Apalagi yang bisa saya harapkan sebagai rakyat? Idola atau
tokoh-tokoh yang menginspirasi ternyata begitu mudah tergoda politik yang
terkutuk. Menjadi wakil Jokowi bagi orang sekaliber JK adalah blunder besar. JK
lebih cocok jadi Presiden atau Ketua RT.
Sebagai fans, tentu saja saya sungguh kecewa terhadap JK.
Saya tidak asal nge-fans. Saya sungguh serius. Begitu ada isu nama JK muncul
sebagai calon Wapres saja, saya sudah bereaksi keras. Tidak sekali dua saya
mention JK agar jangan merendahkan dirinya sendiri. Apalagi bila cuma sebagai
wakil Jokowi, JK telah melecehkan dirinya sendiri. Jadi jangan salahkan jika
saya berniat ‘menjual’ JK. Saya punya beberapa buku tentang JK yang jika
dirupiahkan nilainya mencapai hampir Rp 500.000,-. Ketimbang saya bakar karena
kecewa, lebih baik saya jual saja. Toh, JK sendiri ternyata tak berani
menghargai dirinya sendiri ):
Okelah, sebagai politisi sikap JK mungkin bisa dimaklumi.
Karena di zona politik, kekuasaan adalah yang paling penting. Tapi bagi orang
(yang mestinya) netral seperti wartawan atau jurnalis ternyata sama saja.
Mereka lebih menTuhankan rating, pagerank atau uang. Jangan heran, jika sosok
seperti Najwa Sihab pun rela menjual dirinya sendiri.
Tumben-tumbennya (minggu kemaren) Mata Najwa ambil tema
sensitive seperti masalah HAM dalam suasana Pemilu begini. Saya bukan pendukung
Prabowo. Tapi sebagai sesama pecinta Arsenal saya kecewa dengan Najwa. Dibayar
berapa sih, Mba’. Butuh uang untuk update pembalut? Ingin jaga rating?
Mendengar nama Najwa saja orang-orang sudah kagum. Inilah
wanita inspiratif. Wanita hebat yang punya program tipi sendiri. Idolanya para
jurnalis muda. Tapi karir tinggi yang dibangun sendiri akhirnya juga
dijatuhkannya sendiri pula, ke jurang hina yang sedalam-dalamnya. Dari seperti Oprah
Winfrey-nya Indonesia,
menukik tajam menjadi tak lebih dari wanita-wanita pembalut di gank Dolly. Yang
dibeli hanya untuk dipakai sekali lalu dicampakkan begitu saja.
Padahal jika berani menolak dan terima segala
konsekwensinya, saya jamin tipi-tipi lain akan berebut beroleh tandatangannya. Bahwa
berita Mata Najwa menolak usung tema HAM saja saya yakin sudah menggoda tipi
lain untuk menyodorkan proposal dengan aneka iming2 yang juga tak kalah
nilainya pasti. Najwa mestinya belajar dari Liputan 6 yang dulu menguasai dunia
informasi di televisi, tapi sekarang punah karena hancurkan reputasi sendiri. Sungguh,
ketimbang terhadap Najwa, saya lebih menghormati host2, presenter2 dan tim
redaksi Liputan 6 yang risegn gara-gara melulu harus beritakan citra Jokowi.
Mereka jelas lebih hormat terhadap nuraninya sendiri.
Najwa tak punya niat untuk black campaigne? Susah dipercaya. Tapi okelah, sebagai fans buta saya
percaya. Tapi apa iya Najwa sebodoh itu? Tak menyadari bahwa ia sedang
ditunggangi pihak lain? Najwa silap dan ceroboh? Apapun alasannya, saya tak
sudi nge-fans sama orang bodoh, suka silap dan ceroboh. Jadi, Stop Nonton Mata
Najwa. Titik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar