Follow Donk...!

17 Nov 2017

Maafkan Saya, Papa!

Selama ini saya menetapkan standar yang tinggi atas sesuatu yang disebut lucu. Saya tidak memfollow satu pun akun para komedian di media sosial yang saya gunakan. Saya juga tak merasa perlu-perlu amat nonton tipi yang belakangan ini banyak menampilkan para pelawak dan komedian sebagai pengisi acaranya. Menurut saya 'tak satu pun' diantara mereka yang layak disebut komedian.

Saya tak setuju ada situasi saling aniaya dianggap sebuah kelucuan. Saya tak suka ada tertawa yang mengiringi sebuah panggilan jelek seperti 'muka comberan', apalagi 'sebutan nama binatang' yang ditujukan pada seseorang terkait dengan kekurangan fisiknya. Itu bukan lelucon, tapi penghinaan.

Saya tak suka 'lawakan genit', lelucon mesum. Saya paling anti pelawak yang menggunakan materi agama bukan untuk syiar, tapi untuk melecehkannya. Dan maaf, di Indonesia saya tak (belum) menemukan seorang pun yang memenuhi standart-standart yang saya sebutkan di atas.

Para pelawak inilah yang telah merusak selera humor orang Indonesia. Seorang yang pendek, berhidung pesek atau yang perutnya bulek adalah objek lucu-lucuan di grup WA. Apa lucunya? Demi Allah, saya tak melihatnya?

Si jomblo dibully? Oke-oke saja, sebagai hiburan? Tapi jika telah sampai pada topik kapan nikah, malam Jum'at, sunnah rasul dan sebagainya? Sadar diri saja, bebas dosa ga selama pacaran? Nikahnya karena cinta atau sebab disandera zina?

"Aku udah yang ke-2, lu satu aja belum?", dan ditimpali dengan emoji-emoji penghasut tawa.

Lah, yang pertama cerai dianggap lucu? Dan dibanggakan pula? Itu namanya tak tau diri! Pernikahan gagal dianggap lucu? Kan lucu? Hahaha...!

Apa yang lucu dari kata sunnah rasul? Mengolok-olok agama? Iya banget!

Saya pribadi sering mengalami olok-olok begitu. Tak ada masalah, sebab bagi saya mudah saja menemukan kegembiraan, dibalik aneka hinaan dan atau bully yang saya terima. Saya ladeni saja sepanjang saya pikir mampu menjaga komitmen takkan pernah menyinggung perasaan orang lain. Saya berhenti, jika terlihat mulai mengarah pada menghina orang lain atau mengolok-olok ajaran agama. They're so nothing...!

Saya bangga pada fakta bahwa seanti-antinya saya dengan Jokowi-Ahok dan fanboys-nya, tak sekalipun saya pernah menyebut mereka sebagai kodok, kecebong dan sebagainya. Saya bangga saat seorang teman yang saya kenal cuma di Facebook mengatakan bahwa buku saya tak ada tandingnya. "ngakak beradab", katanya.

Saya bangga bisa tetap menjaga etika dalam berkarya. Saya bangga tetap bisa berkarya dan bergembira dengan berpegangteguh pada komitmen dan cara saya sendiri.

Dan sebebetulnya saya telah menahan diri takkan mengolok-olok seorang yang tertimpa musibah, seperti yang sedang dialami Papa sekarang ini. Saya mengerti betapa tak eloknya menertawai derita orang lain. Saya tahan diri untuk tak mentwit atau posting suatu yang lucu soal Papa yang kecelakaan tersebut. Soal kecelakaan yang dialaminya saya twit dan posting seada dan sewajarnya saja, awalnya.

Yaa, awalnya saja. Sebab makin lama saya menahan diri, malah membuat saya menderita sendirian. Hampir semua orang yang ada di TL Facebook dan Twitter saya bergembira dengan twit dan postingannya. Semua terhibur dengan musibah yang dialami papa. Bahkan akun-akun portal berita mainstream sekalipun turut memprovokasi kegembiraan para followernya dengan ikut-ikutan posting lucu-lucuan seputaran musibah papa tersebut. Akun sipil awam biasa sampai akun selebriti dan tokoh ternama. Akun pribadi sampai akun official resmi lintas kepentingan dan kompetensi. Saya merasa aneh sendiri bila tak mengikuti gembira kolosal begini. Maka maafkanlah saya, Papa! Saya tak tahan menderita sendirian, hahaha...!

Cepat sembuh, Papa...!
Diundang Pak Jokowi ke Medan, kan?

15 Nov 2017

Kalah Jargon

Sebagai bangsa besar yang kaya manusia, sumber daya alam dan pengalaman sejarahnya, adalah menyedihkan kenapa Indonesia masih saja tergolong negara berkembang, kalau ogah disebut negara terbelakang. Salah satu dugaan penyebabnya menurut saya adalah miskin dan kelirunya prinsip hidup yang dianut bangsa kita. Motivasi dan target hidup yang minimalis.

Jerman terkenal dengan slogan uber allez-nya. Bangsa yang selalu berkoar sebagai bangsa dan ras nomor satu. Amerika yang selalu berlagak sebagai negara pemimpin. Atau Jepang yang terkenal dengan prinsip kemandirian dan menghormati waktunya. Konon para wartawan peliput Piala Dunia 2002 di Jepang dulu sempat heran saat sejam jelang kick off pertandingan final, 'stadion masih lengang'. Masyarakat Jepang tak sudi membuang 60 menitnya yang berharga itu hanya untuk sekedar menunggu pertandingan dimulai.

"Waktu adalah uang", prinsip Jepang yang telah sangat kita akrabi selama ini.

Sebaliknya dengan prinsip minimalis ala bangsa kita. Ketika Yamaha mengkampanyekan 'Semakin Di Depan' dan 'Selalu Terdepan'-nya, kita masih saja ngotot dengan 'Biar Lambat Asal Selamat'. Biarlah telat, daripada tidak sama sekali. Cinta tak harus memiliki? Beh, justru demi masa lalu yang indah dan demi mimpi tentang akhir yang bahagia itulah kenapa cinta harus saling memiliki. Pejuang cinta, tapi segitu aja menyerah? Indak kayu, janjang dikapiang.

Baranak ampeeeek...eeek..., Den nanti juo wowowo, den nanti juo.

Pokoknya RANI Harga Mati, Merdekaaaaa...! Hahaha...!

Belakangan malah ada malah yang jargon target yang sangat minimalis. Asal bukan Jokowi atau yang penting bukan Ahok. Padahal ini tak lagi sekedar urusan pribadi seperti soal asmara tadi. Ini soal siapa yang akan menjadi pemimpin yang akan mengurus kehidupan suatu bangsa? Masak targetnya minimalis begitu? Yang penting bukan Ahok? Asal bukan Jokowi? Duhh...!

Motivasi minimalis begitu juga akan diikuti oleh usaha yang minimalis yang berujung pada hasil yang minimalis pula. Padahal jika kita merujuk pada mahirnya urang awak dalam berpetatah-petitih, sangat banyak pelajaran yang bisa kita petik. Orang Minang bahkan terhimpit pun maunya di atas, terkurung pun maunya di luar.

"Cuma di Sumatera Barat satu-satunya daerah yang tak pernah di temui ada rumah yang benar-benar mewah dan rumah benar-benar reyot" ~ Indra J Piliang.

Lamak di awak, katuju di urang. Itu adalah semangat untuk menjadi sempurna?

Ohya, sebetulnya hanya hendak mengingatkan bahwa kita khususnya umat Islam di Indonesia jangan sampai lengah dengan euphoria persatuan Islam. Sebab jargon-jargon persatuan umat yang dimunculkan selama ini potensial membuat kita lalai dan melupakan bahwa menyatukan umat yang berserak itu memang penting, tapi meluruskan mereka yang tersesat jauh lebih mendesak.

"...seluruhnya masuk neraka, kecuali yang mengikutiku dan sahabatku" ~ Nabi Muhammad SAW.

Percuma bersatu di dunia, bila di akhiratnya tetap saja terpisah.

13 Nov 2017

Paras Hukum Kita

Ditetapkannya kembali Setya Novanto sebagai tersangka oleh KPK adalah bukti bahwa aparat hukum BOLEH SEENAKNYA saja melanggar hukum dan tak perlu taat hukum. Tak pernah ada sanksi yang diterima KPK atas kesalahannya yang terbukti di pra peradilan yang diajukan Novanto.

Berapa banyak terjadi kasus salah tembak, salah tangkap, salah hukum bahkan rekayasa dan ciptakan kasus, aparat pelakunya masih saja dibayar dan digaji oleh negara. Tak pernah ada istilah kriminal bagi aparat pelanggar hukum. Aparat hujum yang melanggar hukum disebutnya menyalahi kode etik atau pelanggaran prosedur. Hukumannya pun jika ada hanya sebatas mutasi, doank! Sampai saat ini gerombolan aparat preman yang menembak mati orang yang baru pulang dari mesjid hanya karena diduga teroris masih rutin menerima gaji tiap bulannya dari negara. Apa sanksi yang mereka terima? Dana kompensasi bagi korban pun juga pakai anggaran dari APBN.

Benar atau salahnya Setya Novanto itu soal lain. Saya setuju jika di pengadilan terbukti dia korupsi, hukum saja seberat-beratnya. Hukuman potong rambut atau cukur bulu ketiaknya misalnya, siapa tahu dengan itu kesaktiannya bisa hilang. Tapi yang lebih pentingnya adalah, aparat hukumnya sendiri harus lebih dulu bersih hukum. Sebab, kelakuan KPK ini bukan yang pertama kali.

KPK dinyatakan bersalah di praperadilan yang diajukan Novanto. Sebelumnya, KPK juga pernah terbukti bersalah saat mentersangkakan Budi Gunawan. KPK selaku aparat hukum telah berbuat seenaknya tanpa pernah diberi sanksi sama sekali. Akibatnya kelakuan tersebut selalu saja mereka lakukan lagi dan berulang.

Novanto atau BG bisa saja memang salah. Tapi yang pasti mereka telah didholimi. BG batal jadi Kapolri, sedang Novanto sendiri jadi cengeng dan sakit-sakitan. Kan itu buat malu bangsa? Ketua Wakil rakyat kok penyakitan? Hahaha...!

*Ngigau siang

11 Nov 2017

Fanfic Atau Bukan?

Dulu saya sangat skeptis terhadap para penulis fanfic. Apalagi sejak demam K-Pop melanda Indonesia. Saya sebetulnya paham bahwa teman-teman penulis tersebut cuma bermaksud membuat semacam album cerita para idolanya. Yang saya 'sesalkan' adalah kenapa dengan kemampuan menulis begitu rupa mereka tidak menciptakan saja sendiri tokoh dalam ceritanya. Sayang banget, kan? Tapi sudahlah! Itu telah berlalu. Sekarang saya justru sedang cemas memikirkan tulisan-tulisan saya sendiri. Apakah saya termasuk salah seorang diantara mereka, fanfictioners? Hadduh...!

Sebetulnya dulu saya telah membaca banyak hal soal fanfic. Saya pernah mengomentari sebuah tulisan yang membahas tuntas soal fanfic. Mulai dari apa itu fanfic dan segala macam jenisnya, sampai pada persoalan hukum yang mungkin bisa menjerat penulis ataupun penerbitnya. Dalam berbagai banyak tulisan mengenai fanfic selalu saja berujung pada novel, atau paling tidak cerpen. Dan sampai beberapa waktu lalu saya masih belum menyadari bahwa saya mungkin saja adalah juga seorang penulis fanfic. Kecurigaan saya muncul setelah berdiskusi dengan teman sesama penulis yang juga banyak tahu tulisan-tulisan saya. Dan menurutnya saya adalah juga seorang fanfictioner, duhhh...!

Selama ini saya sama sekali tak pernah merasa sebagai seorang penulis fanfic. Saya bukan penggemar Guns N Roses atau Bon Jovi. Band rock idola saya itu Def Leppard. Saya juga bukan fans Peterpan, Wali apalagi Kangen Band. Saya Die Hard-nya Ribas. Saya koleksi lagu Ona Sutra juga justru setelah tulisan yang membullynya itu selesai saya tulis.

Jika fanfic adalah semacam tribut untuk idola maka sudah jelas saya bukan seorang fanfictionis/ner sih? Saya tak pernah menulis cerita fiksi dengan tokoh para personel Def Leppard dan juga Ribas. Lagipula mana mungkin saya nge-fans dengan manusia cengeng lagi penyakitan seperti Setya Novanto, hahaha...!

Entahlah! Tapi ada sangat banyak perbedaan antara fanfic dan tulisan-tulisan dialog imajiner saya. Fanfic normalnya hanyalah sebuah cerita fiksi hiburan biasa. Tapi dalam perspektif pribadi, karya-karya dialog imajiner seperti yang biasa saya buat adalah satu metode baru temuan sendiri (?) dalam menyampaikan suatu peristiwa atau informasi. Selain karena request-an teman, biasanya saya menulis cerita dialog imajiner tersebut setelah membaca suatu berita. Berita tersebut kemudian saya tulis ulang dengan gaya sendiri dengan mengkombinasikan dan mengaduk-aduknya dengan berita-berita lain dalam format dialog imajinatif. Itulah salah satu sebab kenapa saya tak mau menyamarkan atau memelintir sosok yang sedang saya tulis. Walau caranya aneh, tapi saya hanya sedang menulis berita. Saya ingin menginformasikan bahwa Guns N Roses formasi klasik akan reunian. Bahwa Jon Bon Jovi baru saja membeli sebuah kondominium mewah. Bahwa ternyata Ratu Atut ditahan KPK tepat sehari setelah masa iddahnya berakhir. Lalu kenapa namanya mesti saya samarkan? Saya juga lihat media seperti New York Time menulisnya Bon Jovi, bukan Bon Kopi misalnya? Maka walau jauh dari etika jurnalistik, karya-karya dialog imajiner itu saya anggap hanyalah sebagai sebuah tulisan informatif bermuatan kritik sosial, budaya, politik ataupun entertainment. Walau....

Walau...

Ahhh....!

10 Nov 2017

Viral

Di Facebook saya memang punya banyak teman penulis-penulis jempolan. Ada penulis novel, cerpen, fanfic dan tentu saja tulisan-tulisan sosial budaya, politik, motivasi dan pengembangan diri. Walau sebatas tulisan di blog, saya jujur akui bakat menulis mereka jauh di atas kemampuan saya. Saya penggemar dan penikmat tulisan mereka dan saya bangga berteman dengan mereka. Beberapa waktu lalu seorang dari mereka tulisannya viral di media, bahkan sampai dimuat di tv segala. Ingat saja booming nikah siri dot com. Teman penulis saya itulah penyebabnya. Walau merendah dengan menyebut cuma sekitar 500an share (saat itu) tapi bagi saya itu adalah prestasi besar yang layak diapresiasi.

Kurang dari tiga mingguan yang lalu tulisan seorang teman saya yang lainnya lagi pula yang viral. Tak sampai dimuat media televisi memang, tapi tulisan anti mainstreamnya ini memang sangat luar biasa. Saya intip tadi telah hampir mencapai 21ribu kali sharing. Ini berlipat kali lebih banyak dari jumlah share 'postingan Mama Dedeh' yang bahkan sampai menyumpahi mati ibu orang-orang yang tak mau men-share postingan Facebooknya. Bahkan sembilan tahun berkarir di Facebook, rasanya belum pernah saya melihat jumlah share sebanyak itu.

Ini buat saya iri, marah dan sekaligus bangga juga. Iri, karena saya yang telah nulis dua judul buku saja rasanya belum pernah ada yang share tulisan saya lebih dari 5x, hahaha...! Artinya lagi, tulisannya ribu-ribuan kali lebih menginspirasi ketimbang tulisan saya.

Saya marah. Terang aja, sebagai junior mestinya dia tau diri dikit donk? Saya duluan yang pengen ngetop, kenapa berani-beraninya dia lancang melangkahi saya? Saya marah pada diri sendiri, kenapa tak bisa menulis lebih baik ketimbang dirinya.

Tapi sebelum stress sendiri, saya putuskan ikut berbahagia, senang dan berbangga saja terhadapnya. Senang karena dia akhirnya 'terpikir serius menulis buku'. Saya senang bukan karena dia ikut-ikutan saya yang telah punya 2 judul buku. Tulisannya yang viral itulah yang menyemangatinya. Dan saya senang, karena sayalah penyebab tulisannya itu jadi viral.

6 Nov 2017

Teman Saya Itu

Sebetulnya dia sama sekali tidak termasuk ke dalam barisan artis cewek favorit saya. Saya minta pertemanan Facebook dengannya juga bisa dibilang kecelakaan biasa. Saya berteman di Facebook dengan banyak artis dan orang film teman dekatnya. Dan begitu namanya disodorkan Facebook sebagai orang yang mungkin saya kenal, langsung saya klik saja tombol add as friendsnya. Dan diterima. Itulah bagusnya jadi artis tak terkenal. Teman Facebooknya tak banyak, jadi masih ada slot buat saya menjadi teman Facebooknya, hahaha...!

Tapi kemudian kami jadi akrab. Di Twitter kami juga saling follow. Dialah teman selebritis terdekat saya, walau sebatas di dunia maya belaka. Dan boleh bangga donk, kalau dia sering mensyen saya duluan, sekadar beri selamat ulangtahun atau ucapan selamat berhari raya. Saya bahkan punya alamat dan nomor teleponnya segala, hehehe...!

Dan terus terang dia adalah seorang wanita yang multi talenta. Tak cuma pandai berakting, dia juga seorang penulis. Penulis beneran, walau baru menerbitkan satu judul buku saja. Tak seperti artis lain yang menulis perjalanan hidupnya, teman saya ini seorang penulis novel. Dan bila melihat aneka testimoni dan kutipan-kutipan bukunya saya yakin sekali novel karyanya itu keren. Saya memang belum punya bukunya, untuk suatu alasan yang sulit saya beberkan di sini.

Dia sudah beli buku Rekreasi Hati saya yang pertama, dan saya yakin dia telah baca dan menyukainya. Setidaknya dia sering like postingan saya di Facebook, terutama yang berkaitan dengan Rekreasi Hati. Perkara kenapa dia ogah beri testimoni dan beli Rekreasi Hati 2 inilah yang sampai beberapa saat tadi masih jadi misterinya.

Walau hubungan di sosmed kami lebib akrab dari yang bisa dibayangkan, saling support karir masing-masing, nyatanya di dunia nyata kami buta satu sama lain. Kemaren dia posting launching usaha terbarunya: jualan makanan online. Waaah, keren sekali rupanya teman saya ini. Multi talenta sekali. Saat saya tanya, dia bilang dia hobi masak juga. Saya pikir kami juga bisa akrab di dunia nyata. Sama-sama punya banyak keahlian. Dan saya juga kan mantan koki di sebuah kafe bangkrut, haha...!

Tapi begitulah. Saya jadi tertarik mengenal teman ini lebih jauh lagi. Googling, dan saya menemukan hal menarik yang membuat saya pucat, kekurangan ion. Ternyata suaminya adalah kerabat seorang yang saya tulis bobroknya di buku Rekreasi Hati.

Duh,...!

3 Nov 2017

Den dan Papa

Den :Pejabat publik kok cengeng?

Papa :Maksud kau apa, heh?

Den :Meme aja diributin!

Papa :Mereka semua, pembuat, pengunggah dan penyebarnya itu tak punya hati. Tak punya empati. Orang sakit kok digituin?

Den :Udah cengeng, penyakitan pula!

Papa :Diam kau!

Den :Tadi tiap ditanya hakim kok jawabnya lupa melulu?

Papa :Lupa ya karena ga ingat. Bengak kali kau ini!

Den :Tapi beneran, Papa tak pernah terima aliran duit E-KTP?

Papa :Ga (ketus)

Den :Ga pernah atau ga ingat?

Papa :Ga pernah, paham kaaaaau...?

Den :Yakin ga pernah? Coba diingat-ingat lagi, deh!

Papa :Apa lagi yang mesti kuingat? Kan sudah kubilang aku tak pernah terima aliran dari proyek sialan tersebut.

Den :Tapi Papa kan pelupa?

Papa :Trus apa salahnya orang lupa? Tuhan aja maklumi orang yang lupa, kok!

Den :Tapi yang bapak hadapi tadi itu kan hakim, bukan Tuhan?

Papa : (hening)

Den :Yang begini kok dipercaya jadi wakil rakyat sih? Sebagai Ketua pula! Udah cengeng, penyakitan, pelupa pula? Bisa bangkrut nih, negara kita!

Papa : (hening dan melotot)

*Tamat

29 Okt 2017

Neraka Sudah Dekat (Lagi)

Malaikat :Orang sesat macam kau ini tempatnya bukan di surga, tau?

Said Aqil :Tapi... Saya ini Ketua PBNU, Pak! Pengikut saya banyak.

Malaikat :Justru itu, mereka semua sesat gara-gara kau! Ayoo, ikut aku! Kuantar kau ketemu Malik (Malaikat Penjaga Neraka).

Said Aqil :Begini, Pak! Dengar dulu! Setan aja banyak yang ikut saya, Pak!

Malaikat :Yaa iyyalah! Orang sesat macam kau ini emang temannya setan.

Said Aqil :Ehh,maksud saya! Maksud saya, setan aja bisa saya ajak sholat! Saya bisa ajak mereka jadi jemaah sholat saya, Pak! Keren, kan?

Malaikat :HAAAH...!? (melongo, tak percaya).

Setelah hening sejenak.

Malaikat :Bagaimana cara kau mengajak setan sholat berjamah?

Said Aqil :Itulah gunanya melonggarkan shaff sholat, Pak! Jadi setan juga bisa ikut aholat bersama kita.

Malaikat :Waaah, kau ini betul-betul sesat rupanya! Siapa Tuhanmu?

Said Aqil :Waaah, Bapak ini hobi bercanda juga rupanya. Pakai nanya siapa Tuhanku segala. Saya ini pengikut Kyai Hasyim Asyari, Pak!

Malaikat :Hasyim Asyari? (bingung lagi). Emang dia siapa?

Said Aqil :Dia itu pendiri NU, Pak! Ormas Islam terbesar di negara muslim terbesar, Indonesia, Pak!

Malaikat :Ohya?! Yang mana orangnya?

Said Aqil :Yang itu, Pak! (menunjuk ke arah beberapa orang yang sedang menuju surga).

Malaikat :Yang mana? (masih tak mengenali).

Said Aqil :Yang itu, Pak! Yang jenggotan.

Malaikat :HAAAH! Yang itu? Kalau gitu kau memang tak layak masuk surga.

Said Aqil :Maksudnya, Pak?

Malaikat :Kau kan yang bilang yang jenggotan itu orang goblok?

Said Aqil :Ehh, yaa...anu, Pak! Tapi...!

Malaikat :Maliiiik...! Anggotamu satu lagi nih...! (memanggil malaikat Malik).

*Tamat.

28 Okt 2017

Bid'ah Hasanah? No Way!

Lalu apakah Imam Ini atau Imam Itu orang sesat? Saya tak pernah bilang begitu. Saya juga tak berani menuduh begitu. Saya bahkan cenderung berfikir bahwa yang sesat adalah para pengikut yang gagal memahami kata atau tulisannya. Dan ini bisa terjadi karena kesalahan sang Imam sendiri yang tak 'menjaga ucapannya'. Misalnya soal adanya bid'ah hasanah.

Imam Ini mengatakan ada bid'ah hasanah. Dia memberi contoh bahwa Umar bin Khattab, Abdurrahman bin Auf atau Abu Hurairah pernah melakukan suatu amalan yang tak pernah dilakukan Nabi. Tak ada yang keliru dari contoh yang diberikannya. Yang keliru adalah pendengar yang kemudian mensyiarkan ulang, bahkan walau dengan kata-kata yang sama persis. Kenapa?

Sang Imam 'mungkin tak salah' saat tak menceritakan bahwa Umar bin Khattab, Abdurrahman bin Auf atau Abu Hurairah adalah para sahabat Nabi. Murid dan yang mendengarkannya saat itu tentu tahu, dan sang Imam merasa tak perlu lagi memberi tahu. Persoalannya adalah ketika kisah itu terus diulang-ulang sampai berabad berikutnya. Bahwa ada bid'ah hasanah berikut contoh yang pernah dilakukan oleh sahabat Nabi. DILAKUKAN OLEH SAHABAT NABI. Rujukannya kemudian berhenti pada sang Imam yang menceritakannya. Ini berbahaya.

Bahaya pertama pengkultusan yang merusak aqidah. Tapi yang ingin saya bahas adalah bahaya berikutnya, potensi sesatnya umat. Walau redaksinya sama persis, tapi pemahaman pemirsanya bisa sangat berbeda. Sahabat Nabi yang mana pernah melakukan tahlilan, yassinan dan sebagainya. Ini bukan bicara hasanah dan tidaknya. Ini adalah soal bahwa kita hanya diperintahkan untuk mengikuti Rasulullah dan sahabatnya.

"...seluruhnya masuk neraka. Kecuali yang mengikutiku dan sahabatku", kata Nabi Muhammad SAW.

Tapi kata Imam Ini kan boleh bid'ah hasanah?

Tuh kan, mentoknya di Imam Ini?

Kesalahan si Imam adalah ucapannya yang menyatakan bahwa ADA BID'AH HASANAH, bukan bahwa 'BID'AH BOLEH, ASAL PERNAH DILAKUKAN SAHABAT NABI'.

"...seluruhnya masuk neraka. Kecuali yang mengikutiku dan sahabatku", kata Nabi Muhammad SAW.

Note: Sampai saat ini seluruh ceramah soal bid'ah yang saya dengar selalu mentok merujuk pada Imam Ini atau Imam Itu, bukan pada bahwa Sahabat Ini atau Sahabat Itu pernah melakukannya, hiiiks.. :(

25 Okt 2017

My Wonderfull Life Lagi

Saya punya banyak keluarga dan saudara angkat di Batam. Di Bengkong saya tinggal di rumah seorang teman SMK saya. 8 tahunan tinggal di rumahnya tentulah dia bukan sekedar teman biasa buat saya. Saya kenal dengan banyak famili mereka yang di kampung atau yang tinggal di lain daerah.

Di situ saya bertetangga pula dengan seorang cewek badung lagi cantik bernama Sari yang akrab dipanggil Amoy yang juga telah saya anggap sebagai adik sendiri. Setiap kali jalan bareng cowok, pengakuan pada orangtuanya adalah main ke rumah saya (rumah keluarga angkat saya yang lainnya lagi) di Seraya Atas. Saya adalah abangnya setiap kali dia bolos sekolah.

"Bang, tandatangani surat sakit Amoy donk!", katanya.

Dulu dia sering berkomentar di postingan Facebook saya. Suatu kali seorang teman MTs saya saat di kampung bertanya di kamar pesan, kenapa saya sepertinya begitu akrab dengan Sari alias si Amoy tersebut. Ternyata teman saya itu adalah sepupu dari Si Amoy, hahaha...!

Percakapan chatting kami makin seru dan panjang. Topik utama tentu saja membicarakan betapa bandel dan badung sepupunya itu. Ketika beralih cerita ke masa kecilnya yang ternyata di Batam saya kaget. Walau MTs di kampung dan sekelas dengan saya, SD ternyata dia sekolah di Batam dan sekelas dengan teman sekelas SMK saya yang di atas. Betapa ajaibnya hidup saya, hahaha...!

Allah SWT memberi saya pengalaman hidup yang indah. Lalu nikmat hidup seperti apalagi yang hendak saya ingkari?

23 Okt 2017

Pemerintahan Teroris dan Hoax

Lagi-lagi pemerintah mengeluarkan kebijakan yang bersifat memaksa. Setelah sebelumnya mengancam 'menghentikan pelayanan terhadap'  segala jenis administrasi bagi masyarakat yang tidak menjadi anggota BPJS, sekarang semua pengguna jasa telekomunikasi diwajibkan meregistrasi ulang kartu prabayarnya dan divalidasi sesuai nomor induk kependudukan. Bijak tapi memaksa. Bagaimana kalau saya tidak setuju misalnya?

Saya punya banyak alasan untuk tidak setuju. Pertama, provider penyedia layanan telekomunikasi saja 'tak pernah mempermasalahkannya'. Berikutnya, alasan pemerintah mengeluarkan peraturan itu sendiri.
Alasan pertama yang dipakai adalah untuk mencegah terorisme? Pemerintah menuduh rakyatnya sendiri sebagai teroris? Pemerintah macam apa ini? Sangkaan saya, Peraturan Menteri No 12 tahun 2016 yang efektif diberlakukan akhir Oktober ini seperti 'ancaman' yang dikirim Kominfo via sms ini adalah untuk memata-matai rakyatnya sendiri. Sangkaan saya ini dipertegas oleh alasan pemerintah berikutnya, memberantas hoax.

Dua alasan ini sangat ironi mengingat bahwa selama ini justru pemerintah yang telah menteror rakyatnya sendiri dengan segala macam kriminalisasi ulama dan aktivis. Pemerintah sendiri adalah produsen hoax dengan aneka jenis klaim prestasinya yang terbukti dusta. Presiden malah sangat ramah terhadap penyebar hoax dengan berkali-kali mentraktir mereka makan di Istana Negara. Ustadz Alfian Tanjung yang memberi info A1 soal PKI ditangkap. Emak-emak menulis kritis di dunia maya ditangkap. Si Kodat, teroris yang pidato resmi di dunia nyata malah dibiarkan begitu saja.

Alasan ngawur berikutnya adalah untuk 'meroketkan ekonomi'. Transaksi non tunai perbankan lebih aman, dan segala jenis penyaluran bantuan lebih mudah, katanya. Padahal pengalaman saya menunjukkan bahwa pihak bank lah yang paling sering 'menjual' nomor telepon nasabahnya, termasuk untuk kepentingan penipu dan penipuan. Memudahkan penyaluran bantuan tunai? Ini maksudnya pemerintah mau menyebarkan nomor-nomor telepon kepada pihak lain? Begitu? Mending kayak presiden aja sekalian. Bekerja tanpa mekanisme yang jelas. Bagikan sertifikat dan sepeda sendirian, hahaha...!

22 Okt 2017

My Wonderfull Life


Suara tipinya bila malam, terdengar sampai di rumah saya. Begitu dekatnya jarak rumah kami. Bila perlu, komunikasi antar kami cukup dengan saling berteriak dari dalam kamar di rumah masing-masing. SD dan MTs kamipun di sekolah yang sama. Pun begitu di MDA-nya. Maka baik di rumah atau juga di sekolah, kami selalu bertemu muka.

Tapi hubungan pertemanan kami tak bisa dibilang baik. Dia adalah teman cewek yang paling menyebalkan dalam pandangan saya. Pun begitu sebaliknya. Di matanya saya adalah cowok yang sama sekali tak asyik diajak berteman. Nyaris setiap pertemuan ada saja materi yang akan kami pertengkarkan. Bukan pertengkaran mulut biasa, kadang malah terjadi perang fisik, dan saling berbalas pukulan. Hingga tiba saatnya saya melanjutkan ke SMK di Batam, sementara dia lanjut SMA nya tetap di kampung.

Jauh-jauh merantau di Batam, ehh gurunya malah tetangga saya sendiri, Uni dari teman cewek saya tadi. Hidup saya ajaib, kan? Tunggu dulu, ceritanya belum selesai.

Tetangga saya tersebut mulai mengajar pada saat saya kelas dua SMK. Yaah, walau tepatnya 'tak pernah benar-benar jadi guru saya', bagaimanapun dia adalah guru di sekolah saya. Dia mengajar di jurusan yang berbeda dengan saya. Seingat saya dia cuma pernah mengajar sekali, itupun karena mengisi kekosongan kelas karena sekolah kami yang baru berumur setahun tersebut memang masih kekurangan guru. Selain itu kami cuma pernah sekelas kala ujian Catur Wulan, saat dia kebagian giliran menjadi pengawas di kelas saya.

Satu kali, teman cewek saya tersebut 'main-main' ke Batam. Kakaknya tinggal di guest house sekolah karena guru-guru baru yang rata-rata berasal dari luar daerah memang sementara waktu diberi fasilitas tempat tinggal di guest house sekolah. Beberapa kali dia terlihat main-main di sekolah. Teman-teman tentu saja tahu bahwa saya adalah tetangganya di kampung. Anak SMK dari jenis STM tentu bisa kita bayangkan sendiri ghirah mereka begitu melihat makhluk Tuhan dari jenis manusia cewek. Entah beneran dia cantik atau tidak, tapi teman-teman saya terlihat 'begitu anarki' saat melihatnya. Kalau dibanding keseluruhan teman cewek satu sekolah saya yang cuma belasan orang itu, barangkali benar teman kampung saya ini jadi terlihat lebih menonjol. Tapi yang pasti buat saya dia tetap seorang 'musuh lama' yang kebetulan saja bertemu di suatu kota. Tapi ternyata cerita tak sampai di situ saja.

Tamat sekolah di kampung ternyata dia ikut menyusul kakaknya tersebut, merantau di Batam. Itu saya ketahui belasan tahun kemudian, ketika dunia sedang demam Facebook. Kami memang berteman di Facebook, dan dari pengakuannya dia juga telah belasan tahun merantau di Batam. Setiap diundang mengunjunginya saya tak pernah datang. Saya ini seniornya jika soal merantau. Jadi mesti dia yang duluan mendatangi saya, hahaha...!

Tapi akhirnya keingingan saling bertemu dua orang 'musuh lama' ini kesampaian juga. Lebaran tahun kemaren kami ternyata sama-sama mudik, hahaha...! Merantau di daerah yang sama, nyatanya bertemu di kampuang jua. Di rumahnya sedang ada acara aqiqahan. Ternyata aqiqahan anaknya. Dan mau tahu, ternyata suaminya adalah teman SMK saya di Batam, hahaha...!

Masya Allah, Allahu Akbar...!

19 Okt 2017

Dengan Ilmu

Kenapa ada anak-anak bandel? Kenapa tangisnya tak bisa dihentikan? Kenapa ada orang yang seakan tak bisa dinasehati?

Kenapa sulit sekali menasehati seorang berhenti merokok, berjudi, narkoba dan mabuk-mabukan?

Kenapa sulit sekali memberantas balap liar?

Kenapa korupsi tak bisa dibasmi?

Kenapa saya masih saja gagal mendapatkan Rani? Hahaha...!

Kenapa dengan kuota jumlah pertemanan di Facebook yang nyaris full, atensi like atau komentar di postingan promo-promo jualanmu cuma 1,2,3,4 atau 5 orang saja? Padahal banyak akun alay yang entah menulis apa banjir like dan komentar?

Ceramah tetap dilakukan. Ulama-ulama tetap berdakwah. Bahkan di sosial media sekarang setiap menitnya selalu ada postingan-postingan yang menyeru pada kebaikan. Pesan-pesan dakwah seorang Habib Rizieq yang berada jauh di Arab sana, hanya dalam hitungan detik bisa kita terima di depan mata kita sendiri. Bahkan bukan cuma manusia yang masih hidup, rekaman suara syiar dakwah ulama seperti Almarhum Zainuddin Mz saat masih hidup pun masih sering kita simak hingga saat ini. Tapi kenapa akhlak dan moral umat sekarang masih saja menjadi satu persoalan serius?

Kenapa...???

"Man aradad dunya faalaihi bil ilmi,
Man aradal akhirat faalaihi bil ilmi,
Man arada huma faalaihi bil ilmi".

Selamat Sore...!

18 Okt 2017

Menyikapi Bid'ah

Sebetulnya Islam tegas sekali menyatakan bahwa bid'ah itu adalah segala hal baru yang tak pernah dilakukan Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW pun telah berkata bahwa di akhir jaman nanti umat Islam akan terpecah menjadi 72 golongan yang semuanya akan masuk neraka, kecuali yang mengikutinya, dan sahabatnya. Mestinya ini adalah batasan yang tegas cara kita dalam memandang bid'ah atau tidaknya satu perkara.

"Pada hari ini telah KUsempurnakan untukmu agamamu, dan tlah KUcukupkan atasmu nikmatKU dan AKU ridha Islam menjadi agamamu" ~ Al-Maidah ayat 3.

"Kutinggalkan untukmu dua perkara. Kamu tidak akan tersesat selamanya jika kamu berpegangteguh kepadanya, yakni Al-Quran dan Hadist ~ Sabda Rasul.

Laku bid'ah terjadi karena hidup di jaman dan daerah yang berbeda membuat penafsiran masing-masing kepala juga tidak sama, termasuk soal ayat-ayat Al-Quran dan juga hadist tentunya. Tapi untuk soal ini, petunjuk selanjutnya juga telah jelas bahwa jika kita memiliki keraguan terhadap penjelasan isi Al-Quran dan hadist adalah dengan berijtihad, merujuk pada kesepakatan ulama. KESEPAKATAN ULAMA, bukan pada kitab ini atau itu sebab kitab yang untuk kita imani cuma Al-Quran. Juga bukan berdasar pada Imam Ini atau Imam itu, sebab kita cuma disuruh mengikuti Rasulullah SWT dan sahabatnya.

Tapi petunjuk pamungkas yang mungkin bisa kita gunakan dalam menyikapi bid'ah adalah anjuran nabi Muhammad SAW sendiri,

"Jika ragu, tinggalkan!".

17 Okt 2017

Pajak dan Matematika Celana Dalam

Mahal atau murah itu relatif memang. Saya biasa beli celana dalam dengan harga 40 sampai 70an ribu per 3pcs-nya. Itupun kadang ada bonus odol gigi atau sisir kutunya. Normalnya dengan mandi 2x sehari maka tiap hari saya butuh 2 buah celana dalam.

Sebagai warga negara yang baik dan mentaati himbauan hemat air dan listrik dari pemerintah, saya mencuci celana dalam tersebut sekali tiap minggunya. Itu berarti sedikitnya saya butuh 15 celana dalam tiap minggunya. 14 celana dalam kotor untuk dicuci, plus 1 untuk saya pakai, saat yang lainnya sedang dicuci. Artinya lagi, anggaran yang saya butuhkan tiap minggu untuk celana dalam adalah sekitar 200 sampai 350ribu rupiah.

Dari penjelasan Ditjen Pajak dan ketetapan pemerintah bahwa penghasilan 11ribu perhari tidak tergolong miskin, sudah pasti bahwa celana dalam yang saya gunakan termasuk dalam gologan barang mewah yang wajib dilaporkan dalam SPT untuk dibayar pula pajaknya. Saya tentu bukan tergolong miskin. Kebutuhan rokok saya saja tiap harinya mencapai 15ribu rupiah. Tapi dengan standar penghasilan perhari 11ribu, maka penghasilan perminggu adalah 77ribu, sementara untuk keperluan celana dalam saja mencapai 200 sampai 350ribu, celana dalam saya sebagai orang kaya pasti termasuk barang mewah. Maka saya mesti laporkan dalam SPT secara detil mengenai celana dalam saya. Merk, harga, tahun pembuatan serta kondisi terakhir. Bahkan bila perlu bukti potonya sekalian, hahaha...!

16 Okt 2017

Diselamatkan Citra

Awalnya mereka mengincar seorang pengendara motor yang kemudian nekad menerobos lampu merah. Selanjutnya, dua orang polisi tersebut melihat mangsa lain yang dijamin juga empuk. Pasangan muda-mudi yang mungkin belum resmi yang berhenti tepat di depan saya. Mau kabur tak mungkin, sebab kami berhenti pas di tengah-tengah barisan mobil yang berbaris di samping kiri dan kanan, tengah menunggu lampu hijau menyala.

Saya yang berhenti tepat di belakang awalnya kurang ngeh, apa kesalahan yang mereka lakukan. Ooo, rupanya si cewek yang dibonceng tidak mengenakan helm. Waaah, sasaran empuk nih! Pasti jauh lebih produktif ketimbang mesti berurusan dengan pemuda botak yang kabur tadi.

Sambil tersenyum munafik polisi tersebut menyapa si cowok, meminta diperlihatkan SIM dan STNK motornya. Ada, dan polisi tersebut meminta mereka mengikutinya ke pos, untuk membereskan persoalannya. Saya sendiri bisa menduga ending dari persoalan tersebut. STNK akan dikembalikan dengan barteran uang sedikitnya 150an ribu rupiah.

Pertama persoalan gengsi. Melihat tampilan sang cewek yang cantik, rasanya si cowok ogah bernegosiasi alot dengan si polisi. Berikutnya,  negosiasi dilakukan di 'sarang macan' dan disaksikan pula oleh polisi-polisi macan lainnya. Metode intimidasi pengecut ala polisi tanah air kebanyakan.

Tapi yang ingin saya ceritakan sebetulnya adalah, bagaimanapun citra tetap dibutuhkan untuk menyelimuti bobrok yang tak kasat mata. Andai saja saat itu si cewek yang dibonceng juga mengenakan helm, tentu keadaannya bisa beda. Andai saja yang saat itu saya bertindak gugup, keadaan juga berbahaya. Karena bila ternyata saat polisi tersebut juga memeriksa saya, maka si polisi bisa saja untung besar, karena saya memang sedang 'punya uang', tapi tak punya SIM, dan tak memegang surat-surat kendaraan tersebut, hahaha...!

15 Okt 2017

Kita Pancasila

Sekelompok pelajar melapor ke polisi bahwa seorang siswi teman sekolahnya diperkosa seorang preman yang biasa nongkrong di dekat sekolah mereka. Sang preman yang diperiksa polisi menyangkalnya dan karena memang cukup disegani sebagai preman dengan banyak kenalan polisi dia tak pernah ditangkap. Keluarga dan teman-teman korban akhirnya menumpahkan kekesalan mereka lewat media sosial masing-masing.

Gerah karena selalu diumbar dituduh memperkosa, beberapa kerabat pelaku akhirnya melaporkan balik seorang pelajar, sahabat terdekat korban yang curhatan pilu di medsosnya telah memantik rasa iba banyak kalangan. Sang sahabat dilaporkan ke polisi atas tuduhan pencemaran nama baik. Sementara sang preman yang 'merasa biasa saja karena punya banyak kenalan polisi' berulangkali kemudian dilaporkan atas perkara yang sama, pemerkosaan.

Tapi aparat hukum dan pengadilan tetap bekerja secara maksimal. Sang preman yang akhirnya terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan perkosaan, divonis penjara selama 15 tahun.

Sementara sahabat korban yang dilaporkan juga telah menjalani proses sidang di pengadilan. Dia akhirnya juga divonis hukuman 15 tahun penjara, persis sama dengan vonis yang diterima pemerkosa sahabatnya. Keberatan atas vonis yang dijatuhkan pengadilan, diapun mempertanyakannya. Mana ada vonis 15 tahun hanya untuk kasus pencemaran nama baik? Akhirnya dari Jaksa Agung diapun memperoleh jawaban yang 'melegakan'.

"Karena kasusnya berkaitan dengan sang preman, makanya hukumannya juga harus sama. Biar ada keseimbangan hukum".

Ini baru Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, hahaha...!
Kita Indonesia! Kita Pancasila!

11 Okt 2017

Lagu Barat dan Ayat Al-Quran

Saya hapal dan bisa menyanyikan sekitar 50an lagu-lagu Def Leppard. Saya juga hapal 20an lagu-lagu Bon Jovi, juga Bryan Adams. Ditambah belasan lagu-lagu Guns N Roses dan beberapa lagu rock barat lainnya. Termasuk juga lagu Father and Son milik Eric Clapton yang diresikel ulang secara apik oleh grup band rock Indonesia Power Slave. Ada juga lagu berbahasa Inggris karangan mereka sendiri yang juga salah satu lagu favorit saya, Find Our Love Again. Jika ditotal saya bisa menyanyikan dengan fasih lebih dari 100 judul lagu barat dari jenis rock.

Dengan genre yang lebih soft, saya juga hapal sekitar 30an lagu-lagu Roxette, belasan lagu-lagu Michael Learn To Rock dan beberapa judul dari penyanyi pop lainnya. Saya bahkan bisa menyanyikan lagu She Grey-nya Ribas dengan sepenuh hati, padahal saya sama sekali tak tahu lirik sebenarnya walau sudah bertahun-tahun mengubek-ubek Google, hahaha...!

Jika ditotal secara keseluruhan saya percaya bisa dengan fasih menyanyikan sekitar 150an lagu berbahasa Inggris tanpa melirik teks liriknya sama sekali.

Saya seakan bisa melihat apa yang dikisahkan oleh Bon Jovi dalam Right Side Of Wrong-nya. Saya bisa merasakan suasana saat Joe Elliot dan kawan-kawan Def Leppardnya nya menciptakan Have U Ever Needed Some One So Bad atau Bringin' On A Heartbreak-nya. Saya tau betapa hancurnya Jascha Richter saat menyanyikan 25 Minutes-nya MLTR.

I find her standing in front of the church.
The only place in town where I didn't search.
She looks so happy in her weddingdress,
But she's crying while she's saying this...

Boy I've missed your kisses all the time, but this 25 minutes too late.
Though you travelled so far boy I'm sorry, your are 25 minutes too late.

Saya pribadi merasakan banyak manfaat dari koleksi lagu-lagu barat yang saya miliki. Apalagi dari jenis musik rock. Itu sangat membantu membangkitkan ghirah saya dalam menjalani hidup. Bayangkan semangat saya saat meneriakkan I Wanna Touch U atau Pour Some Sugar On Me-nya Def Leppard. Bahwa saya hanya kalah dalam satu game. Yang penting itu mengakhiri kompetisi sebagai pemenang.

It's just a game that I just can't win,
But I gotta have you, Ran...!
Yeah, I gotta get a fix on you

(Have U Ever Needed Someone So Bad ~ Def Leppard ft Siraul Nan Ebat)

Tapi saya sungguh sedih menyadari fakta berikutnya. Saya bisa dapatkan spirit dari lagu-lagu seperti Raise Your Hands-nya Bon Jovi atau Dead Horse-nya Guns N Roses, tapi sama sekali tak merasakan ghirah yang sama dari ayat-ayat Al-Quran. Saya masa bodoh aja saat Al Quran bilang 'ittaqullah haqqa tuqatih wala tamu tunna illa wa antum muslimun', tapi langsung semangat saat Per Gessle bilang 'Let's go buy an ice cream an hot magazine, get your green because life is so very simple it's just like sya la la la'. Saya hapal ratusan lagu berbahasa Inggris, tapi menghapal satu surat Al-Quran saja begitu susahnya. Dan fakta yang lebih menyakitkan saya adalah saya telah belajar bahasa Arab sejak kelas 1 SD, sementara bahasa Inggris saya kenal baru 6 tahun kemudian, begitu saya masuk SMP, hiiiks...!

*Astagfirullahaladzim...!

10 Okt 2017

Jon Bon Jovi dan Meikarta

Dan hari ini, sehari setelah bertemu sang gitaris Richie Sambora, saya bertemu pula dengan komandannya, Jon Bon Jovi, vocalist band terkenal Bon Jovi. Dia yang terlebih dulu melihat saya dan langsung mendamprat,

Jon Bon Jovi :Ehh, kau ngomong apa aja sama si Richie? Kayaknya dia marah betul sama aku?

Siraul Nan Ebat :Biasa aja, Bang Jon! Dia cuma kesal minta naik gaji ga disetujui karena alasan lagi krisis, tapi kemaren Bang Jon malah beli kondominium mewah di NYC. Yaa, jadi marah dia.

Jon Bon Jovi :Loh apa urusannya? Lagipula waktu itu aku kan cuma minta dia bersabar. Nunggu Disnaker umumkan nilai UMK baru. Dianya aja yang ga mau sabar, merajuk tak mau lanjutkan tur dan malah minta resign. Aku beli kondo itu juga kan pakai duitku sendiri. Bukan ngorup uang kas Bon Jovi?

Siraul Nan Ebat :Dia mungkin sensian, Bang Jon! Ekonomi kan sedang sulit. Bang Jon malah buang-buang duit buat beli kondo semahal itu. Padahal di Meikarta ada hunian paling modern sedunia harganya cuma ratusan juta aja.

Jon Bon Jovi :Meikarta? Paling modern sedunia? Cuma ratusan juta? Di mana itu?

Siraul Nan Ebat :Yaa di Indonesia lah, Bang Jon!

Jon Bon Jovi :Hunian paling modern maksudnya itu gimana?

Siraul Nan Ebat :Di Meikarta semua sudah dilengkapi teknologi yang belum pernah ada di dunia, Bang Jon! Bahkan jendelanya aja sudah pakai teknologi layar sentuh.

Jon Bon Jovi :Ahh, jangan ngarang kau!

Siraul Nan Ebat :Bodo amat sih, kalau Bang Jon tak mau percaya! Aku bisa apa?

Jon Bon Jovi :Emang harganya cuma ratusan juta begitu?

Siraul Nan Ebat :Iyyaaa, Bang Jon!

Jon Bon Jovi :Kok bisa ya, murah segitu? Itu rumah liar?

Siraul Nan Ebat :Yaa bisa jadi iyya, atau bisa juga tidak, Bang Jon!

Jon Bon Jovi :Maksud kau gimana nih?

Siraul Nan Ebat :Itu perumahan belum ada ijinnya, Bang Jon!

Jon Bon Jovi :Sialan kau, rumah liar kau tawarkan sama aku!

Siraul Nan Ebat :Itu bukan rumah liar, Bang Jon! Itu perumahan sah! Pengembangnya aja Lippo Group!

Jon Bon Jovi :Tak berijin kau bilang sah? Otakmu malfungsi, yah?

Siraul Nan Ebat :Ijinnya sedang diurus, Bang Jon! Berarti legal. Sama aja kayak senjata berat yang diimpor polisi itu. Juga sah, sebab ijinnya sedang diurus.

Jon Bon Jovi :Emang ngeselin ya, ngomong sama kau ini?

Siraul Nan Ebat :Bang Jon bukan orang pertama yang bilang gitu, Bang Jon! Udah banyak, hahaha...!

Jon Bon Jovi :Heran juga aku! Kenapa sih orang-orang nyebelin macam kau ini ga ditangkap aja ya, sama polisi?

Siraul Nan Ebat :Emang ada orang ditangkap karena nyebelin?

Jon Bon Jovi :Tukang kritik macam kau ini harusnya tinggal di penjara, tau? Richie tadi juga bilang kau habis-habisan jelek-jelekin Presiden.

Siraul Nan Ebat :Yaaah, Bang Jon! Aku cuma nulis, Bang Jon! Si Kodat yang pidato resmi provokator biasa aja tuh? Indonesia negara demokrasi, Bang Jon! Mau ngancam-ngancam bahkan ngebacok aman-aman aja tuh! Asal tetap Pancasilais, haha...!

Jon Bon Jovi :Udah ahh! Tiap ketemu kau pasti migrain aku kambuh.

Siraul Nan Ebat :Laki kok penyakitan?

Jon Bon Jovi :Apa kau bilang?

Siraul Nan Ebat :Ehh, ga Bang Jon! Aku cuma mau nanya. Si Tomi dan Gina apa kabarnya sekarang.

Jon Bon Jovi :Udah cerai (ga ikhlas banget tampangnya ngejawab. Masam)

Siraul Nan Ebat :Cerai? Emang mereka kenapa, Bang Jon?

Jon Bon Jovi :Karena si Tomi selalu makan BengBengnya langsung. Padahal papa si Gina setujunya BengBeng dingin, paham kauuuuu? Bah....! (ngeloyor pergi).

*Tamat.

Richie Sambora dan Anti Jokowi

Baru saja saya bertemu mantan gitaris Bon Jovi, Richie Sambora. Langsung saja saya sok akrab dan memperkenalkan diri sebagai teman baik Jon Bon Jovi, sang vocalist band legendaris tersebut. Dan hasilnya kami sempat ngobrol panjang lebar soal karirnya, Bon Jovi dan tentu saja soal politik. Berikut, transkip dialog imajinatif kami.

Siraul Nan Ebat :Jadi beneran nih, mau ikut manggung bareng Bon Jovi di malam penganugerahan Rock N Roll Half Of Fame?

Richie Sambora :Yaa mau, donk! Udah kangen juga mainin lagi 'Living On A Prayer' sama 'Wanted Dead Or Alive', hahaha...!

Siraul Nan Ebat :Tapi waktu itu kok kenapa resign dari Bon Jovi?

Richie Sambora :Jenuh! Show terakhir yang aku ikuti 18.5 bulan di 52 negara, bukan 52 tempat ya! Putriku bilang 'aku butuh ayah', dan dia harus mulai pergi ke sekolah. Keluarga jauh lebih penting di atas uang dan segalanya.

Siraul Nan Ebat :Loh, bukannya resign karena Jon tak menyetujui permintaan kenaikkan gaji Bang Rich?

Richie Sambora :Siapa yang bilang begitu? Kau ini contoh orang yang kebanyakan nonton Halo Selebriti, haha...!

Siraul Nan Ebat :Tapi itu Jon sendiri yang bilang ke saya waktu itu. Bukan dengar dari orang lain.

Richie Sambora :Sialan! Ember juga mulutnya si Jon! Tidak...tidak...! Aku cuma ingin lebih punya waktu buat keluarga. Lain tidak!

Siraul Nan Ebat :Tapi nyatanya kan tetap sibuk di musik dan bahkan juga bikin album solo?

Richie Sambora :Tentu saja. Aku ini musisi, tentu saja kerjaku bermusik. Tapi sudah pasti tak sesibuk saat main bersama Jon, Bryan dan Torres di Bon Jovi. Tau sendiri kan, padatnya jadwal Band sebesar Bon Jovi?

Siraul Nan Ebat :Kemaren waktu Bon Jovi ke Indonesia katanya Bang Rich mau ikut, kok ga jadi?

Richie Sambora :Aku sebetulnya ingin sekali ikut. Sayangnya jadwal tak bisa dikondisikan. Aku sudah terikat kontrak manggung di tempat lain.

Siraul Nan Ebat :Kami sangat kecewa sekali lho, Bang Rich! Kehadiran Bon Jovi lengkap bersama Richie Sambora pasti sangat positif bagi Indonesia. Presiden kami saja sampai yakin ekonomi Indonesia akan meroket, begitu tau Bon Jovi akan reunian dengan Richie Sambora.

Richie Sambora :Aku dan Bon Jovi juga tentunya menyesal sekali. Kami minta maaf. Tapi memang politik butuh musik, film atau olahraga untuk memenangkannya, haha...! Makanya kau pintarlah sikit! Jangan mau dibohongi begitu saja, haha...! Oh ya, betewe, gimana penampilan Bon Jovi waktu itu?

Siraul Nan Ebat :Aku ga nonton, Bang Rich!

Richie Sambora :Loh, kenapa kau tak nonton? Kecewa karena aku ga ikut main ya? Haha...!

Siraul Nan Ebat :Jon juga sudah pernah bertanya begitu. Intinya aku kecewa Bon Jovi tak mau pakai Apoy Wali atau Doddy Kangen Bang sebagai additional guitar menggantikan Bang Rich! Aku sih yakin banget ini ada sangkut pautnya dengan politik.

Richie Sambora :Hah?! Kaitan bagaimana maksudmu?

Siraul Nan Ebat :Musisi-musisi anti Jokowi sudah sulit punya panggung sekarang, Bang Rich!

Richie Sambora :Oh ya?

Siraul Nan Ebat :Yoik! Ahmad Dhani, Ribas atau Andhika, vocalist Kangen Band itu anti banget sama Jokowi. Saya aja dulu milih Prabowo juga karena si Andhika Kangen Band tersebut juga dukung Prabowo.

Richie Sambora :Kalau gitu cocok lah...! Dan sekarang aku paham kenapa aku waktu itu tak jadi ikut main di Indonesia.

Siraul Nan Ebat :Maksudnya?

Richie Sambora :Yaa cocok! Jokowi dan si Jon itu sama-sama pencitraan dan hobi nipu.

Siraul Nan Ebat : ??? (bingung maksimal)

Richie Sambora :Sebelum manggung di Indonesia katanya Bon Jovi turut prihatin pada persoalan Gazza. Ehh, besok-besoknya malah manggung di Israel! Itu kan pencitraan namanya? Kuciang aia juo paja tu. Aku minta naik gaji katanya waktu itu situasi sedang tak memungkinkan! Ehh, kemaren malah beli kondominium baru di NYC. Itu kan nipu namanya? Cocok banget kan, orang tu bedua? Hahaha...!

Siraul Nan Ebat :Trus hubungannya sama Richie Sambora tak ikut manggung di Indonesia?

Richie Sambora :Loh, kau masih tak paham juga? Aku tak suka aksi tipu-tipu dan pencitraan. Aku juga anti Jokowi. Kan kau sendiri tadi yang bilang kalau musisi-musisi anti Jokowi tak lagi punya panggung di Indonesia?

*Kemudian hening :)

8 Okt 2017

Di Belakang Rekreasi Hati Part 4

Tapi kami berdua juga sudah saling paham resiko yang bakal dihadapi. Ada perbedaan mendasar menggunakan Dian dan Rani. Bersama Dian saya bisa 'merdeka' menulis namanya di Facebook. Meski mempunyai banyak mutual friends, tapi seluruhnya adalah orang yang tak pernah saya kenal di dunia nyata. Saya mengenal beberapa teman terdekatnya, tapi sebatas teman di sosmed biasa. Dian juga mengenal beberapa teman saya, tapi juga sebatas teman dunia maya. Relationship pertemanan kami semua hanya karena saling penasaran siapa saya dan siapa Dian. Walau juga alumni Labtech, ternyata saat itu tak ada di friendlist kami mutual friend anggota Labtech. Ini membuat saya merdeka menulis namanya tanpa rasa khawatir.

Ini sangat berbeda dengan Rani. Seluruh mutual friendlist Facebook adalah orang yang benar-benar kami kenal di dunia nyata. Ini sangat menyulitkan. Kami berdua telah menyadari ini jauh sebelumnya. Itulah kenapa saya butuh waktu berbulan-bulan untuk mempertimbangkannya. Dan saya juga yakin itulah pula alasan Rani menolak saat pertama kali saya minta kesediaan menggunakan namanya. Resikonya horror bullyan, hahaha...!

Dan benar saja, begitu saya lakukan test the water, pajang draft sampul Rekreasi Hati terbaru, terjadi histeria massa. Rani saja sampai tak berani nongol di Facebook, walau telah dimensyen berkali-kali, hahaha...!

Sebetulnya ini gaya publish yang keren. Tapi itulah pula persoalannya. Saya juga butuh menjaga privasi, tak ingin bermasalah dan menciptakan masalah bagi siapapun teman-teman wanita saya. Apalagi terhadap orang-orang yang kepadanya saya menaruh hati, kan? Hahaha...!

Dan saya konsisten terhadapnya. Walau selalu menulis nama Dian, tapi saya tak pernah melakukan mensyen atau menandai namanya dalam postingan Facebook saya.  Kalaupun misalnya ada, itu hanya saya lakukan di kolom komentar atau dalam tag ramai-ramai. Selain itu saya juga menulis tidak seperti ejaan namanya yang sebenarnya. Saya menulis Dian, sedang yang bernama Dian dalam list Facebook saya begitu banyaknya.

Tapi lain soalnya jika saya menulis nama Rani. Seluruh warga Facebook langsung tahu Rani mana yang saya maksud. Apa jadinya bila ternyata Rani juga sedang punya cowok, sedang saya masih dalam proses merebutnya, hahaha...! Saya menghargai kebutuhan privasi mereka. Bahkan sangat menghargai. Rani (dan juga Dian) jika detil mengamati mestinya juga menyadari itu. Bahkan untuk sekadar sms atau WAan saja saya pilih waktu dimana saya duga dia sedang free. Minggu, hari libur atau diatas jam 9an malam, saat Rani mungkin telah pulang kuliah. Atau lepas tengah malam, saat saya yakin Rani telah tidur dengan harapan akan dibaca dan dibalas setelah Subuh. Saya sangat menghargai kebutuhan waktu dan privasinya.

Berikutnya lagi soal chemistry. Dengan Dian chemistry-nya terasa lebih klop sebab saya menulis awalnya tanpa diketahuinya. Dian baru tahu soal itu setelah salah satu 'tulisan ajaib' tersebut. Tulusnya lebih berasa karena saya benar-benar menulis tanpa merasa perlu dia ketahui. Ini perbedaan yang sangat kontras jika saya menulis soal Rani.

Betapapun misalnya saya serius mencintai Rani, tulisan-tulisan saya akan tetap berasa modusnya. Yaa karena itu tadi. Saya telah meminta ijin Rani sebelum menulis namanya. Bisa saja misalnya saya dulu juga diam-diam menulis tentangnya, tapi orang-orang akan langsung bisa mendeteksinya. Ini saya pikir lebih bahaya lagi. Apa jadinya kalau Rani bukannya setuju, tapi malah marah? Lebih gawat, kan? Rekreasi Hati mungkin akan mati permanen, sebab saya cuma melihat Rani lah satu-satunya solusi persoalan Rekreasi Hati.

Jadi terhadap teman yang bertanya kenapa Rani tak pernah saya tampilkan di Facebook, inilah jawabannya. Jangankan Rani, saya sendiri tak cukup berani membayangkannya. Saya dan Rani ingin sama-sama bahagia, bukan sama-sama menderita, walau saya juga berharap Rani bersedia membagi bahagia dan deritanya bersama saya, hahaha...!

Di Belakang Rekreasi Hati Part 3

Persoalan cover selesai, selanjutnya persoalan sang ikon. Putri Penggaruknya itu siapa? Siapa yang paling tepat menggantikan Dian?

Kehadiran Dian saat itu juga sangat tepat, walau tetap sambil membonceng persoalan lain. Tepat, karena saya berhasil mengkonfirmasi persoalan kami berdua. Tapi sekaligus persoalan baru. Begitu saya luluskan permintaan pertemanannya, diikuti pula oleh permintaan pertemanan dari cowoknya, hahaha...! Yang lebih ajaib lagi, saya pernah cek profilnya. Mutual friend saya dengannya cuma dua orang. Mau tahu siapa? Dian dan Rani, hahaha...! Ajaib banget kan, drama hidup saya. Ohh God, thanks for giving me the beatifull life stories. NikmatKU yang mana lagi yang hendak kau dustai, hai manusia yang terlahir bernama Asrul Khairi...? Itu nama sudah sangat berjodoh dengan wanita yang terlahir bernama Khairani Eka Putri, hahaha...!

Beberapa hari sebelum minta kesediaan Rani untuk dijadikan model cover, saya bertemu lagi dengan teman pertama (ingat part 1). Pertanyaan yang waktu itu diulanginya lagi.

"Gimana, Bang? Kapan buku keduanya?", katanya.

"Aku belum tanya Rani, kira-kira dia mau ga ya, potonya aku pakai?", apa boleh buat, saya mesti jawab kan?

"Pasti mau, Bang! Aku dah bilang abang mau pakai namanya, dia kayaknya girang banget", jawabnya.

Jawaban ini akhirnya buat saya mantap. Perhatikan pernyataan saya dan tanggapan si teman. Saya tak tahu apa persis yang dikatakannya pada Rani. Saya tak tahu persis bagaimana Rani menanggapinya. Tapi saya ingat sekali pernyataan saya. Kami bertiga bisa saja saling telah salah paham, saling keliru memberi atau menangkap informasi. Tapi saya tegaskan bahwa saya sama sekali tak pernah  minta pakai nama Rani. Lah, saya minta potonya aja ga (belum) berani, apalagi minta ijin gunakan namanya?

Tapi jawaban si teman tadi buat saya yakin bahwa Rani pasti bersedia saya pakai di Rekreasi Hati. Yaa, poto dan sekaligus namanya. Tapi semua mesti ada prosesnya. Minta potonya ternyata tak sulit, tapi minta namanya saya butuh nyali yang sangat besar. Dan Rani sangat tahu berapa lama waktu yang saya butuhkan untuk memupuk keberanian meminta kesediaannya. Saya minta potonya pertengahan Juni dan baru sekitar awal September berani minta namanya. Itu juga terdorong waktu yang kepepet target rilis buku kedua paling lambat 2 tahun setelah buku yang pertama. Dan begitu saya minta namanya, Rani menolak, hahaha...!

Rani tahu persis bagaimana prosesnya. Saya bahkan tegaskan langsung padanya bahwa saya percaya 100% dia akan bersedia. Dan terbukti kan, Ran? Haha...!

Di Belakang Rekreasi Hati Part 2

Pertengahan Juni 2016, 4.5 bulan setelah poto itu diupload barulah saya berani meminta kesediaan Rani menggunakannya sebagai model Rekreasi Hati. Tapi hidup saya sepertinya telah identik dengan drama-drama yang menarik untuk dinikmati. Setelahnya berturut-turut terjadi peristiwa yang menggoyahkan keimanan saya, hahaha...!

Peristiwa pertama Si Anu (ingat solusi teman kedua seperti yang saya tulis di part 1) juga posting poto yang tak kalah kerennya. Ini persoalan yang serius. Si Anu ini teman akrab Rani, juga suka ngadu-ngadu saya dan Rani. Apa jadinya bila saya malah gunakan dia sebagai model. Bisa terjadi perang jambak-jambakan, donk! Kan saya bakal naik gengsi bila ada 2 orang cewek sahabatan perang gegara seorang cowok bernama Siraul Nan Ebat, wkwkwkwk...! Dan celakanya begitu saya survey, Dian malah lebih suka poto si Anu.

Dian?

Yaa, itu peristiwa kedua. Dian muncul lagi dan membuat konflik baru, hahaha...! Dian muncul lagi minta konfirmasi pertemanan. Sebetulnya dia telah muncul di awal Juni, tapi sebagai lelaki yang pegang teguh komitmen, walau langsung saya konfirmasi, saya sama sekali ogah memulai kontak kecuali dia yang manggil duluan.

Saya sudah minta persetujuan Rani dan disetujuinya. Sekarang muncul saingan baru yang ternyata adalah teman dekatnya sendiri. Kan bisa kacau. Celakanya, Dian malah mendukungnya pula. Tapi berikutnya terjadi lagi peristiwa yang akhirnya membuat saya jadi fix menggunakan Rani.

Seorang teman lain posting poto, dan sama persis dengan poto si Anu. Poto Rani dan kedua lainnya itu memang identik, wanita berjilbab yang membelakangi kamera sehingga tak menampilkan rupa pemiliknya. Saat minta ijin Rani, saya juga butuh terlebih dahulu bertanya itu potonya beneran atau cuma comot poto orang lain di internet. Pun begitu mestinya dengan poto si Anu dan teman satunya lagi tersebut. Dan upload poto ketiga yang sama persis dengan poto kedua membuat saya fix jatuhkan pilihan pada poto pertama. Rani lah ternyata the special one tersebut, hahaha...! Itu buktinya, Ran! You're the real my special one.

*Entar dilanjut part berikutnya

7 Okt 2017

Di Belakang Rekreasi Hati Part 1

Selain Dian dan Rani hanya ada 2 orang yang mungkin bisa saya jadikan teman curhat terkait persoalan Rekreasi Hati. Orang yang mengenal saya, Dian, Rani dan Rekreasi Hati tentu saja. Beberapa hari setelah Rani posting poto tersebut saya bertemu dengan seorang diantaranya.

"Bang, buku kedua kapan mau rilis nih?", katanya memulai percakapan.

Saya memang tak pernah curhat terhadap siapapun terkait permasalahan Rekreasi Hati dengan siapapun. Takkan mungkin ada yang mengerti persoalannya sebab sungguh rumit, bahkan hanya untuk sekadar dipaparkan. Tapi seperti yang telah saya katakan di atas, dialah satu diantara hanya dua orang yang tahu kami dan juga pasti tahu segala persoalannya. Pertanyaannya di atas saya yakin hanya sekedar minta konfirmasi dari saya.

"Itulah! Materi udah jadi. Tapi covernya ga nemu-nemu, sedang Dian sulit sekali dihubungi. Ehh tapi kemaren aku lihat Rani posting poto keren. Cocok amat kayaknya."

"Udaaah, ga usah repot-repot mikirin Dian. Pake Rani aja".

"Kayaknya Rani emang jodoh Rekreasi Hati Potonya keren-keren semua"

Tak dilebih-lebihkan, tapi poto-poto Rani emang sudah lama saya incar, jaga-jaga kalau saya dan Dian gagal.  Banyak yang keren-keren, hanya aja belum ketemu yang sreg, sampai akhirnya Rani posting poto yang satu itu.

Dan beberapa hari berikutnya, saya bertemu dengan seorang yang lainnya pula. Selain teman yang pertama tadi, kerabat yang ini juga mungkin yang paling tau persoalan saya. Dia kenal baik Dian, sekaligus teman dekat Rani. Pertanyaannya sama,

"Bang, buku kedua kapan?", katanya.

"Masih nyari-nyari cover", jawab saya ringkas.

"Pakai Rani atau Anu aja. Abang kan suka sama anak-anak Labtech", katanya lagi sambil tertawa ngikik, seolah-olah dia juga tahu persoalan yang saya hadapi.

Perbedaan kedua teman tersebut adalah, yang pertama mungkin sangat tahu bahwa Rani memang solusi dari persoalan Rekreasi Hati. Sedang teman satunya lagi, walau dia juga mungkin tahu persoalannya, tapi saya duga dia cuma sekedar menjodoh-jodohkan saya dan Rani (maaf kalau ternyata keliru). Dia cukup sering melakukannya, hahaha...!

Tapi akibat solusi yang mereka sodorkan sangat nyata bedanya saya rasakan. Solusi dari teman pertama buat saya optimis, bahwa the special one itu memang Rani. Solusi dari teman kedua malah buat saya jadi lebih optimis lagi, jangan-jangan memang Rani nih orangnya, hahaha...!

Tapi buruknya juga ada, walau senang bukan main, saya sekaligus jadi takut menggunakan Rani. Suer, itulah kenapa saya butuh lebih dari 4 bulan hanya untuk sekedar meyakinkan diri, apakah orang itu memang Rani. Sejak potonya itu diupload, saya rajin melototi TL teman-teman yang lain, siapa tahu ada yang lebih keren ketimbang Rani. Ada...?

Bisa dibilang ada, tapi bisa juga dikatakan tidak. Kenapa? Di post berikutnya saja yaa?

6 Okt 2017

Surat Terbuka Untuk DPR

Selamat Pagi, Bapak-bapak yang mewakili saya di DPR...!

Sebagai rakyat saya betul-betul marah bila persoalan import senjata oleh Polri ini 'dianggap telah selesai' setelah 'senjata itu akhirnya dititip' pada TNI. Persoalannya tak sesederhana itu. Bagaimana urusannya dengan pertanggungjawaban penggunaan anggaran oleh Polri. Itu yang digunakan uang rakyat lho! Saya sebagai rakyat berhak penuh meradang dan minta pertanggungjawaban hukum.

Mereka menangkapi ulama-ulama saya. Sebaliknya mati-matian melindungi para penghina dan pemfitnah ulama. Sementara tiap hari mereka habiskan uang rakyat untuk keperluan syuting pencitraan 86 di Net TV. Memberi tauladan dan mengayomi masyarakat, hueeeks...! Ini betul-betul memantik amarah saya. Saya tak bisa menduga apa jadinya bila saya punya tipi sendiri dan tak menonton di rumah kenalan, dan tipinya juga alpa diasuransikan. Akting mereka sungguh sangat menjijikkan. Tak semua polisi buruk, sebab tiap hari saya masih selalu melihat ada  saja diantara mereka yang ikut berjamaah sholat di mesjid sekitar tempat saya tinggal. Tapi yang pasti mesti ada bertanggungjawab, khususnya masalah soal penggunaan anggaran kasus import senjata illegal tersebut.

Pak DPR yang terhormat,
Saya tak peduli apa job spesification bapak di Senayan sana. Waktu itu saya hanya memilih orang yang saya percaya untuk mewakili dan memperjuangkan aspirasi saya, apapun itu jenisnya. Dalam soal import senjata ini saya minta semua oknum yang terlibat harus dipecat dan penjara. PECAT DAN PENJARA. Saya tak rela masih menggajinya tiap bulan hanya karena diberi sanksi mutasi seperti lazimnya. Dan mereka harus disebut sebagai kriminal berat, bukan sebagai pelanggar prosedur apalagi cuma disebut melanggar kode etik.

Pak DPR yang terhormat,
Mohon tersinggunglah! Semakin banyak demo terhadap pemerintah adalah indikasi bahwa kalian telah gagal mewakili kami. Bisa gagal walau telah memperjuangkannya, tapi bisa juga gagal karena kalian memang tak berbuat apa-apa. Soal Freeport atau reklamasi, apa yang telah kalian perjuangkan. Pemerintah memalak kami, sampai harga, merk, tahun pembuatan dan kondisi terakhir celana dalam kamipun mesti didata untuk urusan pajaknya, dan kalian merasa tenang-tenang saja! Presiden menaikkan tarif listrik, BBM dan yang menyangkut hajat hidup orang banyak lainnya dengan diam-diam, dan kalian cuma diam saja tanpa merasa tersinggung telah dilangkahi dan dilecehkan begitu saja? Punya harga diri ga sih?

Karena itu mohon perjuangkan aspirasi saya yang satu ini! Malu donk, sama buruh! Mereka lebih militan perjuangkan kesejahteraan rakyat, bila perlu sampai mesti 'perang' lawan aparat. Jangan sampai saya (kami) juga mesti minta tolong mereka untuk memperjuangkan aspirasi kami yang sebetulnya adalah tugas kalian. Jadi tolong berjuanglah! Proses hukum, pecat, tangkap dan penjarakan para polisi makar tersebut.

Sekian, terima kasih!

3 Okt 2017

Komentar Raditya Dika dan Mo Sidik

Raditya Dika :Jadi gitu ya! Terus terang gue pesimis lu bisa eksis di dunia stand up komedi. Tapi gue yakin banget, andai ditangani oleh pihak yang tepat, lu bakal jadi sesuatu, bro! Bisa jadi penulis besar, publik speaker atau bahkan jadi penulis skenario film. Talented banget soalnya. Big asset, sekian dari gue, terima kasih!

Andhika Host :Yak, gue pun sependapat sama Radith. Tapi kita simak saja dulu bagaimana menurut mentornya, Mo Sidik. Silahkan, Bang!

Mo Sidik :Ya! Kayaknya elu bener, Dit! Selama mentoring dan ngelihat ulahnya malam ini, gue juga yakin dia bakal jadi sesuatu. Persoalannya mungkin ego atau idealismenya yang terlalu kuat. Dia sangat komit sama prinsipnya. Itulah yang gue bilang tadi. Dia itu pokoknya Rani harga mati aja. Lu tau, dia juga udah punya buku sendiri. Udah 2 buku yang dia terbitin. Saking komitnya akan prinsip, dia bikin, susun, desain, dan terbitin bahkan cetak sampai dia jilid sendiri itu bukunya, termasuk ngejualnya sendiri. Gue udah baca, dan suer, keren abis. Satire-nya itu yang ga nahan. Roasting memang kelebihannya, kalian liat sendiri kan malam ini? Cang Abdel aja sampai mati gaya begitu tadi. Apalagi kami, sesama teman-teman mentoringnya. Habis kami diceramahinya. Gue sebagai mentor kadang sering merasa inferior menghadapinya. Tapi lu tau, dia juga ahlinya gombal, lho!

Soimah :Gombal? Mau donk, dicobain ke aku!

Raul :Ogah banget. Aku ilfell sama yang udah veteran kayak Mak E.

Soimah : (melongo, seperti yang lain juga).

Mo Sidik :Apa kubilang! Mampus lu kan, Mak E...?

Raditya Dika :Boleh tuh, dicobain ke Nikita. Dari tadi dia diam aja keknya.

Raul :Nikita? Mana orangnya? Setauku Nikita Willy ga kayak begini deh, tampangnya (sambil melototin Nikita Mirzani, host yang sejak awal acara cuma bilang 'iya' dan 'oke' aja). Yang begini bukan tipeku.

Mo Sidik :Percuma! Pokoknya sama dia mah, Rani harga mati, hahaha...!

Raditya Dika :Gue kayaknya bisa deh, bantu orbitin lu! Kalau lu mau, sih?

Raul :Yakin, ga bakal minder bersaing sama aku? Atau malah nantinya cuma pengen ngetop bareng?

Raditya Dika : (melongo).

Raul :Tapi kalau kupikir-pikir ga ada juga salahnya sih! Siapa tahu nanti aku bisa ngajarin cara ngelawak yang baik dan lucu. Yaa, itu juga kalau kamunya kepengen sih!

Raditya Dika : (masih melongo).

Mo Sidik :Baru ngerasain lu kan Dit, repotnya ngadepin anak satu ini?

Gilang Host : Dia kenapa, Bro? Galau? (bertanya pada Mo Sidik)

All minus Radith :Di-better-in aja!

Raul :Kita rehat sejenak, kata Karni Ilyas, Presiden Indonesia Lawyer Club.

*Tamat.

2 Okt 2017

Komentar Ge Pamungkas dan Raditya Dika

Ge Pamungkas :Di luar masalah grogi tadi, gue sebetulnya sangat suka materi stand up nya. Dia ini cerdas. Terlalu cerdas malahan. Tapi dalam dunia stand up komedi, gue rasa dia berat untuk naik. Gue takut dia justru gagal karena materinya yang terlalu cerdas tersebut.

Andhika Host :Loh, bukannya malah materi cerdas itu bagus?

Gilang Host :Tak cuma cerdas, tapi juga mencerdaskan. Materinya banyak mengajak kita untuk berpikir.

Ge Pamungkas :Justru itu. Tadi gue sempat diskusi sama Radith soal beginian. Susah, kalau materinya terlalu cerdas. Aduhhh! Gimana jelasinnya ya?

Andhika Host :Materi cerdas kok salah? Gimana nih menurut mentornya, Mo Sidik?

Mo Sidik :Ntah! Gue juga bingung maksudnya si Ge.

Gilang Host :Menurut penonton gimana? Mana pendukungnya Raul?

Andhika Host :Penonton setuju sama Ge?

Penonton :Huuuu...!

Penonton :Hidup Raul...!

Penonton:Raul Yes, Ge No...!

Ge Pamungkas :Secara pribadi, dia favorit gue. Tapi gue takut dia bakalan gagal di dunia stand up komedi. Kan sayang banget!

Raditya Dika :Gini...gini...! Gue setuju sama Ge.

Penonton :Huuuu lagi....!

Raditya Dika :Dalam catatan gue, dia gagal mencapai Gerrr Per Seken yang diharapkan.

All : (hening)

Raditya Dika :Beat-beatnya keren harus kita akui. Mestinya GPSnya itu tercapai. Tapi kenyataannya kan tidak? Selama dia tampil kita lebih banyak bengong atau melongo ketimbang tertawa. Kenapa? Mentornya bisa bantu jawab?

Mo Sidik :Kalau gue lihat tadi kayaknya tepuk tangan penonton justru paling meriah ketimbang 3 komika lain yang duluan tampil.

Raditya Dika :Justru itulah dia, Mo! Saat dia tampil membawakan materinya kita cuma mampu semacam terperangah. Setelah selesai baru semua bertepuktangan. Sebab, kita semua terlambat menangkap maksud dari materi yang disampaikannya. Itu semua karena materinya yang terlalu cerdas.

All : (hening)

Raditya Dika :Oke, gue lanjutin ya! Hal itu diperparah oleh kegemarannya memainkan beat-beat zonal jokes. Maksud gue, joke-joke nya hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang mengenal atau pernah punya sejarah dengannya. Eko tadi bener bilang bahwa beat-beatnya terjaga dan nyambung. Siapa sangka gagal jadi komandan upacara itu ternyata ada kaitannya dengan panen cabenya yang laku keras diborong teman-teman sekelasnya? Dan kita dipaksa berpikir apa kaitannya, sementara beat-beatnya terus berjalan. Padahal orang-orang nonton stand up komedi kan untuk mendapat hiburan, bukan untuk berpikir. Gue takutnya kita udah vote, sebulan habis itu baru nyadar kalau lawakannya itu lucu. Kan sayang banget!

Ge Pamungkas :That's the point. Itu yang gue maksud tadi.

Raditya Dika :Mo Sidik sebagai mentor emangnya ga bisa melihat kebiasaannya bermain beat-beat begitu?

Mo Sidik :Gue sih udah usaha mengingatkan, Dit! Tapi yaa, begitulah. Sama dia pokoknya Rani harga mati terus.

Raul :Oke, tak usah nyalah-nyalahin mentor saya. Selain gembrot, Mo Sidik tak salah apa-apa.

Mo Sidik :Gue ga gembroooot...! Ini tuh chubby tau?!

Karni Ilyas :Kalau kau memasak, bagilah tetanggamu. Sebab bila dapat bersinnya tak dapat masakannya, itu adalah kerugian yang nyata, sabda Raul. Kita rehat sejenak...!

1 Okt 2017

Komentar Abdel

Abdel :Jadi ini open mic yang pertama?

Raul :Ga dengar tadi aku ngomong apa? Mas Abdel itu dibayar Indosiar bukan cuma untuk ngomong, tapi juga untuk nyimak. Orang-orang macam Mas Abdel inilah yang bikin negara kita ini gagap untuk maju. Koruptor pun dibayar. Aku harap ini jadi perhatian semua, termasuk pihak Indosiar!

Gilang Host :komika yang ngakunya pendiam ini ternyata cerewet ya!

Raul :Aku emang pendiam Bro, kalo lagi tidur.

Andhika Host :Hahaha...! Mati gaya kali ini Cang Abdel!

Gilang Host :Mati gaya terdiri dari, MA TI GA YA. MA...?

Abdel :MAunya aku, dia yang mati gaya.

Semua Host :TI...?

Abdel :TIba-tiba terjadi yang sebaliknya.

Semua Host :GA...?

Abdel :GA taunya, aku yang mati gaya.

Semua Host :YA...?

Abdel :YAa, begitulah kejadiannya.

Karni Ilyas :Tak Ada Dian, Rani Pun Jadi, kata Siraul Nan Ebat, penulis calon buku terkenal Rekreasi Hati. Kita rehat sejenak!

Komentar Eko Patrio dan Soimah

Andhika Host :Raul gilaaa...! Seruuu...! Pendukungnya banyak banget! Gimana rasanya tampil tadi?

Raul :Alhamdulillah! Lumayan banyak yang bertepuktangan tadi. Padahal aku ngomong suka ati aja itu. Ga jelas, haha...! Presiden aja aku yakin ga bisa kayak aku tadi. Dia ngomong serius, pidato kenegaraan aja yang musti dengar malah ada yang tidur, haha...! Piss ya, Pak! Jangan tangkap saya (sambil melambai ke arah kamera)

Andhika Host :Keren komika kita yang satu ini.

Gilang Host :Yoi! Kita dengar aja langsung komentar para juri kita.

Andhika Host :Silahkan yang pertama, Mas Eko!

Eko Patrio :Beri tepuktangan dulu donk, buat Raul!

(Penonton dan semua orang, termasuk Host Nikita Mirzani yang sepanjang acara belum pernah ngomong sama sekali, bertepuktangan meriah)

Eko Patrio :Raul, ini tampil pertama di atas panggung ya?

Raul :Ga juga! Dulu waktu sekolah sedikitnya 3x tiap tahun saya naik panggung, Mas Eko! Waktu pengumuman ranking kelas. Saya selalu juara kelas soalnya. Emang situ?

Eko Patrio : (setelah siuman dari bengong) Masih kelihatan sedikit grogi.

Raul :Pengaruh zodiak kali, Mas Eko!

Eko Patrio :Oke! betewe di luar itu, semua keren. Deliverynya lancar, beat-beatnya terjaga dan nyambung. Punch line -nya dapet, ok! Gerrr-nya? Berantakan...!

Andhika Host :Sekarang Soimah. Silahkan Mak E, komentarnya!

Soimah :Oke, Raul! Untuk soal-soal teknis biar nanti juri-juri lain yang mengomentari. Aku cuma mau menilai dari penampilan dan aksi panggung kamu tadi. Waktu kita bertemu pertama kemaren kamu belum potong rambut. Dan ternyata kamu mengikuti saranku. Kamu ganteng sekali dipotong cepak begitu!

Raul :Terimakasih, Mak E! Tapi jangan pernah berharap pujian itu akan berhasil membuat aku jadi tertarik padamu. Sekali Rani, tetap Rani, Merdekaaaa...!

Soimah : (Bengong sejenak seperti yang lainnya). Oke, langsung saja ya! Walau seperti kata Mas Eko masih terlihat grogi, tapi secara keseluruhan aku suka.

Raul :Kan sudah kubilang tadi? Aku tak peduli pada perasaanmu!

(Bengong lagi semua)

Soimah :Aku janji akan kasih kamu...

Raul :Mak E jangan mentang-mentang banyak duit, ya! Aku bukan cowok matre! Pokoknya bagiku, RANI harga mati, titik!

*Kemudian hening

30 Sep 2017

Open Mic

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...!

Demi, NKRI kita!

Demi, merah putih kita!

Demi, Bhinneka Tunggal Ika kita!

RANI Harga Mati, Merdekaaaa...!

Sebelumnya saya mau klarifikasi dulu. Banyak teman pembaca karya-karya dialog imajinatif saya yang menganjurkan saya untuk ikutan acara Stand Up Comedy.

"Lucu", katanya.

"Saya pikir juga begitu. Banyak sih memang yang bilang begitu", jawab saya demi tidak mengecewakannya. Dan karena itulah sekarang saya ada di sini.

Halo perkenalkan, nama saya Raul!
Asli saya orang baik-baik. Asal saya dari keluarga baik-baik. Sejak sekolah dulu saya aktif berorganisasi. Karir tertinggi saya adalah sebagai Ketua Kelas dan dipecat karena terbukti merekayasa buku absen. Tahun berikutnya saya maju lagi di pemilihan dan cuma meraup 1 suara. Itupun saya duga suara saya sendiri.

Selain itu saya adalah juga seorang mantan calon Ketua OSIS. Saya gagal terpilih karena kampanye hitam dari para pesaing saya. Katanya Ketua OSIS harus warga Batam asli. Sedang saya kan tak punya KTP Batam. Umur saya waktu itu baru 16 tahun.

Saya juga mantan anggota Pramuka Siaga. Upacara Senin Pagi di sekolah dulu saya juga aktif berpartisipasi, terutama bila jadwal pelaksananya adalah kelas kami. Jabatan rutin saya waktu itu adalah pendamping pembina upacara dengan jobdesk membawakan map merah jambu (cieee) naskah Pancasila. Mengingat ini kadang saya merasa sedih.

Cerita awalnya saat gladi resik. Saya jadi komandan upacara. Tapi karena saya orangnya pendiam, maka saya dianggap tak bisa jadi pemimpin upacara.

"Ngomong aja susah, gimana mau teriak 'Siaaaap Graaaak!', alasannya.

Saya batal jadi komandan. Pangkat diturunkan, jadi MC. Dan lagi-lagi saya dikriminalisasi. Katanya daripada mubazir, saya jadi pembawa naskah Pancasila saja.

Katanya logat saya aneh. Tak cocok jadi orang yang didengarkan. Jadi pengikut dan pendengar saja. Itulah mungkin sebabnya kenapa saya jadi begitu pintar, ya?

Sudah logatnya aneh, cempreng pula katanya. Aneh okelah, saya bisa terima. Saya kan memang anak pendatang, baru datang merantau dari keluarga baik-baik. Tapi cempreng?

Hey, saya ini pernah jadi vokalis band gagal lho! Iya benar, suer! Saya pernah bentuk 2 band dengan keduanya saya jadi vocalist, hanya karena suka sekali lagu I'll Be Alright-nya Per Gessle. Tau ga lagunya? Dan saya tebak, untuk tau siapa Per Gessle aja kalian pasti butuh Google, ya kan? Tapi jujur saya akui kalau jam manggung kami memang tak banyak, tapi kami puas sekali mainnya. Seingat saya waktu itu kami cuma sewa 2 jam di tempat biasa, Genta blok N nomor 9. Saya ingat betul. Waktu itu saya yang nraktir teman-teman yang lain bayar sewanya, sebab panen cabe saya laku keras. Habis diborong semua oleh teman-teman sekelas.

Ohya, di sini ada yang masih jomblo? Banyak pasti ya? Sama, saya juga masih jomblo? Jadi jomblo itu susah ya? Apalagi mesti tabah pula. Tapi tenang aja, selain saya dan kita, Megawati atau Presiden Prancis juga jomblo kok! Tapi yaa jangan sampai kesenangan dulu pula! Saya sudah punya incaran. Namanya Rani. Aslinya orang baik-baik. Asalnya dari keluarga baik-baik. Jadi kalian semua para jomblo, termasuk Megawati dan Presiden Perancis, tak usah mimpi bakal jadian sama saya. Rani aja sampai sekarang masih belum bisa-bisa dapetin saya. Pokoknya demi Merah Putih, demi Bhinneka Tunggal Ika, RANI harga mati, Merdekaaaa....!

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu...!

26 Sep 2017

Standar Ganda dan Pemimpin Islam

Nyo :Kau ini aneh. Sering sekali menggunakan standar ganda dalam memandang persoalan yang sama hanya karena dilakukan oleh dua pihak yang berbeda.

Den :Misalnya?

Nyo :Kau tak mempersoalkan penyelenggaraan Miss World atau ajang-ajang kontes kecantikan serupa lainnya. Tapi di sisi lain kau nyinyir sekali terhadap pihak yang membuat acara Putri Muslimah, Putri Hijab dan sejenisnya.

Den :Miss World, Putri Indonesia dan lainnya itu bukan ajangnya orang muslim, dan saya sebagai orang Islam tak perlu turut campur. Itu urusan mereka. Bahwa ada peserta dan penontonnya orang Islam, itu soal lain. Mereka itulah yang perlu dinasehati, bukan penyeleggaranya. Sebaliknya, ajang Putri Muslimah, Putri Hijab dan sejenisnya itu jelas ditujukan buat orang Islam. Pesertanya dan pasti penontonnya tentu juga orang Islam. Padahal yang mengadakan acara bukan orang Islam. Apa hak mereka buat acara-acara pakai bawa-bawa nama Islam begitu? Apa urusan mereka dengan orang Islam? Masa bodoh dengan apa yang mereka perbuat dengan agamanya masing-masing. Tapi urusan saya jika acara yang mereka buat bawa-bawa agama saya.

Nyo :Setidaknya mereka ada niat membuat acara yang lebih baik.

Den :Lebih baik? Maksudnya?

Nyo :Dalam pandangan Islam, tentu saja Putri Muslimah lebih baik ketimbang Putri Indonesia, kan?

Den :Siapa bilang? Saya orang Islam, dan saya lebih tertarik nonton acara Putri Indonesia ketimbang Putri Muslimah. Logikanya, kalau Putri Muslimah lebih baik, kenapa saya lebih suka Putri Indonesia?

Nyo : ???

Den :Kau kenapa? Kok bingung?

Nyo :Tentu saja aku bingung. Logika kau aneh.

Den :Aneh bagaimana?

Nyo :Yaa...itu tadi. Kau bilang ajang Putri Indonesia lebih baik daripada Putri Muslimah. Padahal sebagai orang Islam mestinya kau berpandangan yang sebaliknya?

Den :Kan sudah kubilang tadi? Yang salah adalah soal anggapanmu bahwa dalam pandangan Islam Putri Muslimah lebih baik ketimbang Putri Indonesia. Itu salah. Untuk ibadah sholat saja wanita lebih dianjurkan di rumah masing-masing kok, ketimbang berjamaah di mesjid? Jadi lebih baik menurut pandangan Islam bagaimana yang kau maksud?

Nyo :Ahh, pusing aku!

Den :Udaaah, urus aja agama dan umat masing-masing! Tak usah ikut campur urusan agama orang lain.

Nyo :Naaaah, itu! Puasa adalah urusan orang Islam. Tapi kenapa orang Islam marah-marah sama pemilik warung, tempat hiburan yang tetap buka dan operasi selama bulan puasa?

Den :Ga juga. Aku ga marah, kok! Mereka jualan dan buka pasti bukan untuk orang yang puasa. Perkara ada orang Islam yang jajan, itu soal lain. Mungkin mereka emang tak puasa. Orang-orang Islam tak puasa seperti itu mestinya yang diceramahi, bukan para pedagangnya.

Nyo :Tapi kan banyak juga pedagang muslim yang tetap berjualan siang hari selama bulan puasa?

Den :Bisa jadi. Tapi yang mereka butuh adalah nasehat, bukan operasi segel warung, apalagi sweeping.

Nyo :Jadi Pemda salah donk, buat aturan jam operasi jualan selama Ramadhan?

Den :Yaa, ga juga! Saya malah suka dan dukung ada Pemda yang berani tegas buat aturan seperti itu.

Nyo :Loh?! Tuh, logika bolak-balik lagi nih?

Den :Begini, bro! Pemimpin punya tanggungjawab moral, tidak saja terhadap rakyat dan warganya yang dipimpinnya, tapi juga terhadap Tuhannya. Ada pemimpin yang berani buat aturan demi kebaikan rakyat dan kemaslahatan umat tentu saja saya dukung 100%. Itulah pemimpin sejati.

Nyo :Walau dengan aturan yang dibuatnya menjadi dholim terhadap sebahagian pihak lain?

Den :Itulah kenapa dalam Islam pemimpin yang adil (dan remaja yang shalih) diprioritaskan duluan masuk surga.

Nyo :Pemimpin yang paling Islami itu setahu saya yaa, Pak Ahok!

Den :Kalau dia Islami, dia mestinya masuk surga brader, bukan masuk penjara, hahahahak...!

Nyo : (diam)

*Kemudian hening.

24 Sep 2017

Unik Itu Inspirasi

Saya punya banyak tokoh idola yang menjadi inspirasi dalam hidup saya. Dari beragam jenis bidang dan kompetensinya masing-masing. Ada olahragawan, penulis, penyanyi tokoh politik, pahlawan atau ulama dan atau tokoh agama. Tapi ada satu kesamaan semuanya. Mereka punya keunikan dan something special di bidangnya masing-masing. Keunikan itulah yang memberi inspirasi saya dalam hidup.

Ada banyak sahabat Nabi yang bisa kita teladani. Ada banyak sahabat Nabi yang bijaksana seperti Ali bin Abi Thalib. Ada banyak sahabatnya yang tegas, keras dan berani seperti Umar bin Khattab. Tentu saja saya dan kita mesti meneladani mereka semua. Tapi saya sangat mengidolakan Khalid bin Walid karena dia punya keunikan sendiri yang tak saya temui pada sahabat Nabi yang lainnya.

Kita punya banyak pahlawan nasional. Tapi saya mengidolai pejuang (belum diakui sebagai pahlawan) Sentot Alibasya karena punya kelebihan yang tak dimiliki para pahlawan nasional seperti Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin, Cik Di Tiro atau Cut Nya' Dien dan lainnya.

Def Leppard, band rock asal Inggris yang meski nge-rock tapi mereka mengaku anti alkohol (pasca kematian gitaris Steve Clark yang over dosis). 3 dari 5 personelnya bahkan vegetarian. Band rock yang kompak, bahkan setia mempertahankan Rick Allen sebagai drummer, walau cuma punya satu tangan akibat sebuah kecelakaan yang merenggut tanggan kirinya untuk diamputasi.

Pun begitu dengan idola-idola saya yang lainnya. Keunikan dan something special yang mereka miliki memberi saya banyak inspirasi hidup. Belajar setia dan loyalitas. Mengerti soal tabah dan kerja keras. Memahami idealisme dan integritas.

Ada banyak sahabat Nabi, tapi  Khalid bin Walid lah yang membuat saya ingin berjuang bela Islam. Ada banyak pahlawan nasional di Indonesia, tapi Sentot Alibasya lah yang menghasut saya jadi orang yang berguna bagi bangsa dan negara. Ada banyak penyanyi dan grup band di dunia dan di Indonesia ini. Tapi maaf, Kangen Band atau ST 12 dan sejenisnya takkan pernah ada dalam list musik player saya, hahaha...!

23 Sep 2017

Angkat Ketapelmu, Gebuk PKI

Sekarang makin terang mestinya sikap kita terhadap antek-antek PKI. Kita tahu siapa saja dan dari kelompok mana mereka berasal. Para pendukung LGBT, liberal dan sekular, pendukung dan para penista Islam adalah mereka yang juga mendukung agar pemerintah meminta maaf kepada PKI. Perhatikan juga orang-orang yang menolak pemutaran kembali film G30S/PKI, mereka yang membully Panglima TNI Gatot Nurmantyo atau yang mendesak presiden untuk memecat Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu.

Situasi saat ini telah sangat mirip dengan saat-saat pra kudeta PKI tahun 1965. Para ulama ditangkapi, sementara kepentingan-kepentingan PKI selalu diakomodasi oleh pemerintah yang telah terkontaminasi akut. Slogan-slogan seperti Revolusi Mental,  Saya Pancasila, Saya NKRI dan aneka jargon pemerintah sangat mirip dengan jargon-jargon milik PKI.

Dan yang paling mengkhawatirkan adalah pernyataan Panglima TNI bahwa ada import 5000 senjata illegal dengan mencatut nama presiden. Ini pasti tidak main-main. Sebagai 'pembantu presiden', apalagi soal yang menyangkut keamanan negara, pastilah Panglima TNI takkan berani berbicara sembarangan apalagi sampai meresahkan masyarakat ini pasti serius. MAHA SERIUS.

Pra kudeta PKI tahun 1965 ini juga terjadi. Hasutan PKI kepada Presiden Soekarno untuk membentuk angkatan ke-5 ( angkatan buruh dan tani) dengan dalih bela negara. Walau tak disetujui Bung Karno, tapi PKI berhasil mendapat sumbangan 2000an senjata secara illegal dari pihak komunis, Cina. Dan sekarang, 5000an senjata seperti yang dikatakan Panglima TNI digunakan oleh siapa? Tujuannya apa kalau bukan untuk kudeta?

Mari belajar dari pengalaman. Jangan seperti Ebiet G Ade,

Sesampainya di laut kukabarkan semuanya.
Kepada ombak, kepada karang, kepada matahari.
Tetapi semua diam, tetapi semua bisu.

Sudah tahu mereka semua diam dan semua bisu, bukannya mencari tahu kenapa, malah masih melakukan lagi kesalahan serupa.

Cobalah kita bertanya pada rumput yang bergoyang.

Menginterogasi dengan metode paling canggih sekalipun, reaksi itu rumput saya duga hanya lah dengan bergoyang, bukan menjawab apalagi menjelaskan kenapa-kenapanya, hahaha...!

Ayo, angkat ketapelmu, Gebuk PKI...!

16 Sep 2017

Kita Dan Kepedulian

Walau cuma di Twitter, tapi saya cukup mengenal mereka. Tak semua sama pilihan politiknya, dan berbeda pula klub bola jagoannya. Sering twitwar soal politik, dan saling bully masalah bola.

Soal sikap dan pilihan politik ada yang anti Jokowi, ada pula yang pro. Di Pilkada DKI lalu sama saja. Ada kubu AHY, ada pendukung Anis dan ada pula yang pro Ahok. Begitu juga soal beda klub bola jagoan. Ada fans Arsenal dan fans klub lain yang sudah pasti sebagai haters Arsenal, hahaha...!

Mereka adalah senior dan guru-guru politik saya. Saya banyak belajar dari mereka. Dari mereka pula saya belajar bahwa kedewasaan dalam hidup berpolitik itu penting. Walau faktanya selalu berdebat, nyatanya pertemanan mereka di dunia nyata tak terusik hanya karena sikap politik dan klub bola jagoan yang tak sama.

Seorang di antara mereka lusa kemaren tersandung perkara narkoba, dan mereka kompak menjenguk dan membesuknya. Mereka dengan cerdas meminggirkan soal politik dan bola. Ini adalah soal pertemanan. Ada seorang teman yang sedang terlibat masalah narkoba dan butuh semangat dan dukungan. Saya salut dan terharu terhadap rasa peduli teman yang mereka unjukkan. Tapi saya khawatir, apakah kepedulian kita terhadap sesama cuma soal narkoba? Saya cemas, karena saya sendiri sering berada di situasi yang sama.

Ini era dimana simpati dan empati sering gagal menampilkan diri. Persoalan kemanusiaan seperti yang dialami etnis Rohingya saja banyak sekali yang ternyata bukannya bersimpati, tapi nyinyir dan mempolitisasinya. Ngeriii...!

Saya sering bertengkar dengan teman hanya gegara saat akan merokok, korek api tak ketemu. Tapi sering memberi peringatan waspada, bila saat ada situasi bahaya saat mereka sedang menggunakan narkoba, hiiiiks....!

15 Sep 2017

Begitu Dekat, Begitu Nyata 2

Begitu dekat, begitu nyata. Jauh sekolah di rantau, ternyata gurunya tetangga sebelah rumah di kampung.

Begitu dekat, begitu nyata. Teman SD dan Mts saya saat di kampung, nikahnya dengan teman STM saya di rantau.

Begitu dekat, begitu nyata. Punya adik angkat di rantau, ternyata sepupunya teman sekelas saya di kampung.

Begitu dekat, begitu nyata. Saudara angkat, teman STM saya di rantau ternyata teman SD dari teman sekelas MTs saya di kampung.

Begitu dekat, begitu nyata. Sibuk di acara nikahan sepupu, ternyata nikahnya dengan teman kerja saya sendiri, hahaha...!

Teman sesama penulis indie. Saya adalah penulis paling indie se-dunia. Dia mengklaim sebagai penulis indie terproduktif se-Indonesia. Dan sekarang diciduk tersandung masalah narkoba, duhhh...!

Begitu dekat, begitu nyata.

Begitu Dekat, Begitu Nyata

Upacara Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2017. Di sebelah Presiden dan Wakil Presiden. Di samping Ketua MPR/DPR. Beberapa hari berikutnya Irman Gusman kena Operasi Tangkap Tangan KPK, ngeriiii...!

Kecuali untuk posting di blog, memang telah lumayan lama saya jarang 'online' di Twitter atau pun Facebook . Bukan tak pernah, tapi biasanya setelah update status atau cuitan di Twitter saya langsung off dan mengabaikan saja notifikasi yang masuk. Jarang sekali saya scrolling timeline sehingga agak kurang update terhadap perkembangan terkini. Untuk tahu informasi terkini saya cuma menyimpan halaman sebuah akun secara offline, dan tinggal melakukan refresh online begitu mau baca informasi. Belakangan saya sedang asyik-asyiknya membaca novel-novel detektif koleksi lama. Ini saya rasakan sangat membantu melatih kemampuan deduksi saya, haha...!

Dan betapa kagetnya saya begitu tahu berita Indra J Piliang diciduk perkara narkoba. Innalillah...!

Begitu dekat, begitu nyata dan mungkin sebentar lagi kita. Terkenang lagi saya cuitan Fahri Hamzah dua bulan yang lalu tersebut. Saya dan IJP tak saling kenal, tapi kami cukup intens berkomunikasi di Twitter. Terakhir, bulan lalu dia mencoba membantu saya menghubungi Pak JK terkait buku-buku biografi Pak JK koleksi saya. Pak JK salah seorang tokoh favorit saya. Saya punya banyak koleksi buku-buku biografinya. Sayangnya, Twiter saya justru diblokirnya. Dan IJP memfasilitasi saya untuk menghubunginya.

IJP salah satu semangat saya dalam berkarya. Sebagai sesama penulis, kami punya idealisme yang sama. Karya kami terlalu berharga untuk dilepas ke penerbit begitu saja. Dia mengklaim sebagai penulis indie paling produktif se-Indonesia, dan saya percaya. Tapi beliau angkat topi saat saya mengklaim sebagai penulis paling indie se-dunia, hahaha...! Ehh, Rekreasi Hati itu saya tulis,susun, edit, desain, cetak, jilid, terbitkan, bahkan jual dan beli sendiri lho, hahaha...!

"TOP indie", katanya saat itu.

Sejak itulah beliau follow twitter saya. Saya memang tak punya buku-bukunya, tapi dia beli Rekreasi Hati saya walau katanya belum sempat dibaca, haha...! Dan sejak itu kami sering interaksi via mensyen, terutama bila Chelsea sedang kalah. Dia mungkin tak tahu kalau saya fans berat Arsenal, hahaha...!

Dan sekarang dia tersandung masalah narkoba. Saya tersinggung saat dia mengakui bahwa sabu dia konsumsi demi observasi dan sebagai doping. Konon edisi pertama dari trilogi tentang pengguna narkoba banyak dikritik karena kurang greget, sehingga dia putuskan untuk mendalami observasinya, sebagai pemakai sebenarnya.

Dia keliru. Sebagai fans sepakbola yang hobi membaca dan menulis dia tentunya pernah mendengar quote terkenal dari pelatih legendaris Ariggo Sacchi,

"Tak perlu jadi sepatu untuk menjadi penjual sepatu".

Sebagai pembeli Rekreasi Hati dia mestinya telah baca bahwa tak perlu jadi penggaruk walau tinggal di kandang monyet. Dia mestinya tahu Rekreasi Hati itu sangat inspiratif. 7 dari cuma 11 followernya adalah blogger pemula yang membuat akun setelah membaca Rekreasi Hati, hahaha...! Jatuh bangga donk, saiiia, wkwkwkwk...!

Tapi yaa begitulah, dia mungkin benar. Rekreasi Hati sudah dibelinya, tapi belum dibacanya, hiiiks...!

IJP hanyalah sedikit dari teman Twitter saya yang berurusan dengan pihak kepolisian. Teman dalam pengertian kami saling follow dan memfollow. Ada Ongen, Fahira Idris, Dwi Estiningsih atau Yulianis. Saya belum paham betul persoalan yang membelit IJP. Tapi dia satu-satunya yang berurusan karena persoalan narkoba. Dan dialah kerabat selebtwit terdekat saya.

"Begitu Dekat, Begitu Nyata Sebentar Lagi Kita" ~ Fahri Hamzah.

14 Sep 2017

Nasehat Sang Pemulung

Ada yang tak bisa kita elak, karena memang harus terjadi. Ada pula yang tak kan pernah terjadi, sebab selalu ada yang menolaknya. Sikap kita terhadapnya sangat menentukan mutu emosional kita.

Saya tahu pasti kontrak kerja saya takkan pernah lagi diperpanjang. Selesai penandatanganan kontrak terakhir, manejer sialan tersebut telah memastikannya.

"Bagaimanapun kinerjamu 6 bulan ke depan, ini adalah kontrak terakhirmu. Saya heran, kenapa supervisor selalu merekomendasikanmu. Tapi kupastikan, ini adalah yang terakhir", katanya saat aku itu.

Saat itu sebetulnya saya masih optimis. Setahun sebelumnya saya telah bersiap berhenti karena telah menyadari gejala betapa menyebalkannya perlakuan manejer sialan tersebut terhadap saya. Tapi supervisor telah menggaransi akan memertahankan saya selama dia masih ada di sana, dan saya mempercayainya. Dia benar, selalu dan mampu menjaga komitmennya. Saya memang selalu diperjuangkan. Sayangnya, dia sendiri tak mampu bertahan lebih lama. Sebelum saya benar-benar berakhir, dia resign duluan.

Saya mengerti situasi yang dihadapinya. Ini artinya saya lah yang harus memperjuangkan nasib sendiri. Membayangkan meninggalkan teman-teman dan segenap kenangan, serta entah kapan lagi saya bisa bertemu Rani itu sungguh mengerikan, hahaha...!

"Hati den kanai ka ba a juo".

Benar, setiap hari saya goda dan dia menanggapinya. Tapi yang saya butuh kan alamat dan nomor handphonenya? Atau setidaknya akun Facebooknya pun jadilah, hahaha...! Apa daya saya tak punya nyali untuk memintanya. Kami akan berpisah. Saya mungkin takkan pernah melihatnya lagi. Saya berhenti bekerja, sementara Rani terlihat makin cantik saja. Menganggur pasti bukan cara yang cerdas untuk mendapatkannya.

Dan begitu benar-benar berhenti dan gagal mendapatkan kontaknya, itulah puncak derita saya. Sampai akhirnya saya menyadari betapa hidup telah saya habiskan dengan penuh derita. Celakanya, derita itu hanyalah gegara seorang Rani. Sialan betul...!

Ini tak boleh terjadi lagi. Saya menderita membayangkan akan berpisah dengannya. Benar-benar menderita kala benar-benar kejadian pisahnya. Dan apakah masih akan menderita lagi karena menyesalinya?

"Menurutku kau itu jenis orang yang matinya 3x. Maksudku, kau sudah menderita sebelum itu benar-benar terjadi. Benar-benar menderita kala benar-benar terjadi. Dan masih menderita menyesali kejadiannya. Kalau aku, aku akan terima saja bagaimana adanya. Aku nikmati saja keadaannya".

Itu adalah kata-kata seorang pemulung dalam novel Trio Detektif, Misteri Setan Menandak.

Itu sungguh menampar saya. Dia itu pemulung yang tak punya tempat tinggal. Dan saya? Tukang tambal ban di Batam jauh lebih banyak ketimbang jumlah karyawan PT Labtech. Ini adalah bukti bahwa lebih pasti berharap rejeki dari Tuhan, ketimbang berharap gaji dari perusahaan.

Saya tak mau mati lagi. Saya kumpulkan dendam dan cinta, sakit hati dan rindu. Dan dalam 6 bulan berikutnya, 9 September 2014, Rekreasi Hati saya rilis.

*Happy 3rd for my lovely book. Sorry for being late, hahaha...!

Skak Mat 3

Den :Hey, kalian tak bisa bahasa Indonesia, ya? Tak ngerti aku apa yang kalian bicarakan. Kalian hidup di Indonesia, jadi pakailah bahasa Indonesia.

Nyo :Santai ajalah, Bro! Ga usah nyolot begitu. Orang-orang itu ngomong Padang berdua biasa aja, kan?

Den :Bahasa daerah itu unsur dari bahasa Indonesia, paham kau? Nah, itu lagi! Coba kau suruh binimu pulang dulu. Suruh dia pakai pakaiannya, kalau benar-benar tak mau kutelanjangi di sini. Ke pasar pakai kolor ama beha doank, Setan!

Nyo :Yaa, kami biasanya...!

Den :Kau hidup di Indonesia, ikuti aturan di Indonesia! PT Semen Padang aja tak maksa karyawannya fasih Bahaso Minang. Nah kaum kalian nyari karyawan konter handphone aja mesti yang bisa Bahasa Mandarin? Kau hidup di negeri hyang mayoritas muslim, sementara bini kau ke pasar pakai kolor sama beha doank? Tau diri bisa, kan?

Nyo :Indonesia bukan milik suatu agama saja, Bro! Ini negara Pancasila.

Den :Orang macam kalian bicara Pancasila? Cuiiiih...!

Nyo :Loh, kan memang begitu, bro! Ini negara beradab, toleransi. Bhinneka Tunggal Ika, bukan negara kelompok radikal.

Den :Kau tuding Islam radikal? Anti Pancasila, begitu? Coba kau sebut dulu sila pertama Pancasila!

Nyo :Ketuhanan Yang Maha Esa.

Den :Kau tuding Islam anti Pancasila. Kalau bukan umat Islam yang buat, apa kau pikir bunyi sila pertamanya begitu? Emang yang Tuhannya cuma satu siapa? Agama apa?

Nyo :Yang bikin Indonesia merdeka bukan cuma orang Islam, bro!

Den :Emang bener! Tapi coba kau sebut satu saja tokoh pahlawan Cina, aku sebut duapuluh pejuang muslim, bisa?

*hening...

11 Sep 2017

"Dikit-dikit Promo, Dikit-dikit Promo"

Pernah baca status teman yang jualan online, pertanyaan dari seorang teman yang dipostingnya sebagai status facebook dan dilengkapi dengan jawaban dirinya yang ditanya. Bunyinya kira-kira begini:

"Kamu kok dikit-dikit promo, dikit promo"

Trus disambung dengan jawaban yang kesannya keren abis,

"Karena buat gue Facebook mesti bawa manfaat. Ketimbang situ, alay melulu".

Atau jawaban-jawaban sejenis lainnya yang menurut saya lebih terkesan membela diri, cenderung arogan, jumawa bahwa baginya Facebook bisa memberi manfaat dan sebagainya. Padahal maksud sebetulnya dari si teman menurut saya adalah mengingatkan, bukan bertanya.

Pertanyaan si teman sebetulnya adalah pertanyaan saya juga. Sebetulnya saya ingin sekali memblok teman yang melulu posting jualan di Facebook. Tapi tidak saya lakukan untuk alasan yang tak perlu lah pula saya utarakan. Tapi fakta bahwa saya ingin melakukan blok dan bahwa ada pertanyaan dari temannya itu adalah bukti bahwa ada yang salah dengan mereka, yang suka posting promo jualannya.

Saya tak persoalkan promo-promonya tersebut, karena memang begitulah mestinya jualan. Saya juga tak persoalkan jawaban arogan tersebut, karena nyatanya saya juga sering begitu. Yang jadi persoalan buat saya adalah promo melulunya tersebut. Terus terang saya sendiri sama sekali tak merasakan manfaat dari promo-promonya tersebut. Mengganggu sekali malah. Dulu saat fesbukan pakai henpon butut, promo-promonya tersebut sangat terasa menggerus kuota internet saya. Baiknya, saya memang telah bersikap sejak awal takkan pernah melakukan blok 'terhadap siapapun' di Facebook. Prinsip tersebut sangat saya jaga sampai saat ini.

Buruknya, belum tentu semua orang bersikap seperti saya. Ini mestinya diwaspadai oleh teman-teman pelaku usaha jualan online. Cukup dengan mengklik ulang tombol 'mengikuti', seluruh postinganmu takkan pernah muncul lagi di beranda teman. Rugi sekali, sebab hanya dengan satu 'tombol like' saja postinganmu bahkan bisa dilihat oleh yang bukan teman, kalau postinganmu di-set publik tentunya.

Jualan online meski murah tapi akibatnya bisa saja fatal. Untuk mengujinya cobalah sesekali buat semacam simulasi,  update postingan lain yang bermutu dan perhatikan saja jumlah teman yang memberi atensi, baik yang like ataupun yang memberi komentar. Apakah orangnya yang itu-itu saja? Apa jumlahnya sebanding dengan jumlah teman yang ada di list.  Kalau tidak, jangan-jangan sudah banyak yang mengklik ulang tombol 'mengikuti'nya, hahaha...!