Follow Donk...!

22 Mei 2016

Anomali Desain Mesjid

Setahun belakangan ada satu mesjid yang begitu nge-hits di Batam, yaitu Mesjid Jabal Arafah. Terletak di pusat kota Nagoya dengan komplek dunia bisnis di sekelilingnya termasuk beberapa Mall seperti Nagoya Hill. Penasaran dengar cerita bahwa ada mesjid yang begitu megahnya (selain Mesjid Agung Batam), saya coba lah pula ‘main-main’ ke sana. Dan benar saja. Mulai dari karpet yang tebalnya mungkin mencapai 10mm, juga ada perpustakaan dan toko buku, sepatu, sendal parfum dan busana muslim. 

Tapi dari pengalaman 3X ke sana ada satu hal yang sangat menganggu pikiran saya selaku seorang yang sedang shaleh (kan dalam rangka sholat) smile emotikon Bukan soal mesjid yang dijadikan lokasi selfie oleh banyak pasangan, baik legal dan apalagi ilegal itu. Tapi soal desain mesjid yang sangat tidak Islami.

Benar, ada banyak mesjid dan juga musholla yang juga keliru desain. Tempat wudhu yang bercampur aduk antara laki dan wanita misalnya. Tapi di mesjid kebanggaan Kota Batam yang satu ini sedikit beda persoalannya. Tempat wudhu sudah benar, besar, mewah dan terpisah pula antara pria dan wanitanya. Yang bermasalah adalah posisi tempat wudhu wanita. 

Untuk mencapai tempat wudhu, kaum ibu itu mesti melewati barisan jamaah laki-laki. Dan ini sangat tidak Islami, setidaknya bagi kami-kami kaum pria yang sedang shaleh temporer ini, hahaha…! Bayangkan deh, saat lagi kongkow-kongkow abis sholat misalnya, ada mamah-mamah muda berlenggak-lenggok mau atau pulang dari tempat wudhu’nya. 

Jika soal tempat wudhu tanpa batas yang tegas antara pria dan wanita di mesjid atau musholla saya ‘masih sedikit mengerti’. Sebab sebagaimana dianjurkan untuk wanita lebih baik sholat di rumah. Lagipula kalaupun hendak berjamaah di mesjid/musholla, wanita biasanya sudah berwudhu duluan di rumahnya masing-masing. Tapi untuk mesjid Jabal Arafah ini jelas beda persoalannya.

Mesjid ini bukanlah mesjid pemukiman penduduk. Mesjid ini adalah tempat sholat bagi semua orang yang sedang berada di dekat situ. Misalnya bagi karyawan atau yang sedang belanja di Nagoya Hill tentu butuh sholat juga. Sholat di musholla mall yang sangat kecil tentu merepotkan. Supir-supir taksi, tukang ojek atau pedagang kaki lima di sekitaran situ tentu juga paling idealnya sholat di sana. Intinya, mesjid yang satu ini adalah mesjid milik semua muslim dan muslimah. Dan desain mesjid yang keliru ini sebetulnya bukan persoalan yang bisa diremehkan begitu saja.

Inilah pentingnya kenapa Islam perintahkan umat untuk belajar. Umat Islam mesti pintar, sehingga untuk membangun mesjid tidak menggunakan kontraktor non muslim. Pimpro, designer, konsultan dan seluruh stakeholder pembangunan mesjid mestilah orang Islam sendiri. Pun begitu dengan hal-hal lainnya. Nah bagaimana bisa menjalani hidup yang Islami, jika Cuma untuk membangun tempat sholat saja kita mesti mempercayakan pada mereka yang bukan Islam…?

*Naudzubillahi min zalik…!

17 Mei 2016

Saya, Si Itu, Si Anu dan Si Ini

Beberapa waktu lalu HP saya hilang. Sebulanan kemudian saya tahu HP tersebut dipakai oleh si Itu, seorang teman nongkrong (juga). 

"Si Itu siapa?", seseorang bertanya.

"Si Itu teman si Anu", jawab saya.

Dan orang yang bertanya ini lalu percaya bahwa si Anu-lah pencurinya, sebab selain track record-nya yang hitam, dia memang 'punya akses' untuk melakukannya.

Jadi siapa sebetulnya yang mencuri? Pilih jawaban berikut analisa dan penjelasannya.

A. Si Itu
B. Si Anu
C. Si Ini
D. Bukan ketiganya.


*Survey serius

Yang di atas itu adalah status Facebook saya beberapa waktu lalu. Status tersebut saya post karena terinspirasi oleh jawaban si penanya. Keyakinannya bahwa Si Anu-lah yang mencuri membuat saya merasa perlu membuat sebuah survey. Yaa, berupa status tersebut, hehehe…!

Lumayan ada tanggapan, tapi tak begitu sesuai dengan ekspektasi saya. Ada yang menduga saya sedang berteka-teki as always, hahaha…! Maka yang dianalisanya justru kalimat-kalimat postingan saya. Ada juga yang menuduh pelakunya adalah saya sendiri tanpa menganalisa sama sekali. Ada pula yang malah mengomentari saya yang hobi kehilangan handphone, hahaha…! Jadi komentar mereka terpaksa kita abaikan saja.

Walau begitu, ternyata ada satu orang yang ternyata menganggap postingan itu survey betulan. Dan kesimpulannya sama dengan si penanya dalam postingan saya itu: pencurinya adalah si Anu. Sayangnya tanpa memberikan sedikit analisa seperti yang saya perlukan. Tapi walau begitu saya yakin bahwa dia juga punya alasan yang sama dengan si penanya.

Maka kesimpulan saya, mereka menuduh si Anu karena selain rekam jejak yang hitam, dia juga punya akses untuk melakukannya. Padahal mereka keliru. Dugaan saya, malah si Ini pelakunya. Bad storiesnya juga tak kalah kelam. Dia juga teman dekat si Itu. Tapi yang lebih meyakinkan saya adalah bahwa dia jauh lebih punya akses ketimbang si Anu.

Mengapa tak ada yang menduga si Ini pelakunya? Karena saya tak memberikan keterangan sedikitpun tentangnya. Inilah sebabnya dan itulah akibatnya. Informasi yang tak mendetail ternyata begitu bahayanya. Terbukti bahwa 2 orang yang saya tanya semuanya menuduh si Anu. Lalu apakah sebagai pemberi berita saya bisa mutlak disalahkan?

Tidak juga. Mestinya terhadap si penanya saya menjawab bahwa si Itu itu teman si Ini, bukan teman si Anu, sebab si Itu itu selain teman si Anu adalah juga teman si Ini. Persoalannya adalah bahwa si penanya hanya kenal Si Anu, bukan si Ini. Itulah kenapa terhadap pertanyaannya saya menjawab bahwa si Itu teman si Anu, sebab yang dia kenal adalah si Anu, bukan si Ini.

Bingung? Bodo amat, hahahaha….!

Tapi apakah di postingan yang ditujukan untuk survey itu saya juga bisa disalahkan? Tidak juga, sebab yang saya survey bukanlah berapa banyak yang menuduh si Ini, Si Anu atau si Itu. Saya hanya ingin melakukan riset dampak dari sebuah omongan, tulisan dan sebagainya yang gagal memenuhi unsur etik jurnalisme. Dan terbukti, bahwa omongan dan tulisan yang gagal etik itu dampaknya bisa menjadi fitnah luar biasa, bahkan walau dilakukan tanpa niat dan kesengajaan sama sekali, hiiiks….!

8 Mei 2016

Antara Niat, Sanksi dan Apresiasi

Banyak teman yang mengatai saya kurapan karena status saya gatal dan garuk melulu. Jadi normalnya saya bisa dipercaya sebagai Duta Menggaruk donk, hahaha…! Seorang teman di Twitter ‘menuduh’ saya sebagai buzzer PT Mayora karena setiap saat nge-twit tentang BengBeng. Di luar itu saya juga sering posting tentang Halo Selebriti. Maka mestinya wajar pula bila saya berharap untuk bisa menjadi Duta BengBeng atau Duta Halo Selebriti, sebagai penghargaan terhadap kontribusi saya dalam mempopulerkan brand mereka.

Tapi itu dulu. Sekarang saya tak lagi menginginkannya sama sekali. Sebab antara sanksi dan apresiasi tak jelas lagi kategorinya. Penghargaan dan pelecehan tak tegas lagi rumusnya. Makin sering bolak-balik mondar mandir dipenjara karena narkoba malah dinobatkan sebagai Duta Narkoba. Menghina Pancasila malah diangkat jadi Duta Pancasila. 

Hukum itu bukan membina tapi menghukum. Pembinaannya ialah dengan cara menghukum ~ Prie GS

Baru kemaren saya mengutip ucapan Prie GS tersebut, dan sebentar tadi saya membaca bahwa siswi yang mengaku sebagai anak Jendral sekarang sudah dinobatkan pula menjadi Duta Anti Narkoba. Alasan yang disodorkan memang baik dan masuk akal. Walau begitu, alasan untuk tidak begitu juga baik dan masuk akal pula. Di sinilah persoalannya. Bagaimana bisa 2 hal baik yang masuk akal malah bisa saling bertentangan. 

Indonesia benar-benar sudah menjadi suatu negara yang bingung. Perusahaan pembakar hutan yang mengasapi Asia Tenggara saja tak bisa dipidana karena tak terbukti ada yang terbakar, sebab semua bukti sudah terbakar, hahaha…! Walau korupsinya terbukti, tapi seorang Gubernur sampai sekarang masih merdeka dan dibayar negara hanya karena tak berniat korupsi.

Maka niat saya untuk diangkat sebagai Duta Ini dan Duta Itu mesti saya tinjau ulang sebab ternyata niat itu belum tentu baik dan buruknya buat saya. Apa baiknya saya sebagai Duta Halo Selebriti misalnya jika nantinya malah di-bully sebagai penganjur gossip. Apa manfaatnya sebagai Duta Uttaran, jika nanti saya malah disama-samain dengan emak-emak, hahaha…! 

Persoalan niat menjadi begitu pentingnya untuk difikirkan. Jika niat ke Mekah untuk ibadah, tunaikan rukun Islam ke lima, Insya Allah niat hajinya mabrur. Tapi jika niatnya ingin mati dan meninggal di sana, maka bila makbul belum tentu niat ibadahnya diterima, sebab hilang karena niat ingin matinya, hiiiks… 

Maka berhati-hatilah dengan niat. Jangan-jangan niat anak-anak yang berfoto injak-injak patung Pahlawan di Sumatera Utara itu juga karena ingin jadi pahlawan misalnya…? Hahaha…!

4 Mei 2016

When Love And Hate Collide

Hubungan saya dengan mereka ini sungguh unik. Saya sangat mencintai sekaligus membenci mereka dalam dosis yang nyaris sama. Saking bencinya, sudah 8 tahun ini saya tak pernah bertegur sapa dengan salah seorang dari mereka, walau nyaris tiap waktu bertatap muka. Saking cintanya, saya bersedia melakukan apapun yang bisa demi mereka. Bingung?

Ini salah satu keluarga angkat saya di Batam. Suami istri dengan sepasang anak yang sekarang sudah menikah. Putra cowok teman sekelas saya dan sekarang tinggal bersama istrinya entah di mana, hahaha…! Yang cewek, 2 tahun di bawah saya dan sekarang juga sudah bersuami dengan teman satu SMP-nya dulu. Kisah romantisme mereka salah satu yang terkeren dari banyak pasangan yang saya kenal selama ini.

Ibunya…? ‘wanita asing’ terbaik yang pernah saya kenal. Jika melihat saya sedang nongkrong di depan, beliau akan segera masuk rumah. Siapkan makanan tanpa bertanya dulu saya sudah makan atau belum. Sudah pasti mau atau tidak saya mesti makan karena sudah terlanjur disiapkan dan saya tinggal menyantapnya saja. Yang paling buat saya terharu adalah saat saya nge-kost agak jauh dari rumahnya. Sekitar jam 4 dinihari bela-belain ngantarin saya makan buat sahur saat bulan Ramadhan.

Sang Bapak…? Nah inilah bintangnya dalam uniknya ‘hubungan kekeluargaan kami’. Sejak 8 tahun lalu sebab suatu konflik kami menolak saling bicara. Satu-satunya momen perdamaian kami adalah saat sang putri menikah, akhir Maret tiga tahun lalu. Itupun cuma masing-masing sepatah kata doank!

“Angkat ke mana, nih?”, Tanya saya berinisiatif memulai percakapan walau karena dipaksa keadaan.

“Ke situ!”, jawabnya pendek.

Dan sejak itulah sampai sekarang kami kembali dalam situasi default. Saling mendiamkan, hahaha…!

Tapi walau begitu kami tetap saling support dan merepotkan satu sama lain. Misalnya saya sedang butuh sesuatu terhadapnya, maka saya akan minta tolong sama anaknya untuk bicara dengan si Bapak. Pun sebaliknya begitu pula. Jika butuh maka dia juga akan minta anaknya untuk bicara dengan saya.

Seperti kali ini, putrinya mengirim pesan di ruang chat Facebook,

“Bang, papa minta tolong titip jaga rumah. Kami semua mau pulang kampung. Jumat sampai Senin tidur di rumah ya!”, kurang lebih begitu bunyi pesannya.

Begitulah, sodara-sodara. Laki jomblo itu tugasnya emang buat dititipin jaga rumah, hahaha…!

27 Apr 2016

Dijajah Obat-obatan

Penguasa dunia sesungguhnya adalah kelompok farmasi. Tak peduli betapapun tinggi derajat social dan karir seseorang, di hadapan kaum farmasi dia akan takluk tanpa syarat. Bila dokter telah menyuruhnya menelan sesuatu, presiden, raja paling kejam atau penguasa paling ditakuti sekalipun takkan berani membantahnya, walau tanpa pernah tahu apa sebetulnya yang mesti mereka telan itu. Dunia farmasi yang serba tertutup telah menjajah manusia karena begitu pentingnya kesehatan.

Kita hanya bisa pasrah menerima resep yang berupa tulisan acak-acakan sang dokter yang tak pernah mampu kita terjemahkan. Entah siapa yang mengajari dokter ini menulis. Ajaibnya, tulisan yang serupa cacing demo itu entah bagaimana caranya sangat dimengerti oleh para apoteker. Chemistry yang begitu apik, relasionship dokter-apoteker ini seperti telah punya cara berkomunikasi via telepati saja. Kita sebagai pasien sama sekali tak berdaya sama sekali untuk memahaminya.

Sangat banyak mitos keliru dalam dunia kesehatan yang tak kuasa kita tentang karena begitu hormatnya kita terhadap kesehatan. Padahal dengan sedikit berpikir logis kita akan menemukan kontradiksinya. Saya misalnya minum air putih sambil berbaring saja akan segera keselek. Bagaimana mungkin terhadap anak-anak disodorkan susu botolan (yang jelas-jelas lebih kental ketimbang air putih) untuk diminumnya menuju tidur. Apa manfaatnya? Besok-besoknya dia akan menderita pilek iyyya, hehehe…!

Sebetulnya tubuh kita sudah punya sistim imun sendiri. Anak-anak yang saat kecilnya sering mandi hujan misalnya lama-kelamaan akan tahan terhadap bahayanya hujan-hujanan. Seorang Mike Tyson misalnya takkan merasakan apa-apa jika ditinju, sebab dia sendiri petinju dan sudah sering sekali ditinju, hahaha…! Sistim imun di tubuhnya bekerja, sebab dia sudah biasa ditinju.

Itu sangat bertentangan dengan dunia obat-obatan yang mengandung zat adiktif. Para pecandu narkoba itu misalnya pada saat masih pemula dengan seperempat butir pil exctasy saja barangkali dia sudah mabuk. Besok-besoknya 2 dan 3 butir dia akan mungkin dia masih anteng-anteng saja. Itu berlaku bagi semua (?) jenis obat-obatan karena zat adiktif yang dikandungnya. Dosis akan terus meningkat bila terus dikonsumsi. Dan kekurangan dosis takkan menyembuhkan penyakit. Malah di satu sisi akan menyebabkannya jadi sakit. Itulah dia yang dinamakan sakaw, kecanduan. Mike Tyson yang sudah biasa ditinju itu, jika terus-terusan ditinju juga akan merasakan sakitnya ditinju sebab dosisnya sudah berlebihan 

Itulah kenapa saya sangat ogah bila disuruh minum obat. Sudah belasan tahun rasanya saya tak minum sebutir obat pun selain Bodrex. Masuk rumah sakit? Pernah dulu waktu SD (Dah ga ingat lagi sakit apa) dan sekali dulu sekitar 10 tahunan yang lalu berobat ke Puskesmas. Itupun juga karena kelalaian sendiri, kecelakaan kerja. Mata saya kemasukan serbuk besi saat bekerja karena tak menggunakan safety glass saat motong besi menggunakan gerinda. HRD perusahaan tempat saya bekerja (dulu) saja heran kenapa saya tak pernah mengambil Kartu Berobat dari Jamsostek, hahaha…! Jadi laki-laki masa’penyakitan? Wkwkwkwk…!

Lalu apakah saya tak pernah sakit? Tentu saja pernah, yakni waktu pala berbie pusying, hahaha…!

Saya punya logika sendiri soal sakit. Sakit disebabkan oleh bakteri/kuman. Dan saya juga tahu cara membunuh kuman. Maka bila saya panas dalam misalnya, saya takkan melakukan Goyang Biji. Saya akan minum air panas. Bakteri akan mati bila kepanasan, kan? Hahaha…! Pun begitu bila saya terkena kutu air, panu atau bermacam penyakit kulit lain misalnya. Cukup saya siram dengan air panas, hahaha….! Dan Insya Allah sampai sekarang saya tetap sehat senantiasa, Alhamdulillah…!

Selamat Pagi…!

16 Apr 2016

Nama Internet

Dulu saya pernah menulis tentang nama saya. Jadi sekarang tentang nama adik-adik saya saja ya…!

Nama-nama adik saya sungguh sangat simple. Semuanya cukup dengan satu kata saja. Sudah begitu terdengar sangat biasa saja pula. Susi, Dasril, Rahmat, Rahmanita dan Ramadhani. Jika dilihat lebih teliti lagi makin terlihat betapa sangat tidak kreatifnya nama-nama mereka. Makin ke bawah makin tampak bahwa orangtua saya mulai bingung untuk memberi mereka nama. Dan bahkan jika dikarunia anak lagi, saya rasa nama adik-adik saya berikutnya itu mungkin Ramadhan, Ramadhona atau Rahmadini saja, wkwkwkw…

Saya sendiri tak mengerti bagaimana rasanya punya nama pendek begitu, hahaha…! Soal rasa nyaman mereka menggunakan namanya juga bisa dipertanyakan. Rata-rata mereka malah memberi nama belakang di akun sosmed mereka masing-masing. Entah karena ingin ikutan keren seperti seniornya ini atau entahlah. Tanya langsung ke orangnya sajalah, ya…! Hahaha…!

Tapi itulah dia nama yang diberikan dengan penuh kasih sayang tulus oleh orangtua polos seperti orangtua saya. Adik-adik saya diberi nama oleh orangtua mereka sendiri, bukan oleh internet. Nama-nama yang sangat jauh untuk dibilang keren jika dibandingkan dengan nama-nama si Anu bin Internet atau si Anunah binti Google itu adalah nama yang penuh doa dari orangtua. Nama-nama yang menyertai dan mendampingi seluruh perjalanan hidup mereka. Hidup yang disertai doa orangtua adalah hidup yang Insya Allah selalu diberkahi dan diridhoiNYA, aamiin…!

Nama adalah doa. Dan nama pemberian orangtua berarti doa dari orangtua. Betapa beruntungnya anak-anak yang seluruh hidupnya diiringi oleh doa orangtuanya.
Maka hal berbeda juga bisa kita bayangkan betapa nanti anak-anak yang seluruh hidupnya didampingi oleh internet karena nama yang didampingi oleh internet. Tak ada yang salah dengan internet sepanjang iya benar lagi baik. Persoalannya hanyalah bahwa tak seluruhnya dalam internet itu baik. Apalagi sudah benar mesti baik pula.

Sudah banyak kita tahu buruknya internet. Dan walau tak ada jaminan akan buruk, tapi juga tak ada jaminan bakal baik jika seluruh hidup kita hanya didampingi oleh internet. Betapa banyak tragedi anak terjadi karena internet. Dan ini terjadi bukan cuma karena sang anak sibuk dengan internetnya sendiri, tapi juga karena kesibukan orangtuanya dengan internetnya sendiri pula. Maka saking sibuknya, untuk memberikan nama bagi anak sendiripun dipercayakan kepada internet, hahaha…!

*Ngaco pagi-pagi

It's 8 O'clock Somewhere

“Penulis itu emang pemalu ya?”, Tanya seorang pembeli buku Rekreasi Hati waktu saya berkunjung ke rumahnya beberapa hari lalu.

Bila dia bertanya begitu pada teman-teman saya dijamin dia bakal menerima ‘cimeeh-an’. Bagaimana mungkin seorang yang dijuluki seorang ‘Raja-nya Penggalauan’ sekaligus sebagai seorang ‘Raja Gombal’ bisa dianggapnya seorang pemalu? Hahaha…!

Tapi ada benarnya juga sih. Saat itu saya memang lebih banyak diam ketimbang bicaranya. Kalaupun bicara itu juga seperlunya saja. Dan itu bukan tanpa sebab.

Pertama, saya sedang berhadapan dengan seorang wanita yang walau sudah veteran (lebih tua dari saya sekitar 3 sampai 3 tahun), tapi masih tersisa jejak-jejak kecantikannya tahun-tahun silam, hahaha…! Tapi itu bukanlah penyebab utamanya. Sebab pertama datang justru dari dirinya sendiri. Sebelum menemuinya saya mesti berhadapan dulu dengan bapaknya. Saya cukup beruntung karena ternyata saya dan sang bapak sudah terlebih dulu saling kenal. Tapi tampang horor mantan ‘preman’ dengan rambut gondrongnya itu tak ayal tetap saja menggentarkan hati saya, hahaha…! Bayangkan saja, baru duduk saja saya sudah ditawarinya rokok, hahaha…!

Walau saya perokok juga, tapi saya cukup mengerti etikanya. Saya tak suka merokok di depan orang yang tidak merokok (terutama cewek). Untuk itulah saya sengaja tidak membawa rokok saat itu. Saya butuh pencitraan donk? Kan lagi ngapel? Hahaha…!

Dan kamu tahu, itu sungguh mengintimidasi. Pada saat seorang menawarimu sesuatu sesungguhnya dia sedang menempatkan dirinya pada tempat yang lebih tinggi sekaligus mendudukkanmu pada tempat yang lebih rendah. Pada kedudukan begitu yang layak berbicara adalah orang yang berada pada posisi lebih tinggi. Yang di atas butuh bicara, sedang yang di bawah mesti mendengar. Begitu kan, aturannya?

Selanjutnya, karena ternyata kami sekampung, maka banyaklah pula cerita tentang orang-orang di kampung. Celakanya, saya sangat tak akrab dengan kampung saya sendiri. Merantau sejak usia 16 tahun membuat saya ‘buta’ dan lupa dengan orang-orang di kampong sendiri. Jangankan dengan generasi berbeda, dengan teman seangkatan saja saya lebih banyak yang lupa ketimbang ingatnya. Dan ini tak pandang jender. Wanita, apalagi pria. Cantik, apalagi yang jelek, hahaha…!

Walau tak lepas dari sebab bahwa saya dulunya adalah mantan idola cilik, hahaha...! Tapi ini sungguh menyiksa saya sebetulnya. Saya tersiksa karena dikenali tanpa bisa balik mengenali. Demi Allah, sangat banyak yang mengaku teman seangkatan, tapi tak satupun diantara mereka yang saya kenal dengan utuh. Ada yang saya ingat namanya, tapi lupa rupanya. Begitupun sebaliknya. Padahal kita sendiri paham bahwa waktu merubah wajah. Yang lebih parah lagi, facebook juga merubah namanya dan bahkan banyak malah yang me-mark-up umurnya sendiri. Terang saja saya kesulitan mengenali mereka.

Yang mana sih yang teman saya sebetulnya? Hiiiiks....!

Ngaku seangkatan...? Kayaknya ga mungkin deh..?

Padahal itu adalah dengan teman sekolah sendiri. Bayangkan pula dengan teman seangkatan, tapi beda sekolah. Apalagi dengan yang beda generasi sampai belasan tahun. Dan itulah yang bahan percakapan kami. Terang saja saya lebih banyak diamnya.













Di Facebook biasanya saya akan melihat komentar dari saudara trerlebih dahulu untuk mulai bertegur sapa dengan seseorang. Jadi misalnya jika ada seorang teman yang update status dan seorang saudara yang saya kenal ikut berkomentar barulah saya juga berani ikut berkomentar pula. Karena saya bingung cara tepat untuk memanggilnya. Saya pernah alami sendiri pengalaman saat chatting yang buat saya sangat malu hati. Dengan penuh percaya diri saya menegur seorang teman di ruang chatting. Namanya yang abu-abu membuat saya salah panggil.

Saya    : Assalamualaikum!
A kaba, Da?

Teman : Uda? Aku ini cewek tau?!

Saya    : Upps, sori yow, Ni! Abis namanya kayak nama cowok sih?

Teman : Uni? Aku ini Etek (Bibi) mu, tau! Tanya sana, sama Bapakmu! Dasar, ponakan cilako?

Dan kuota internet sayapun habis, hahahaha….!

Ohya, ga butuh translate-nya, kan…?

Belajar dari pengalaman tersebut, maka saya mulai berhati-hati. Maka suatu kali saya bertanya pada seorang teman, sebab bingung mengenali seorang teman yang ternyata sangat mengenal saya. Celakanya kebingungan saya ini malah jadi inspirasi kegembiraan bagi si teman yang saya mintai tolong tersebut. Dengan penuh semangat dia update status sambil memention yang bersangkutan

“HAHAHAHAA….! Siraul Nan Ebat tak mengenal tetangganya sendiri. HAHAHAH…!”, dengan penuh semangat dia update status sambil memention yang bersangkutan.

Dan kegembiraan mereka dimulai. Saya-pun habis dibully, hahaha…!

Kesulitan dengan topic bahasan itulah yang membuat saya kerap diam dan lebih banyak mendengar. Jadi bukan karena saya pemalu. Saya pernah kok beberapa kali ngapelin cewek. Buat yang di Batam tanya Dian aja deh, hahaha…! Dan Insya Allah walau terkadang juga didampingi bapak atau ibunya saya tak sampai merasa jadi orang kalah, kok! Saya cukup fasih mempraktekkan jargon sepupu saya:

“Walau kalau pitih, saindaknyo manang ongiah (gaya)” ~ Uda Be’e 

*Ohya, abaikan aja judulnya, hahaha....!