Follow Donk...!

21 Jan 2018

Horror Senayan

Ketua MPR: Ada 5 fraksi saat ini di DPR yang mendukung LGBT dan pernikahan antara Joko dengan Widodo.

Yang memberitakannya adalah Republika, media mainstream yang di generasi dan kelasnya 'paling layak dipercaya'.

Ditambah beberapa kali pernyataan Mahfud MD (termasuk di acara ILC) yang mengatakan pendukung LGBT telah masuk di DPR.

Siapa yang takkan percaya?

Pembantahnya:

1. AktualCom yang memposting ulang berita 2 tahun lalu.

2. Kemudian ada 2 orang 'anggota DPR biasa yang tak kita kenal' yang mengaku mengikuti proses pembahasan RUUnya.

Nah siapa yang lebih layak kita percaya?

Tiba-tiba Cak Imin, Ketua Umum PKB meminta rakyat agar jangan menyebar hoax, sambil memuji manuver Ketua MPR untuk menggugah kesadaran agar proses pembahasannya dipercepat. Artinya lagi, Ketua MPR telah membuat hoax. Ketua MPR pembuat hoax kok dipuji? Rakyat yang menyebarkannya malah dikecam? Yang membuat kan Ketua MPR? Rakyat cuma menyebarkan. Mestinya Cak Imin ingatkan Ketua MPR dan laporkan ke polisi. Ini malah dipuji, sementara rakyat diminta mengambil hikmah. Itu perkara pidana, Caaaak...!

Logikanya, Ketua MPR adalah Ketua wakil rakyat sekaligus ketua wakil daerah dan seorang Ketua Partai pula. Lebih layak dipercaya mana ketimbang 2 orang wakil rakyat dari 2 dapil tertentu saja? Lebih dipercaya mana, Republika yang mengutip langsung pernyataan Ketua MPR atau AktualCom yang memposting ulang berita lama?

Saat mulai mengerti duduk persoalannya tiba-tiba muncul lagi pernyataan Ketua DPR. Belum ada sidang membahas RUU LGBT dan nikah sejenis. Nah, sekarang apa? Ada 3 pernyataan, padahal cuma ada satu kebenaran. Siapa yang bohong sebetulnya? Ketua MPR, anggota DPR? Ketua DPR? Apapun itu, semuanya mengerikan, hiiiii...!

19 Jan 2018

Misalnya Soal Ulang Tahun

Tak perlu yang berat-berat, soal boleh tidaknya ulangtahun saja saya belum temukan narasi yang kuat dari para ulama. Itulah kenapa sampai saat ini saya masih selalu memberi ucapan selamat ulangtahun pada teman atau kerabat. Yang dilarang apanya, mengucapkan selamat atau merayakannya?

Jika ucapan selamat juga termasuk yang dilarang, bagaimana dengan ucapan selamat atas suatu prestasi atau suatu kesuksesan seseorang misalnya? Jika perayaannya yang dilarang, bagaimana dengan traktiran dari teman yang baru saja meraih suatu keberhasilan? Juga tidak boleh?

Karena ada ritual yang berpotensi sirik? Misal berdoa dihadapan lilin? Berarti jika prosesi tersebut ditiadakan boleh, donk?

Dalil umum yang biasa disampaikan adalah meniru suatu kaum termasuk bagian dari kaum tersebut. Dalilnya tentu saja sahih dan kuat. Tapi konteksnya belum tentu tepat. Kaum Syiah biasa memanggil para pemuka agamanya dengan sebutan Imam. Imam Ali, Imam Hasan atau Imam Husein. Kita sendiri umat Islam juga membuat panggilan yang serupa terhadap Imam Syafi'i, Imam Maliki, Imam Hambali dan sebagainya. Apakah kita juga termasuk golongan Kaum Syiah?

Itu baru sekedar soal ulangtahun. Bagaimana dengan persoalan lainnya? Dalam ceramah agama selalu diingatkan bahwa syirik itu dosa tanpa ampunan. Seluruh umat Islam pasti telah paham. Sayangnya, contoh-contoh prilaku syirik yang disampaikan ulama selalu seputaran dukun, penglaris, pesugihan dan sejenisnya. Rasanya belum ada ceramah ulama yang mengingatkan betapa bahayanya minum air zam-zam sambil berharap enteng jodoh, otak encer, rejeki lancar. Jarang sekali kita dengar bahwa berdoa di hadapan bintang jatuh, berharap di depan poto-poto provokatif agar bisa pergi haji ke Mekah atau masuk surga dengan klik LIKE atau menulis AAMIIN di kolom komentar. Bukankah itu semua perbuatan syirik? Fakta betapa eksisnya akun-akun pengemis LIKE dan AAMIIN tersebut adalah bukti betapa miskinnya narasi dakwah diterima umat.

"Iyya kana' budu, wa iyya kanasta'in.
Ihdinasshirotal mustaqim.
Shirotalladzina an'amtu 'alaihim, ghoiril maghdubi 'alaihim, waladdhollim" ~ Al-Fatihah ayat 5-7.

Hanya kepadaMU kami menyembah, dan hanya kepadaMU kami minta pertolongan.
Tunjukilah kami jalan yang lurus.
Yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan mereka yang Engkau murkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesat.
Aamiin....!

ILC Imajiner

Bang Karni, saya setuju dengan apa yang disampaikan Bung Mantap barusan. Kita semua adalah korban dari sistim demokrasi dan bernegara yang keliru. Celakanya yang keliru tersebut terus-menerus kita praktekkan. Ada yang mengerti kekeliruan tersebut, tapi tak berani meluruskannya. Kita semua telah didonktrin untuk 'malu' dianggap aneh. Kita dipaksa berpegang pada yang keyakinan bahwa itu benar, bukan pada kebenaran itu sendiri.

Istilah partai pendukung atau partai oposisi itu sebetulnya tidak boleh ada. Benar, saat pemilihan eksekutif seperti Pilpres atau Pilkada ada koalisi partai. Itu keniscayaan, sebab konstitusi memang mengamanatkan bahwa ada aturan tertentu yang harus dipenuhi agar seseorang bisa diusung sebagai calon pemimpin. Jumlah suara atau kursi. Atau strategi untuk memenangkan calon yang 'memang butuh dimenangkan. Tapi setelah pemilihan koalisi tersebut itu harus bubar. Kabinet berkualitas akan terwujud, sebab tak ada kepentingan partai dan politik lagi di dalamnya. Kabinet bekerja demi negara dan kepentingan rakyat. Kita semua, politisi, pengamat dan komentator politik harusnya berperan dalam mencerdaskan pemahaman politik bangsa. Bukan malah membuat kotak-kotak hitam putih partisan dan oposan. Garis batas yang keliru itu telah memecah belah kita semua. Pendukung Jokowi pasti membenci Prabowo, dan sebaliknya. Padahal sejatinya, belum tentu pemilih Prabowo itu karena memang mendukung Prabowo. Bisa juga karena dia memang tak suka Jokowi. Bingung? Hahaha...!

Begini! Apakah PKS menolak Naga Bonar karena tak suka Deddy Mizwar? Tapi istilah-istilah Partai Pengkhianat, Selingkuh Politik itulah yang menarasikannya begitu. Bahwa bila memilih Deddy Mizwar berarti mendukung partai anti Islam, mendukung klenik dsb. Menolak Deddy Mizwar berarti mendukung Meikarta. Ini kan salah? Tak pernah nonton iklan BengBeng ya? Si Pacar dan Bapaknya pasti sama-sama mencintai si Putri. Tapi si Pacar lebih suka makan BengBengnya langsung, sementara papa si Putri setujunya BengBeng dingin. Mana bisa dipaksakan harus sama-sama suka makan langsung atau tunggu dingin dulu!

Tapi yang demikian digoreng begitu rupa. Kita dibuat berkelompok yang saling bertentangan dengan yang lainnya. Rakyat dipecah belah. Pendukung Jokowi pasti pendukung penista agama. Anti Jokowi berarti intoleran. Yang Islam pasti teroris, sementara yang lain penjaga Pancasila. Apa iya begitu?

Tentu sulit, tapi bukan tidak bisa. Hilangkan istilah-istilah keliru tersebut. Bila pemerintah keliru, berasal dari partai manapun, legislatornya harus mengkritik. Pun begitu sebaliknya. Bila kebijakannya bagus, semua juga harus dukung. Sekarang kan tidak? Barisan dari partai pendukung harus selalu mendukung, walau kebijakan pemerintah tidak pro rakyat. Sementara yang oposisi, sebaik apapun kebijakan pemerintah selalu saja 'diharuskan' menjegal. Ini kan tidak sehat? Sampai Anggun jadi Duta Shampoo Lain sekalipun jika ini diteruskan, dunia politik di Indonesia akan tetap ribut.

Menurut saya satu-satunya politisi yang mengerti dan berpolitik dengan benar yaa, maaf, cuma Bung Mantap inilah. Di jaman siapapun dia tetap vokal mengkritisi pemerintah, walau dia sendiri berasal dari partai pendukung pemerintah. Salah atau benar yang disuarakannya itu soal lain, terserah penilaian dan pemahaman masing-masing kita. Tapi itu telah menjelaskan bahwa memang dia mengerti, begitulah tugasnya sebagai anggota DPR.

Tugas kenegaraan jangan dicampur tugas politik. Itu beda. Presiden dan DPR itu lembaga negara, bukan lembaga politik. Sayangnya konstitusi kita sangat lemah dalam persoalan ini. Mestinya ada aturan yang tegas, bahwa setiap pejabat negara harus mundur dari segala jenjang jabatannya di struktural partai. Selama ini kita hanya mengandalkan etika. Ini keliru. Normalnya seorang kakak ipar tak mungkin main serong dengan adik iparnya sendiri. Kurang paham apa mereka soal etika? Tapi Islam memberi batasan yang jelas, mereka dilarang berduaan, walau dalam rumah orangtua sendiri. Ini kan pelajaran bagus, demi menjaga segala kemungkinan yang mungkin saja terjadi. Tak cukup hanya dengan mengandalkan pemahaman etika saja.

Kesejahteraan rakyat babak belur. Menko Puan minta rakyat kurangi makan. Apa Bung Masinton berani mengkritisi pernyataan Tuan Putri? Tak mungkin, sebab tak etis seorang kader partai mengkritik, apalagi mengecam petinggi partainya sendiri. Karena tak punya aturan hukum yang tegas, tugas kenegaraan Bung Masinton sebagai anggota DPR tak bisa dijalankannya karena politik. Kepentingan negara kalah melawan kepentingan politik. Negara tak berdaya dihadapan politik.

Mahar politik? Ini juga istilah yang akan menjebak kita untuk selalu salah dalam berdemokrasi. Ini buntut dari jebakan demokrasi kita. Saya setuju bahwa dana parpol beradal dari APBN seperti yang diusulkan oleh Bung Mantap sejak lama. Tapi saya pikir ini masih sulit kita lakukan sekarang. Harus dibuat dulu aturan yang jelas dan tegas soal penggunaan anggaran publik. Bayangkan ada import ilegall ribuan senjata yang dianggap beres hanya karena telah diamankan TNI. Apa sanksi yang diterima Polri? Bukankah pembeliannya menggunakan anggaran publik? Bagaimana pertanggungjawabnnya? Tak ada. TAK ADA.

Ujung-ujungnya adalah kita harus membuat hukum yang kuat. Pejabat negara mengemban tugas negara. Politik urusan parpol. Jika batasan hukumnya jelas, dunia politik kita akan mandiri, cerdas dan bersih. Kehidupan dan kesejahteraan rakyat akan meningkat.

Mandiri dan cerdas, sebab parpol akan berusaha sendiri mencari dana operasional partai. Bersih, karena takkan ada lagi dana-dana siluman sebab seluruh sumber pendanaannya transparan. Parpol dan donatur juga akan saling diuntungkan. Mesin parpol bisa digerakkan karena kegiatan, sosialisasi dan kampanyenya didukung oleh sponsor yang diiklankan dalam setiap kegiatan kepartaian. Ini kan mutualisme yang bersih?

Politik menjadi bersih tentu akan berdampak baik bagi kesejahteraan dan kemajuan bangsa. Seluruh pejabat negara fokus bekerja sesuai yang diamanahkan rakyat padanya, sebab tak diusik lagi oleh kepentingan partai. Korupsi akan hilang, karena seluruh transaksi politik tidak lagi berurusan dengan pejabat negara, tapi antara parpol dan pengusaha.

Gitu aja Bang Karni!

Kita rehat sejenak!

Ceramah dan Khotbah Jumat

Bagaimanapun, saya sungguh resah begitu melihat banyaknya muslim yang PeDe mencela agama bahkan Tuhannya sendiri. Sungguh, saya takjub sekali terhadap nyali orang ini. Konon dalam suatu hikayat (entah benar atau tidak Allahu 'alam) bahkan Iblis, Maharaja Setan saja enggan berteman dengan orang ini. Alasan sang Iblis, dia mengaku memang ogah sujud pada Nabi Adam as, tapi dia tetap takut pada murka Allah SWT. Jadi jika ada manusia berani mencela Tuhannya sendiri, wajar pula Iblis gentar berdampingan dengannya.

Balik ke awal, keresahan saya makin memuncak dipicu oleh penistaan agama oleh Ahok. Bukan membela agama yang dianutnya, banyak malah yang membela sang penistanya. Beragama, tapi membela penista agamanya? Ini pemeluk agama yang aneh.

Kenapa ceramah gagal memantik ghirah? Kenapa banyak khotbah yang buat ngantuk jamaah? Satu-satunya yang saya bisa simpulkan adalah karena penceramah/khatib lemah narasi. Ceramah atau khotbahnya lebih terkesan memberi informasi, bukan mengajak ber-Islam dengan sebenarnya. Jumat barusan misalnya. Nyaris separuh isinya adalah ayat Al-Quran atau Hadist. Separoh lainnya? Terjemahannya. Pengganti nyaris adalah kalimat 'hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah SWT' dan sejenisnya.

Ceramah agama jika sekedar membagi informasi seperti itu, di timeline Facebook saya juga banyak. Mulai dari postingan ABG pasca alay, sampai file suara ulama yang sudah meninggal juga ada. Maaf, bukan tak menghargai, tapi umat Islam di Indonesia tak sekedar butuh informasi ajaran agama. Lebih mendesak yang kita butuh adalag spirit menegakkan agama.  Ini sangat berbeda dengan umat Islam di negara lain. Ghirah mereka kuat karena walau sebagai minoritas, narasi Islam yang mereka terima juga sangat kuat.

Saya tak meragukan kualiatas keilmuwan para ulama kita, termasuk para penceramah dan khatib-khatib dan guru-guru ngaji kita semua. Persoalannya adalah, berapa banyak ajaran dan ceramah mereka yang membekas awet dalam diri kita? Dan kalau ada, kenapa bisa awet? Ini jelas bukan karena soal tinggi rendahnya pengetahuan beragama mereka. Ini pasti menyangkut persoalan teknis cara berdakwah dan ceramahnya.

Persoalan ini hendaknya mesti jadi perhatian serius MUI, Kemenag atau atau pihak terkait lainnya. Persatuan atau ikatan Muballigh mesti bisa lebih serius membina kader-kader calon muballighnya. Jangan sampai ada lagi khatib Jumat yang berceramah dengan membaca buku Kumpulan Khutbah Jumat seharga 50-70an ribu rupiah. Khutbah Jumat adalah rangkaian utuh dari kewajiban ibadah sholat Jumat. Jangan direndahkan begitu! Khatib Jumat mestinya berkhutbah, bukan membaca buku kumpulan khutbah. Imam adalah yang paling fasih bacaan shalatnya. Mestinya khatib juga yang paling kuat narasi ceramahnya. Menyedihkan bila ulama ceramah tak didengar, ditinggal tidur, sementara tulisan sesat kaum liberal yang karena kaya narasi seperti Ade Armando, Ulil, atau Sahal dijadikan rujukan.

Ampuni kami yaa, Allah...!

12 Jan 2018

Tuyul, Celengan dan Berkah

Benarkah celengan tersebut dibobol oleh tuyul? Atau jangan-jangan hal tersebut adalah karena berkah yang dicabut Allah SWT. Sebab sampai saat ini saya tetap percaya bahwa berkah itu didapat dari sesuatu yang mengalir dan beredar, bukan dari segala yang ditumpuk dan ditimbun. Yang menyehatkan adalah darah yang lancar mengalir, dan akan sakit bila terjadi penyumbatan. Ekonomi yang menghidupkan itu adalah uang yang beredar di pasar. Harta yang ditimbun itulah biang penyakit. Ekonomi akan mati bila aset dibekukan.

Allah SWT punya banyak cara untuk mengingatkan hambaNYA. Alih-alih menuduh tuyul, baiknya kita instrospeksi diri masing-masing. Kita punya tetangga yang sedang kesulitan, ada teman yang butuh bantuan. Berkah (kebaikan « KBBI) apa yang kita dapatkan dari uang yang berada dalam celengan?

Betapa banyak kita mendengar kisah haru nenek-nenek yang akhirnya sampai akhirnya berhaji karena rutin menginfakkan sebagian rejekinya, walau cuma seribu dua ribuan belaka. Sebaliknya, juga sering kita baca sejarah betapa banyak orang kaya pelit yang tiap sebentar keluar masuk rumah sakit. Uang yang disimpannya itulah biang kegelisahannya. Apalagi bila uang tersebut berasal dari uang haram. Mau diedarkan tak berani, disimpan buat was-was selalu. Ada saja kejadian tak diduga dan diharap yang menggerus habis simpanannya tersebut. Itu adalah skenario Allah SWT.

Orang yang mendapat masukan adalah yang membuka diri. Yang banyak memberilah yang juga akan banyak menerima. Karena yang mendapat ganti adalah yang bersedia rugi. Ini rumus yang sederhana, yang sayangnya sering kita lupa dan abai terhadapnya.

Bongkar celengannya dan edarkan uangnya. Berapa banyak janji Allah SWT dalam Al-Quran terhadap orang yang menginfakkan sebahagian rezekinya di jalan Allah SWT. Itu bukan janji kosong. Beragam kisah telah menunjukkan pada kita pembuktiannya.

"...tak ada keraguan di dalamnya (Al-Quran). Petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. Yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib, mereka yang mendirikan sholat dan mereka yang menginfakkan sebagian rejeki yang Kami anugerahkan kepada mereka" ~ Al-Baqarah ayat 2-3.

10 Jan 2018

Kelola Jengkelmu, Teman!

Dari segi penulisan Rekreasi Hati itu sebetulnya buku yang sangat buruk. Saya bahkan berani klaim itu mungkin terburuk dari yang pernah ada sepanjang sejarah dunia kepenulisan. Saya sama sekali tak yakin guru-guru bahasa Indonesia saya di sekolah dulu akan bangga dengan buku Rekreasi Hati tersebut. Saya malah bisa membayangkan betapa kecewa, malu dan marahnya mereka begitu mulai membaca buku tersebut. Tapi it's OK!

Saya takkan membela diri sama sekali bahwa Rekreasi Hati adalah buku yang saya terbitkan secara mandiri. Saya juga takkan menyangkal bahwa saya butuh pelajaran yang sangat serius bila ingin tetap jadi penulis. Dan saya juga bukannya tak ingin belajar. Tentu saja segala yang tahu butuh diperbaiki saya akan perbaiki. Saya sendiri sangat menyadari bahwa saya takkan mungkin menjadi seorang yang dikenal 'sebagai penulis'. Jika sekedar ingin ngetop, mencari popularitas, sejak lama telah saya kirim naskah Rekreasi Hati pada penerbit. Tapi saya punya prinsip dan misi sendiri.

Setidaknya ada beberapa misi terselubung dibalik 'kesengajaan' saya menulis seadanya tersebut. Melalui amburadulnya penulisan tersebut saya menggiring paksa pembaca supaya fokus pada substansi. Itulah kenapa narasinya saya buat sekuat dan sedalam mungkin dengan materi yang tak sembarangan. Wacana langka yang saya kembangkan dari sudut pandang pribadi saja rasanya tak cukup untuk mengangkat Rekreasi Hati. Buku ini harus bermaterikan ide-ide paling baru yang benar-benar sangat orisinal dan belum pernah dibahas sebelumnya. Tanpa itu semua sudah jelas berakhir sebagai bualan omong kosong belaka. Dan saya yakin kelak waktu akan membuktikan Rekreasi Hati akan menjadi salah satu buku yang paling berpengaruh dan dibicarakan di Indonesia, aamiin!

Untuk yang pertama ini saya pikir cukup berhasil. 3 tahun usia Rekreasi Hati nyaris tak seorangpun yang memberikan kritiknya. Saking minimnya saya bahkan butuh memaksa pembaca untuk mengkritik habis-habisan di ruang publik. Apakah minimnya sikap kritis tersebut karena keengganan, rasa segan dan sejenisnya saya juga tak begitu yakin. Sebab setelah buku pertama terbit, mereka juga beli buku kedua dan tetap berharap buku-buku saya berikutnya. Artinya, saya berhasil memaksa mereka fokus pada substansi yang saya tulis, bukan pada persoalan penulisannya. Alhamdulillah!

Sedang berikutnya yang paling utama adalah membangkitkan minat baca pada kenalan dan teman-teman dunia maya saya. Dan beriringan dengan misi berikutnya pula, memompa ghirah menulis, berkarya, sebab ternyata begitu banyak diantara mereka yang punya bakat jauh melebihi kemampuan saya.

Masa-masa awal nge-blog dulu saya kagum dengan betapa hebatnya tulisan-tulisan teman sesama blogger. Beberapa diantaranya saya kenal langsung di dunia nyata, sebab banyak juga ternyata di antara kami berasal dari kampung yang sama. Walau minder terhadap tulisan-tulisan mereka, tapi saya layak berbangga diri. Begitu Rekreasi Hati saya terbitkan mandiri, polos apa adanya, orang-orang tersentak. Tulisan beginian bisa dijual...?

Maaf saja, tapi dari cuma sekian 'pengikut resmi' akun blog Rekreasi Hati, lebih dari separuhnya adalah akun blogger baru yang dibuat karena jengkel, nulis beginian apa susahnya sih? Saat mereka masih seolah tak percaya, Rekreasi Hati Jilid Ke-2 saya terbitkan lagi untuk membuktikan bahwa saya serius. Saya serius berkata bahwa bila mau, kalian bisa jauh lebih baik dari Rekreasi Hati. Kalian, teman-teman dan saudara saya di dunia tulis-menulis bisa melengkapi kekurangan Rekreasi Hati. Jengkel amat kan, kalian para penulis melihat tulisan amburadul saya? Marah? Merasa terhina? Ayo kelola jengkelmu! Mari menulis dan membuat buku, sebab Rekreasi Hati saya tulis memang untuk kalian sempurnakan!

Selamat Berkarya!
Kalian bisa!

7 Jan 2018

Kalah Nangis? Cengeng...!

Rakyat tak menangis kala orang yang kalian tugaskan meroketkan ekonomi minta kita berpasrah diri saja pada Tuhan?

Rakyat tak pula menangis ketika kalian sodorkan artis video mesum untuk dipilih sebagai wakil rakyat atau kepala daerah?

Rakyat juga tak menangis ketika kalian sodorkan seorang rasis, penista agama, tukang maki-maki bermulut kotor untuk dipilih sebagai pemimpinnya?

Rakyat juga tak menangis saat petugas partai kalian menaikkan harga BBM atau tarif listrik diam-diam?

Lihatlah isi Indonesia sekarang ini. Presidennya Kodok, partisannya Cebong, oposannya kuda, sapi atau onta. Binatang semua. Alangkah tak bermutunya negeri ini kalian buat lewat program revolusi mental Sang Putri yang menghabiskan milliaran uang rakyat. Rakyat tak menangis.

Kalian sungguh cengeng. Apa sebetulnya yang kalian anak beranak beserta kerabat kalian itu tangisi? Nasib rakyat atau nasib sial kalian sendiri? Rakyat adalah penonton yang wajib membayar tiket. Kalian pemain kalah yang tetap dibayar, bahkan dari hasil penjualan tiket tersebut?





Pemegang Kunci Surga

Stand-up Comedy adalah jenis lawakan yang mestinya paling minim resiko terjadinya hal-hal seperti pelecehan, penistaan atau joke-joke berbau rasis dan SARA. Sebelum open mic materinya telah dipersiapkan dengan matang. Lawakan yang terencana dan terstruktur dengan baik sebab ada proses penulisan materi. Maka bila masih saja terjadi aneka pelanggaran seperti di atas, itu adalah 'murni kesengajaan'.

Selanjutnya, setelah ditulis ada lagi proses screening. Materi tersebut diujicobakan kepada beberapa orang sebagai penonton. Biasanya di hadapan sesama komik di dalam satu komunitasnya. Bisa juga dihadapan panitia atau kru acara. Bahkan tak jarang materi yang dibawakan biasanya malah 'materi andalan' yang telah sering dibawakan si komika sendiri di pertunjukan lainnya. Jadi sungguh aneh bila masih saja ada komika yang tersandung kasus penistaan dan SARA seperti yang marak belakangan ini.

Dan tadi dalam mimpi saya bertemu dengan seorang komik yang kemaren tersandung masalah serupa. Berikut dialog imajiner kami, cekidot...

Nyo :Kami ini korban intimidasi. Ini tak bisa terus menerus dibiarkan. Aku, Jo dan teman-teman pelawak lainnya akan tetap semangat dan konsisten dalam gaya lawak kami sendiri. Kita butuh lawakan cerdas begitu untuk mengedukasi masyarakat.

Den :Cerdas? Mengedukasi? Ga paham aku?

Nyo :Lawakan cerdas begitu memang sulit dipahami penonton yang tidak smart.

Den :Ga kebalik tuh? Bukan kalian sendiri yang tidak cerdas?  Melawak jenis stand-up ini adalah yang paling mudah. Materinya... (keburu dipotong).

Nyo :Mudah? Emang kau bisa open mic?

Den :Bisa saja, kalau aku mau!

Nyo :Suka hati kau lah! Kalian memang bisanya cuma mengintimidasi. Dikit-dikit boikot, dikit-dikit benamkan. Menutupi rejeki orang.

Den :Hebat amat, kami bisa menutup rejeki orang? Rejeki itu urusan Tuhan. Hebat amat bisa intervensi urusan Tuhan?

Nyo :Lah trus boikot-boikot tersebut?

Den :Apa salahnya boikot? Kan tergantung selera dan urusan pribadi masing-masing orangnya?

Nyo :Kami itu kan juga cuma curhat kegelisahan pribadi. Ngapain lu turut campur?

Den :Karena kau menista agamaku, paham?

Nyo :Aku juga muslim, Bro!

Den :Ohya? Boleh tahu, amalan super apa yang telah kau perbuat sampai PeDe mencela Tuhan sendiri?

Nyo : (hening).

Den :Kau kebanyakan klik LIKE atau menulis AMIN di kolom komentar ya? Kayak berasa udah mengantongi kunci surga aja? Kalau gitu sih emang ga heran, haha...!

Nyo : (masih hening).

*Tamat.

6 Jan 2018

Calon Artis Yang Merakyat

Bila memang bertekad melanjutkan 2 periode, saya punya saran-saran bagi Jokowi. Pertama berilah arahan kerja dan koordinasi yang jelas dengan para pejabat bawahannya. Jangan biarkan mereka berkerja sendirian, sebab banyak sekali diantara mereka yang sama sekali tak punya kemampuan memberi solusi. Beras mahal suruh diet, cabe mahal suruh tanam sendiri, listrik mahal cabut meteran. Bahkan ada menteri yang saking frustasinya tak mampu beri solusi minta rakyat tawakkal saja.

"...soal ekonomi, kita serahkan saja pada Tuhan", katanya.

Yang lebih parahnya lagi, ada pula pejabat yang tak mengerti dia itu bekerja di bagian apa. Masa' Kepala Badan Cyber tak mengerti defenisi hoax? Duhh...

Berikutnya, bentuklah tim komunikasi untuk presiden dan para menteri, sehingga statement2 konyol dan potensial bully seperti wisata bencana atau hoax membangun tersebut bisa dinihilkan.

Selanjutnya lagi, Jokowi juga mesti ganti para pembisik dan konsultan politiknya, sebab sikap politik Jokowi selama ini sangat kontra produktif dan makin merontokkan elektabilitasnya. Didatangi rakyat saat Aksi Bela Islam 411, Jokowi kabur. Sebaliknya, tak ditanggap di Aksi Bela Islam berikutnya, 212 Jokowi malah datang. Yaa terang saja dicuekin dan jadi bulan-bulanan bully. Ulama yang mestinya didatangi malah dikriminalisasi, sementara penista agama justru di lindungi. Saat muslim Rohingya minta dukungan, pemerintah malah memilih abstain. Saat Palestina minta pengakuan atas Jerussalem, pemerintah malah sempat lontarkan wacana 2 states solution. Ini kan seperti menantang umat bahwa Jokowi tak butuh suara mereka di Pilpres mendatang?

Terakhir, tampilkan ide-ide kebangsaan yang besar dan mencerdaskan. Saat Rizal Ramli, Yusril Ihza Mahendra atau Mahfud MD bicara, rakyat akan berdebat soal ekonomi, reklamasi, konstitusi dan perundang-undangan. Atau saat Fahri Hamzah bicara, rakyat akan bertengkar pikiran soal penegakan hukum atau pemberantasan korupsi. Ini sangat mencerdaskan.

Sebaliknya, perdebatan ilmiah apa yang akan dihasilkan dari narasi sendal jepit, kaos oblong atau Jokowi yang sakit perut karena makan pecelnya kepedasan? Narasi-narasi tersebut bukan saja membodohi rakyat, tapi juga buat repot tim media politiknya sendiri. Detik, Kompas, CNN atau MetroTV akan sibuk menghapus berita-berita lama yang tegas bertentangan dengan narasi-narasi terbarunya tersebut. Percayalah rakyat sudah pintar. Jika kesederhanaan atau kedekatan dengan rakyat yang hendak ditawarkan, saya sendiri bersedia masuk got. Saya juga bersedia melompati pagar walau pintu gerbangnya tak dikunci dan sejenisnya. Jika karena dekat rakyat bisa jadi presiden, Jokowi harus waspada. Saya sendiri adalah calon artis yang sangat merakyat. Saya sering mengantar sendiri ke rumah pembeli buku saya. Bahkan tak jarang saya sendiri yang minta poto bareng dengan mereka. Kurang merakyat apalagi saya? Hahaha...!

*Ngigau...

31 Des 2017

Kalender Hijriah v Kalender Masehi

Kenapa merayakan tahun baru Masehi itu tak penting? Bagi saya sederhana saja. Tahun baru Islam jauh lebih presisi. Tahun Islam dihitung berdasar pergerakan bulan dan bumi, sedang tahun Masehi dihitung berdasar jumlah waktu. Yaa detik, menit atau jamnya. Perbedaannya sangat jauh.

Sehari menurut Islam adalah saat matahari terbenam sampai kemudian terbenam lagi. Sehari menurut kalender Masehi adalah 24 jam, yaitu saat jam 00:00 'tengah malam', sampai kembali pada posisi 00:00 'tengah malam' berikutnya. Tengah malam yang saya beri tanda kutip, sebab siapa yang bisa membuktikan bahwa saat itu adalah benar-benar puncak dari malam? Lebih presisi mana dengan kalender Islam yang memulai hari dengan menentukan berdasar posisi start awal dan akhir sebuah proses rotasi bumi? Sebagai bukti paling konkret, bulan purnama saja jatuhnya tepat di pertengahan bulan di kalender Hijriah. Desember ini bulan purnama malah terjadi 2 kali, di awal dan ujung Desember? Lebih akurat mana? Hayyooo...!

Perbedaan itu akan makin besar saat menentukan waktu satu bulannya. Kalender Islam menetapkan awal bulan berdasar posisi start bulan saat berevolusi terhadap bumi. Itulah kenapa jumlah hari tiap bulan tahun Islam sangat fleksible, bisa 29 atau 30 hari. Fleksibel karena di saat bersamaan selain berotasi, di saat bersamaan bumi juga berevolusi mengelilingi matahari. Perhitungan versi kalender Masehi malah sangat absurd. Selain ada bulan yang jumlah harinya 30 dan 31, juga ada 28 hari dan setiap 4 tahun ada yang 29 hari? Bagaimana cara menghitungnya? Apa setiap Februari revolusi bulan terhadap bumi menjadi lebih cepat dari biasanya? Kan aneh, bulan Januari dan Maret bulan mengelilingi bumi selama 31 hari, kenapa di Februarinya cuma dalam 28 hari? Tapi saya sendiri punya penjelasan yang sangat masuk akal soal kekeliruan ini.

Kalender Masehi 'mematok secara pasti' bahwa satu tahun itu adalah 365,25 hari. Dibulatkan menjadi 365 hari plus tiap 4 tahun sekali digenapkan ke atas menjadi 366 hari. Ini sekaligus menjelaskan pemberian nama yang keliru terhadap nama-nama bulan kalender Masehi ini. Dari arti nama September (7), Oktober (8), November (9) atau Desember (10) kita bisa tahu ini adalah keliru. Jika ikut aturan nama, mestinya tahun Masehi dimulai dari bulan Maret dan berakhir di Februari. Itulah kenapa jumlah hari di bulan Februari lebih sedikit, sebab hanya sebagai 'bulan pelengkap' agar tiap tahunnya tetap berjumlah 365 atau 366 hari. Bukti paling telak betapa kacaunya perhitungan kalender Masehi? Tahun 2000 lalu lebaran Idul Fitri terjadi 2 kali, Januari dan Desember 2000. Awal dan ujung tahun. Artinya pada tahun tersebut bumi telah 2 kali melewati titik yang sama saat berevolusi mengelilingi matahari. Mau bantah bagaimana lagi? Hayyooo...!

Kalender Islam jelas lebih akurat. Ini terbukti dengan kondisi cuaca tiap tahun yang menjadi tak menentu karena berpatokan dengan kalender Masehi. Dulu dalam pelajaran IPS generasi saya seperti telah didonktrin bahwa musim hujan di Indonesia itu dimulai dari bulan Oktober dan berakhir di bulan Maret. Musim kemarau sebaliknya, sejak April sampai September. Entah ilmiwan siapa yang mengatakannya begitu. Sekarang semua seperti kacau berantakan. Hujan dan panas datang tak kenal Mei atau November. Jaman Jokowi jadi Gubernur DKI, Jakarta sering banjir di bulan Maret. Kemudian bergeser, mulai di bulan Februari. Akhir-akhir ini puncak banjir mulai mendekati Januari. Dan besok-besok itu akan terus bergeser menuju Desember, November, Oktober dan seterusnya.

Pun begitu dengan musim buah misalnya. Biasanya musim durian terjadi sekitaran bulan Ramadhan. Apakah Ramadhan selalu sama setiap tahun berdasar kalender Masehi? Atau yang paling jelas seperti perayaan Imlek-nya orang Cina, misalnya. Imlek sebetulnya adalah hari panen yang dirayakan masyarakat Cina. Apakah hari raya Imlek selalu sama di tiap tahun Masehi? Tidak!

Musim panen tergantung cuaca. Sedang cuaca tergantung pada posisi dan pergerakan bulan dan bumi terhadap matahari. Dalam hal ini seperti logika saya di atas, jelas kalender Islam lebih akurat. Akibat kekeliruan akurasi kalender Masehi ini, Piala Dunia tahun 2022 di Qatar saja diwacanakan untuk dijadwal ulang, atau malah diganti negara penyelenggaranya. Karena sepakbola berpedoman pada kalender Masehi, mereka baru menyadari kemungkinan tak bersahabatnya cuaca saat turnamen akbar tersebut digelar. Imajinasikan pula bagaimana efeknya jika kita menggunakan kalender Hijriah dalam menentukan jadwal tahunan. Liburan semester misalnya akan bisa disesuaikan dengan libur Ramadhan atau lebaran. Prediksi cuaca yang lebih akurat membuat kita bisa mempersiapkan liburan jauh sebelum hari H. Bookingan ongkos pesawat jauh-jauh hari juga lebih murah, hahaha...!

*Ngigau tahun baruan!

30 Des 2017

Tentang Cover Rekreasi Hati

Wow, PECAAAH...!
Cover Buku Rekreasi Hati Ternyata Jelek Pakai Banget.

Telah 2 orang yang mengatakan bahwa cover buku Rekreasi Hati layak dicacek. Keduanya orang yang layak saya percayai karena berbagai hal. Mereka adalah golongan kutu buku. Mereka juga telah berpengalaman dalam mereview banyak buku, utamanya novel. Integritas mereka sebagai kritikus buku tak saya ragukan. Intinya, opini teman-teman ini layak saya apresiasi, walau saya sendiri bingung bagaimana mesti mensikapinya.

Pemilihan dan pembuatan cover tersebut telah saya rencanakan dengan matang, walau ternyata saya alpa pada beberapa hal. Dan itu juga bukan tanpa sebab. Pertama, walau bercita-cita menulis buku dengan serius, ternyata pada proses awalnya materinya malah telah disusun duluan oleh Dian, model cover (buku pertama) tanpa saya ketahui. Yang pasti karena dia nge-fans (cieee...!) dan menyukai tulisan-tulisan saya, lalu berniat membukukannya. Percaya atau tidak, dia membeli sebuah printer baru untuk mencetaknya. Setelah itu barulah dimulai dinamika pembuatan cover.

Dian tak menguasai digital desain grafis. Saya walau tak mahir-mahir amat, tapi juga tak awam-awam amat pula. Dan sejak awal saya memang telah bertekad akan menjadikan Rekreasi Hati sebagai buku paling indie sedunia. Artinya seluruh proses mulai dari pemilihan materi, edit, desain, cetak, jilid, terbitkan dan jual secara mandiri.

Suatu kali Bebel, seorang temannya posting poto Dian yang sedang membuka blog saya disertai komentar yang menghasut, 'calon model buku Rekreasi Hati'. Ehh, buku belum jadi ternyata cerita telah tersebar kemana-mana. Berhubung materi punya ikatan batin dengan sang calon model kamipun sepakat, buku Rekreasi Hati covernya menggunakan poto model saja. Modelnya sudah ada, tinggal cari atau take fotonya.

Proses ini juga berliku. Berkali-kali take foto gagal melulu. Sampai suatu saat saya 'terlewatkan' 'mengklik tombol jempol' di beberapa postingan foto facebooknya, dia kirim foto tersebut via inbox. Waaah, ini dia yang kami cari selama ini.

Saya larut dalam euphoria kegembiraan. Tak lama lagi buku saya jadi. Ini pula mungkin yang menyebabkan saya (kami) alpa melihat dari perspektif yang lain. Menurut saya covernya itu sudah 'sangat keren sekali'. Tentu ada filosofi dalam setiap simbol. Pun begitu dengan cover Rekreasi Hati.

Cover pertama. Dari segi warna hendak menonjolkan bahwa Rekreasi Hati ditulis dengan nuansa penuh cinta. Poto wanita berjilbab yang sedang membaca mendiskripsikan bahwa besar dan luasnya wawasan tak membutuhkan ongkos yang mahal. Cukup dengan 'membaca' yang ada di dekat-dekat kita saja. Ini sejalan dengan tagline yang menjadi caption cover Rekreasi Hati sendiri. Pemilihan  model covernya karena dia memang berjodoh dengan Rekreasi Hati.

Pun begitu dengan Rekreasi Hati Jilid 2. Pemilihan Rani sebagai model juga semata karena dia memang berjodoh dengan Rekreasi Hati. Dinamika dan drama yang mengiringi proses panjang pembuatannya sangat mempengaruhi materi dalam Rekreasi Hati Jilid ke-2 ini. Dan itu saya rasa telah sangat diwakilkan oleh desain covernya. 'Dominasi warna hijau' pepohonan di tengah terik matahari terasa sangat meneduhkan emosionalnya materi jilid ke-2 ini. Kenapa saya beri tanda kutip? Karena sebetulnya memang tak hijau-hijau amat. Lebih banyak birunya malah. Tapi hijaunya terasa sangat dominan, karena saya merasa mampu bersikap dewasa menghadapi drama rumit dan unik yang mengiringi perjalanan Rekreasi Hati ke-2 ini. Puncaj rumit dan uniknya? Asal tahu saja, proses rilisnya buku ini terpaksa saya undur seminggu. Awalnya saya ingin rilis tanggal 1 Oktober demi menghormati sejarah Rekreasi Hati pertama. Saya pernah deklarasikan 1 Oktober sebagai Hari Rekreasi Hati. Dan entah disadarinya atau tidak, ternyata Dian nikah tepat di tanggal tersebut...???

Si Bebel sendiri sempat mempertanyakan kesan buru-buru dan seakan dengan motivasi balas dendam karena rilisnya yang berjarak cukup dekat dengan hari pernikahan Dian. Padahal demi tak ingin merusak hari bahagianya tersebut, Rekreasi Hati jilid 2 saya saya mundur waktu rilisnya.

Poto wanita berjilbab berdiri di tengah terik matahari menatap ke arah hijaunya pepohonan. Bahwa di tengah kegalauan kita harus tetap berdiri tegak, sebab di depan ada keindahan yang sejuk dan meneduhkan. Bukankah itu filosofi yang sangat keren?

Oke, sekarang ke titik kelirunya. Soal tagline yang dikritik seorang teman.

"tagline garuk-garuk itu merusak keanggunan wanita yang jadi modelnya", kurang lebih begitu katanya.

Belakangan saya pikir pernyataannya benar. Itu saya sadari saat menulis Rekreasi Hati ke-2. Walau saat itu yang dikomentarinya buku pertama, tentu untuk buku kedua dia juga berpendapat yang sama. Dan saya sepakat. Persoalannya adalah saya tak mampu menemukan solusinya. Dah, itu aja! Ohya, mohon diingat lagi bahwa saya bertekad membuat buku paling indie sedunia!

Kekeliruan pemasangan tagline tersebut menjadi makin parah untuk buku ke-2. Saya sampai harus menambahkan beberapa bab baru agar ada kesesuaian tagline dengan materinya. Dan saya pikir di sini saya juga gagal. Dan saya pikir kegagalan mengatasi persoalan ini akan terus berlanjut di jilid-jilid yang berikutnya, hahaha...!

Persoalan idealisme memang akan terus menjadi masalah laten Rekreasi Hati. Saya hanya ingin teguh memegang prinsip, seaneh apapun itu. Termasuk menjadikan Rekreasi Hati sebagai buku paling indie sedunia.

25 Des 2017

Al-Qur'an dan LCT P4

Daya ingat saya sebetulnya (dulu) sangat luar biasa. Saya alumnus LCT P4. Waktu itu kami para peserta diberi buku hapalan soal2 tentang Pancasila, UUD45, sejarah dan lain sebagainya yang terkait dengan tatanan hidup bangsa Indonesia. Saya hapal seluruh butir-butir Pancasila, seluruh ayat dan pasal-pasal dalam UUD45. Saya (kami) hapal buku soal2 tersebut lengkap beserta titik dan komanya. 'Keliru, jika berpikir LCT adalah singkatan dari Lomba Cerdas Cermat. Yang benarnya adalah Lomba Cepat Tepat. Jadi selain cepat, juga dituntut untuk tepat. Jadi terhadap pihak-pihak yang selama ini mengklaim sebagai yang paling Pancasilais, Paling Merah Putih atau Paling Indonesia tersebut, saya cuma bisa menatap iba. Kasihan, delusi stadium akhir.

Saat itu SD kami 'cuma' berhasil menjadi juara 3 se-Sumatera Barat. Saya masih ingat persis, di final kami kalah cepat lawan SD dari Kab. Agam (juara 1) dan Kab. Padang Pariaman (runner-up). Prestasi yang luar biasa sebetulnya, sebab bahkan sejak ditingkat Kecamatan saja kami tak pernah diunggulkan. Sekolah kami adalah debutan, tampil untuk pertama kalinya di ajang rutin tahunan tersebut.

Berbekal pengalaman tersebut, di tingkat lanjutan SMP/MTs, saya diiuktkan lagi mewakili sekolah. Saya yang masih kelas 1, bersama dengan 2 orang kakak kelas. Sangat mendadak. Hari ini ditunjuk, besok pertandingan. Bayangkan mepetnya persiapan, bahkan buku soal2 tersebut tak sempat difoto kopi untuk kami bertiga. Saya yang sudah berpengalaman dipercaya sendirian menghapal buku berisi lebih dari seribuan soal-soal P4, satu malam saja.

Saya ingat betul trik yang kami terapkan saat itu. Saat peserta lain sedang bertanding, kami bertiga mengamati soal2 yang diberikan. Kami tandai halaman2 soal yang sedang dipertandingkan, sampai akhirnya kami bisa meraba-raba soal2 yang mana saja kira2 yang akan menjadi jatah kami di pertandingan. Dasar cerdas, kami berhasil jadi juara 2 tingkat Kecamatan, hahaha...!

Apa sebetulnya yang ingin saya ceritakan?

Terdahulu saya juga pernah menulis bahwa saya hapal dan fasih menyanyikan lagu berbahasa Inggris lengkap dengan segala cengkok, vibra bahkan dengan soul-nya sekalian. Berasa keren aja bisa hapal banyak lagu Barat, hahaha...!

Daya ingat saya sungguh hebat, seperti yang saya deskripsikan di atas. Saya sanggup menghapal satu buku lengkap dengan titik dan komanya. Cita-citanya waktu itu sih ga muluk-muluk. Kalau juara saya akan naik pesawat terbang untuk pertama kalinya dalam sejarah panjang keluarga saya. Saya juga akan jadi orang pertama diantara kami yang akan pernah menginjak istana negara dan bersalaman dengan Presiden.

Tapi kenapa untuk menghapal satu surat Al-Quran saja, fasih tajwid dan makhraj hurufnya ternyata begitu sulitnya? Saya juga penasaran bagaimana dengan teman-teman sesama alumnus lainnya? Udah hapal berapa juz?

"...karena kedudukanmu di surga setingkat dengan banyaknya ayat (Al-Quran) yang kamu hafalkan" ~ HR Abu Daud dan Tirmidzi.

Duhhh...!

Merdeka (Belum) Seutuhnya

Produk hukum yang kita pakai masih warisan dari penjajahan kolonial Belanda. Ide untuk membuat KUHP sendiri sudah lama dan tak kunjung terwujud hingga saat ini. Penyebabnya tentu banyak sekali.

Pertama karena kualitas DPR kita sendiri. Tak banyak diantara mereka yang berasal dari kampus hukum. Dan selagi pegawai dan staff tiap anggota masih direkrut dari keluarga dan kerabat sendiri, asa peningkatan kualiatas legislasi kita itu terlalu jauh. Maka tak aneh, dari puluhan RUU yang harus mereka bahas tiap tahun, belasan atau malah cuma 4 atau 5 saja yang kemudian bisa ditetapkan menjadi UU.

Berikutnya seperti kata Pak Mahfud bahwa selalu ada 2 kelompok dengan kepentingan yang berbeda dalam setiap pokok RUU yang sedang dibahas. Kelompok liberal yang selalu mengagung-agungkan HAM, yang selalu berpatokan pada Universal Declaration of Human Right New York 1948. Lainnya lagi kelompok partikular, yang selalu menekankan pada nilai-nilai moral, agama dan budaya kita di Indonesia. Seperti persoalan pasal zina dan LGBT belakangan ini, konon bahkan telah dibahas sejak tahun 1963 di DPR dan tak kunjung beres sampai saat ini.

Berikutnya yang mungkin tidak disadari oleh Bapak2/Ibu2 kita di DPR ini adalah tidak tepatnya semangat dan motivasi yang selama ini kita gunakan. Semangat untuk mengganti KUHP warisan penjajah ini mungkin tidak tepat. Perbaiki narasinya.

Indonesia adalah negara yang berdaulat. Indonesia bebas menerapkan hukum sendiri sesuai dengan nilai-nilai moral, agama dan budaya yang kita anut sendiri. Kita negara yang merdeka dari segala macam bentuk penjajahan dalam bentuk apapun, termasuk dalam mengatur kehidupan rakyatnya sendiri. Kita tak boleh dijajah oleh aturan-aturan Barat yang tak mengamodir nilai-nilai ketimuran kita.

Kenapa paham LGBT bisa berkembang pesat di Indonesia? Karena kita bersedia dijajah oleh Barat melalui Universal Declaration of Human Right-nya. Kenapa paham-paham sesat seperti Syiah bisa tumbuh subur di Inonesia. Islam menolak mengakui Syiah. Padahal Indonesia cuma mengakui Islam, Kristen, Hindu, Budha dan Konghucu sebagai agama yang diakui negara? Mestinya negara jika taat konstitusi paham sesat seperti Syiah dan yang lainnya dibasmi donk dari Indonesia? Bila tidak, itu kan berarti negara (pemerintah) sendiri melanggar konstitusi? Bisa di-impeach lho, ini?! Tapi kenapa paham-paham tersebut tetap dibiarkan tumbuh subur tanpa aturan yang solutif dari negara? Karena Indonesia masih dijajah oleh aturan-aturan dari Barat.

Penegakan HAM seperti yang selama ini Barat koar-koarkan juga sama sekali tak lepas dari beragam konflik kepentingan. Barat 'diam saja' terhadap persoalan kemanusian yang dialami etnis Rohingya di Myanmar. Bahkan mengurus masalah kemanusiaan di negara sekecil Palestina saja telah puluhan tahun tak bisa Barat bereskan. Kenapa kita, Indonesia yang menentang segala macam bentuk penjajahan malah tunduk dijajah oleh aturan yang mereka terapkan seenak kepentingan mereka sendiri? Maka saya sangat yakin, jika narasi kemerdekaan dan kedaulatan nilai yang kita kembangkan, saya yakin KUHP versi penjajah bisa dengan segera kita ganti dengan versi sendiri.

22 Des 2017

Cita-cita dan Keyakinan

Segala yang bisa dibayangkan pasti bisa diwujudkan ~ Rekreasi Hati.

Saat Arsenal gagal menjuarai Liga Inggris tahun 2003, pelatih Arsene Wenger mengumpulkan para pemainnya dan bertanya,

"kalian tahu kenapa kita gagal?"

"Anda memberi kami target terlalu besar. Juara tanpa terkalahkan itu mustahil. Target itu membebani kami", jawab Wakil Kapten, Martin Keown.

"Tidak! Itu tidak mustahil. Saya tahu kita mampu melakukannya asal kita yakin bahwa kita memang mampu. Ayo, kita lakukan lagi", tegas sang pelatih.

Dan musim berikutnya, Arsenal berhasil menjuarai Liga Inggris tanpa mengalami satupun kekalahan.

Pada saat pulang kembali ke klub asalnya Feyenoord dia mengatakan akan membawa Feyenoord kembali menjadi juara Liga Belanda,  yang sudah begitu lama tidak pernah berhasil mereka raih lagi.

"...saat itu semua orang menertawakan saya", katanya.

2 tahun kemudian dia pensiun, setelah mengantar Feyenoord menjuarai Liga Belanda sebagai kapten dengan mencetak 3 gol di partai terakhir. Menutup karirnya sebagai pemain dengan capaian sempurna.

"Jika materinya begini, saya yakin Rekreasi Hati akan jadi buku yang keren", kurang lebih begitu cuitan caption link tulisan yang baru saya posting di Facebook.

Padahal tulisan yang saya yakini keren itu baru jadi satu halaman. Tapi saya sangat yakin saya bisa menjadikannya satu buku penuh. Saya terus menulis dan keyakinan itu makin kuat. Mulai percaya diri sesumbar pada Dian bahwa saya akan menulis buku. Begitulah, dia menertawakan saya. Tapi setelah buku tersebut benar-benar jadi, siapa lagi yang berani menyangkalnya?

Proses buku berikutnya penuh liku dan drama. Persoalannya cuma satu, tapi saya sama sekali tak tahu solusi untuk membereskannya. Saya butuh Rani, tapi dia bilang butuh waktu untuk memikirkannya.

"abang yakin 100%, Rani pasti bersedia", janji tekad yang saya sampaikan langsung padanya.

Dan terbukti, Rani bersedia dan buku kedua pun berhasil saya terbitkan.

Cita-cita dan segala target yang saya yakini akan saya capai semuanya berhasil saya raih. Tahun 2016 lalu selain Rekreasi Hati 2 sebetulnya saya juga punya target lain. Saya 'ingin tampil di depan orang banyak'. Ahh, tapi itu nantilah! Saya sendiri memang tak serius mengusahakannya, hehe...!

Tahun inipun sebetulnya saya ingin buat satu buku. Tapi karena memang kurang gigih, tentu saja saya gagal. Tapi yang jelas tahun depan buku tersebut akan saya terbitkan. Dan Rekreasi Hati Jilid 3, Oktober 2019. Dan saya yakin 100% dua target terakhir tersebut bakal terwujud, aamiin...!

Peradilan Bingung

Putusan MK bahwa gugatan soal zina dan LGBT salah alamat itu mengabarkan pada kita fakta yang jauh lebih mengerikan daripada hasil putusan itu sendiri. Bagaimana mungkin mereka memutuskan itu bukan sebagai kewenangan mereka justru setelah 20 kali mereka adakan persidangan? Jika bukan kewenangan mereka, untuk apa mereka sidangkan? Sampai puluhan kali pula? Ini kan mengerikan? Padahal MK lah rujukan terakhir seluruh persoalan perundang-undangan dan konstitusi di negara kita?

Saya sangat heran melihat ada begitu banyak putusan hukum dan peradilan yang saling bertolak belakang dengan putusan peradilan lainnya. Yang ini menyatakan Agung Ketua sah-nya. ARB tak terima, gugat dan menang. Giliran Agung yang tak terima, naik banding dan menang juga. Gantian ARB yang naik banding dan ehh, menang juga! Jadi sebetulnya siapa yang benar dan siapa yang salah?

Salah satu dari keduanya pasti salah dan satu lainnya pasti benar. Jika ternyata ARB adalah ketua yang sah, maka yang menyatakan Agung sebagai ketua yang sah pasti salah.  Ilmu hukum darimana yang menjadi rujukan dan dipakainya? Kenapa hakim yang mengambil rujukan ilmu hukum yang keliru seperti ini bisa diluluskan dan diwisuda oleh kampusnya?

Tentu bukan dosen atau kampusnya yang salah. Ilmu yang mereka terima saat kuliah pastilah ilmu hukum yang sama. Sebab hukum itu ilmu yang pasti. Pasti benar dan pasti salah. Kalau tidak benar berarti salah. Tapi hukum yang telah pasti itu akan menjadi rumit bila telah dicampuri beragam konflik kepentingan. Ada persidangan yang bertahun-tahun, tapi tak kunjung jelas terdakwa ini bersalah atau tidak.

MK dan seluruh pakar hukum wajib instrospeksi diri mereka sendiri. Tak usah mengkambinghitamkan produk hukum yang katanya masih warisan dari kolonial Belanda. Jangan pula menyalahkan DPR yang tak pernah tuntas merumuskan RUU zina dan LGBT yang katanya sudah dibahas sejak tahun 1963 itu. DPR bukan lembaga yang terdiri dari para ahli hukum. Sidang MKD terkait Papa Minta Paham itu sajalah contohnya. Begitu hebohnya, diliput seluruh media berakhir dengan keputusan barang buktinya tidak sah. Lah, kalau tidak sah, lalu apa sebetulnya yang mereka sidangkan?

Mereka tak paham apa yang mereka sidangkan. Tapi yaa tak usah heran juga, sebab MK yang mestinya paling paham soal UU dan konstitusi saja bahkan tak paham dengan tugas dan wewenangnya sendiri, hahaha...!

20 Des 2017

Bodoh Kok Bangga?

Si artis yang baru saja bunuh diri bertemu dengan seorang buruh yang dulu juga bunuh diri saat demo perayaan Hari Buruh. Mereka saling bertukar cerita seputar bunuh diri yang mereka lakukan.

Artis :Perasaan kau setelah bunuh diri gimana, bro?

Buruh :Aku merasa berharga. Aku bangga. Pengorbananku tak sia-sia. Upah buruh naik.

Artis :Ehh, belum tentu juga itu karena pengorbananmu, bro! Bisa saja karena perjuangan rekan-rekan buruhmu yang lain.

Buruh :Maksudmu gimana, heh?

Artis :Maksudku, kau mesti hargai perjuangan juga rekan buruhmu yang lain, donk! Jangan asal klaim itu karena perjuanganmu sendiri!

Buruh :Tapi kalau bukan karena aksi bunuh diriku, belum tentu upah buruh naik kan?

Artis :Oke! Tapi kalau bukan karena kecerdasan diplomasi mereka, upah buruh juga belum tentu naik kan?

Buruh :Yy...yya...yaa, bisa jadi juga! Tapi...

Artis :Jadi upah buruh ini naik karena kecerdasan rekan-rekan dan kebodohan aksi bunuh diri kau itu. Bodoh kok bangga, hahaha...!

Buruh :Kau ini emang brengsek ya! Kau sendiri kenapa bunuh diri? Kudengar kau kan seorang artis terkenal?

Artis :Aku bunuh diri karena merasa sudah tak punya harga diri, bro! Kemana-mana selalu saja dikejar paparazzi dan kamera. Aku capek, tapi tak bisa istirahat dengan tenang. Waktu dan privasiku mereka rampas semua. Belum lagi cibiran dan bullyan dari haters.

Buruh :Tapi kau kan juga banyak fans. Mereka-mereka yang mengidolakan dan menghargai karya-karyamu.

Artis :Itu benar. Saya berterimakasih dan sangat menghargai semua fans saya. Merekalah yang selama ini selalu menghibur dan menyemangati saya.

Buruh :Trus, kenapa kau malah bunuh diri? Itukan artinya kau sama sekali tak menganggap keberadaan mereka yang selalu mendukungmu?

Artis :Ehh, yaa...tak begitu juga! Aku selalu menghargai mereka. Aku selalu melayani permintaan tandatangan atau poto bareng mereka.

Buruh :Ratusan bahkan mungkin ribuan cerpen dan novel FF mereka tulis karena mengagumimu. Kau amat berharga bagi mereka.

Artis :Yaa, aku menghargai itu. Aku tak pernah minta bagian royalti atas karya mereka.

Buruh :Dan kau bunuh diri. Kau sama sekali tak peduli pada begitu banyak orang yang hancur meratapi kematianmu. Kau tak menghargai keberadaan mereka. Kau tahu, ada beberapa diantara mereka yang mau bunuh diri juga. Kau itu hidup mereka. Trus, harga diri macam apa lagi yang mau kau cari?

Artis : (hening)

Buruh :Kau itu bodoh!

Artis : (masih hening)

Buruh :Di Jepang, orang bodoh macam kau ini sudah ditembak mati, hahaha...!

Tiba-tiba Malaikat yang akan menginterogasi mereka menyela.

Malaikat :Sudah! Sudah! Kalian berdua ini sama-sama bodoh!

Artis :Tapi masih mendingan saya, Pak! Saya punya banyak fans!

Buruh :Fans bodoh yang mengidolai orang bodoh. Bodoh kok bangga, hahaha...!

Malaikat :DIAAAAAM...! Emang susah ya, berurusan sama orang bodoh! Jangankan saat masih hidup, sudah mati pun masih saja merepotkan!

*Tamat.

18 Des 2017

Delusi

Berita :Jonghyun Bunuh Diri, K-Poppers Mewek Massal.

Nyo :Masih ga percaya yaa, Allah...!

Den :HAHAHAHA...!

Berita :Jonghyun Donorkan Sebagian Organ Tubuhnya Bagi Yang Membutuhkan.

Nyo :You're really an Angel, Jong!

Den :Mana ada Malaikat bunuh diri, Neeeeeng, hahahaha...!

Nyo :Kau akan masuk sorga, Jong!

Den :Sorga? HAHAHAHA...!

Nyo :Apa sih, kau ini? Dari tadi nyamber aja!

Den :Ehh, ga! Maaf! Lucu aja sih!

Nyo :Ga punya empati! Orang mati kok diolok-olok!

Den :Si YuangHyun itu Tuhannya aja ga dia hargai, kenapa aku harus menghormatinya pula?

Nyo :Dia itu malaikaaat...

Den :Ngerasa kayak malaikat maksudnya kali. Kepedean, hahaha...!

Nyo :Dia akan masuk sorga!

Den :Bunuh diri masuk surga? Hahahaha...! Dia itu mati konyol, bukan mati syahid, Oneeeeeng....!

Nyo :Sudah mati pun masih mau berbuat sesuatu bagi manusia dan orang lain.

Den :Apa hebatnya? Dia kan sudah mati?

Nyo :Jonghyun akan tetap hidup di hatiku.

Den :Lah, situ aja seperti udah ga kuat hidup karena dengar dia mati, gimana sih?

Nyo :DIAAAAAAAM....!

*Tamat

15 Des 2017

Presiden atau Staff RT/RW

Darurat Penegakan Hukum
Darurat Korupsi.
Darurat Ekonomi.
Darurat Moral.
Darurat Budaya.
Darurat Demokrasi.
Darurat Hoax.
Darurat Bully.
Darurat Pangan.
Darurat Miras dan Narkoba.
Darurat Ketahanan Nasional.

Krisis Beras.
Krisis Daging.
Krisis Cabe.
Krisis Garam.
Krisis Listrik.
Krisis Prestasi.

Anehnya, Presiden seperti tak punya sikap sama sekali. Ketimbang memerintahkan jajarannya bekerja maksimal, dia malah sibuk bekerja sendirian tanpa prosedural yang jelas. Bagi-bagi sertifikat, bahkan bagi-bagi sepeda? Apa presiden tak punya job desk dan prosedur kerja sama sekali? Pembagian BLT era SBY yang melibatkan instansi ahli peta dan kaya data seperti Kantor Pos atau Kelurahan saja masih banyak yang keliru sasaran, bagaimana bisa Jokowi bisa melakukannya itu sendirian? Bagaimana cara memahami kerja Presiden Jaman Now Ini?

Fahri Hamzah benar mengatakan bahwa Jokowi ini tak paham persoalan kenegaraan. Tak punya target dan visi misi yang jelas. Berkoar-koar berantas korupsi, tapi tak jelas target final dan program pemberantasan korupsinya. Berkoar-koar memberdayakan maritim dan potensi laut, tapi memindahkan istana negara ke 'tengah hutan'. Berkoar-koar gebuk PKI, tapi Ustadz Alfian Tanjung yang memberi info valid soal PKI malah yang dihukum penjara.

"Demi, NKRI kita,
Demi, Merah Putih kita,
Demi, Bhinneka Tunggal Ika kita".

Tapi penyerang jemaah Idul Fitri dan pembakar mesjid ditraktirnya makan di istana negara. Provokator yang mengancam bunuh orang Islam dalam pidato resmi dilindungi dengan hak imunitas. Malahan minta ulama untuk menentramkan umat. Media tukang hasut, provokator dan penyebar hox malah diberi award sebagai media peduli pendidikan, cuiiiih....!

Presiden yang tak pernah jelas plan dan target kerjanya, tapi segala prestasi mau diklaim. Bantuan beras masyarakat untuk Somalia diklaim sebagai bantuan pemerintah. Bantuan Ormas untuk muslim Rohingya yang teraniaya diklaim sebagai kerja pemerintah.

Hasil diplomasi pemerintahan Jokowi lah yang membuat Rangga berhasil diminta pulang ke Indonesia untuk bertemu kembali dengan Cinta. SBY 2 periode ngapain aja? Jokowi layak menerima nobel perdamaian karena berhasil mendamaikan pertikaian Slash dan Axl Rose sehingga Guns N Roses formasi klasik bisa reunian. Presiden-presiden sebelumnya ngapain aja?

Candi Borobudur yang lupa dicat pemerintahan Samaratunggadewa dan dinasti penerusnya sebentar lagi akan dicat, bekerjasama dengan investor dan tenaga kerja asal Cina dan kemudian akan diresmikan oleh Jokowi. Konon dulu, lautan di dunia ini kering. Jokowi lah yang menciptakan airnya. Alam semesta ini dan seluruh isinya ini memang ciptaan Allah SWT, tapi Jokowi lah yang menggunting pita dan meresmikannya.

Ini Presiden dengan pemerintahan dan kabinet bingung. Beras mahal, rakyat diminta diet. Cabe mahal,  disuruh tanam sendiri. Listrik mahal, cabut meteran. Daging mahal, makan keong saja. Garam langka, masaknya campur keringat saja.

Presiden harusnya perintahkan KPK, usut tuntas E-KTP dalam 6 bulan! Kalau tidak, kalian dibubarkan. Saya akan keluarkan PERPPU pembubaran KPK, karena negara sedang darurat korupsi. Kepada para pimpinan aparat penegak hukum tegaskan,mulau detik ini jika ada rakyat saya yang mendapat ketidakadilan hukum dan sosial, kalian dipecat. Tak ada istilah mengundurkan diri. Kalian digaji negara dari uang rakyat. Kalian tak berhak menerima bayaran dari orang yang kalian dholimi. Tegas!

Kepada para menteri, kalian masing-masing punya anggaran. Gunakan itu secara optimal. Gunakan pegawaimu tepat sasaran. Menteri Pertanian, kamu punya anggaran. Blusukanlah ke pedalaman, cari lahan untuk dibebaskan dan berdayakan masyarakat untuk mengolahnya. Pengangguran akan berkurang, dan swasembada pangan di depan mata. Tugaskan pegawaimu yang sarjana pertanian untuk memberi bimbingan dan penyuluhan! Bagaimana membibit, menanam atau memberi pupuk yang baik dan sejenisnya. Itu tugas sarjana pertanian. Bukan di kantor hanya untuk dimintai tandatangan.

Menteri BUMN, kenapa BUMN kita cuma bisa menjadi calo? Kita punya sumber minyak tapi diekspor untuk diolah dan kemudian kita beli lagi minyak jadinya untuk didistribusikan pada rakyat? Kenapa kita tidak olah sendiri? Ribuan sarjana perminyakan, pertambangan atau perindustrian diwisuda tiap tahun, kemana mereka?

Menteri Pendidikan, Pemuda dan Olahraga? Kenapa kita miskin prestasi di ajang Internasional?  Islandia dengan 300ribu penduduknya berhasil menembus Piala Dunia, kenapa kita dengan sumber daya 1000 kali lipatnya gagal selalu? Kenapa sumber daya manusia kita lemah? Cari penyebab dan solusinya. Benahi, dan bila perlu rombak sistim pendidikan dan pelatihannya, bila ternyata selama ini anti dan tak fokus pada prestasi! 20% APBN kita tiap tahun harus setara dengan kualitas sumber daya yang dihasilkannya.

Seluruh jajaran kabinet mestinya diberi tugas dan target kerja yang jelas. Atau Presidennya sendiri yang memang tanpa visi misi? Berhentilah saja kalau begitu! Jadi staff RT/RW saja, yang bertugas membagikan brosur-brosur sumbangan atau kupon pembagian daging qurban, hahaha...!

14 Des 2017

Fahri Hamzah Adalah Milik dan Hak Rakyat

Fahri Hamzah bukan politisi omong kosong. Dia seorang politisi yang visioner. Bertahun-tahun lantang sendirian berteriak menentang dan meminta KPK dibubarkan saja karena telah menjadi aparat kekuasaan. Dan hari ini terbukti nyata, 3 nama politisi elit PDIP yang sedang berkuasa, hilang dalam surat dakwaan sidang E-KTP dengan terdakwa Setya Novanto.

Sama sekali tak layak untuk meragukan integritas seorang Fahri Hamzah. Andai punya cacat secuil saja, dia pasti telah lama selesai. Konsepnya yang jelas soal pemberantasan korupsi pasti membuat geram para koruptor. Teriakannya menentang KPK membuatnya dibenci kita semua yang anti korupsi. Fahri Hamzah adalah 'musuh semua orang'. Siapa yang akan membelanya? Bahkan partainya sendiri memusuhinya? Hebatnya, sampai sekarang masih hidup saja ini orang. Kekuatan apalagi yang dimilikinya kalau bukan karena dirinya memang 'bersih dari kesalahan'?

Fahri jelas bukan sekedar politisi yang caper untuk sebuah kekuasaan. Dia bahkan sama sekali tak peduli citra, aset terpenting bagi seorang politisi. Sudah pasti ngawur tuduhan yang menudingnya ingin ditarik Golkar sebab selalu terkesan membela Papa. Fahri bukan kutu yang ingin pindah ke lain kepala.

Dan tak usah diragukan pula kecintaannya untuk PKS. Fahri sama sekali tak terlihat panik menjelang tahun-tahun politik begini. Dia pasti butuh partai, kendaraan untuk memperjuangkan aspirasinya. Andai mau, bisa saja dia membuat partai sendiri, dan sudah pasti sejarah politik PKS akan selesai. Dalam beberapa polling belakangan ini, dukungan netizen untuk PKS soal Fahri Hamzah bahkan di bawah 10%.

Keputusan pengadilan yang kembali menetapkan Fahri Hamzah sebagai anggota sah mestinya adalah moment yang pas untuk PKS berbenah. PKS wajib taat hukum dan kembali pada tujuan dasar sebagai partai dakwah. Kan jadi sebuah anomali partai dakwah malah membungkam orang yang bersuara?

Fahri Hamzah mestinya dirangkul, bukan dipukul. Dia mestinya dipeluk, bukan digebuk. Fahri Hamzah sedang onfire. Dia bukan saja milik PKS, tapi dia adalah milik dan hak rakyat. Kan jadi anomali, partai yang (mengaku) berkhitmad untuk rakyat malah mencampakkan milik rakyat? PKS tak bisa mungkir, koalisi PKS dan Gerindra untuk Pilpres 2019 seperti yang dikatakan Hidayat Nur Wahid mencukupi kuota usung Capres 20.18% kursi. Tapi jika koalisi tersebut minus 'kursi karya Fahri' (konon mencapai 3 dari NTB, mohon koreksi jika salah), jika saya tak salah hitung cuma 19.64%. Bisa usung Capres?

9 Des 2017

ILC Perlukah Rerun?

Dialog saya dengan Denny Siregar yang tak pernah dimuat media. Kejadiannya sesaat sebelum Maghrib sore nanti, hahaha...!

Siraul Nan Ebat :Gimana sih perasaannya setelah tampil pertama kali di acara ILC-nya Bung Karni Ilyas?

Densi :Biasa saja! Maksudku, bahwa ada komentar ini itu setelah suatu pernyataan seseorang itu hal yang lumrah. Jangankan aku, ucapan Presiden atau Menteri saja bisa dikomentari, kan?

Siraul Nan Ebat :Abang benar! Sekarang ini dunia dibuat ribut oleh pernyataan seorang Donal Trump. Tapi akibatnya konon sekarang dia terkena gejala stroke? Bisa saja itu ada kaitannya dengan kontroversi yang dibuatnya, kan? Apa abang tak merasakan hal yang sama?

Densi :Itu sih salah rakyat Amerikanya sendiri. Milih presiden kok yang penyakitan, hahaha...!

Siraul Nan Ebat :Padahal itu kan wewenangnya Ketua DPR kita ya? Hahaha...!

Densi :Wkwkwk...! Bisa saja kau ini! Tapi kau benar. Hidup ini harus dijalani dengan gembira. Gembira itu menyehatkan. Ayo ngopi, hahaha...!

Siraul Nan Ebat :Sepakat! Aku ini anak kopi hitam, bukan anak susu sapi, hahaha....! Yok kita ngopi-ngopi di kafe temanku. Acara nobar-nya bentar lagi mau mulai nih!

Densi :Nobar apaan? MU lawan City masih lama. Southampton lawan Arsenal aku malas nontonnya. Ga imbang pasti. Kurang seru!

Siraul Nan Ebat :Bukan Nobar bolaaa! Kita mau nobar ILC, hahaha...!

Densi :Haaaah? ILC kan hari Selasa, bukan hari Minggu begini?

Siraul Nan Ebat :Tayangan ulang minggu lalu, Bang! Sangat seru dan menghibur! ILC Perlukah Rerun, hahahaha....!

Densi : (hening)

*tamat

7 Des 2017

Hikmah dan Syukur

Tanpa mengurangi rasa kagum terhadap sahabat Nabi lainnya, Khalid bin Walid adalah idola saya. Saya mengerti betul apa yang dia rasakan saat menjelang ajalnya.

"...tak ada di tubuhku ini, kecuali bekas tusukan pedang dan senjata musuh. Dan sekarang aku akan mati seperti seperti seekor unta tua...".

Saya merasakan sedih yang luar biasa selalu gagal berpartisipasi dalam kegiatan Aksi Bela Islam. Saya sungguh menyesalkannya. Allah SWT seperti tak pernah memberi saya kesempatan berbuat untuk agama saya. Tapi tentu saja saya salah. Allah itu Maha Adil. Allah Maha Pemberi Petunjuk. Selalu ada hikmah dibalik segala ketentuanNYA. Hikmah yang harus ditemukan agar menimbulkan rasa syukur.

Problem hidup yang komplek mestinya disikapi secara positif. Sebab ternyata hanya dengan picu yang sepele, gejolak yang terjadi bisa saja tak terduga. Orang ini salah mendengar omongan saya. Salah dengarnya mengakibatkan salah ucap. Dan saya tak salah dengar ucapannya. Tak salah dengar, tapi keliru reaksi. Maka keluarlah caruk saya, hahaha...!

Saya paham betul dia cuma salah dengar. Dan saya sangat mengerti bahwa reaksi saya itu keliru. Reaksi keliru yang saya lampiaskan pada orang yang sama sekali tak berkepentingan terhadap persoalan hidup saya. Ternyata saya orangnya reaktif sekali. Itu bisa saja berakibat fatal.

Percaya atau tidak, dalam rangka Aksi Bela Islam saya betul-betul telah membuat 2 buah ketapel. Walau tentu takkan benar-benar saya gunakan, tapi itulah simbol perjuangan saya melawan para penghina, penista dan musuh agama saya. Begitulah sakit hati dan bencinya saya terhadap mereka. Dan apa jadinya, jika saya gagal kontrol emosi, andai saat itu saya beneran ikut Aksi Bela Islam? Perbuatan saya bisa merugikan perjuangan barisan umat Islam.

Saya merenung, mengkaji dan mengaji. Inilah rencana Allah SWT menggagalkan niat saya ikut Aksi Bela Islam. Saya melihat hikmahnya. Saya bersyukur. Allah menyelamatkan saya dari kemungkinan fitnah yang saya buat pada Islam.

Saya merenung, mengkaji dan mengaji lagi. Inilah rencana Allah SWT belum meluluskan keinginan saya mendapatkan Rani. Saya melihat hikmahnya. Saya bersyukur. Allah SWT menyelamatkan kami dari kemungkinan buruk yang akan terjadi gegara ketidakmampuan saya bersikap positif.

Saya merenung, mengkaji dan mengaji lagi. Inilah rencana Allah. Saya melihat hikmahnya. Saya bersyukur...

Saya merenung, mengkaji dan mengaji lagi. Inilah rencana Allah. Saya melihat hikmahnya. Saya bersyukur...

30 Nov 2017

Kafir

Surat Al-Kafirun jelas ditujukan pada orang yang bukan Islam. Yang tidak menyembah apa yang aku (Muhammad SAW) sembah, dan yang menyembah apa yang tidak aku (Muhammad SAW) sembah.

"Tak ada keraguan di dalamnya. Petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa" ~ Al-Baqarah ayat 2.

Terpilihnya pemimpin dholim sebagai imam negara kita, ketidakadilan yang dialami umat Islam, maraknya penistaan agama termasuk yang dilakukan Ahok dan sebagainya itu terjadi karena kuasa Allah SWT dengan segala hikmah yang terkandung di dalamnya. Maka bila kita membaca aneka petunjukNYA, sesungguhnya makar Allah SWT itu Maha Sempurna.

Kita melihat bahwa siapa saja sesungguhnya yang benar berjuang demi umat dan siapa para pejabat penjilat dan pengkhianat. Terhadap kita diperlihatkan dengan tegas dan jelas siapa sebetulnya yang layak kita ikuti dan mana yang mesti kita lawan. Makin jelas siapa lawan dab kawan. Makin terang siapa sebetulnya orang-orang seperti yang dikatakan Allah SWT dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 7 itu,

"Allah telah mengunci hati mereka. Mata dan telinga mereka telah tertutup. Dan bagi mereka adalah azab yang sangat pedih".

Mereka adalah orang-orang yang ingkar (kafir), yang 'percuma diberi peringatan karena mereka tetap takkan beriman', seperti yang dijelaskan pada ayat sebelumnya, Al-Baqarah ayat 6.

Tak ada ayat Al-Quran yang saling bertentangan satu dengan yang lainnya. Kemurnian dan keagungannya Allah SWT sendiri yang menjaganya. Sampai sekarang belum ada satupun yang mampu menjawab tantanganNYA untuk 'menguji keagungannya'.

Maka surat Al-Kafirun dan Surat Al-Baqarah tersebut jelas tidak saling bertentangan. Orang yang bertaqwa hanya perlu membaca petunjukNYA. Kepada siapa kata-kata 'kafaru' pada ayat 6 Al-Baqarah tersebut? Ayat berikutnya gamblang menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang hatinya telah dikunci, mata dan telinganya telah ditutup. Mereka bukan orang yang beriman, walau mengaku Islam. Abu Bakar assidiq memerangi orang-orang yang menolak membayar zakat, karena dianggap murtad. Jadi jika menolak bayar zakat saja telah murtad, maka (mengaku) muslim yang mati-matian membela penista agama, pelaku penghinaan dan kriminalisasi ulama, dan pejabat yang membuat kebijakan-kebijakan yang anti Islam apakah masih layak disebut sebagai muslim?

"Allah telah mengunci hati mereka. Mata dan telinga mereka telah tertutup. Dan bagi mereka azab yang amat pedih".

*Selamat Siang!

20 Nov 2017

Inti Dakwah

Seribu atau bahkan sejuta muslimah yang melepas jilbabnya takkan sedikitpun mengurangi nilai-nilai Islam. Apalagi bila cuma itu seorang wanita tak penting bernama Rina Nose. Mari kembali pada nilai, dan berhentilah berpegang pada sosok seseorang. Salah kaprah itulah selama ini yang menimbulkan banyak kekacauan pada umat. Berpegang pada manusia itu sangat berpotensi berujung pada pengkultusan, pemujaan yang berakhir pada laku sirik. Itu dosa yang tak bakal dianulir Allah SWT.

Umar bin Khattab yang karena begitu cinta dan memujanya sampai pernah 'mengancam bunuh' semua orang yang mengatakan Nabi Muhammad SAW telah mati. Abu Bakar assiddiq lah yang menyelamatkan dan menyadarkannya dari bahaya syirik.

"Barang siapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad telah mati. Dan barang siapa yang menyembah Allah SWT, maka sesungguhnya DIA tak pernah mati".

Pelajaran dari Abu Bakar itulah pula yang menyebabkan Umar memecat panglima perang kebanggaan Islam Khalid bin Walid. Umar bin Khattab sangat mengkhawatirkan rusaknya aqidah umat sebab terlalu memuja dan menyanjung kehebatan Khalid sebagai panglima perang.

Kita umat Islam punya banyak PR yang jauh lebih penting ketimbang mempersoalkan seorang yang tak penting. Bersatunya umat Islam itu penting. Tapi meluruskan mereka yang bengkok itu jauh lebih mendesak. Percuma kuat di dunia nyata, bila di akhiratnya tak semua selamat. Inti dakwah bukanlah mengajak bersatunya umat, tapi menyampaikan kebenaran.

Selamat Pagi...!

17 Nov 2017

Maafkan Saya, Papa!

Selama ini saya menetapkan standar yang tinggi atas sesuatu yang disebut lucu. Saya tidak memfollow satu pun akun para komedian di media sosial yang saya gunakan. Saya juga tak merasa perlu-perlu amat nonton tipi yang belakangan ini banyak menampilkan para pelawak dan komedian sebagai pengisi acaranya. Menurut saya 'tak satu pun' diantara mereka yang layak disebut komedian.

Saya tak setuju ada situasi saling aniaya dianggap sebuah kelucuan. Saya tak suka ada tertawa yang mengiringi sebuah panggilan jelek seperti 'muka comberan', apalagi 'sebutan nama binatang' yang ditujukan pada seseorang terkait dengan kekurangan fisiknya. Itu bukan lelucon, tapi penghinaan.

Saya tak suka 'lawakan genit', lelucon mesum. Saya paling anti pelawak yang menggunakan materi agama bukan untuk syiar, tapi untuk melecehkannya. Dan maaf, di Indonesia saya tak (belum) menemukan seorang pun yang memenuhi standart-standart yang saya sebutkan di atas.

Para pelawak inilah yang telah merusak selera humor orang Indonesia. Seorang yang pendek, berhidung pesek atau yang perutnya bulek adalah objek lucu-lucuan di grup WA. Apa lucunya? Demi Allah, saya tak melihatnya?

Si jomblo dibully? Oke-oke saja, sebagai hiburan? Tapi jika telah sampai pada topik kapan nikah, malam Jum'at, sunnah rasul dan sebagainya? Sadar diri saja, bebas dosa ga selama pacaran? Nikahnya karena cinta atau sebab disandera zina?

"Aku udah yang ke-2, lu satu aja belum?", dan ditimpali dengan emoji-emoji penghasut tawa.

Lah, yang pertama cerai dianggap lucu? Dan dibanggakan pula? Itu namanya tak tau diri! Pernikahan gagal dianggap lucu? Kan lucu? Hahaha...!

Apa yang lucu dari kata sunnah rasul? Mengolok-olok agama? Iya banget!

Saya pribadi sering mengalami olok-olok begitu. Tak ada masalah, sebab bagi saya mudah saja menemukan kegembiraan, dibalik aneka hinaan dan atau bully yang saya terima. Saya ladeni saja sepanjang saya pikir mampu menjaga komitmen takkan pernah menyinggung perasaan orang lain. Saya berhenti, jika terlihat mulai mengarah pada menghina orang lain atau mengolok-olok ajaran agama. They're so nothing...!

Saya bangga pada fakta bahwa seanti-antinya saya dengan Jokowi-Ahok dan fanboys-nya, tak sekalipun saya pernah menyebut mereka sebagai kodok, kecebong dan sebagainya. Saya bangga saat seorang teman yang saya kenal cuma di Facebook mengatakan bahwa buku saya tak ada tandingnya. "ngakak beradab", katanya.

Saya bangga bisa tetap menjaga etika dalam berkarya. Saya bangga tetap bisa berkarya dan bergembira dengan berpegangteguh pada komitmen dan cara saya sendiri.

Dan sebebetulnya saya telah menahan diri takkan mengolok-olok seorang yang tertimpa musibah, seperti yang sedang dialami Papa sekarang ini. Saya mengerti betapa tak eloknya menertawai derita orang lain. Saya tahan diri untuk tak mentwit atau posting suatu yang lucu soal Papa yang kecelakaan tersebut. Soal kecelakaan yang dialaminya saya twit dan posting seada dan sewajarnya saja, awalnya.

Yaa, awalnya saja. Sebab makin lama saya menahan diri, malah membuat saya menderita sendirian. Hampir semua orang yang ada di TL Facebook dan Twitter saya bergembira dengan twit dan postingannya. Semua terhibur dengan musibah yang dialami papa. Bahkan akun-akun portal berita mainstream sekalipun turut memprovokasi kegembiraan para followernya dengan ikut-ikutan posting lucu-lucuan seputaran musibah papa tersebut. Akun sipil awam biasa sampai akun selebriti dan tokoh ternama. Akun pribadi sampai akun official resmi lintas kepentingan dan kompetensi. Saya merasa aneh sendiri bila tak mengikuti gembira kolosal begini. Maka maafkanlah saya, Papa! Saya tak tahan menderita sendirian, hahaha...!

Cepat sembuh, Papa...!
Diundang Pak Jokowi ke Medan, kan?

15 Nov 2017

Kalah Jargon

Sebagai bangsa besar yang kaya manusia, sumber daya alam dan pengalaman sejarahnya, adalah menyedihkan kenapa Indonesia masih saja tergolong negara berkembang, kalau ogah disebut negara terbelakang. Salah satu dugaan penyebabnya menurut saya adalah miskin dan kelirunya prinsip hidup yang dianut bangsa kita. Motivasi dan target hidup yang minimalis.

Jerman terkenal dengan slogan uber allez-nya. Bangsa yang selalu berkoar sebagai bangsa dan ras nomor satu. Amerika yang selalu berlagak sebagai negara pemimpin. Atau Jepang yang terkenal dengan prinsip kemandirian dan menghormati waktunya. Konon para wartawan peliput Piala Dunia 2002 di Jepang dulu sempat heran saat sejam jelang kick off pertandingan final, 'stadion masih lengang'. Masyarakat Jepang tak sudi membuang 60 menitnya yang berharga itu hanya untuk sekedar menunggu pertandingan dimulai.

"Waktu adalah uang", prinsip Jepang yang telah sangat kita akrabi selama ini.

Sebaliknya dengan prinsip minimalis ala bangsa kita. Ketika Yamaha mengkampanyekan 'Semakin Di Depan' dan 'Selalu Terdepan'-nya, kita masih saja ngotot dengan 'Biar Lambat Asal Selamat'. Biarlah telat, daripada tidak sama sekali. Cinta tak harus memiliki? Beh, justru demi masa lalu yang indah dan demi mimpi tentang akhir yang bahagia itulah kenapa cinta harus saling memiliki. Pejuang cinta, tapi segitu aja menyerah? Indak kayu, janjang dikapiang.

Baranak ampeeeek...eeek..., Den nanti juo wowowo, den nanti juo.

Pokoknya RANI Harga Mati, Merdekaaaaa...! Hahaha...!

Belakangan malah ada malah yang jargon target yang sangat minimalis. Asal bukan Jokowi atau yang penting bukan Ahok. Padahal ini tak lagi sekedar urusan pribadi seperti soal asmara tadi. Ini soal siapa yang akan menjadi pemimpin yang akan mengurus kehidupan suatu bangsa? Masak targetnya minimalis begitu? Yang penting bukan Ahok? Asal bukan Jokowi? Duhh...!

Motivasi minimalis begitu juga akan diikuti oleh usaha yang minimalis yang berujung pada hasil yang minimalis pula. Padahal jika kita merujuk pada mahirnya urang awak dalam berpetatah-petitih, sangat banyak pelajaran yang bisa kita petik. Orang Minang bahkan terhimpit pun maunya di atas, terkurung pun maunya di luar.

"Cuma di Sumatera Barat satu-satunya daerah yang tak pernah di temui ada rumah yang benar-benar mewah dan rumah benar-benar reyot" ~ Indra J Piliang.

Lamak di awak, katuju di urang. Itu adalah semangat untuk menjadi sempurna?

Ohya, sebetulnya hanya hendak mengingatkan bahwa kita khususnya umat Islam di Indonesia jangan sampai lengah dengan euphoria persatuan Islam. Sebab jargon-jargon persatuan umat yang dimunculkan selama ini potensial membuat kita lalai dan melupakan bahwa menyatukan umat yang berserak itu memang penting, tapi meluruskan mereka yang tersesat jauh lebih mendesak.

"...seluruhnya masuk neraka, kecuali yang mengikutiku dan sahabatku" ~ Nabi Muhammad SAW.

Percuma bersatu di dunia, bila di akhiratnya tetap saja terpisah.

13 Nov 2017

Paras Hukum Kita

Ditetapkannya kembali Setya Novanto sebagai tersangka oleh KPK adalah bukti bahwa aparat hukum BOLEH SEENAKNYA saja melanggar hukum dan tak perlu taat hukum. Tak pernah ada sanksi yang diterima KPK atas kesalahannya yang terbukti di pra peradilan yang diajukan Novanto.

Berapa banyak terjadi kasus salah tembak, salah tangkap, salah hukum bahkan rekayasa dan ciptakan kasus, aparat pelakunya masih saja dibayar dan digaji oleh negara. Tak pernah ada istilah kriminal bagi aparat pelanggar hukum. Aparat hujum yang melanggar hukum disebutnya menyalahi kode etik atau pelanggaran prosedur. Hukumannya pun jika ada hanya sebatas mutasi, doank! Sampai saat ini gerombolan aparat preman yang menembak mati orang yang baru pulang dari mesjid hanya karena diduga teroris masih rutin menerima gaji tiap bulannya dari negara. Apa sanksi yang mereka terima? Dana kompensasi bagi korban pun juga pakai anggaran dari APBN.

Benar atau salahnya Setya Novanto itu soal lain. Saya setuju jika di pengadilan terbukti dia korupsi, hukum saja seberat-beratnya. Hukuman potong rambut atau cukur bulu ketiaknya misalnya, siapa tahu dengan itu kesaktiannya bisa hilang. Tapi yang lebih pentingnya adalah, aparat hukumnya sendiri harus lebih dulu bersih hukum. Sebab, kelakuan KPK ini bukan yang pertama kali.

KPK dinyatakan bersalah di praperadilan yang diajukan Novanto. Sebelumnya, KPK juga pernah terbukti bersalah saat mentersangkakan Budi Gunawan. KPK selaku aparat hukum telah berbuat seenaknya tanpa pernah diberi sanksi sama sekali. Akibatnya kelakuan tersebut selalu saja mereka lakukan lagi dan berulang.

Novanto atau BG bisa saja memang salah. Tapi yang pasti mereka telah didholimi. BG batal jadi Kapolri, sedang Novanto sendiri jadi cengeng dan sakit-sakitan. Kan itu buat malu bangsa? Ketua Wakil rakyat kok penyakitan? Hahaha...!

*Ngigau siang

11 Nov 2017

Fanfic Atau Bukan?

Dulu saya sangat skeptis terhadap para penulis fanfic. Apalagi sejak demam K-Pop melanda Indonesia. Saya sebetulnya paham bahwa teman-teman penulis tersebut cuma bermaksud membuat semacam album cerita para idolanya. Yang saya 'sesalkan' adalah kenapa dengan kemampuan menulis begitu rupa mereka tidak menciptakan saja sendiri tokoh dalam ceritanya. Sayang banget, kan? Tapi sudahlah! Itu telah berlalu. Sekarang saya justru sedang cemas memikirkan tulisan-tulisan saya sendiri. Apakah saya termasuk salah seorang diantara mereka, fanfictioners? Hadduh...!

Sebetulnya dulu saya telah membaca banyak hal soal fanfic. Saya pernah mengomentari sebuah tulisan yang membahas tuntas soal fanfic. Mulai dari apa itu fanfic dan segala macam jenisnya, sampai pada persoalan hukum yang mungkin bisa menjerat penulis ataupun penerbitnya. Dalam berbagai banyak tulisan mengenai fanfic selalu saja berujung pada novel, atau paling tidak cerpen. Dan sampai beberapa waktu lalu saya masih belum menyadari bahwa saya mungkin saja adalah juga seorang penulis fanfic. Kecurigaan saya muncul setelah berdiskusi dengan teman sesama penulis yang juga banyak tahu tulisan-tulisan saya. Dan menurutnya saya adalah juga seorang fanfictioner, duhhh...!

Selama ini saya sama sekali tak pernah merasa sebagai seorang penulis fanfic. Saya bukan penggemar Guns N Roses atau Bon Jovi. Band rock idola saya itu Def Leppard. Saya juga bukan fans Peterpan, Wali apalagi Kangen Band. Saya Die Hard-nya Ribas. Saya koleksi lagu Ona Sutra juga justru setelah tulisan yang membullynya itu selesai saya tulis.

Jika fanfic adalah semacam tribut untuk idola maka sudah jelas saya bukan seorang fanfictionis/ner sih? Saya tak pernah menulis cerita fiksi dengan tokoh para personel Def Leppard dan juga Ribas. Lagipula mana mungkin saya nge-fans dengan manusia cengeng lagi penyakitan seperti Setya Novanto, hahaha...!

Entahlah! Tapi ada sangat banyak perbedaan antara fanfic dan tulisan-tulisan dialog imajiner saya. Fanfic normalnya hanyalah sebuah cerita fiksi hiburan biasa. Tapi dalam perspektif pribadi, karya-karya dialog imajiner seperti yang biasa saya buat adalah satu metode baru temuan sendiri (?) dalam menyampaikan suatu peristiwa atau informasi. Selain karena request-an teman, biasanya saya menulis cerita dialog imajiner tersebut setelah membaca suatu berita. Berita tersebut kemudian saya tulis ulang dengan gaya sendiri dengan mengkombinasikan dan mengaduk-aduknya dengan berita-berita lain dalam format dialog imajinatif. Itulah salah satu sebab kenapa saya tak mau menyamarkan atau memelintir sosok yang sedang saya tulis. Walau caranya aneh, tapi saya hanya sedang menulis berita. Saya ingin menginformasikan bahwa Guns N Roses formasi klasik akan reunian. Bahwa Jon Bon Jovi baru saja membeli sebuah kondominium mewah. Bahwa ternyata Ratu Atut ditahan KPK tepat sehari setelah masa iddahnya berakhir. Lalu kenapa namanya mesti saya samarkan? Saya juga lihat media seperti New York Time menulisnya Bon Jovi, bukan Bon Kopi misalnya? Maka walau jauh dari etika jurnalistik, karya-karya dialog imajiner itu saya anggap hanyalah sebagai sebuah tulisan informatif bermuatan kritik sosial, budaya, politik ataupun entertainment. Walau....

Walau...

Ahhh....!

10 Nov 2017

Viral

Di Facebook saya memang punya banyak teman penulis-penulis jempolan. Ada penulis novel, cerpen, fanfic dan tentu saja tulisan-tulisan sosial budaya, politik, motivasi dan pengembangan diri. Walau sebatas tulisan di blog, saya jujur akui bakat menulis mereka jauh di atas kemampuan saya. Saya penggemar dan penikmat tulisan mereka dan saya bangga berteman dengan mereka. Beberapa waktu lalu seorang dari mereka tulisannya viral di media, bahkan sampai dimuat di tv segala. Ingat saja booming nikah siri dot com. Teman penulis saya itulah penyebabnya. Walau merendah dengan menyebut cuma sekitar 500an share (saat itu) tapi bagi saya itu adalah prestasi besar yang layak diapresiasi.

Kurang dari tiga mingguan yang lalu tulisan seorang teman saya yang lainnya lagi pula yang viral. Tak sampai dimuat media televisi memang, tapi tulisan anti mainstreamnya ini memang sangat luar biasa. Saya intip tadi telah hampir mencapai 21ribu kali sharing. Ini berlipat kali lebih banyak dari jumlah share 'postingan Mama Dedeh' yang bahkan sampai menyumpahi mati ibu orang-orang yang tak mau men-share postingan Facebooknya. Bahkan sembilan tahun berkarir di Facebook, rasanya belum pernah saya melihat jumlah share sebanyak itu.

Ini buat saya iri, marah dan sekaligus bangga juga. Iri, karena saya yang telah nulis dua judul buku saja rasanya belum pernah ada yang share tulisan saya lebih dari 5x, hahaha...! Artinya lagi, tulisannya ribu-ribuan kali lebih menginspirasi ketimbang tulisan saya.

Saya marah. Terang aja, sebagai junior mestinya dia tau diri dikit donk? Saya duluan yang pengen ngetop, kenapa berani-beraninya dia lancang melangkahi saya? Saya marah pada diri sendiri, kenapa tak bisa menulis lebih baik ketimbang dirinya.

Tapi sebelum stress sendiri, saya putuskan ikut berbahagia, senang dan berbangga saja terhadapnya. Senang karena dia akhirnya 'terpikir serius menulis buku'. Saya senang bukan karena dia ikut-ikutan saya yang telah punya 2 judul buku. Tulisannya yang viral itulah yang menyemangatinya. Dan saya senang, karena sayalah penyebab tulisannya itu jadi viral.

6 Nov 2017

Teman Saya Itu

Sebetulnya dia sama sekali tidak termasuk ke dalam barisan artis cewek favorit saya. Saya minta pertemanan Facebook dengannya juga bisa dibilang kecelakaan biasa. Saya berteman di Facebook dengan banyak artis dan orang film teman dekatnya. Dan begitu namanya disodorkan Facebook sebagai orang yang mungkin saya kenal, langsung saya klik saja tombol add as friendsnya. Dan diterima. Itulah bagusnya jadi artis tak terkenal. Teman Facebooknya tak banyak, jadi masih ada slot buat saya menjadi teman Facebooknya, hahaha...!

Tapi kemudian kami jadi akrab. Di Twitter kami juga saling follow. Dialah teman selebritis terdekat saya, walau sebatas di dunia maya belaka. Dan boleh bangga donk, kalau dia sering mensyen saya duluan, sekadar beri selamat ulangtahun atau ucapan selamat berhari raya. Saya bahkan punya alamat dan nomor teleponnya segala, hehehe...!

Dan terus terang dia adalah seorang wanita yang multi talenta. Tak cuma pandai berakting, dia juga seorang penulis. Penulis beneran, walau baru menerbitkan satu judul buku saja. Tak seperti artis lain yang menulis perjalanan hidupnya, teman saya ini seorang penulis novel. Dan bila melihat aneka testimoni dan kutipan-kutipan bukunya saya yakin sekali novel karyanya itu keren. Saya memang belum punya bukunya, untuk suatu alasan yang sulit saya beberkan di sini.

Dia sudah beli buku Rekreasi Hati saya yang pertama, dan saya yakin dia telah baca dan menyukainya. Setidaknya dia sering like postingan saya di Facebook, terutama yang berkaitan dengan Rekreasi Hati. Perkara kenapa dia ogah beri testimoni dan beli Rekreasi Hati 2 inilah yang sampai beberapa saat tadi masih jadi misterinya.

Walau hubungan di sosmed kami lebib akrab dari yang bisa dibayangkan, saling support karir masing-masing, nyatanya di dunia nyata kami buta satu sama lain. Kemaren dia posting launching usaha terbarunya: jualan makanan online. Waaah, keren sekali rupanya teman saya ini. Multi talenta sekali. Saat saya tanya, dia bilang dia hobi masak juga. Saya pikir kami juga bisa akrab di dunia nyata. Sama-sama punya banyak keahlian. Dan saya juga kan mantan koki di sebuah kafe bangkrut, haha...!

Tapi begitulah. Saya jadi tertarik mengenal teman ini lebih jauh lagi. Googling, dan saya menemukan hal menarik yang membuat saya pucat, kekurangan ion. Ternyata suaminya adalah kerabat seorang yang saya tulis bobroknya di buku Rekreasi Hati.

Duh,...!

3 Nov 2017

Den dan Papa

Den :Pejabat publik kok cengeng?

Papa :Maksud kau apa, heh?

Den :Meme aja diributin!

Papa :Mereka semua, pembuat, pengunggah dan penyebarnya itu tak punya hati. Tak punya empati. Orang sakit kok digituin?

Den :Udah cengeng, penyakitan pula!

Papa :Diam kau!

Den :Tadi tiap ditanya hakim kok jawabnya lupa melulu?

Papa :Lupa ya karena ga ingat. Bengak kali kau ini!

Den :Tapi beneran, Papa tak pernah terima aliran duit E-KTP?

Papa :Ga (ketus)

Den :Ga pernah atau ga ingat?

Papa :Ga pernah, paham kaaaaau...?

Den :Yakin ga pernah? Coba diingat-ingat lagi, deh!

Papa :Apa lagi yang mesti kuingat? Kan sudah kubilang aku tak pernah terima aliran dari proyek sialan tersebut.

Den :Tapi Papa kan pelupa?

Papa :Trus apa salahnya orang lupa? Tuhan aja maklumi orang yang lupa, kok!

Den :Tapi yang bapak hadapi tadi itu kan hakim, bukan Tuhan?

Papa : (hening)

Den :Yang begini kok dipercaya jadi wakil rakyat sih? Sebagai Ketua pula! Udah cengeng, penyakitan, pelupa pula? Bisa bangkrut nih, negara kita!

Papa : (hening dan melotot)

*Tamat

29 Okt 2017

Neraka Sudah Dekat (Lagi)

Malaikat :Orang sesat macam kau ini tempatnya bukan di surga, tau?

Said Aqil :Tapi... Saya ini Ketua PBNU, Pak! Pengikut saya banyak.

Malaikat :Justru itu, mereka semua sesat gara-gara kau! Ayoo, ikut aku! Kuantar kau ketemu Malik (Malaikat Penjaga Neraka).

Said Aqil :Begini, Pak! Dengar dulu! Setan aja banyak yang ikut saya, Pak!

Malaikat :Yaa iyyalah! Orang sesat macam kau ini emang temannya setan.

Said Aqil :Ehh,maksud saya! Maksud saya, setan aja bisa saya ajak sholat! Saya bisa ajak mereka jadi jemaah sholat saya, Pak! Keren, kan?

Malaikat :HAAAH...!? (melongo, tak percaya).

Setelah hening sejenak.

Malaikat :Bagaimana cara kau mengajak setan sholat berjamah?

Said Aqil :Itulah gunanya melonggarkan shaff sholat, Pak! Jadi setan juga bisa ikut aholat bersama kita.

Malaikat :Waaah, kau ini betul-betul sesat rupanya! Siapa Tuhanmu?

Said Aqil :Waaah, Bapak ini hobi bercanda juga rupanya. Pakai nanya siapa Tuhanku segala. Saya ini pengikut Kyai Hasyim Asyari, Pak!

Malaikat :Hasyim Asyari? (bingung lagi). Emang dia siapa?

Said Aqil :Dia itu pendiri NU, Pak! Ormas Islam terbesar di negara muslim terbesar, Indonesia, Pak!

Malaikat :Ohya?! Yang mana orangnya?

Said Aqil :Yang itu, Pak! (menunjuk ke arah beberapa orang yang sedang menuju surga).

Malaikat :Yang mana? (masih tak mengenali).

Said Aqil :Yang itu, Pak! Yang jenggotan.

Malaikat :HAAAH! Yang itu? Kalau gitu kau memang tak layak masuk surga.

Said Aqil :Maksudnya, Pak?

Malaikat :Kau kan yang bilang yang jenggotan itu orang goblok?

Said Aqil :Ehh, yaa...anu, Pak! Tapi...!

Malaikat :Maliiiik...! Anggotamu satu lagi nih...! (memanggil malaikat Malik).

*Tamat.

28 Okt 2017

Bid'ah Hasanah? No Way!

Lalu apakah Imam Ini atau Imam Itu orang sesat? Saya tak pernah bilang begitu. Saya juga tak berani menuduh begitu. Saya bahkan cenderung berfikir bahwa yang sesat adalah para pengikut yang gagal memahami kata atau tulisannya. Dan ini bisa terjadi karena kesalahan sang Imam sendiri yang tak 'menjaga ucapannya'. Misalnya soal adanya bid'ah hasanah.

Imam Ini mengatakan ada bid'ah hasanah. Dia memberi contoh bahwa Umar bin Khattab, Abdurrahman bin Auf atau Abu Hurairah pernah melakukan suatu amalan yang tak pernah dilakukan Nabi. Tak ada yang keliru dari contoh yang diberikannya. Yang keliru adalah pendengar yang kemudian mensyiarkan ulang, bahkan walau dengan kata-kata yang sama persis. Kenapa?

Sang Imam 'mungkin tak salah' saat tak menceritakan bahwa Umar bin Khattab, Abdurrahman bin Auf atau Abu Hurairah adalah para sahabat Nabi. Murid dan yang mendengarkannya saat itu tentu tahu, dan sang Imam merasa tak perlu lagi memberi tahu. Persoalannya adalah ketika kisah itu terus diulang-ulang sampai berabad berikutnya. Bahwa ada bid'ah hasanah berikut contoh yang pernah dilakukan oleh sahabat Nabi. DILAKUKAN OLEH SAHABAT NABI. Rujukannya kemudian berhenti pada sang Imam yang menceritakannya. Ini berbahaya.

Bahaya pertama pengkultusan yang merusak aqidah. Tapi yang ingin saya bahas adalah bahaya berikutnya, potensi sesatnya umat. Walau redaksinya sama persis, tapi pemahaman pemirsanya bisa sangat berbeda. Sahabat Nabi yang mana pernah melakukan tahlilan, yassinan dan sebagainya. Ini bukan bicara hasanah dan tidaknya. Ini adalah soal bahwa kita hanya diperintahkan untuk mengikuti Rasulullah dan sahabatnya.

"...seluruhnya masuk neraka. Kecuali yang mengikutiku dan sahabatku", kata Nabi Muhammad SAW.

Tapi kata Imam Ini kan boleh bid'ah hasanah?

Tuh kan, mentoknya di Imam Ini?

Kesalahan si Imam adalah ucapannya yang menyatakan bahwa ADA BID'AH HASANAH, bukan bahwa 'BID'AH BOLEH, ASAL PERNAH DILAKUKAN SAHABAT NABI'.

"...seluruhnya masuk neraka. Kecuali yang mengikutiku dan sahabatku", kata Nabi Muhammad SAW.

Note: Sampai saat ini seluruh ceramah soal bid'ah yang saya dengar selalu mentok merujuk pada Imam Ini atau Imam Itu, bukan pada bahwa Sahabat Ini atau Sahabat Itu pernah melakukannya, hiiiks.. :(

25 Okt 2017

My Wonderfull Life Lagi

Saya punya banyak keluarga dan saudara angkat di Batam. Di Bengkong saya tinggal di rumah seorang teman SMK saya. 8 tahunan tinggal di rumahnya tentulah dia bukan sekedar teman biasa buat saya. Saya kenal dengan banyak famili mereka yang di kampung atau yang tinggal di lain daerah.

Di situ saya bertetangga pula dengan seorang cewek badung lagi cantik bernama Sari yang akrab dipanggil Amoy yang juga telah saya anggap sebagai adik sendiri. Setiap kali jalan bareng cowok, pengakuan pada orangtuanya adalah main ke rumah saya (rumah keluarga angkat saya yang lainnya lagi) di Seraya Atas. Saya adalah abangnya setiap kali dia bolos sekolah.

"Bang, tandatangani surat sakit Amoy donk!", katanya.

Dulu dia sering berkomentar di postingan Facebook saya. Suatu kali seorang teman MTs saya saat di kampung bertanya di kamar pesan, kenapa saya sepertinya begitu akrab dengan Sari alias si Amoy tersebut. Ternyata teman saya itu adalah sepupu dari Si Amoy, hahaha...!

Percakapan chatting kami makin seru dan panjang. Topik utama tentu saja membicarakan betapa bandel dan badung sepupunya itu. Ketika beralih cerita ke masa kecilnya yang ternyata di Batam saya kaget. Walau MTs di kampung dan sekelas dengan saya, SD ternyata dia sekolah di Batam dan sekelas dengan teman sekelas SMK saya yang di atas. Betapa ajaibnya hidup saya, hahaha...!

Allah SWT memberi saya pengalaman hidup yang indah. Lalu nikmat hidup seperti apalagi yang hendak saya ingkari?

23 Okt 2017

Pemerintahan Teroris dan Hoax

Lagi-lagi pemerintah mengeluarkan kebijakan yang bersifat memaksa. Setelah sebelumnya mengancam 'menghentikan pelayanan terhadap'  segala jenis administrasi bagi masyarakat yang tidak menjadi anggota BPJS, sekarang semua pengguna jasa telekomunikasi diwajibkan meregistrasi ulang kartu prabayarnya dan divalidasi sesuai nomor induk kependudukan. Bijak tapi memaksa. Bagaimana kalau saya tidak setuju misalnya?

Saya punya banyak alasan untuk tidak setuju. Pertama, provider penyedia layanan telekomunikasi saja 'tak pernah mempermasalahkannya'. Berikutnya, alasan pemerintah mengeluarkan peraturan itu sendiri.
Alasan pertama yang dipakai adalah untuk mencegah terorisme? Pemerintah menuduh rakyatnya sendiri sebagai teroris? Pemerintah macam apa ini? Sangkaan saya, Peraturan Menteri No 12 tahun 2016 yang efektif diberlakukan akhir Oktober ini seperti 'ancaman' yang dikirim Kominfo via sms ini adalah untuk memata-matai rakyatnya sendiri. Sangkaan saya ini dipertegas oleh alasan pemerintah berikutnya, memberantas hoax.

Dua alasan ini sangat ironi mengingat bahwa selama ini justru pemerintah yang telah menteror rakyatnya sendiri dengan segala macam kriminalisasi ulama dan aktivis. Pemerintah sendiri adalah produsen hoax dengan aneka jenis klaim prestasinya yang terbukti dusta. Presiden malah sangat ramah terhadap penyebar hoax dengan berkali-kali mentraktir mereka makan di Istana Negara. Ustadz Alfian Tanjung yang memberi info A1 soal PKI ditangkap. Emak-emak menulis kritis di dunia maya ditangkap. Si Kodat, teroris yang pidato resmi di dunia nyata malah dibiarkan begitu saja.

Alasan ngawur berikutnya adalah untuk 'meroketkan ekonomi'. Transaksi non tunai perbankan lebih aman, dan segala jenis penyaluran bantuan lebih mudah, katanya. Padahal pengalaman saya menunjukkan bahwa pihak bank lah yang paling sering 'menjual' nomor telepon nasabahnya, termasuk untuk kepentingan penipu dan penipuan. Memudahkan penyaluran bantuan tunai? Ini maksudnya pemerintah mau menyebarkan nomor-nomor telepon kepada pihak lain? Begitu? Mending kayak presiden aja sekalian. Bekerja tanpa mekanisme yang jelas. Bagikan sertifikat dan sepeda sendirian, hahaha...!

22 Okt 2017

My Wonderfull Life


Suara tipinya bila malam, terdengar sampai di rumah saya. Begitu dekatnya jarak rumah kami. Bila perlu, komunikasi antar kami cukup dengan saling berteriak dari dalam kamar di rumah masing-masing. SD dan MTs kamipun di sekolah yang sama. Pun begitu di MDA-nya. Maka baik di rumah atau juga di sekolah, kami selalu bertemu muka.

Tapi hubungan pertemanan kami tak bisa dibilang baik. Dia adalah teman cewek yang paling menyebalkan dalam pandangan saya. Pun begitu sebaliknya. Di matanya saya adalah cowok yang sama sekali tak asyik diajak berteman. Nyaris setiap pertemuan ada saja materi yang akan kami pertengkarkan. Bukan pertengkaran mulut biasa, kadang malah terjadi perang fisik, dan saling berbalas pukulan. Hingga tiba saatnya saya melanjutkan ke SMK di Batam, sementara dia lanjut SMA nya tetap di kampung.

Jauh-jauh merantau di Batam, ehh gurunya malah tetangga saya sendiri, Uni dari teman cewek saya tadi. Hidup saya ajaib, kan? Tunggu dulu, ceritanya belum selesai.

Tetangga saya tersebut mulai mengajar pada saat saya kelas dua SMK. Yaah, walau tepatnya 'tak pernah benar-benar jadi guru saya', bagaimanapun dia adalah guru di sekolah saya. Dia mengajar di jurusan yang berbeda dengan saya. Seingat saya dia cuma pernah mengajar sekali, itupun karena mengisi kekosongan kelas karena sekolah kami yang baru berumur setahun tersebut memang masih kekurangan guru. Selain itu kami cuma pernah sekelas kala ujian Catur Wulan, saat dia kebagian giliran menjadi pengawas di kelas saya.

Satu kali, teman cewek saya tersebut 'main-main' ke Batam. Kakaknya tinggal di guest house sekolah karena guru-guru baru yang rata-rata berasal dari luar daerah memang sementara waktu diberi fasilitas tempat tinggal di guest house sekolah. Beberapa kali dia terlihat main-main di sekolah. Teman-teman tentu saja tahu bahwa saya adalah tetangganya di kampung. Anak SMK dari jenis STM tentu bisa kita bayangkan sendiri ghirah mereka begitu melihat makhluk Tuhan dari jenis manusia cewek. Entah beneran dia cantik atau tidak, tapi teman-teman saya terlihat 'begitu anarki' saat melihatnya. Kalau dibanding keseluruhan teman cewek satu sekolah saya yang cuma belasan orang itu, barangkali benar teman kampung saya ini jadi terlihat lebih menonjol. Tapi yang pasti buat saya dia tetap seorang 'musuh lama' yang kebetulan saja bertemu di suatu kota. Tapi ternyata cerita tak sampai di situ saja.

Tamat sekolah di kampung ternyata dia ikut menyusul kakaknya tersebut, merantau di Batam. Itu saya ketahui belasan tahun kemudian, ketika dunia sedang demam Facebook. Kami memang berteman di Facebook, dan dari pengakuannya dia juga telah belasan tahun merantau di Batam. Setiap diundang mengunjunginya saya tak pernah datang. Saya ini seniornya jika soal merantau. Jadi mesti dia yang duluan mendatangi saya, hahaha...!

Tapi akhirnya keingingan saling bertemu dua orang 'musuh lama' ini kesampaian juga. Lebaran tahun kemaren kami ternyata sama-sama mudik, hahaha...! Merantau di daerah yang sama, nyatanya bertemu di kampuang jua. Di rumahnya sedang ada acara aqiqahan. Ternyata aqiqahan anaknya. Dan mau tahu, ternyata suaminya adalah teman SMK saya di Batam, hahaha...!

Masya Allah, Allahu Akbar...!

19 Okt 2017

Dengan Ilmu

Kenapa ada anak-anak bandel? Kenapa tangisnya tak bisa dihentikan? Kenapa ada orang yang seakan tak bisa dinasehati?

Kenapa sulit sekali menasehati seorang berhenti merokok, berjudi, narkoba dan mabuk-mabukan?

Kenapa sulit sekali memberantas balap liar?

Kenapa korupsi tak bisa dibasmi?

Kenapa saya masih saja gagal mendapatkan Rani? Hahaha...!

Kenapa dengan kuota jumlah pertemanan di Facebook yang nyaris full, atensi like atau komentar di postingan promo-promo jualanmu cuma 1,2,3,4 atau 5 orang saja? Padahal banyak akun alay yang entah menulis apa banjir like dan komentar?

Ceramah tetap dilakukan. Ulama-ulama tetap berdakwah. Bahkan di sosial media sekarang setiap menitnya selalu ada postingan-postingan yang menyeru pada kebaikan. Pesan-pesan dakwah seorang Habib Rizieq yang berada jauh di Arab sana, hanya dalam hitungan detik bisa kita terima di depan mata kita sendiri. Bahkan bukan cuma manusia yang masih hidup, rekaman suara syiar dakwah ulama seperti Almarhum Zainuddin Mz saat masih hidup pun masih sering kita simak hingga saat ini. Tapi kenapa akhlak dan moral umat sekarang masih saja menjadi satu persoalan serius?

Kenapa...???

"Man aradad dunya faalaihi bil ilmi,
Man aradal akhirat faalaihi bil ilmi,
Man arada huma faalaihi bil ilmi".

Selamat Sore...!