Follow Donk...!

30 Nov 2014

Manusia vs Serigala



Berbagai ajang kompetisi telah saya saksikan. Berbagai bidang dan cabang. Dari yang kelas festival sampai yang professional. Dari yg berskala nasional dan international.  Piala Dunia, Olimpiade, sampai kepada American Idol dan KDI, hahaha…! Dan kemaren malamlah saya benar-benar merasakan kepuasan tersendiri, saat menyaksikan SCTV Award. 

Walau sedih dan merasa gagal karena sebagai Ketua Tim Pemenangan Halo Selebriti di SCTV Award 2014, kami gagal meraih penghargaan walau satu, tapi saya bahagia karena bertahun menyaksikan aneka kontes dan kompetisi, menurut saya SCTV Award kemaren malam adalah yang terbaik. Terbaik, karena inilah kompetisi yang paling fair, jujur dan dinilai secara objektif. Bayangkan saja, panitia dan penyelenggaranya adalah manusia. Juri dan wasitnya pun manusia. Dipilih oleh manusia, dan pemenangnya adalah serigala, walau ganteng, hahaha….!

Saya bangga dan bahagia bahwa kontes ini adalah milik Indonesia. Kita layak bahagia dan berbangga bahwa ternyata bangsa Indonesia begitu jujur sportif dan objektif. Jika memang srigala itu lebih baik ketimbang manusia, maka dialah yang akan jadi pemenangnya. Kejujuran akan menampilkan fakta. Dan fakta bahwa ada srigala yang lebih baik ketimbang manusia itu mestinya layak kita terima dengan lapang dada. Sistim penjurian yang tertutup mestinya punya sangat banyak celah untuk kecurangan. Misalnya, karena saya ogah manusia kalah sama srigala, maka saya akan pilih manusia, walau sebenarnya saya tahu bahwa srigala lebih layak jadi pemenangnya. Sebab mustahil saya bisa objektif jika ditanya siapa yang lebih baik manusia atau srigala. Saya pasti akan pilih manusia, kan? Toh, siapapun yang akan saya pilih kan tak ada yang mengetahuinya., Maka, jika hasilnya bahwa srigala mengalahkan manusia, itu pastilah suatu fakta yang sebenarnya, hasil penilaian paling jujur dan objektif dari para pemilihnya

Jokowi dan timnya ternyata berhasil melaksanakan program Revolusi Mentalnya, bahkan saat dia baru 40 hari menjalani tugasnya selaku Presiden Pilihan Kita. Inilah Indonesia Hebat yang sebenarnya. Manusia Indonesia yang jujur dan objektif, walau itu akan membeberkan fakta yang ironis dan memalukan, manusia Indonesia ternyata kalah baik ketimbang srigala yang ganteng, hahaha….!

Saya sendiri sepakat dengan faktanya. Jujur saja, Serigala Yang Ganteng itu memang lebih baik ketimbang si Ocid dan kawan-kawan. Bagaimana tidak, Ocid cs malah mengajarkan si Wakwaw dan teman-teman kecilnya bahwa jika ada berita dukacita kita mesti bilang, ‘HAAAAAH….?’, bukan ‘Innalillah’.
*Ckckckck….! Ayo, Pak! Lanjutkan Revolusi Mentalnya J



23 Nov 2014

Anarkis? Pikir Lagi, Deh...!



Bagi teman-teman buruh yang sering demo anarkis, silahkan renungkankan lagi tindakan kalian. Sebagai wartawan imajiner, saya berkesempatan untuk ikut meliput perundingan membahas nilai UMK bersama asosiasi pengusaha, wakil pemerintah dan 10 orang wakil buruh.  Di dalam ternyata suasana sangat adem, bertolak belakang dengan situasi panas dan anarkis di luar. Berikut transkip sidang yang sempat saya rekam.

Wakil Pengusaha              :Santai saja! Tak usah tegang! Ayo dimakan cemilannya, hehehe...!

Wakil Buruh 1                    :Siap, Pak!

Wakil Pengusaha              :Jadi begini adik2. Kita semua tahu bahwa sekarang situasi sedang sulit. Bahkan beberapa negara malah sudah bangkrut. Jadi saya harap kalian mengerti keberatan kami.

Wakil Buruh 1                 :Justru itu, Pak! Kami minta kenaikan yang wajar. Pertumbuhan ekonomi tak sebanding dengan upah buruh.

Wakil Pengusaha              :Jika kalian memaksakan, apa boleh buat! Banyak perusahaan yang akan tutup dan kami pindah ke luar negeri.

Wakil Buruh 1                    :Kami tak bisa diancam dengan itu, Pak! Kami bukan orang2 bodoh. Apa bapak pikir kami tak mengerti bahwa soal pindah itu bukan perkara remeh. Soal lahan,  perijinan, pemindahan aset dan sebagainya.

Wakil Pengusaha              :Tak perlu mengajari monyet menggaruk. Kami mengerti apa yang harus kami lakukan. Di negara anu birokrasi tak berbelit-belit seperti di Indonesia. Soal lahan dan perpindahan aset itu bukan perkara sulit.

Wakil Buruh 1                    :Kami pun juga tahu, Pak! Tapi tetap butuh waktu yang tak pendek. Apalagi, perusahaan2 di sini hampir semua cuma perusahaan suplier/jasa. Misal ada perusahaan yang cuma mengerjakan packing saja. Bahkan di perusahaan tempat saya, hari-hari pekerjaan kami cuma memotong kabel saja. Apa Bapak pikir gampang mencari rekanan dan mitra baru nanti di tempat baru? 

Wakil Pengusaha              :Nama kau siapa?

Wakil Buruh 1                    :Anu, Pak!

Wakil Pengusaha              :Kerja di PT mana?

Wakil Buruh 1                    :PT Anu, Pak!

Wakil Pengusaha              :Sekretarissss.....! (memanggil sekretaris)

Sekretaris                            :Ya, Pak!

Wakil Pengusaha              :Telpon segera PT Anu. Katakan bahwa asosiasi ingin agar si Anu segera di PHK. Kalau mereka keberatan, tak mampu bayar pesangon, asosiasi yang akan membayarnya.

Sekretaris                            :Ya, Pak!

Wakil-wakil buruh saling berpandangan.

Wakil Pengusaha              :Oke, kita lanjutkan! Kau, nama kau siapa?

Wakil Buruh 2                    :Benu, Pak!

Wakil Pengusaha              :Tak mau bernasib seperti itu, kan?

Wakil Buruh 2                    :Tentu saja saya tak mau, Pak! Tapi perusahaan tak bisa memperlakukan kami begitu saja. Mana bisa kami di-PHK sembarangan.

Wakil Pengusaha              :Justru itu, makanya kita berunding di sini. Silakan sampaikan tuntutanmu. Kau ingin gaji berapa?

Wakil Buruh 2                    :Sesuai tuntutan kami semua, tiga setengah juta
.
Wakil Pengusaha              :Yang saya tanya, kau ingin gaji berapa?

Wakil Buruh 2                    :Pokoknya segitulah, Pak! Sesuai UMK

Wakil Pengusaha              :Gaji kau sekarang berapa?

Wakil Buruh 2                    :Dua setengah juta, Pak!

Wakil Pengusaha              :Oke, gaji kau akan dinaikkan jadi empat juta. Tapi silahkan setujui nilai UMK sesuai permintaan kami! Bagaimana?

Wakil Buruh 2                    :Tapi, saya kan jadi tak enak sama teman2 yang lain, Pak?

Wakil Pengusaha              :Kalian semua yang di dalam sini akan dinaikkan gajinya sesuai permintaan kalian, plus, masing2 dari kalian kami beri 10juta, bagaimana?

Wakil Buruh 2                    :Tapi, Pak! Perundingan ini disaksikan oleh banyak wartawan, Pak!

Wakil Pengusaha              :Kalian tenang saja! Semua wartawan juga sudah ada jatahnya masing2.  Pokoknya, ini semua takkan bocor. Saya jamin. Yang penting, kalian setujui nilainya.

Wakil Buruh 2                    :Tapi bagaimana dengan orang2 yang di luar, Pak! Mereka tetap takkan setuju.

Wakil Pengusaha              :Yang penting kan, kalian sudah setuju! Kalian kan wakil mereka? Tenang saja, kalian boleh kok tetap pura2 menolak, kesal dan pura2 ikut berunding lagi. Kan kita di sini asyik2 aja. Makan sambil ngopi2? Ya, kan? Bodo amat sama yang lain. Silahkan aja mereka berpanas-panasan, teriak-teriak, saling lempar, bakar2an! Kan sudah ada aparat yang akan mengurusnya. Bagaimana? Oke....?

Wakil Buruh 2                    :Bagaimana ini, Pak? (berbisik kepada wakil pemerintah yang duduk di sebelahnya)

Wakil Pemerintah            :Setujui saja, agar masalah tidak berlarut-larut.

Wakil Buruh                        :Bapak dapat bagian juga, ya?

Wakil Pemerintah            :Yaa, iyya, donk! Hehehe (menyeringai)

Wakil Buruh                        :OK, Pak! Kami setuju.

*Maka nilai UMK pun disepakati sambil kedua belah pihak tetap pura-pura menolak, hahaha....!


19 Nov 2014

Mungkinkah Membasmi Rokok?



Seorang teman update status yang kira2 intinya berharap, agar kenaikan BBM juga diikuti dengan naiknya harga rokok. Lebih jauh lagi harapannya tentu agar orang-orang berhenti merokok.

Saya memang merokok dan juga ingin berhenti merokok. Walau ingin berhenti, nyatanya sampai saat ini saya masih merokok. Tak mampu saya prediksi kapan saya bisa menghentikannya. Mungkin cuma terwujud jika Dian yang minta. Itupun mungkin butuh sambil mengancam saya,  hahaha….! *galau maning.

Tapi sekitar sebulan yang lalu saya sempat berdiskusi SERIUS dengan seorang teman yang juga perokok. Sambil merokok kami membahas, kenapa rokok tak bisa dibasmi, setidaknya di Indonesia. Kesimpulan diskusi kami ternyata sungguh mencengangkan. Diskusi tak biasa antara 2 sahabat yang awam agama ternyata mampu menjangkau hikmah2 mendalam soal rokok, hahaha…!

Rokok tak bisa dibasmi karena dia ‘menghidupkan’. Sulit kan, memahaminya? Yaa… karena memang disukusi kami sekali ini sungguh tak biasa. Pabrik rokok tak mungkin ditutup karena dia telah ‘menghidupkan’ banyak nyawa selama ini. Betapa banyak karyawan pabrik itu yang muslim? Keluarganya. Belum lagi, rokok adalah property utama para pedagang kaki lima. Penjual pampers, shampoo, sabun, pisau silet, pena dan lain2 butuh rokok sebagai identitas warungnya.

Kami tidak bicara dan membela para perokok dan pabriknya. Keuntungan besar dari penjualan rokok tentu bukan bagi karyawan atau pihak terkait lainnya. Profit terbesar dan yang besar tentu dimiliki oleh para pemilik pabrik, distributor dan pengusaha2 terkait dengannya yang rata2 non muslim. Bagi mereka tentu saja untung besar, walau tentu tidak berkah.

Lain halnya dengan karyawan, keluarga dan pengusaha2 kecil rokok yang muslim. Rokok adalah ‘berkah’ dari usaha mereka dalam memperjuangkan hidup. Harap diingat juga, walau masih kontroversi, tapi sampai saat ini belum ada seorangpun ulama yang 100% berani mengharamkan rokok. Padahal sudah tugas ulama untuk beristijma’ soal-soal yang menyangkut umat, kan?

Saat dulu Ajinomoto diminta tutup karena komposisi ramuannya mengandung minyak babi, ulama besar sekelas Zainuddin MZ saja tak mengamininya. Revisi ramuaanya, tanpa perlu menutup pabriknya. Bakal banyak pengangguran jika pabriknya ditutup, serta efek2 domino lainnya. Padahal sudah jelas dan tegas unsur haram yang termuat di dalamnya.

Islam itu agama yang hikmah. Butuh tinjauan lebih jauh dan mendalam untuk menemukannya. Islam agama social,  bukan agama yang tertutup. Itulah kenapa jenis usaha terbaik yang dianjurkan Islam adalah berdagang. Sebab di dalamnya ada proses sosial, transaksi jual beli yang saling menghidupkan. 

Islam agama yang fair. Karena itu, walau bukan negara Islam, kita malah diperintahkan untuk belajar sampai ke negeri Cina, sebab memang merekalah ‘guru’ yang tepat untuk berdagang.
Islam adalah agama yang rahmatal lilalamiin. Rahmat, tidak saja bagi manusia, tapi juga bagi alam seutuhnya. Perusahaan2 raksasa di dunia, Indonesia dan juga di banyak Negara Muslim lainnya rata2 dikuasai oleh pihak non muslim, walau pekerjanya muslim. Usaha mereka, maju, bertahan dan berkembang karena itu ‘menghidupkan’ banyak umat muslim sebagai karyawannya. 

Allah Tuhan semesta Alam. Allah Maha Adil terhadap semua makhluknya. Jadi, tak peduli Islam atau bukan, rejekiNYA selalu akan tercurah bagi siapa saja. Jadi soal pabrik rokok dan sejenisnya itu cuma soal berkah dan tidaknya usaha manusia dalam memperjuangkan hidupnya. Ada yang usahanya diberkahi Tuhan dan ada juga yang tidak. Itu soal hikmah. Dan bicara soal hikmah memang butuh kajian yang mendalam. Apakah usaha kaki lima kita jadi usaha yang berkah karena di dalamnya juga ikut menjual rokok? Apakah pakaian yang kita pakai berkah, sebab diproduksi di negara2 Barat, yang lalu lintas ekspor-impornya bisa saja diselingi dengan aneka transaksi korupsi? Wallahualam….!

Sense of Issue



Imajinasi tentang perkara kerak timah solder itu memang mengerikan saya. Tapi apakah saya tak bisa mengkreasi kegembiraan karena kasus itu? Uupps, jangan salah! Saya adalah ahlinya, hahaha…!

Kebiasaan nonton ‘Halo Selebriti’  membuat saya peka terhadap isu. Di lingkup kecil seperti di perusahaan tempat saya bekerja, perkara itu terhitung besar. Jadi mana mungkin saya dan juga kami semua bisa melewatkan hal2 itu begitu saja. Setidaknya demi kegembiraan bersama.

Dengan lagak bak detektif ulung saya beberkan analisa saya. Maka saya tuduhlah seorang teman, hahaha….!

“Hilangnya hari apa? Minggu, kan? Kenapa Cak Nur hari Minggu itu tiba2 bertugas di bagian sablon? Padahal hari sebelumnya dan juga  hari ini, Senin tidak?”, kata saya memancing kegembiraan.

“Waaah, iyyya juga! Cak Nur layak dicurigai nih!”, teman2 yang lain mulai terhasut. Sementara Cak Nur yang tahu persis kelakuan saya cuma mbrengut, hahaha…!

“Kalian lihat deh! Darimana Cak Nur bisa beli sepatu baru? Padahal sekarang kan bulan tua?”, tambah saya makin meyakinkan, hahaha….!

“Orang gila kalian dengerin”, Cak Nur protes dan kabur, hahaha…!

Intinya adalah, saya, kami dan kita biasanya peka  dengan gosip termasuk juga tentunya dengan isu-isu hukum. Jika kita tertarik demi kegembiraan, adalah aneh kenapa aparat hukum malah tak mau tahu dan malah abai terhadap isu2 hukum, bahkan saat banyak bukti sudah terpapar di depan mereka. Lihat saja kasus Trio Macan, misalnya!

Berkali-kali akun ini membeberkan data2 hukum dan sampai mengajukannya kepada aparat KPK, Kejaksaan dan Kepolisian semua cuek. Tak ada yang diusut lebih lanjut. Mana kepekaan mereka? Sebaliknya, demi satu pesanan kepentingan, malah si Macan yang ditangkap?

Saya bela si Macan? Terserah mau bilang apa. Saya sangat sadar bahwa mereka sudah disusupi dan terkontaminasi pihak2 korup itu sangat mungkin. Bahwa cuap2 mereka tak layak dipercaya 100% saya juga sadari. Tapi selama apa yang mereka sampaikan layak dipercaya, mereka adalah inspirasi, pejuang yang sangat layak untuk kita bela. 

Saya melihat berita penangkapan mantan adminnya itu, termasuk juga blow-up besar2an kasus status Facebook Ervani Handayani, atau M Arsyad si tukang sate itu adalah untuk tujuan politik semata. 100% kepentingan politik. Bahkan kasus si tukang sate adalah kasus basi berbulan yang lewat, kenapa kok tiba2 diupdate lagi? Tujuannya apalagi kalau bukan untuk meneror akun2 kritis lainnya, selain untuk pengalihan isu2 kebijakan hitam pemerintah yang lain.

Mungkin tak ada yang sadar, kenapa saya posting hal2 basi kayak perkara kerak timah solder ini? Nah begitulah pula cara kerja media2 milik dan bayaran politisi itu menghipnotis pemirsa. Saya juga cuma sekadar mengalihkan isu bahwa saya sedang galau dan kangen Dian, hahahaha….! *Galau Lagi