampaikan kecurigaan saya. Itu adalah jebakan, sayangnya banyak yang tak menyadari. 

Saat itu kita disuruh copas, bukan share. Tujuannya apa lagi kalau bukan untuk menjebak. Dengan meng-copas, penulis pertama bisa menghilangkan jejak hanya dengan menghapus postingannya. Misinya selesai tanpa ketahuan. Siapa penulis pertama kali takkan lagi bisa diketahui. Sekarang tim intelijen tinggal ketik hastag di pencarian dan mendata seluruh penulis hastag. Yang terlalu militan tinggal ciduk. Siapa saja yang kemaren ikut-ikutan layak untuk khawatir. Konon Tim Cyber Polri telah memiliki data sekitar 800an ribu akun. Dapat dari mana coba? Hahaha...!

Bersyukur, Bukan Syukuran

Den :Allah SWT memerintahkan kita bersyukur, bukan syukuran.

Nyo :Maksudnya?

Den :Kalau mau haji atau umroh ya pergi saja. Tak usah pakai acara-acara syukuran begitu. Kesannya malah jadi riya.

Nyo :Yee, tergantung niatnya, donk!

Den :Maksudnya adakan syukuran buat apa?

Nyo :Syukuran yaa, untuk bersyukur, donk! Kau ini bagaimana, sih?

Den : Yakin itu semacam bentuk bersyukur? Bukan bermaksud riya?

Nyo :Kan sudah kubilang tadi, tergantung niat?

Den :Oke, bagaimana menjelaskan wujud syukur dengan mengadakan semacam resepsi begitu? Kok kesannya malah seperti semacam merayakan bahwa mereka mampu tunaikan ibadah haji begitu?

Nyo :Faktanya mereka kan memang mampu untuk itu?

Den :Tuh kan? Pesta itu untuk menegaskan bahwa mereka mampu?

Nyo :Itu bukan pesta, paham?!

Den :Jadi?

Nyo :Sohibul hajat mengadakan syukuran itu dalam rangka meminta restu dari tetangga. Ibadah haji takkan bernilai bila masih ada tetangga yang ditinggal dalam keadaan lapar. Resepsi itu anggap saja sebagai simbol bahwa kita telah pastikan tetangga yang ditinggal dalam keadaan kenyang.

Den :Hubungannya sama bersyukur?

Nyo :Jika benar-benar dibuat formal, mestinya memang harus ada sesi minta restu kepada tiap pribadi yang ditinggal. Tapi yaa, Islam ga gitu-gitu amat juga lah. Islam itu memudahkan. Cukup buat acara syukuran, dan bila tak ada yang keberatan, maka ibadah haji bisa dilaksanakan.

Den :Kira-kira dengan begitu adakah tetangga yang keberatan?

Nyo :Normalnya sih, tak mungkin ada yang keberatan.

Den :Alasannya?

Nyo :Setiap kepala tentu berpikir bahwa berhaji atau tidak adalah urusan masing-masing. Maka jika ada yang berniat haji, yaa mestinya direstui, kan?

Den :Jadi yang penting itu tak meninggalkan tetangga yang lapar atau keredhaan tetangga?

Nyo :Bedanya apa?

Den :Tetangga kan bisa saja merestui walau mereka mungkin tengah lapar? Barangkali mereka berpikir, tak elok jadi penghambat orang yang mau beribadah?

Nyo :Karena itulah diadakan syukuran, meminta keikhlasan, sekaligus doa tetangga melepas kepergian mereka.

Den :Nah itu dia! Yang kutanya dari tadi, apa kaitannya dengan syukur? Ga ngerti aku? Resepsi, minta restu dan berdoa. Mana bagian bersyukurnya?

Nyo :Pak ustadz, tolooooong...!

*Silahkan dilanjut...!

27 Agt 2017

Kejahilan Silam

Poto-poto seksi saya tersebar di internet. Ini untuk kesekian kalinya. Ada baiknya juga akun Facebook lama saya disuspend. Di situ bertebaran poto-poto candid saya kiriman teman. Beragam angle, tapi posenya identik, saya sedang tidur. Tapi karena teman-teman terlihat menikmatinya, maka saya ikhlaskan saja demi kegembiraan bersama. Sama seperti yang kali ini.

Poto kenangan silam dengan pose sedang tidur dengan seragam kerja. Ini tentu menghasut teman-teman mengomentarinya, terutama teman-teman sekerjaan dulu. Maka poto tersebut jadi ajang bully dan nostalgia. Saya jadi ingat kejahilan silam yang berkali-kali dulu saya buat selama bekerja. Termasuk dengan teman yang satu ini.

Di kalangan warga section printing sudah bukan rahasia lagi, supervisor kami begitu ngefans terhadap seorang cewek teman sekerjaan juga. Begitu gempitanya, maka segala hal terkait si Cicit (sebut saja begitu) akan dikoleksinya. Termasuk soal poto tentunya.

Beberapa hari sebelumnya perusahaan mengadakan acara rutin tahunan, buka bersama. Perusahaan kami memang bernuansa kekeluargaan. Perusahaan sering adakan beragam kegiatan yang mengakrabkan seperti acara anniversary dan family gathering, buka bersama atau halal bihalal. Poto-poto seputaran acara tersebut disimpan di komputer perusahaan dan bisa dilihat di shared folder. Apes sekali nasib supervisor kami tersebut. Diantara sekian poto yang dishare, tak satupun ada poto sang idola. Lebih tepatnya tak ada potonya yang sendirian. Akhirnya dipilihlah salah satu poto sang idola yang sedang bersama teman cewek lainnya, (sebut saja si Lalan, wkwkwwk...!) untuk di print.

Saya yang over kreatif tak tahan juga melihat poto tersebut nangkring di mejanya. Bukan karena cemburu atau apa. Bagi saya tegas saja, pokoknya Rani harga mati. Saya cuma gemas saja liat poto itu. Saat si Boss sedang tak ada, poto tersebut saya ambil dan coret-coret, membuat semacam meme. Saya masih ingat apa yang saya tulis saat itu. Saya buat semacam dialog antara dua orang cewek tentang seorang cowok bernama Raul.

Cicit :Ehh, yang namanya Raul itu orangnya kayak gimana sih?

Lalan :Ehh kenapa? Suka juga sama dia? Enak aja! Raul buat aku.

Melihat itu teman-teman yang lain tak tinggal diam. Mereka ikut berkreasi, melanjutkan meme yang saya buat. Satu diantaranya yang saya juga masih ingat adalah:

Raul YES...! Mashar NO...!

Saya ingat karena saya juga yang nulis, hahaha...! Maafkan yaa, Mak Janet! Yang saya tulis cuma yang dua itu. Yang lainnya tulisan teman-teman. Ga tahu siapa saja. Pokoknya saat itu sudah rusuh saja, hahaha...!

Poto penuh coretan tersebut saya tempel di lemari kerja di ruangan saya, ciehhh...! Alasan saya waktu itu, jika ditempel di ruang sablon, terlalu banyak orang mondar-mandir di sana. Tapi apa lacur, dugaan saya keliru.

Ruangan saya memang sedikit ekslusif. Tak sembarang orang diberi akses memasukinya. Dan itulah persoalannya. Ruangan saya cuma dimasuki oleh orang-orang penting, hahaha...!

Gempar, begitu kira-kira media mengabarkannya. Nyaris seluruh petinggi melihat kreasi meme kami tersebut. Dan saya pucat saat manejer si Lalan ikut pula melihatnya.

Waktu itu saya sedang di ruang sebelah. Biasa, saya memang merasa tak asyik saja melototi mesin bekerja. Maka setelah mesin saya operasikan saya main-main ke ruang sebelah. Dari sebelah saya tetap bisa mengamatinya sebab kedua ruangan tersebut hanya dibatasi dinding kaca.  Saat itulah sang manejer masuk. Dan posisi meme tersebut yang memang letaknya sangat strategis tentu saja langsung dilihat dan dibacanya.

Spontan setelahnya si manejer melihat ke arah ruang sebelah, ke arah kami. Saya dan juga teman yang lain pucat pasi.  Tak lama berselang sang manejer pergi, terlihat seperti buru-buru. Waah, bakalan gawat ini. Dan belum sempat kami berunding menentukan tindakan yang mesti diambil, beliau telah kembali. Kali ini membawa anggotanya, Si Lalan. Kami masih di sebelah begitu mereka berdua sampai di sana. Si Lalan langsung cemberut, sementar sang manejer tertawa lepas. Puas sekali kelihatannya anggotanya digoda begitu rupa, hahaha...!

Dengan tampang cemberut si Lalan mencopot buah karya kami tersebut dan merobek-robek, walau percuma. Beberapa orang sempat mengabadikannya dan menshare ulang di shared folder, hahaha...!

Dan sepertinya dia langsung tau siapa otak pelakunya. Berbulan-bulan kemudian saya didiamkannya. Tak lagi diladeninya gombal-gombalan jahil saya seperti sebelumnya, sampai akhirnya saya berhenti bekerja di sana.

Tapi bagaimanapun aneka kisah pahit itu mengobati aneka kerinduan. Kami sekarang sudah tak lagi di sana. Maka 'poto-poto seksi' itulah pembangkit memori lama. Tapi yaa jangan poto saya lagi tidur melulu donk! Kalao ada yang masih punya meme tersebut, bolehlah dishare, hahaha...!

25 Agt 2017

Yang Penting Duduk dan Makan

Petugas :Mohon maaf, bapak harus pindah. Barisan depan ini untuk para pejabat tinggi, Pak!

Naga Bonar :Aturan dari mana itu? Yang di depan yang duluan, kan?

Petugas :Ini bukan shaf sholat, Pak Tua!

Naga Bonar :Yang bilang aku mau sholat siapa? Aku ke sini mau dengar ceramah.

Petugas :Betul, Pak! Tapi barisan depan ini khusus buat para pejabat. Jemaah umum seperti bapak tempatnya di belakang.

Naga Bonar :Kenapa mesti dibedakan begitu? Dalam Islam semua sama. Aku tak mau pindah. Aku datang duluan, jadi aku boleh duduk di depan.

Petugas :Yaa...tapi...! (mulai pusing).

Naga Bonar :Ya! Tapi! Kau ini kenapa?

Petugas :Kita tak sedang sholat, Pak! Jadi bapak bisa pindah agak ke belakang, kan?

Naga Bonar :Kan sudah kubilang tadi?! Aku ke sini mau dengar ceramah, bukan mau sholat. Jadi di mana masalahnya?

Petugas :Jadi bapak mau cari masalah? (udah panas).

Naga Bonar :Hey, Anak Muda! Aku bertanya kenapa aku harus pindah ke belakang, padahal aku datang duluan?

Seorang petugas lain datang menghampiri.

Petugas 2 :Ada apa ini?

Petugas 1 :Pak Tua ini ngotot mau duduk di sini. Tak mau pindah ke belakang. Cobalah kau urus dia dulu!

Petugas 2 :Semuanya sudah diatur, Pak! Para pejabat di barisan depan, jemaah umum tempatnya di belakang. Jadi mohon maaf, dengan hormat kuminta bapak jangan mengacaukan yang sudah diatur ini, Pak!

Naga Bonar :Kenapa aturannya macam itu? Haah! Kenapa?

Petugas 2 :Pak, kalau mau sholat...

Naga Bonar :Bahh...! Kau dan kawan kau itu sama saja! Berputar-putar tak jelas macam mencari ketiak ular. Bukan dalam sholat saja! Kau mau wudhu', depan ATM, di kantor pos atau di Bank, bahkan.depan toilet aturannya juga begitu. Yang duluan yang di depan. Tak peduli kau itu Presiden atau udah kebelet. Jadi kenapa kau buat aturan sendiri?

Kedua petugas itu terdiam.

Naga Bonar :Sudah, kalian pergi saja urus kerjaan yang lain. Aku tak mau pindah. Di sini banyak makanan! (sambil nyomot gorengan).

Petugas 2 :Ehh, Pak! Itu untuk para pejabat!

Naga Bonar :Yang untuk rakyat mana? Kulihat di belakang tak ada makanan? Tak ada minuman?

Petugas 2 :Anggaran memang cuma cukup segitu, Pak!

Naga Bonar :Tapi kenapa mesti pejabat yang dikasih makanan? Apa kau lihat rakyat sudah kenyang? Aku masih lapar!

Petugas 2 :Mohon maaf, Pak! Tapi bapak tak boleh makan itu!

Naga Bonar :Hey kalian tau? Dulu jaman perang aku dan si bengak Bujang itu dalam penjara Jepang saja makan tak perlu membayar. Nah ini, negara sudah merdeka, buat acara pakai duit rakyat, tapi yang boleh makan cuma pejabat? Heran aku! Apa kata dunia?

Petugas 1 akhirnya menengahi, mengalah.

Petugas 1 :Pak, oke! Silahkan Bapak duduk di sini! Makan apa saja yang bapak mau makan! Tapi kami mohon, tolong jangan mengganggu ya, Pak! Hargai tamu-tamu kita! Mereka orang-orang penting, Pak!

Naga Bonar :Orang penting? Jadi kalian pikir aku ini tak penting? Rakyat itu tak penting? Bahh...!

Petugas 1 :Duh, maksudnya bukan begitu, Pak! Mereka itu orang penting karena...

Naga Bonar :Karena itu yang penting mereka duduk? Yang penting mereka makan? Rakyat macam aku mau makan atau tidak bodo amat. Tak penting, begitu?

*Hening...

Ekonomi Kreatif

Tak seluruhnya memang Jokowi-JK gagal menunaikan janji kampanyenya saat Pilpres dulu. Soal ekonomi kreatif misalnya, bisa dikatakan Jokowi terhitung sukses besar. Bayangkan, ada pedagang beras yang omsetnya mencapai 25% dari nilai APBN kita.

Ekonomi kita juga meroket naik pesat, walau sekarang belum September. Penerimaan negara diluar pajak sangat tinggi. Bayangkan saja, tunggakan sewa rusun gratis saja nilainya mencapai lebih dari 10x lipat harga jual seorang Neymar. Padahal itu baru tunggakannya saja. Tentu penerimaannya jauh lebih besar lagi.

Program ekonomi kreatif pemerintah layak untuk kita dukung. Ada panci yang bisa meledak dengan kekuatan setara bom 3 ton buatan Amerika, ini tentu indikasi yang sangat positif. Kita tak butuh lagi segala macam impor senjata dari Rusia misalnya, sebab kita bisa swasembada panci. Ini adalah solusi cerdas bagi permasalahan alutsista TNI kita.

Jika terus dibina, bukan tak mungkin kita akan jadi 'bangsa baru' yang disegani dunia. Industri kreatif tak lagi sebatas Mama Minta Pulsa, SMS premium dan sejenisnya. Jenis usaha jasa tak lagi begitu-begitu saja seperti tukang parkir, calo atau porter di bandara dan pelabuhan. Program ekonomi kreatif berhasil menciptakan beragam jenis usaha lainnya. Salah satunya yang belakangan sedang booming, jual jasa fitnah.

Bayangkan kreatifnya! Membayangkan ada penjual fitnah saja telah buat saya takjub. Membayangkan ada pembelinya menambah ketakjuban saya. Hebatnya lagi, omset usaha ini tak main-main, ratusan juta. Padahal modalnya sekedar kuota internet belaka. Dan fakta bahwa ada pembeli fitnah berharga ratusan juta sungguh membuat saya hampir tak percaya.

Ehh, setelah browsing sana-sini malah menambah rasa takjub saya. Bayangkan betapa prospektifnya usaha jual beli fitnah ini. Menurut berbagai sumber yang saya baca, konon pelaku usaha jual fitnah online ini telah mencapai 800an ribu akun. Padahal teorinya, jenis usaha ini mestinya sulit sekali. Ini jenis usaha illegal. Pasar dan produsennya tentu sangat rahasia sekali. Maka jika melihat betapa pesat perkembangannya, tentunya kita layak angkat topi pada tim ekonomi kreatif pemerintah.

Congrat...!

22 Agt 2017

Khatib Jumat, Sekular dan Liberalisme

Berhasil membalik situasi seperti yang diperlihatkan Pak Gubernur tersebut, kemampuan inilah mestinya dimiliki seorang pemimpin. Pemimpin yang mengendalikan, bukan pemimpin boneka dan sekedar wayang belaka. Pemimpin yang membuat nyaman warga, bukan yang menteror dan berlaku laiknya diktator. Pemimpin yang kharismatik dan berwibawa, yang segala titahnya dilakukan dan bicaranya didengarkan.

Pun begitu dengan ulama. Saya sedih sekali menemui kenyataan bahwa seribuan kali sholat Jumat di kota metro seperti Batam ini, 80an persen diantaranya saya ketiduran saat khatib Jumat sedang menyampaikan khutbahnya. Beberapa kasus bisa jadi karena faktor kelelahan. Tapi saya lebih ke arah dugaan bahwa saya memang tertidur karena entahlah, hahaha...!

Tapi yang pasti sang khatib gagal menarik minat saya. Bukan karena materi ceramah yang membosankan, sebab bagaimanapun hal yang itu-itu saja pun banyak yang masih gagal saya pahami sampai saat ini. Bagaimana mungkin saya mesti mendengar orangtua bicara seperti 'bicara sendirian'. Saya sendiri ragu apakah dia paham yang keluar dari mulutnya sendiri.

Menjadi khatib Jumat di kota seperti Batam ini sangat mudah. Bermodal 50an ribu untuk membeli buku 'Kumpulan Khotbah Jumat' belaka seorang bisa menjadi khatib Jumat berbayar. Lumayan, seminggu minimal 150an ribu bisa dikantongi hanya dengan naik mimbar dan membaca buku tersebut.

Saya sama sekali tak permasalahkan buku tersebut. Orator sekaliber Bung Karno atau Abraham Lincoln sekalipun juga sering pidato pakai naskah. Tapi sangat terang perbedaannya. Soekarno atau Lincoln gunakan naskah sebagai pedoman agar pidatonya terstruktur, tetap dalam jalur dan tak melebar kemana-mana. Kenapa khatib Jumat tak menggunakan trik serupa?

Anak kecil sekalipun akan ketiduran bila ibunya membacakan sebuah buku cerita. Apalagi saya? Saya tak tahan menghadapi orang bicara tanpa melihat kepada lawan bicaranya. Demi Allah, saya ngantuk mendengar seorang tua berkacamata membaca sebuah buku yang kadang dari satu kalimat belum utuh lompat ke kalimat tak utuh lainnya karena terlewatkan satu baris. Bagaimana saya bisa paham apa yang dibicarakannya?

Ini persoalan yang Maha Serius. Bagaimana mungkin ada khatib Jumat yang gagap membaca ayat seperti

"...ittaqullah  haqqatuqatih wala tamutunna illa wanntum muslimun".

Itu adalah ayat yang rutin (saya rasa wajib ya?) dibaca seorang khatib Jumat. Tapi karena khatib kita ini sudah tua, berkacamata dan terlalu fokus membaca, akhirnya lupa bahwa dia sendiri hapal ayat tersebut luar kepala.

Apa salahnya misal si khatib hapal dulu materi ceramah di pagi harinya. Tak mesti dihapal juga mestinya, cukup dipelajari dan diingat-ingat saja struktur materinya. Dan buku tersebut boleh saja tetap digunakan, tapi cukup sebagai konsep belaka.

Ikatan muballigh mestinya melihat ini sebagai persoalan yang serius. Indonesia sangat kekurangan ulama yang berkharisma dan didengarkan. Sementara pihak sekulr dan liberal selalu memiliki kader-kader yang kemampuan berbicaranya mumpuni. Tak heran orang seperti Nusron, Ulil, Sahal atau Abu Janda punya banyak pengikut fanatik. Walau banyak argumentasinya yang bisa diperdebatkan, faktanya kemampuan berbicara sangat terlatih karena mereka memang terlatih untuk itu. Islam layak khawatir. Jika anak-anak seperti AFI atau Tsamara bisa mereka rangkul, latih dan jaga, kaum sekuler dan liberalisme punya banyak masa depan penerus Aqil Siraij atau Qurais Shihab dan sebagainya, hiiiks...!

Film Tengah Malam

Termasuk soal film. Tak usah ajak saya diskusi film-film seperti Harry Potter, Twighlight, Narnia dan sejenisnya. Tak usah repot-repot traktir saya nonton premier film-film Superhero seperti Superman, Spiderman, Fantastic Four dan sejenisnya. Satu-satunya film kategori superhero yang pernah saya tonton adalah Zorro. Selagi nalar saya tak bisa menerima bahwa di dunia ada semacam makhluk allien, zombie atau makhluk-makhluk aneh yang bisa terbang, menghisap darah atau sejenisnya tersebut, percuma. Tak bisa nalar saya dilecehkan begitu saja. Bagi saya semua mesti bisa dicerna oleh logika. Saya sangat menggemari jenis film action, spionase atau film-film perang.

Lepas nonton bola SEA Games Indonesia v Vietnam tadi saya tidur, dan terbangun tengah malam. Ada film petualangan yang sepertinya keren. Seorang yang menantang dirinya hidup selama 5 hari di tengah belantara hutan, suatu tempat di Canada. Ini film bagus mestinya. Mengajarkan berbagai trik bertahan dalam kerasnya hidup mandiri. Bagaimana menghasilkan api tanpa pemantik, membuat perangkap binatang buruan, mengobati dan membalut luka dan sebagainya.

Hari itu dia berhasil menangkap dua ekor kelinci. Seekor dibakar untuk dimakan, sedang seekor lagi dia simpan sebagai cadangan makanan untuk esok hari. Malam itu, makanan cadangan yang belum 'disiangi-nya' itu raib, hilang.

"Ahh, paling (dicuri) serigala", pikirnya.

Esok dan esoknya lagi makin banyak misteri. Mulai dari hilangnya hanphone sampai kepada buah catur yang berpindah sendiri. Dugaannya mulai bermacam-macam. Ada orang lain di sekitar dia yang jago bermain catur. Pasti dia bukanlah seorang dari ketiga teman yang mengantarnya ke sana dan kemudian berkemah di tempat lain. Mereka bukan pemain catur yang baik.

Saya yang menonton tentu ikut menikmati misterinya. Saya sendiri heran, jika 'lawan bermain caturnya' itu seorang yang jahat, kenapa kameranya tak dicuri juga seperti handphonenya. Padahal sangat jelas kameranya selalu standbye merekam segala kegiatannya yang sedang tidur sekalipun. Kamera itu tak dicuri, cuma arahnya digeser, dan cuma mampu merekam tanah. Kameranya dihadapkan ke bawah.

Misterinya semakin asyik begitu dia melihat beberapa bangkai binatang seperti kelinci buruannya yang kemaren hilang. Seperti dimangsa binatang buas. Dia mulai takut dan berjalan ke lokasi penjemputannya. Dan sampai di sana dia menemui, ketiga temannya sudah tewas.

Saya makin bersemangat menerka-nerka dan mengikuti misterinya. Dan setelah menonton hampir dua jam, si musuh pun menampakkan diri. Betapa anti klimaknya ini film. Saya sudah bersemangat, bergadang menontonnya. Ekspektasi saya begitu tinggi. Ini film keren. Entah mesti disebut seorang atau seekor, yang pasti makhluk yang menjadi musuhnya selama ini ternyata allien.

*SIAL...!

21 Agt 2017

Kata Sambutan

Ketua panitia berbicara dengan begitu gugupnya. Betul-betul gugup, sampai terdiam. Lupa beberapa list nama yang mungkin sebelumnya telah dihapalnya. Eloknya, segera ada yang mengambil alih situasi. Dengan segera beberapa orang bertepuktangan. Ini menyemangatinya, dan segera menuntaskan kata sambutannya.

Kata sambutan berikutnya, dari yang terhormat Bapak Walikota. Malang sekali nasib bapak ini. Menyadari bahwa jemaah telah 'muak', dia segera mengakhiri kata sambutannya. Isi ucapan pembukaan seperti syukur, kiriman shalawat dan ucapan terimakasihnya jauh lebih panjang ketimbang isi kata sambutannya.

"Yang terpenting adalah tausyiah dari Ustadz Somad. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!".

Maka sampailah kita pada acara yang paling kita tunggu-tunggu. Sepatah kata....

"Huuuuu...!"

Bapak Gubernur kita ini nasibnya paling malang. Disertai sorakan, saya yakin mengerti betul perasaannya saat menuju mimbar. Eloknya, dia segera menguasai situasi. Segera mengakhiri seperti yang dilakukan Walikota akan pasti akan membuatnya kehilangan wibawa. Padahal dialah pemimpin semua. Pidato pemimpin itu butuh tepukan tangan, bukan sorakan.

"Ustad  itu sahabat saya. Dia ingin saya wakili dia banyak bicara. Saya dimintanya bicara 4 jam, sejam sisanya barulah dia yang akan bicara", katanya.

Sesaat jamaah terdiam, terperangah, lalu kemudian semua bertepuk tangan. Sang Gubernur berhasil membalik situasi. Dan entah disengaja, beneran lupa, beneran tak tau, atau karena masih grogi, beliau salah sebut nama.

"... Ustadz Solmed...!".

"Somad, Pak! Bukan Solmed! Itu lain!", koreksi jamaah serempak.

Dan lagi-lagi pengalaman yang berbicara dan menyelamatkan mukanya.

"Saya lahir di Eropa. Di situ 'a' dibaca 'e'", jawabnya ngeles.

Tapi efeknya memang luar biasa. Kepercayaan diri bapak ini pulih hingga berani berucap berpatah-patah kata. Baiknya beliau juga cukup bijak dan arif. Dia segera akhiri sambutannya sebelum berkata fatal lagi.

Komentar Juri:

Mas Anang ~ Sebagai pembuka, penampilan kamu menghidupkan. Aku Yes...!

Mas Dhani ~ Dari 3 yang sudah tampil, kamu yang terbaik. Aku ikut Mas Anang aja. YES...!

Kapan Ceramahnya, Nih?

Akhirnya yang ditunggu datang juga. Jam sembilan tepat acara dimulai. Ini berarti sekitar satu setengah jam molor dari waktu yang direncanakan. Tapi yaa, sudahlah! Niat saya ke sini hendak mendengar ceramah. Ini dalam rangka ibadah. Tak perlu marah-marah (mestinya)

Dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Quran. Dan seperti biasa, kata sambutan dulu. Pertama, dari Ketua Panitia Penyelenggara.

"Duh, kapan ceramahnya, nih?", kata seorang di sebelah saya.

Ini mungkin kekesalan umum banyak jemaah lainnya. Setidaknya, saya juga mempertanyakan hal yang sama.

Kata sambutan panitia sebetulnya sangat baik. Dia menyampaikan ucapan terimakasih kepada semuanya. Yaa, kepada para petinggi yang hadir, dan kepada semua jamaah tentu saja.

Menurut saya ini aneh. Kepada panitia lah mestinya kami, kita dan semua yang hadir perlu berucap terimakasih. Mereka mendatangkan seorang penceramah terkenal, yang sekarang sedang digandrungi banyak orang. Jarang-jarang ada kesempatan seperti ini. Bagi saya pribadi inilah pertamakalinya saya (akan) mendengar langsung ceramah seorang yang pernah tampil di tipi. Saya belum pernah datang di tabligh akbarnya Zainuddin Mz, pengajian AA Gym, atau Arifin Ilham, Yusuf Mansyur dan lainnya. Inilah pertamakalinya saya mendengar langsung ceramah dari seorang 'ustadz seleb'. Maka sebetulnya sayalah yang mestinya berucap terimakasih kepada panitia penyelenggara.

Sayangnya, saya tak diberi kesempatan berucap sepatah dua kata. Malangnya lagi, panitia yang berucap terimakasih tersebut malah saya omeli pula.

"Kapan ceramahnya, nih?".

Rokok dan Penceramah Yang Terlambat

Saya 'mengenal' ustadz ini paling baru sebulanan terakhir. Itupun via Youtube, saat seorang kerabat menunjukkan betapa menariknya ceramah sang ustadz. Maka begitu seorang teman menginformasikan sang ustadz akan mengadakan ceramah di kota kami, saya 'tak terlalu ngeh'. Tapi begitu seorang teman lagi ngajak 'nobar' ceramah sang ustadz, saya langsung meng-iyakan. Alasannya sedikit melankolis. Ini pasti panggilan hati, tak elok mengabaikannya. Saya takut bila nanti saya tak bisa lagi mendengar panggilan serupa. Saya ngeri bila hati saya nantinya 'benar-benar' mati. Ngeriii...!

Saya sampai di lokasi tepat waktu. Tepat dalam artian, sesuai dengan waktu yang di-informasikan panitia, setelah sholat Isya. Saya langsung menuju barisan depan, mencari posisi yang nyaman. Jamaah ceramah makin membludak, dan saya terjebak di barisan depan. Sementara sang penceramah yang ditunggu, benar-benar masih harus ditunggu.

Panitia mulai gelisah, bukan karena sang ustadz batal ceramah, tapi menghadapi kesabaran jamaah. Bayangkan, betapa sabar pun ternyata bisa menjadi satu persoalan, termasuk sabar salam beribadah, menunggu kedatangan sang penceramah. Ehh, tapi bisa jadi pula mungkin tidak. Panitia cuma gelisah menghadapi jamaah seperti saya. Persoalannya, jemaah seperti saya ini mungkin terlalu banyak.

Grup nasyid pengisi waktu menunggu telah kehabisan list lagu. Sang MC coba bersolusi, ajak jamaah shalawatan sembari menunggu kedatangan sang penceramah, yang ternyata juga saling menunggu dengan para pejabat daerah. Sayang ajakan sang MC tak mendapat sambutan antusias jemaah. Alunan shalawat dtimpali omelan jamaah yang tak sabaran seperti saya.

Saya memang telah marah betul. Saya buru-buru datang ke sini hanya untuk dengar ceramah sang ustadz, bukan untuk mendengar pidato Walikota atau Gubernur atau pejabat lainnya. Mengetahui bahwa jemaah mesti menunggu pula kedatangan mereka, betapa menyebalkannya. Mau marah saja rasanya. Tapi mau marah bagaimana? Pada siapa? Kenapa mesti marah? Kan saya datang ke sini dengan niat ibadah?

Telah satu setengah jam saya menunggu, terjebak di barisan depan. Padahal saya sangat ingin merokok. Atau jangan-jangan kemarahan saya ini bukan karena telatnya rombongan penceramah, tapi karena rokok?

Duhhhh... :(

20 Agt 2017

Kehilangan (Lagi)

Beberapa waktu terakhir ini saya boleh dibilang saya jarang terlihat online di Facebook. Bukan tak pernah buka, cuma memang frekwensinya memang berkurang, sejak 2 bulanan terakhir punya mainan baru, baca ebook. Bukan mainan baru juga sebetulnya, sebab sejak dulu saya memang punya hampir 2Giga-an file ebook. Saya sebut baru sebab kemudian data tersebut hilang berbarengan dengan rusaknya HDD di komputer butut saya. Dan selama mudik lebaran terakhir saya sibuk mendownload dan kumpulkan ulang koleksi-koleksi lama, kali ini di handphone baru, hahaha...!

Dulu saya begitu stressnya saat mengetahui HDD tersebut rusak sama sekali. Bermacam cara saya usahakan, setidaknya untuk mendapatkan lagi file-file berharga saya. Selain 2Giga-an file ebooks, disitu saya juga punya simpanan video sinetron favorit Para Pencari Tuhan, nyaris komplit dari tahun pertama sampai tahun ke-8. Ada lagi file-file video sinetron Lorong Waktu tahun ke-3 sampai tahun ke-5, juga komplit. Dan tentu saja banyak jenis file lainnya yang juga keren, seperti file film, lagu-lagu dan aneka artikel. Semua hilang, karena HDD rusak, gagal saya perbaiki.

Hilang barang, bahkan kehilangan wanita tersayang sekalipun saya rasa tak begitu sedihnya. Ada polisi yang bisa dimintakan tolong mencarinya. Bahkan bila perlu, dukun juga banyak, hahaha...! Saya pernah kehilangan serupa, dan fakta bahwa saya tak menemui polisi atau dukun adalah bukti bahwa itu belumlah apa-apa, ketimbang kehilangan file-file komputer kesayangan saya, hahaha...!

Saking stressnya saat itu, saya sampai ngeri membayangkan akan mengumpulkannya ulang. Bukan soal enteng mendownload ulangnya. Butuh kuota puluhan GigaBite sampai semua bisa dikoleksi lagi, itu soal pertama. Padahal itu juga sekedar estimasi besar file, belum termasuk kuota untuk browsing dan downloadnya.

Berikutnya, ternyata begitu susah menemukan lagi file-file tersebut di internet. Banyak akun-akun 'baik hati' pemilik file tersebut yang telah kadaluarsa, dibanned dan sebagainya. Khusus untuk file ebooks, ternyata sekarang hosting favorit tempat dulu saya biasa download, sudah tak bisa lagi dikunjungi, hiiiks...!

Maka 2 mingguan pertama mudik lebaran kemaren saya habiskan untuk mengumpulkan lagi koleksi-koleksi lama file-file ebooks yang dulu. Alhamdulillah, setidaknya cuma 2 atau 3 koleksi favorit lama yang gagal saya dapatkan lagi. Yang lainnya bisa nyusul kapan-kapan, toh cuma sekedar koleksi pelengkap yang entah berapa tahun lagi baru mungkin akan saya baca, hahaha...!

Terjebak euphoria, sampai 2 jam lalu saya telah membaca ulang sekitar 50an judul novel-novel terhemahan detektif anak dan remaja terjemahan. I think you know what i mean. Saya juga telah menyelesaikan utuh kisah Si Bungsu dalam Tikam Samurai-nya Makmur Hendrik. Terakhir, sekitar 2 jam lalu saya telah membaca 'Monk, si detektif jenius', cerita detektif paling kocak (versi saya).

Cerita detektif yang satu ini sungguh lucu. Saya baru tahu dan akan browsing untuk mencari judul kisahnya yang lain. Apa daya, entah apa tadi yang saya pencet, seluruh file yang telah saya koleksi ulang itu ternyata telah hilang lagi, hahahaha...!

18 Agt 2017

Bola dan Damainya Dunia Maya

Musim bola 2017/2018 telah dimulai. Ini sebetulnya berkah bagi semua. Sepakbola bisa mencairkan bahkan bisa melenturkan ketegangan politik kita. Ramai tapi damai. Saat bicara bola saya dan Najwa Shihab bisa berkoalisi membully Profesor Mahfud MD, bila saat itu Manchester United kalah misalnya. Akun twitter Panca dan Partai Socmed misalnya bisa terlihat 'mesra' saat bicara bola, walau di hari lain mereka nyaris selalu perang twit politik.

Seluruh rakyat Indonesia bersamaan kedudukannya dalam hukum dan sepakbola. Seorang Deddy Mizwar atau Said Didu 'boleh di-bully' saat Manchester City kalah. Bicara hal lain, semua orang mesti hormat terhadap seorang Tiffatul Sembiring. Tapi saat Barcelona kalah, itulah kesempatan dan saat terbaik untuk memperolok-oloknya. Profesor sekelas Mahfud MD akan terlihat begitu gobloknya berkilah dan ngeles saat MU kalah.

Akhir pekan dan beberapa kali di tengah minggu terlihat begitu damainya keberagaman di Indonesia. Tak ada lagi istilah Jokower, Wowok, Brewok, Ahoker, Panasbung, Kecebong, Kodok dan sejenis lainnya. Dan inilah menariknya bola dan dunia maya.

Di dunia nyata antara suporter 2 klub bisa saja terjadi perang ludah bahkan bertumpah darah, di dunia maya justru sebaliknya. Belum pernah terdengar ada perang twit bola berlanjut di dunia nyata. Sebaliknya, twitwar politik ada yang butuh diselesaikan dengan jantan di dunia nyata.

Bagi saya pribadi, musim bola inilah saat terjadinya silaturrahmi dengan sanak family, walau itu sekedar saling ejek di postingan Facebook. Anak Minang seperti keluarga besar kami memang sulit kumpul bersama di dunia nyata. Ada yang namanya 'pulang basamo', tapi selalu saja ada cacatnya. Yang ini tak bisa pulang karena mesti begini, sementara yang itu harus begitu.

Keluarga kami memang besar dan begitu besarnya. Saking besarnya beberapa diantara kami malah tak saling kenal rupa satu dengan lainnya. Selain rentang usia, kami  tersebar pula merantau di segala penjuru laiknya anak Minang lainnya. Maka silaturrahim di dunia maya ini tentu penting untuk dijaga.

Yaa, postingan status-status bola saya biasanya memang cuma antar kami sesama saudara sepupu. Beberapa teman lain memang sering ikut nimbrung juga, terutama teman sekampung. Jika dia ternyata bukan teman sekampung, biasanya akan berhenti begitu saja, karena mungkin tak paham, kami ini bicara apa, hahaha...!

Maka nikmati sajalah pertunjukan saling ejek kami sampai nanti musim bola jeda lagi. Dan mohon doanya, musim ini mungkin memang yang terburuk buat saya. Karena prestasi yang jelek musim lalu, tahun ini Arsenal cuma main di kasta ke-2 kompetisi bola Eropa. Sedang tim-tim para sepupu saya itu semuanya main di kompetisi utama, hiiiks...! Sudah kebayang aneka jenis bully-annya.

"Peserta Liga Malam Jumat"

"Kompetisi Klub Medioker"

"Liga Klub-klub Pecundang"

dan sebagainya, duh...!

17 Agt 2017

Mimpi Yang Mudah-mudahan Terjadi

Walau jarang posting blog, sebetulnya saya tetap menulis. Dan dalam karir menulis saya juga punya target. Rekreasi Hati 3 bukanlah yang terdekat. Rekreasi Hati 3 saya proyeksikan untuk tahun 2019 mendatang. Rekreasi Hati adalah brand yang akan saya jaga mutunya mati-matian. Saya takkan biarkan brand Rekreasi Hati rusak hanya karena materi dan tulisannya asal-asalan.

Tahun ini saya ingin bikin satu karya main-main. Judul sih udah dapat: SKAK MAT. Keren ga? Hayooo, yang jagoan desain bolehlah kirim layout covernya. Suer, sama sekali ga punya ide nih!

Tahun 2018 saya juga mau bikin satu buku lagi. Tapi mungkin saja takkan saya 'jual bebas'. Saya cuma ingin buat semacam autobiografi. Pengalaman hidup saya yang ajaib dan penuh kejutan rasanya sayang juga bila hanya dikenang sendirian, hahaha...!

Tadi saya nonton untuk kesekian kalinya lagi film Naga Bonar Jadi 2. Dan tiba-tiba kepikiran nulis serius tentang Naga Bonar. Walau belum tau bagaimana bentuknya, tapi saya melihat ada kemungkinannya saya mampu. Sejak dirilis tahun 2007, ada banyak kejadian politik yang entah kenapa bisa saja saya rasakan berkaitan dengan sosok fiksi Sang Naga Bonar.

Pertama, kontroversi Lukman Sardi, pemeran Umar di Naga Bonar Jadi 2 murtad, keluar dari Islam. Berikutnya, ada Menteri yang juga kontroversi bernama Lukman (pula). Klop, sebab teman lama Naga Bonar yang 'pintar' itu juga bernama Lukman yang dulunya pedagang beras. Nyambung lagi, sebab belakangan ini ada pula kasus kontroversi beras yang melibatkan seorang mantan menteri. Waaaah, kebayang kan kalau kisah fakta dan fiksi ini diobrak abrik jadi sebuah novel keren?

Bisa saja misalnya dibuat Naga Bonar terpaksa minta tolong pada sahabatnya yang sekarang jadi menteri untuk 'membebaskan' Bonaga, anaknya yang tersangkut kasus narkoba? Klop lagi, kan? Pemeran Bonaga di kehidupan nyata kan Tora Sudiro? Hahaha...!

Atau, mungkin pula dia bisa minta tolong si Mariam, saingannya dalam berebut almarhumah Kirana? Bukankah di pertemuan terakhir si Mariam mengaku sebagai staff ahli menteri? Kita buat saja sekarang Mariam sebagai staff ahli menteri Lukman? Gimana?

Sebagai sequel, tentu saja dibutuhkan beberapa tokoh baru? Siraul Nan Ebat sih mau saja, asal Rani juga ikut, hahaha...! Bagaimana cara memasukkan kami dalam cerita?

Saya misalnya bisa menggantikan si Umar sebagai 'teman curhat baru' Naga Bonar'. Suatu kali misalnya saya diajak Naga Bonar pergi menemui Lukman untuk 'mengurus' persoalan Bonaga. Lalu ketemu Rani yang ternyata anak si Lukman. Tapi gimana ya, si Lukman kan dulu menikahnya dengan Jamilah, anak Pak Jamal? Tau kan kisahnya? Ga...! Sebagai penulis saya tak tega jadikan Rani sebagai anak Lukman.

Pilihan lain, bagaimana kalau Rani jadi anak si Mariam saja? Wah, Rani pasti tak bakal mau menegur saya bila dijadikan sebagai anak si Mariam, mantan pencopet yang dulu di kantor polisi dijuluki si Dompet? Lagipula sama sekali tak cocok. Si Maryam yang buruk rupa masak bisa punya seorang putri jelita? Apalagi otaknya macam keledai pula, padahal Rani kan pintar. Ya kan, Ran? Hahaha...!

Pilihan lain yang lebih masuk akal, Rani kita jadikan saja sebagai adik Monita, pacar si Bonaga. Kita bisa set, Raul dan Rani bertemu di kantor polisi, saat keduanya menemani Naga Bonar dan Monita untuk menjenguk Bonaga yang di penjara, hahaha...!

Kami berdua bisa diberi porsi peran yang lebih besar. Raul sebagai teman curhat Naga Bonar, sedang Rani teman curhat sekaligus 'guru agama' Monita, kakaknya yang sedikit nakal, hahaha...!

Wuiiih, bisa ga ya?
Bantu doa dan idenya yaa, teman-teman! Selamat pagi.

16 Agt 2017

Merdeka Tapi (masih) Terjajah

Jika pahlawan adalah hanya sekedar simbol berhasilnya suatu perjuangan, sangat mungkin negara kita ini tak punya 'pahlawan' kemerdekaan sama sekali. Nyaris dalam semua medan perang kemerdekaan kita kalah melulu. Hampir semua pahlawan pemimpin perang kita perjuangannya 'tak selesai'. Entah karena gugur di medan perang, ditangkap atau yang dieksekusi regu tembak bangsa penjajah. Dari Timur, Sultan Hasanuddin sampai ujung Barat, Teuku Umar, Cik Di Tiro, Panglima Polim, Cut Nya' Dien dan Cut Meutia. Mereka adalah pahlawan, walau dalam perang kalah.

Mereka kalah, tapi perjuangannya itulah yang bernilai kepahlawanan. Perjuangan mereka heroik. Dengan peralatan seadanya, mereka berperang melawan senjata mesin kaum penjajah. Mereka berjuang melawan, maka bernilai kepahlawanan.

Penafsiran dan anggapan nilai kepahlawanan hanya dari hasil suatu perang itulah yang melahirkan para pahlawan kesiangan dan Inspektur Vijay, haha...!

Maka jika sekarang walau geram, tapi sungguh tak elok sebetulnya mengatakan bahwa kita belum merdeka. Yang pasti masih banyak alumni pejuang perang seputar proklamasi kemerdekaan yang masih hidup di sekitar kita. Itu akan menyinggung perasaan mereka dulu yang nyata berkorban buat bangsa dan negaranya. Lah kita? Kalau masih merasa terjajah, kenapa tidak melawan? Melawan siapa? Yaa melawan yang menjajah, donk!

Kita sudah merdeka lama, tapi masih merasa terjajah. UUD1945 menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk dalam banyak hal. Artinya itu adalah tugas negara. Maka sungguh aneh sekali ada orang berusaha kritik pemerintah malah dibully, difitnah, ditangkapi dan dituduh macam-macam. Orang itu sedang berjuang, dan yang pasti bukan untuk dirinya sendiri.

Mereka sudah berjuang walau bukan untuk sok-sok jadi pahlawan. Tapi setidaknya mereka sudah melakukannya. Kamu kapan? Merasa masih terjajah?

14 Agt 2017

Behind the Stories

Banyak juga ternyata yang menyukai karya-karya dialog imajiner ala Rekreasi Hati. Ada yang bertanya bagaimana cara saya dapat ide untuk menulisnya. Entahlah, tapi mungkin proses menulisnya bisa  saya ceritakan. Mudah-mudahan bisa membantu, hehe...!

Dialog-dialog imajiner itu saya tulis spontan, tak sampai satu jam untuk menjadikannya utuh. Tapi satu hal yang pasti, sebelum menulis saya selalu membaca berita terkini, soal apa saja. Tujuannya sebagai 'automark' agar 'karya masterpiece' saya tidak bisa diklaim sebagai karya orang lain, hehe...!

Berikutnya observasi tokoh. Tujuan utamanya memberi nyawa pada cerita. Saya mesti sangat mengenal siapa saja tokoh yang terlibat. Baik yang terlibat langsung, ataupun sekedar yang jadi topik dialog. Suatu kali seorang teman minta dibuatkan tulisan dengan kata 'legenda'. Saat itu saya sedang di perjalanan bermobil bersama paman saya yang penggemar dangdut. Musik player di mobil sedang memutar lagu-lagu Ona Sutra, seorang legenda dangdut Indonesia. Sampai di rumah coba nulis sambil dengar musik seperti biasa. Pas di lagu It's My Life-nya Bon Jovi tiba-tiba saja dapat ilham. Band ini juga legend. Waah, bakal seru nih kalau Ona Sutra dan Bon Jovi diaduk-aduk. Maka tak sampai sejam kemudian, teman yang request pun puas, permintaannya terkabul dengan hasil gemilang, haha...!

Karya terakhir saya 'Naga Bonar 3' menjadi sangat mudah karena saya mengerti betul semua tokohnya. Saya sudah ratusan kali tonton film Naga Bonar. Saya bahkan hapal seluruh dialog di filmnya (kecuali yang pakai bahasa Belandanya), hahaha...!

Satu hal yang paling sulit adalah menjaga agar dialog pembicaraan berimbang tanpa merusak karakter si tokoh. Sulit memerankan karakter 2 orang (atau lebih) yang sangat berbeda di satu waktu yang sama. Yang berbicara memang mereka, tapi seluruh pikirannya kan dari saya? Maka pemilihan tokoh utama di sini menjadi soal yang sangat penting. Walau band rock favorit saya sebetulnya Def Leppard. Tapi yang jadi fanfic saya malah Bon Jovi atau Slash, hiiiks! Musisi lokal idola saya Ribas, tapi materi fanfic saya malah Kangen Band, wkwkwk...!

Dalam cerita bersama Jon Bon Jovi (vocalist), inti cerita sebetulnya adalah Richie Sambora yang baru saja dipecat sebagai gitaris. Berulangkali saya coba dengan Richie, tapi ga pernah dapat feel-nya. Ketemu 'taste'nya malah bersama sang vocalist, Jon Bon Jovi. Cerita berikutnya begitu lagi. Inti cerita masih soal sang gitaris Richie Sambora. Kali ini soal dia mau reunian dengan Bon Jovi. Coba lagi dengan Richie, masih gagal. Balik temui Jon, juga gagal. Ehh, tiba-tiba dengar kabar baru dari Guns N Roses. Slash sang gitaris baikan dengan Axl Rose sang vocalist. Belum sempat coba dialog dengan Axl, karena dialog dengan Slash ternyata sukses. Membahas reunian Richi Sambora dan Bon Jovi, hahaha...!

Terakhir, biasanya sebelum menulis saya telah punya 'kalimat penutup yang tepat'. Ini sebetulnya mudah saja. Di kost-an dan bahkan ditempat saya bekerja dulu saya dikenal sebagai rajanya penggalauan, hahaha...! Tapi sebetulnya juga susah sekali, hahaha...! Membuat kalimatnya memang mudah, tapi mesti ditujukan pada orang yang tepat. Mencari orang yang tepat itulah yang sulit. Di situlah pentingnya dialog butuh sosok yang tepat.

Dalam blognya, Wahyu HS, penulis skrip Sinetron Para Pencari Tuhan mengakui kesulitannya menyelesaikan jilid pertama sinetron tersebut, khususnya kisah seputar Ayya dan Azzam. Kedua tokohnya tersebut sama-sama pintar, cerdas dengan pemahaman agama yang sama pula kuatnya. Karakter mereka berdua sudah terlanjur melekat dan kuat. Bagaimana membuat ending yang tepat tanpa merusak karakter salah satunya?

Kalimat penutupnya sudah ketemu,"kalau dikumpulin, air matanya bisa dipakai buat mandi".

Tapi itu bukanlah kalimat cerdas yang bisa dipakaikan untuk sosok seperti Ayya atau Azzam. Kalimat ini cocoknya untuk Udin. Solusinya? Karena tak bisa menyelesaikan lewat Udin, si penulis pilih ganti kalimatnya.

"Andai syariat membolehkan, kupakai airmatamu untuk berwudhu".

Persoalan seperti itulah yang membuat saya mengganti Richie dengan Jon, atau Jon dengan Slash dan sebagainya. Kisah Valentino Rossi di seri terakhir tahun 2016 itu menarik buat siapa saja. Valentino Rossi adalah nama yang sering diketik di kolom pencarian Google. Tapi kisahnya malah lebih klop saat saya menulisnya bersama Jorge Lorenzo, haha...!

*Dah ahh, selamat berkarya...!

12 Agt 2017

Alangkah Tak Bermutunya Negeri Ini

Mari renungkan betapa tragisnya nasib rekayasa seorang AFI. Seorang penulis muda (yang dianggap) berbakat. Itu anak SMA sampai diundang berbicara di universitas sekaliber UGM. Saya beri waktu untuk bilang WOW...!

Menjadi bintang tamu di program talkshow tivi, selfie bareng para pejabat tinggi, termasuk diundang ke istana oleh kepala negara. Betapa kerennya anak ini!

Tapi sehebat-hebatnya Superman, bila gatal menggaruk juga. Ketahuan, salah satu tulisannya hasil plagiat. Setelah tak bisa lagi beri alasan memungkiri, akhirnya posting pengakuan. Tanpa permintaan maaf, lebih terkesan pembelaan dan malah cenderung arogan. Apes, postingan itupun ternyata hasil plagiat. Dan kali ini akibatnya lebih fatal. Rekam digital dan jejak silamnya dibongkar. Tak terhitung lagi jumlah posting plagiasinya. AFI berakhir sebagai sosok yang layak dibully.

Tak tahan dibully, akhirnya posting derita bully yang dialaminya. Konsisten, tetap dengan arogansi yang memang sudah menjadi karakter sejatinya. Posting video berbahasa Inggris gagap, dan itu blunder. Tak profesionalnya konsultan akting yang mendampinginya dengan segera memprovokasi pemirsa untuk mengusut pidato ganjilnya tersebut. Dan lagi-lagi ketahuan. Post videonya tersebut pun ternyata plagiasi sebuah 'video wasiat' seorang remaja yang bunuh diri.

Jujur, walau sangat jengkel dan jijik melihat lakunya, tapi saya sangat prihatin terhadapnya. Sekarang, setelah media sosial membongkar tipu dayanya, janganlah AFI ditinggal begitu saja. Mestinya seluruh 'pihak yang dulu membesar(-besarkan) AFI wajib bertanggungjawab terhadap masa depan AFI. Gagal dikelola, AFI bisa gila. Ini persoalan yang sangat serius.

Ada pula pertunjukan beras Maknyuss. Pertama dituding merugikan negara karena membeli gabah dari petani dengan harga lebih mahal. Aneh? Tentu saja, karenanya kemudian tudingan diganti. Dituduh menjual terlalu mahal. Tak terbukti lagi, ganti lagi tuduhannya. Dituduh monopoli, padahal marketnya cuma 2% pasar beras nasional. Tudingan terus berubah setiap kali data membantahnya. Dituding oplosan dan terakhir soal label yang itupun sepertinya juga akan bisa dibantah. Tapi politik membuat perkaranya mesti tetap diteruskan, walau logika publik sulit menangkapnya.

Lihat pula betapa menggelikannya skandal E-KTP. Segala cara dilakukan untuk menghentikan penuntasan perkaranya. Teror yang dialami penyidiknya Novel Baswedan. Kemudian 'mematikan' saksi kuncinya. Tak pernah ada bukti bahwa si saksi memang mati, malah banyak indikasi yang menyatakan sebaliknya. Tapi mereka mana mau peduli. Media-media itu melulu saja tebar hoax bahwa si saksi mati bunuh diri.

Bertebarannya setiap saat berita laku politik bodoh ini layak kita waspasai. Pertama, jangan-jangan kita pangsa media ini memang bodoh dan bisa dibodoh-bodohi. Berikutnya adalah kemungkinan telah punahnya rasa malu. Kombinasi bodoh dan tak tau malu itu sungguh memalukan. Alangkah tak bermutunya negeri ini. Sudah bodoh, tak tau malu pula, hiiiks...!

Binatang, Manusia dan Peradabannya

Bully yang sering dialami binatang adalah dianggap tak beradab karena tak punya otak dan tak pakai baju. Manusia mengklaim dirinya sebagai makhluk beradab dan melecehkan binatang dengan mengindentikkan seseorang yang biadab sama dengan binatang.

Usia peradaban suatu kelompok berbeda dengan yang lainnya. Itu diukur dari tingkat majunya ilmu pengetahuan. Soal ini manusia boleh menepuk dada. Banyak kelompok binatang yang gagal bertahan karena tak mampu melawan perkembangan jaman. Binatang tak punya uang, hingga mudah saja dibodoh-bodohi oleh developer, hahaha...!

Orang bodoh banyak duit jadi pintar. Orang pintar tak ada duit jadi bodoh. Sudahlah pintar tak juga berduit? BODOH...! ~ Den

Di hadapan uang, kecerdasan dan insting memang sering tak berdaya. Apalagi faktanya memang binatang sudahlah tak punya uang, tak punya otak pula, wkwkwk...! Manusia cerdas sekalipun bila tak punya uang jadi bodoh, apalagi binatang.

Tapi soal peradaban ini tak cuma soal otak dan pengetahuan, tapi juga soal baju dan rasa malu. Malu adalah pakaian luar suatu peradaban, dan pengetahuan mungkin sebagai dalamannya. Dan di sini lagi-lagi binatang mesti merasa inferior terhadap manusia. Binatang juga tak punya baju, lagi-lagi dugaan saya karena mereka tak punya uang untuk membelinya, hahaha...!

Tapi soal baju dan rasa malu ini manusia, terlebih muslim Indonesia mesti mulai waspada, benarkah kita memang lebih beradab ketimbang binatang? Betapa banyak aneka laku kebodohan yang kita perbuat dan tontonkan tiap saat di sosmed? Betapa banyak laku-laku politik bodoh yang dipertontonkan tiap hari di media dengan penuh percaya diri. Tanpa rasa malu, mereka membodoh-bodohi kita selaku pangsa medianya. Kita dianggap bodoh oleh para pemimpin kita yang tak punya malu? Dan kita masih berani klaim lebih beradab ketimbang binatang? Alangkah tak tahu malunya negeri ini...!

9 Agt 2017

Tampang dan Kesimpulannya

"Tampang begini kok diktator" ~ Nyo.

Ini pernyataan sangat klop dengan orangnya. Sama-sama ndeso, hahaha...!

Berbahaya sekali jika karakter seseorang bisa disimpulkan dari rupa dan tampangnya. Saya rasa pernyataan ini keluar dari mulut seorang ndeso yang suka membaca novel-novel Lima Sekawan atau Pasukan Mau Tahu karya Enid Blyton, hahaha...! Bahaya pertama adalah meremehkan bahaya itu sendiri. Betapa banyak aki-aki atau gaek agogo yang jadi seorang pedofil, predator anak-anak. Jangan pernah menyepelekan seorang lelaki lentik lagi melambai bernama Rian asal Jombang. Entah sudah berapa orang lelaki perkasa yang telah dimutilasinya. Siapa sangka ternyata Jono dan Lono itu ternyata saudara kembar, wkwkwkwk...!

Tapi bahaya sesungguhnya adalah resiko fitnah dan ketidakadilan. Tampang kriminal saya bisa saja dituding macam-macam. Mustahil sekali rasanya saya mampu mendapatkan Rani kalau dia menyimpulkan karakter saya cuma dari tampang dan perawakan saya. Saya yakin, dia pasti akan menyesal sekali, hahaha...!

"Dulu saya hanya tahu dia (Mozart) pendek" ~ mantan calon Mozart.

Nyesal kan?

Lihat saja betapa tidak adilnya. Bapak-bapak berpeci dan berjenggot ditembak, dianggap teroris. Sementara misalnya kalau ketemu Giroud atau Sergio Ramos, berebut minta selfie, tandatangan. Bila perlu sambil mewek pula. Padahal jenggotan juga.

Kalau dilihat dari tampangnya saya berani duga bahwa presiden kita itu dari etnis Cina. Nama belakangnya makin menghasut dugaan saya. Widodo adalah nama yang lazim dipakai warga etnis Cina di Indonesia. Sama seperti beberapa nama lain, Gunawan, Candra, Widjaya, Winata dan sebagainya.

"Ehh, tapi kan tak semua Widodo atau Gunawan itu keturunan Cina. Kawan saya asal Padang aja banyak yang bernama Candra?", protesnya.

Lah, presiden sendiri berani menyimpulkan seseorang dari tampangnya? Hahaha...!

*Selamat pagi...!

7 Agt 2017

Naga Bonar 3 (Thriller)

Di acara itulah Naga Bonar bertemu dengan sahabat lamanya Lukman, anak HBS yang sekarang telah jadi Menteri Agama.

Naga Bonar :Aku bangga padamu, Lukman. Dulu saat menteri-menteri lain mengundurkan diri dari kabinet karena terpilih jadi anggota DPR, kau tetap pilih selesaikan masa jabatanmu. Padahal cuma tinggal 3 bulan lagi kan ya? Masih untung kau dipilih lagi oleh presiden yang baru. Itu suatu keuntungan buat kau, Lukman! Kau bisa lanjutkan program-program mu yang mungkin waktu itu belum kelar. Satu hal lagi, kau satu-satunya orang yang dipilih jadi Menteri oleh presiden dari 2 kubu yang berseberangan. Kau adalah harapan umat bagi kedamaian dan ketenangan negeri ini.

Lukman :Terimakasih, Bang! Abang sendiri bagaimana kabarnya?

Naga Bonar :Aku seperti yang kau lihat sekarang inilah. Jadi apalah aku, Lukman! Sekolah bambu pun tak tamat. Kau anak HBS.

Lukman :Bersyukurlah, Bang! Abang kulihat masih sehat-sehat aja! Sudah lama sekali ya Bang, kita tak ngopi-ngopi di kedainya si Murad?

Naga Bonar :Itulah, Lukman! Aku sendiri tak tau Kolonel kita itu masih hidup atau sudah dimakan cacing pula macam si bengak Bujang itu. Sudah kularang dia bertempur, eee...

Obrolan terganggu karena ada seorang petugas panitia yang menghidangkan makanan dan minuman di atas meja mereka. Naga Bonar agak curiga melihat minuman tersebut.

Naga Bonar :Hey kau! Minuman apa yang kau hidangkan ini?

Petugas :Ini arak, Pak Tua! Minuman tradisional khas daerah sini.

Naga Bonar :Ehh, kau tahu kan, buat siapa minuman itu kau hidangkan?

Petugas :Yaa taulah aku, Pak Tua! Ini untuk yang terhormat, Menteri Agama kita ini. Ada masalah apa rupanya, Pak Tua?

Melihat suasana mulai agak tak enak, Pak menteri bernama Lukman itu buru-buru coba menetralisir keadaan.

Lukman :Sudahlah, Bang Naga! Tak apa-apa. Ini cuma demi menghormati tradisi dan kearifan lokal.

Naga Bonar :Apa sebetulnya agama kau ini Lukman? Atau jangan-jangan kau sudah murtad pula? Macam si Umar, supir bajai yang mengajariku mengaji selama di tempat anakku Bonaga di Jakarta? Apa kata dunia kalau si Lukman, bekas Mayor yang sekarang jadi menteri agama itu murtad? Bahh...!

Lukman : Yaa, tak begitu lah, Bang! Aku ini Islam. Jangan terlalu serius dalam beragama, Bang! Berlebih-lebihan beragama berpotensi jadi radikal yang mengganggu toleransi beragama di negara kita.

Naga Bonar :Hey Lukman! Tak pernah sholat Jumat nya kau ini kurasa ya?

Lukman :Apa maksud Abang? Tiap Jumat aku sholat Jumat, Bang!

Naga Bonar :Aku ini memang bodoh, Lukman! Aku juga tak sealim kau. Dulu Mak suruh aku sekolah,  aku lari. Disuruhnya aku mengaji, aku mencopet. Tapi aku hapal ayat yang tiap Jumat dibaca khatibnya. Bertaqwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa. Dan janganlah kamu mati, kecuali dalam keadaan Islam. Tak tau, kau Lukman?

Lukman :Ya taulah aku, Bang! Aku sendiri sering jadi khatib Jumat. Ayat itu selalu dibaca khatib tiap khotbah Jumatnya. Sudahlah, Bang! Tak perlulah aku abang ceramahi pula! Aku ini menteri agama, Bang!

Naga Bonar :Itulah! Aku marah, Lukman! Aku marah menteriku dihina. Aku marah ulamaku dinista.

Lukman :Apanya, maksud Abang ini?

Naga Bonar :Kau ini pemimpin sekaligus ulama kami, Lukman! Kau yang mengatur dana zakat, soal-soal terkait ibadah haji dan sebagainya. Kau yang menentukan kapan kita mulai puasa atau lebaran. Jadi kalau ada yang menghidangkan arak di depanmu, itu sama saja berarti dia telah menghina pemimpin kami dan menista ulama kami. Yang begitu kau tak paham, Lukman?

Lukman :Kalau cara pikir abang macam begitu, tak heran aku Abang sampai tembak-tembakan sama si Mariam untuk berebut Kirana dulu.

Naga Bonar :Itu karena dia menghina Makku, Lukman!

Lukman :Yang macam gitu itulah yang berbahaya buat negeri ini, Bang! Cara berpikir seperti abang ini berbahaya bagi stabilitas negara kita, Bang! Kita hidup di negeri majemuk. Penuh keberagaman yang membutuhkan komitmen toleransi.

Naga Bonar :Tingginya bahasa kau, Lukman! Tak ngerti aku.

Lukman :Islam itu rahmatan lil alamin, Bang! Islam yang damai. Islam yang membaur dan menghirmati tradisi, kearifan dan kebudayaan. Islam Indonesia. Islam Nusantara.

Naga Bonar :Islam itu agama yang sempurna, Lukman! Budaya yang mesti ikut agama, bukan sebaliknya. Islamkan Indonesia. Islamkan Nusantara, bukan nusantarakan Islam, paham kau? Aku pulang! Bikin malu aja, kau!

Lukman : (hening)

*Tamat

6 Agt 2017

Iwan Fals dan Prestasi-prestasi Jokowi

Kemaren, dalam rangka pembentukan panitia 17an Komunitas Pemirsa Halo Selebriti Kota Batam saya bertemu Iwan Fals yang kebetulan diutus oleh tim Halo Selebriti sebagai wakil dari pihak artis. Kesempatan tersebut tentu saja tak saya sia-siakan. Saya berhasil berbincang-bincang sedikit dengannya. Berikut wawancara off air kami yang entah kenapa tak disiarkan oleh Halo Selebriti.

Siraul Nan Ebat :Assalamualaikum, Oom Iwan! Apa kabarnya, nih?

Iwan Fals :Waalaikumsalam! Alhamdulillah, sehat senantiasa! Kau gimana? Sehat juga, kan?

Siraul Nan Ebat :Alhamdulillah! Saya bukan cuma sehat, Oom! Tapi masih waras juga, hehehe...!

Iwan Fals :Ehh, maksud kau apa? Kau pikir aku ini tak waras, begitu? (sedikit tersinggung)

Siraul Nan Ebat :Ahh, biasa aja kok, Oom! Santai saja! Saya ini penikmat lagu-lagu Oom, kok! Saya cuma mau nanya-nanya sedikit, boleh kan?

Iwan Fals :OK! Silahkan saja! Saya orangnya asyik, kok!

Siraul Nan Ebat :Saya ingin tahu kenapa Oom Iwan berani ambil sikap politik mendukung seseorang. Tak banyak lho Oom, yang berani begitu!

Iwan Fals :Yaa...biasa saja! Saya kan juga punya hak politik. Jika yang kau maksud artis, banyak malah yang jadi politisi beneran. Lalu apa masalahnya?

Siraul Nan Ebat :Mmm...maksud saya, kenapa Oom berani terang-terangan mendukung seseirang begitu?

Iwan Fals :Okelah! Aku ngerti maksud pertanyaan kau. Negara kita ini sudah terlalu hitam dikotori oleh penguasa dan pengusaha hitam. Untuk melawan mereka dalam politik praktis saya merasa tak kompeten. Maka begitu ada sosok yang saya yakin mampu memperbaiki negara ini, saya merasa harus ikut memperjuangkannya, walau itu hanya sebatas pernyataan mendukung.

Siraul Nan Ebat :Tapi tentunya Oom sudah berhitung resikonya, kan? Dibully atau bahkan ditinggal fans yang beda pilihan politik misalnya?

Iwan Fals :Saya ini manusia berdaulat. Saya malah sedih kalau ada artis yang tak berani bersikap hanya karena takut dibully atau ditinggal fans. Apa menariknya jadi artis yang dijajah fansnya sendiri? Mestinya penggemar itu kita manfaatkan, bukan malah ditakuti, hahaha...!

Siraul Nan Ebat :Bener banget itu, Oom! Apa menariknya jadi artis kalau takut terhadap penggemar sendiri. Pernah alami perlakuan tak menyenangkan dari fansnya, Oom?

Iwan Fals :Berkaitan soal pilihan politik? Tentu saja ada bully, seruan boikot dan sejenisnya? Ada juga yang katanya menghapus lagu-lagu saya dari list musik playernya. Saya pikir itu kok terlalu radikal ya? Menurut saya itu konyol. Besa selera dan pilihan itu kan biasa? Jangan-jangan karena saya setujunya BengBeng dingin, fans yang setuju makan BengBengnya langsung juga akan berbuat serupa? Kan lucu?

Siraul Nan Ebat :Tapi bisa saja mereka punya alasan sendiri, Oom! Maksud saya, mereka pikir mubgkin soal BengBeng itu urusan pribadi, tapi soal pilihan politik kan menentukan nasib seluruh negeri?

Iwan Fals :Nah itu dia! Apa urusannya lagu-lagu dengan pilihan politik saya?

Siraul Nan Ebat :Bener juga sih, Oom! Saya dulu pilih Prabowo, sama seperti pilihan Andhika Kangen Band. Tapi saya ogah th nyimoan lagu-lagunya di musik player saya, hahaha...!

Iwan Fals :No comment...

Siraul Nan Ebat :Tapi pernah menyesalinya ga, Oom? Maksud saya soal pilihan politik yang Oom ambil?

Iwan Fals :Tentu ada berbagai kekecewaan atau ketidakpuasaan terhaap kebijakan pemerintah. Itu wajar. Yang penting kita tetap mengawasi dan mengawalnya. Dan selama ini saya pikir kinerja Jokowi sudah termasuk baik. Bahkan ada media luar negeri yang menyebut Jokowi sebagai presiden terbaik dunia.

Siraul Nan Ebat :Itu kan sudah diklatifikasi, Oom! Pernyataan yang dipelintir.

Iwan Fals :Yaa, saya juga tahu. Walau begitu setidaknya mereka kan mengapresiasi hasil keeja Jokowi selama ini. Hubungan diplomasi luar negeri kita selama dipimpin Jokowi sangat baik.

Siraul Nan Ebat :Karena itulah Rangga bisa diekstradisi, kembali ke Indonesia untuk bertemu Cinta setelah berpisah selama 14 tahun? SBY 2 periode ngapain aja? Hahaha...!

Iwan Fals :Ah kau ini! Jokowi mestinya juga dapat dinominasikan untuk meraih nobel perdamaian.

Siraul Nan Ebat :Haah!? Nobel perdamaian? Atas prestasinya mendamaikan Slash dan Axl Rose sehingga Guns N Roses classic formation bisa mengadakan reuni? Hahahaha...!

Iwan Fals :Banyak yang sudah dihasilkan Jokowi selama ini. Padahal belum sampai 3 tahun menjabat. Liat saja berapa banyak jembatan atau jalan tol yang sudah selesai dan diresmikannya!

Siraul Nan Ebat :Kan ada memang yang namanya proyek multiyears, Oom! Masak semua dan semaunya diklaim sebagai prestasi Jokowi? Sekalian aja candi Borobudur di cat. Kemudia resmikan hingga bisa diklaim sebagai prestasi juga, wkwkwkw...!

Iwan Fals :Kau tak lihat lebaran kemaren? Ada macet?

Siraul Nan Ebat :Syukur deh, kalau itu beneran. Tapi lupa ya, Brexit tahun lalu? Itu tragedi macet terbesar sepanjang sejarah dunia. 18 orang tewas karena macet. Entah bikin sedih atau malah geli dengernya. Lupa?

Iwan Fals :Yang kau lihat cuma yang buruk-buruknya saja. Kau tahu kapan terakhir kali Raja Arab berkunjung dan berinvestasi di Indonesia? Itu dulu sejak jaman Soekarno, dan sekarang di jaman Pak Jokowi. Itu karena iklim investasi yang baik dan ekonomi kita yang relatif stabil dan sehat.

Siraul Nan Ebat :Baik? Stabil? Sehat? Nyonya Meneer yang katanya kuat berdiri sejak tahun 1919 itu sekarang terduduk di jaman Jokowi, hahaha...! Saking bangkrutnya negara, nekad mau pakai dana zakat dan dana haji, hahaha...! Bocor...bocor...bocor...!

Iwan Fals :Kan sudah diklarifikasi Presiden, itu cuma contoh!

Siraul Nan Ebat :Cuma contoh? Lu pikir kita bodoh? Kalau cuma contoh, kenapa dibentuknya BPKH? Kenapa...?

Iwan Fals : (hening)

Siraul Nan Ebat :Penguasa...penguasa...pinjamilah hambamu uang dana haji...pinjami hamba uang dana haji...! Ehh, itu judul lagunya apa sih, Oom? (nyanyi)

Iwan Fals : (hening, tapi melotot)

*tamat

4 Agt 2017

Saya Butuh Menulis dan Kebelet

Awal mula saya 'menulis' hanya karena melaksanakan kewajiban yang diperintahkan oleh guru di sekolah. Ada hukuman bila tak dilaksanakan. Dan pada proses selanjutnya ada dinamika unik yang saya rasakan soal menulis, khususnya menulis di blog sampai jadi buku yang diterbitkan sendiri.

Kadangkala saya menulis semaunya. Bila mau, saya menulis. Bila malas, yaa tak menulis, hahaha...!

Pada momen tertentu saya jadikan menulis sebagai suatu kewajiban. Bahwa bulan ini saya harus posting sekian tulisan. Proses melaksanakannya tak mudah. ada saja hambatannya. Bisa malas, bunti ide, tapi yang jelas sibuk bukan suatu alasan yang bisa dibenarkan. Kecuali mungkin bila quota habis, hahaha...!

Malas apakah suatu problem besar? Ternyata tidak. Sebab solusinya jelas dan tegas: lawan! Buntu ide itu soal remeh, sebab yang penting cuma menulis dan ada tulisannya.

Sekarang entah kenapa saya mulai merasakan bahwa saya butuh menulis. Menulis adalah suati kebutuhan. Saya punya nilai hidup dengan menulis. Dan pada saat menulis telah menjadi kebutuhan, saya mulai merasa gelisah bila tak menulis. Saya takut fans, Para Penggaruk meninggalkan saya, hahaha...!

Berikutnya lagi, saya takut Rani kabur kalau saya tak lagi menulis. Terus terang saja, saat ini saya baru berhasil membuatnya menyukai tulisan-tulisan saya. Padahal yang saya mau, Rani menyukai saya, bukan sekedar tulisan belaka, hahaha...!

Terakhir, saya ngeri bila saya kehilangan kemampuan menulis, jika saya jarang menulis. Padahal saya butuh menulis dan harus tetap menukis, sebab dengan menulislah saya punya nilai hidup di dunia.

Manusia butuh sesuatu agar punya nilai. Kuncinya ternyata dengan menjadikan sesuatu iti sebagai suatu kebutuhan. Atlet tak wajib berlatih. Dia butuh berlatih. Maka bila si atlet menjadikan berlatih sebagai satu kebutuhannya, dia akan jadi atlet yang bernilai.

Yang lain pun begitu pula. Pemusik butuh bermusik. Guru butuh mengajar, pekerja butuh bekerja dan sebagainya.

Bernilai di dunia bernilai pula di akhirat. Kuncinya ternyata juga sama. Jadikan sholat, mengaji, puasa dan sebagainya sebagai kebutuhan, maka itu akan bernilai di akhirat. Menjadikan segala kewajiban dan perintah agama menjadi suatu kebutuhan itu juga punya dinamika unik.

Awalnya puasa cuma ikut-ikutan karena orangtua juga puasa. Sholat juga cuma karena diperintah orangtua dan takut dipukul bila tak melakukannya. Ehh tapi bila sholat dijadikan suatu kebutuhan, bukan lagi sekedar kewajiban, entah bagaimana 'ada saja paksaan' untuk melakukannya.

Kaset pengajian sebelum waktu sholat sudah diputar. Saya masih cuek. Tapi ketika tiba-tiba sampai di Surat Al-Baqarah ayat 6-7,

"Sesungguhnya orang-orang kafir itu sama saja bagi mereka. Kamu beri peringatan atau tidak, mereka tidak akan beriman"

"Allah mengunci hati mereka. Penglihatan dan pendengaran mereka telah tertutup. Bagi mereka azab yang amat pedih"

Saya terdiam. Jangan-jangan saya yang dimaksud ayat ini? Ambil wudhu', dan segera sholat. Saya bersyukur sekaligus takut. Saya bersyukur mengenal ayat tersebut dan bersyukur Allah SWT 'menegur' dengan cara yang tepat. Saya takut, bagaimana bila di masa depan saya lupa, tak lagi kenal ayat tersebut. Saya takut tak lagi terbiasa sholat. Saya takut terlupa ayat dan bacaannya bila sering meninggalkannya.

Saat nyenyak-nyenyaknya tidur, saya terbangun kebelet pipis. Mau ditahan, udah kebelet. Tidak ditahan, mata masih mengantuk. Lanjut tidur, ini kebelet beneran, hahaha...!

Ehh, tapi akhirnya saya sadar. Saya bersyukur dan sekaligus takut. Bersyukur, saya dibangukan dari tidur karena sudah waktunya sholat Subuh. Saya takut di masa depan Allah SWT cuek dan membiarkan saya terus terlelap ditinggalkan Subuh. Maka biarlah sekarang saya butuh kebelet, jika karenanya saya bisa laksanakan sholat Subuh.