Halaman

27 Mar 2016

Dari Bintang-nya Radja Sampai Friends-nya Joe Satriani



Di jaman Mario Teguh begini mestinya lirik Indonesia sudah jauh lebih berkualitas sarat dengan pesan moral postif. Di jaman internet begini kualitas lirik music Indonesia mestinya jauh lebih baik, setidaknya ketimbang lirik-lirik lagu jadul dan japur yang bahkan walau sederhana tapi tetap indah dinikmati sebab kita mampu merasakan pesan-pesan yang disampaikannya. Satu saja, kita simak lirik salah satu band yang sempat digandrungi masyarakat beberapa waktu lalu, Radja yang berjudul Bintang.

Cobalah kau lihat di langit biru, rangkaian bintang-bintang.
Cobalah kau pilih diantara itu, tunjukkan padaku 

Bagaimanapun caranya saya takkan mungkin menyukai lagu ini. Untuk menyukai sebuah lagu saya mesti mampu merasa berada dalam situasi yang digambarkan olehnya. Yang saya tahu langit itu terlihat biru di siang hari. Dan saya sulit membayangkan diri saya sedang melihat bintang di siang hari, wkwkwkwk....!

Ini lirik lagu sebuah band lho…! Tau kan, band itu apa? Kumpulan musisi yang bermain music dengan menggunakan alat music masing-masing, hahaha…!

Aneh sekali, bagaimana mungkin tak seorangpun diantara mereka yang meresa ganjil dengan liriknya. Sudah pasti mereka memainkan lagu ini dengan soul yang hampa. Penjiwaan yang kosong. Lebih konyolnya lagi kenapa orang-orang seperti producer misalnya juga sampai kebobolan dengan lirik yang abnormal begini, hahaha...! Sangat bertolak belakang misalnya dengan lirik November Rain-nya Guns N Roses, misalnya, hahaha…! Ngebandingin Radja dengan Guns N Roses? Wkwkwkw…!

Tak satupun diantara personel Guns N Roses yang saya kenal. Tak mengerti pula saya bagaimana perasaan Axel saat menciptakan lagu ini. Tak ada pula tafsir yang tegas tentang makna sesungguhnya lagu ini. But, walau ini lagu ciptaan Axel sang vocalist, saya mengerti betul suasana hati Slash saat memainkan riff-riff melody-nya. Saya sendiri menafsirkan lagu ini tentang seorang Slash yang merelakan pacarnya (atau wanita yang dicintainya diam-diam…?) dinikahi temannya Axel. Dengan besar hati, Slash pula yang mendampingi sahabatnya itu di saat pernikahannya. Dan setelah menyelesaikan ‘tugas’nya mendampingi sahabatnya itu, Slash yang tak sanggup menyaksikan prosesi selanjut keluar menyendiri dan memainkan melodi gitar yang sungguh menyayat hati. Tapi ahhh, memang keterlaluan sih membandingkan Guns N Roses dengan Band Radja, hahaha…!

Okelah, dengan teman saya saja dulu! Teman saya punya band bernama Glass dan punya banyak lagu ciptaan sendiri. Walau bukan terhitung lagu paling favorit, tapi saya menyukai lagu yang berjudul Terang. Dan saya mengerti betul kenapa yang menyanyikan lagu ini adalah Inel sang gitaris, bukan Jarno’, vocalist utamanya. Sebagai pencipta lagu, Inel memang paling mengerti bagaimana soul-nya lagu ini. Khusus di lagu ini saya merasakan betul bagaimana marahnya seorang Inel saat menciptakan dan mengisi trak di rekamannya.

Saya sungguh menghormati teman yang satu ini. Musisi penuh bakat dengan idealisme yang kuat. Memang begitulah mestinya seniman. Lirik yang sembarangan itu mengkhianati music sebagai seni. Sebab seni itu sendiri indah, bahkan walau tanpa lirik sekalipun. Lagi-lagi solo Sad-nya si Inel mampu membuat saya merasa pilu, walau musiknya itu sama sekali tanpa lirik. Keren abis, saying file yang saya punya hilang, hiiiks… L

Salah satu lagu pop Inggris yang saya suka adalah karya Ribas yang berjudul She Grey. Silahkan cek di Google! Sama sekali tak saya temukan liriknya. Entah apa yang disebutnya di lagu itu, tapi saya tau bagaimana rasanya bertemu lagi dengan mantan pacar yang sekarang sudah begitu berbeda hanya karena ‘ditinggal sebentar’, hahaha…!

Sebagai penutup saya ingin menterjemahkan sebuah solo keren dari Joe Satriani. Tanpa vocal juga, tapi berkat pesan music yang disampaikannya punya karakter yang begitu kuat saya bahkan sangat ingin sekaligus tak ingin untuk lancing membuatkan liriknya. Sangat ingin, sebab musiknya sangat keren. Tapi juga sangat tak ingin karena saya tak ingin mencederai kekerenan lagu ini. So, saya deskripsikan saja tafsir yang saya rasakan saat mendengarnya. 

Friends…

00:00 – 00:28 Intro

00:29 – 00:37 Kemanapun kau pergi, aku selalu ada menemani. Kemanapun kau…
(menguraikan suatu kisah persahabatan. Sepertinya Joe sedang galau dan mengenang kisah persahabatannya).

00:38 – 00:50 Aku merindukanmu sobat. Aku sangat merindukanmu. Sungguh…! (Saya merasa Joe sedang kehilangan dan merindukan sahabatnya).

00:51 – 00:55. Bahwa apa saja yang mereka hadapi terasa ringan karena persahabatan.

00:56 – 01:00 Bahwa apa saja akan mereka tertawakan.

01:01 – 01:06 Bahwa apa saja akan buat mereka ceria bersama.

01:07 – 01:11 Termasuk hal-hal gila seperti saat kita … (dikejar-kejar bencong itu? hihihi…!)

01:12 – 01:18 Memang pernah kita berkelahi dan ribut hebat.

00:19 – 00:23 Bahkan pernah sekali… (sulit sekali melukiskan bagian akhir yang di sini) Intinya mereka pernah dalam suatu pertikaian yang hebat.

01:24 - 01:29 Tapi ikatan persahabatan yang tulus membuat mereka kembali berbaikan

01:30 – 01:35 Dan semuanya kembali indah

01:36 – 02:01 Dan sambil bergembira mereka saling bercerita tentang marah mereka saat itu

02:02 – 02:07 Bahwa dia tak ingin lagi kehilangan sahabatnya itu…

02:08 – 02:13 Apapun yang terjadi dia akan memertahankan hubungan mereka.

02:14 – 02:24 Walau harus begini begitu, hahaha…! Walau harus gadai celana demi nebus KTP yang tergadai di tukang jual bensin eceran, hahaha…! (Maaf Joe….!)

02:25 – 02:30 Pokoknya sekuat tenaga akan dipertahankannya persahabatan mereka.

02:31 – Balik lagi ke bait awal…

*Selamat Pagi…!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

4 Hal Penting Dalam Menulis

Saya beberapa kali dipercaya menjadi juri event menulis. Untuk naskah normal terbaik, nilai maksimal yang saya berikan adalah 8. Tapi bukan ...