Follow Donk...!

10 Jun 2014

Gatal Itu Takdirnya Garuk Bag.2



Saat itu dia pasti belum liat saya. Akan menegangkan nanti pastinya saat sesi photo-photo keluarga. Apalagi cuma saya wakil dari pihak bapak saya. Sudah pasti banyak moment-moment photo bersamanya. Paling tidak photo bersama dari saudara orangtua pihak laki-laki, saya tentu mewakili bapak saya. Photo bersama sepupu pihak laki-laki tentu saya juga mewakili diri sendiri. Photo bersama seluruh sepupu pihak laki-laki, juga saya. Photo bersama keluarga laki-laki, lagi-lagi saya. Photo bersama seluruh kerabat pihak laki-laki. Membayangkan itu semua saya berniat kabur, hahaha…!

Tapi tak mudah, sebab pintu mesjid yang cuma satu tentu membuat saya akan jadi sorotan. Apalagi posisi saya justru berhadapan dengan pintu, yang artinya saya mesti melintasi semua orang untuk menyeberang keluar.

“Oke, nanti pas kegaduhan sesi photo-photo tentu ada peluang”, pikir saya.

Itu benar, tapi saya sudah berpikir terlalu jauh. Acara berikutnya malah lebih horror. Sungkeman terhadap SEMUA keluarga, satu-persatu. HAAAAAAH….?

Semua keluarga yang hadir dibariskan melingkar mesjid. Entah karena tempat yang terlalu kecil, atau karena yang datang terlalu banyak, atau bisa juga karena barisan yang tak rapi, memungkinkan saya untuk duduk di belakang, paling pojok. Format sungkemannya pun member keuntungan buat saya. Dimulai dari keluarga masing-masing. Jadi pihak laki-laki start ke keluarganya, yang wanita juga sungkeman ke keluarganya dulu. Barulah kemudian diteruskan ke keluarga pihak lawan, hah…!

Sepupu saya tentu saja melihat saya dengan sempurna. Tapi setelah sungkeman, saya pilih membaur sama penonton netral. Jadi saya selamat, pengantin wanita tak perlu sungkeman kepada saya, hahaha…! Apajadinya  way, bisa mati suri dia kalau tahu dia bakal sungkeman dengan saya. Sering atau tidak, selalu atau jarang dia juga termasuk orang yang pernah saya gombal-gombal saat bekerja dulu, wkwk…!
Sampai di situ imajinasi saya? Tidak, bahkan lebih horror lagi. Saya bayangkan saya juga sudah menikah dengan Dian, baru-baru ini. Otomatis dia juga mesti sungkeman dengan Dian, kan? Padahal Dian adalah ‘murid-nya’ langsung dulu saat PKL di tempat kerja kami, wahahaha…!

Selamat dari sungkeman, acara photo-photo. Untuk beberapa sesi memang saya sukses menghilang. Tapi akhirnya ketahuan juga. Sesi terakhir pihak laki-laki, photo bersama seluruh keluarga nama saya ikut diabsent. Saya tak tau pasti apakah saat itu dia sudah mengenali saya, sebab saya tak berani melihat ke arahnya juga. Sepertinya sudah, sebab saya muncul paling akhir. Itupun dari luar mesjid, haha…! Itulah mungkin pertama kalinya dia sadar, bahwa saya sudah jadi abang iparnya, wkwkwk…!

Setelah itu saya duduk di luar mesjid, sementara yang lain mulai berjalan menuju tempat pesta, di lokasi yang sama, beberapa meter saja dari mesjid. Saya sempat berencana untuk kabur, tapi tak mungkin sebab kami berangkat rombongan pakai bus pariwisata, hehehe…! Selagi menimbang-nimbang rencana kabur, ehh dua orang penerima tamu ternyata juga teman-teman dari tempat kerjaan itu, hahaha…! Waah, kalau begini bisa berabe ini. Bentar lagi para tamu akan mulai datang, dan beberapa pasti ada teman-teman dari tempat kerjanya, yang otomatis juga teman saya. Kan baru 3 bulan saya dipecat, wahaha…!
Bagaimana serunya? Post berikutnya, hehehe…!

Gatal Itu Takdirnya Garuk Bag.1



Allahu Akbar…

Buat teman-teman yang masih meragukan masa depan saya dengan Dian, juga bagi Dian apabila juga masih ragu terima, saya ingin berbagi pengalaman ajaib yang saya alami kemaren, seharian. Bahwa jika sutradaranya Allah, segala skenario akan berjalan sesuai dengan kehendakNYA. Dan saya yakin bahwa jodoh saya memang Dian, wkwkwk...!

Jodoh itu kiri dan kanan, luar dan dalam, atas dan bawah. Bertolak belakang bukan untuk menjauh. Perbedaanlah yang menciptakan kesempurnaan. Gatal jodohnya garuk. Betapapun menyebalkannya gatal, ternyata garuk adalah solusi yang paling mengasyikkkan. Dian suka band Ungu, sedang saya sering mengejek-ejeknya. Dian suka menjelek-jelekkan Ribas, padahal saya suka. Saya suka Dian, tapi Dian tak suka saya. Itulah jodoh, hahaha...!

Jika Allah berkehendak, apa saja akan terjadi. Rumusnya: Jika harus terjadi takkan bisa ditolak. Jika memang tak bisa, takkan bisa dipaksa. Gatal pasti akan digaruk. Kemaren adik (sepupu) saya menikah. Aneka prosesi berjalan lancar. Bahkan ustad yang memberi ceramah pernikahan menyebut, proses ijab qabul berlangsung hanya sekitar 6 detik. Rekor? Proses ijab qabul hanya diikuti oleh orang dari catatan sipil/KUA, orangtua pengantin wanita, calon suami, 2 orang saksi dan sekian banyak penonton. Pengantin wanita ‘disembunyikan dulu’, kata KUAnya. Setelah ijab qabul selesai, terjadilah peristiwa yang sama sekali tak saya dan semua bayangkan.

Saat berhenti dari tempat kerjaan sekitar 3 bulan lalu saya sempat berpikir bahwa saya benar-benar akan bercerai darinya. Aneka kenangan di sana sungguh indah dan penuh kegembiraan. Kegembiraan itu bukan milik saya sendiri, tapi juga bagi banyak orang di sana. Saya merasa menjadi seorang seleb, artis. Tapi saya artis yang unik, meski baik, hahaha...! Sebagai artis yang baik, saya tentu tak ingin mengecewakan fans-fans saya, hahaha...! Tak banyak yang tau bahwa saya benar-benar telah berhenti. Kepada semua saya cuma bilang bahwa saya di-break, artinya akan bekerja lagi sebulan kemudian. Saya tak jujur? Jangan sembarangan. Ada banyak hal pribadi (tapi bukan aib) yang tak ingin buka pada semua orang. Bagi yang sungguh-sungguh ingin tau, silakan kontak saya, via apa saja, hahaha…! Semua nomor, email dan hal lainnya saya tak pernah rahasiakan.

Saya harus bilang apa? Saya katakan pada semua, bahwa kontrak saya tak diperpanjang, tak satupun yang percaya. Saya bilang dipecat, apalagi? Mereka memang tahu bahwa saya punya daftar bolos mencapai 40 hari dalam 6 bulan terakhir. Itu baru bolosnya. Ijin juga mencapai 17-an hari, hahaha…! Sakit? Tak pernah donk! Saya ini laki-laki. Laki-laki itu pemimpin, setidaknya untuk keluarganya sendiri yang mudah-mudahan termasuk Dian di dalamnya, aamiin…! Jadi mesti kuat. Selama 3.5 tahun bekerja di sana, daftar sakit saya 0 hari. Ayoo, siapa yang bisa tandingi, hehehe...! Intinya, tak ada yang percaya bahwa saya memang berhenti bergabung dengan mereka.

Jadi saya katakan saja bahwa saya memang cuma di-break. Itu lebih bisa mereka imani. Lagipula saya memang tak bohong, kok! Saya 100% bisa kerja lagi di sana, kapan saja dan bebas pilih departemen mana saja. Itu manejer HRD-nya sendiri yang katakan langsung kepada saya.

Tapi akibatnya juga tak enak. Beberapa yang berteman di Facebook bahkan berkali-kali inbok dan komen di status kapan saya kerja lagi. Kangen ya? Hahaha...!

Tapi siapa yang sangka bahwa mereka adalah bagian dari saya. Setelah ijab qabul selesai dan pengantin wanita ditampilkan, saya terkejut, takjub, tak percaya. Untuk lebih meyakinkan, Saya tanya kerabat yang duduk bersebelahan soal pengantin wanita, teryata dia adalah salah seorang dari mereka, hahaha...! Dia adalah teman kerja saya (waktu itu) di sana. Allahu Akbar….!

Belum Habis (:

25 Mei 2014

Trip To The Teachers Bag.2



Guru pertama, masih mengenali saya dengan sangat baik. Sebenarnya dia mulai mengajar di sana saat saya sudah kelas 2. Jadi 2 tahun saja dia mengenal saya. Usianya saat itu juga masih muda, paling sekitar 25-an tahun saja. Taksiran saya, sekarang dia baru beranjak 40 tahun. Walau begitu, saya sungguh tersanjung dia masih mengenali saya dengan sempurna. Itu jika dilihat, lagi-lagi dari kemampuannya menyebut nama lengkap saya yang memang sulit diingat. Asrul Khairi.

Saya bangga, sebab dia mampu mengingat meski saya mungkin bukanlah murid favoritnya. Mata pelajaran yang diajarkannya adalah malah salah satu yang saya tidak suka, yaitu bahasa Indonesia, hahaha…! Jangan kaget, kemampuan saya dalam menulis blog ini mungkin sama sekali tak ada hubungannya dengan Ibu itu, maaf L Lihat saja betapa kacaunya titik koma dalam setiap tulisan-tulisan saya. Tapi pasti, sedikit banyaknya kemampuan saya berbahasa Indonesia tentu saja gara-gara Ibu yang satu ini, hehe…! Saya hanya ingin menegaskan bahwa di masa sekolah dulu, nilai pelajaran mengarang saya sungguh memilukan, jika ukurannya adalah bagi seorang idola cilik . Dan jika Rekreasi Hati jadi diterbitkan beberapa saat lagi Insya Allah, aamiin…! namanya pasti akan saya cantumkan di bagian thanks point-nya. Mohon ingatkan, jika saya lupa, hehe…!

Guru berikutnya juga masih ingat saya. Dan bisa jadi saya adalah salah satu murid favorit seumur hidupnya. Sebaliknya, dia adalah juga salah seorang guru favorit saya dulu. Guru Matematika ini juga masih ingat saya nama lengkap saya. Guru ini sempat minta photo bareng yang sampai sekarang saya sesali, sebab tidak mengindahkannya. Padahal saat itu kami memang bawa khusus camera digital, Nikon DLSR 

Selain dengannya, seorang guru lain, cowok juga sempat saya salami. Tak ada kesan yang spesial, sebab sepertinya dia sudah lupa dengan saya. Saya menebak saja, sebab sikapnya datar meski tersenyum. Guru Bahasa Inggris. Ada yang ingat siapa, hehehe…?

Sebenarnya masih ada tiga atau empat orang guru saya lainnya yang masih mengajar saat itu. Hanya saja sedang tidak berada di tempat. Perjalanan di sekolah ditutup dengan menemui guru yang memang benar-benar telah saya niatkan untuk menemuinya. Guru inilah yang dulu kisahnya pernah saya posting di post-post sebelumnya.

Kepada yang lain, si Kecil sudah bilang bahwa tujuan saya ke sekolah ini adalah ‘hanya’ untuk menemuinya. Bikin risih sebenarnya, sebab terhadap guru-guru yang lain pun saya memendam kerinduan yang sama. Bedanya, terhadap yang satu ini saya punya ‘hutang’ yang ingin saya bayarkan. Ada urusan yang mesti dituntaskan.

“Dia ada di koperasi sekolah. Di sudut sana!”, kata guru-guru yang lain.

Sesampainya di sana ibu itu pun tercengang. Sama yang kecil dia masih ingat. Beberapa waktu sebelumnya mereka juga pernah bertemu di Jogja, saat si Ibu ikut dalam rombongan anak-anak Pramuka yang mengadakan kegiatan di sana. Sedang terhadap saya dan yang tengah dia lupa. Dia cuma bilang,

“Siapa diantara kalian yang namanya Asrul Khairi. Ibu cuma ingat nama yang itu”, katanya.

Kami berdua biarkan dia mengingat dan coba menebak sendiri.

“Yang ini, kan?”, katanya kepada si Kecil sambil menunjuk ke arah yang Si Tengah.

Alhamdulillah….! Saya gembira tebakannya salah. Sebab itu berarti saya masih terlihat lebih muda ketimbang yang Tengah, wahahaha…!

Setelah itu kami bercerita panjang lebar.  Kami di sini maksudnya mereka, sebab saya masih terlalu sibuk berpikir,

“Ibu ini dulu ngajar apa ya?”, hahaha….!

Tapi di sela-sela cerita akhirnya saya tahu juga, sebab di sebutkannya sendiri. Biologi, wkwkwk….!

Pantas saja saya tak ingat, sebab biologi adalah mata pelajaran yang terhadapnya saya merasa ngeri. Ketimbang pelajaran biologi, saya lebih suka sama guru biologi, ehh…hahaha…! Tapi itu juga kalau guru biologi itu namanya Dian Rawa Sari, wkwkwk… J
 
Dan kisah di sana ditutup dengan sesi photo-photo (:



  





Yang muda duluan


 



Yang tengah berikutnya














Terakhir, Senior, hehehe... (:

Trip To The Teachers Bag.1



Tekad untuk bertemu guru yang pernah saya ceritakan dulu akhirnya terwujud juga, meski akhirnya cuma diikuti oleh kami yang cowok-cowok. Yang tak saya sadari si Rahmat, cowok yang paling kecil rupanya kemaren juga sudah melakukannya sendirian saja. Baiknya, dia bersedia ikut lagi demi menemani abang-abangnya yang sebenarnya sudah tak akrab lagi dengan sekolah itu. Berbeda dengan kami berdua yang cuma di sana 3 tahun saja, sampai tamat MTs, sementara dia dan juga 3 adik saya yang lain (cewek semua) bersekolah di sana selama 6 tahun, MTsN kelas satu sampai menamatkan MAN kelas 3-nya. Sekolah yang berbeda memang, tapi cuma di batas pagar. Lagipula banyak guru MTsN-nya yang juga mengajar di tingkat MAN-nya. Sudah begitu dia aktif pula di berbagai kegiatan sekolah, seperti Pramuka misalnya. Berbeda dengan saya,  OSIS belaka. Itupun cuma sebagai anggota biasa, hahaha…!

Sampai di gerbang sekolah, semua saling tolak mendahului masuk. Si kecil masuk sendirian dan kami berdua menunggu di luar tanpa kepastian. Tapi tekad, dan ingin bertemu guru itu, plus rasa bersalah seperti yang pernah dulu saya posting, saya akhirnya membulatkan hati kami untuk ikut menyusul ke dalam. Si kecil terlihat begitu akrab sama guru-guru lain yang memang banyak masih mengenalnya, meski sudah 10 tahun lebih tamat dari sana. Rata-rata guru-guru muda dan masih baru, sementara guru-guru yang mengajar saya dulu kebanyakan sudah pensiun dan atau pindah mengajar di sekolah lain. Sudah 17 tahun, euyyy…!

Dan yang menyebalkan, diantara beberapa guru baru itu ternyata ada seorang guru yang pernah menjadi kakak kelas saya. Di sekolah ini juga. Setingkat di atas saya dan satu kampung pula. Menyebalkan, karena dia tahu persis, meski nama lengkap saya dia lupa. Sebaliknya saya betul-betul buta akan dirinya, hahaha…! Sempat juga saya intip nama yang tertulis di badge-nya. Berhasil tahu nama, tapi gagal ingat siapa orangnya. Itulah kawan, kalau jadi murid sekolah itu mesti pintar dan atau badung, wkwkwk…! Biar semua terkenang akan kisah silammu, hehehe…!

Ibu Guru yang satu ini (cantik lho, dia, hehehe…!) kenal benar saya seluruhnya. Dimana saya tinggal, nama bahkan profesi bapak dan ibu saya pun dia tahu persis. Malangnya lagi, dia juga tahu persis di mana tempat dan teman-teman main saya, hahaha…! Terakhir, karena saya yang pemalu ini (cieeeh…ciehhh…!) ngotot untuk gengsi memperkenalkan nama lengkap, dia ngancam,

“Awas saja. Nanti kutanya langsung saja sama Bapakmu”, katanya, hahaha…!

Saat itu saya benar-benar salah tingkah. Bukan karena orangnya cantik begitu. Kalau di kampung saya itu, wanita cantik itu sudah biasa sangat, haha…! Saya gelisah, sebab di dalam ruangan saya melihat sangat banyak guru-guru yang sebaya dengannya. Jangan-jangan bukan cuma dia yang mantan teman saya. Siapa tahu diantara mereka juga ada yang mantan teman saya lainnya, dan kemungkinan besarnya saya juga sudah lupa, hahaha…!

Nah kan…!

 “Hooooi, Siraul Nan Ebat….! Dah berapa lama balik kampung?”, kata seorang Ibu muda yang sudah terlihat tua (bisa kiamat ini kalau dia baca, hehe…!), wkwkwk… (:


Dia manggil nama Facebook saya. Tapi yang ini bukan guru, cuma emak-emak penjual apa gitu, yang dulu mantan teman, ehh… bukan, musuh sekelas. Dia ini termasuk jajaran anak pintar, meski masih di bawah level saya, wkwkwk… J Di era komik Petruk dulu memang sesama anak pintar itu saling bermusuhan. Tak taulah, di jaman halo Selebriti begini. Masih begitu, kah? Dia kelihatannya pulang dari mengantar semacam dagangan ke kantin sekolah.
 
Segitu dulu ya, ntar di sambung lagi….